http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42176896



Bagaimana saya menceraikan seorang pejihad ISIS

ddImage caption Tania tak lagi mengenakan nikab.

Tania Georgelas, ibu dari empat anak, tampak seperti perempuan normal
lainnya di Texas, AS, tempat dia tinggal. Namun sampai tiga tahun lalu, dia
berada di medan perang Suriah, menikah dengan petinggi ISIS.

Tania Georgelas, yang berusia 33 tahun, besar di Harrow, sebuah kawasan
kelas menengah di pinggiran London.

Para sahabatnya mengingatnya sebagai seorang 'remaja pada umumnya.' Dia
terkadang tampak punya pacar, dan membolos dari sekolah.

   -

   Hidup di bawah ISIS 'amat berat' kata remaja Swedia
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160224_dunia_isis_swedia>
   -

   Istri-istri ISIS: Mengapa saya bergabung dengan 'kekhalifahan' di Raqqa
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40727358>
   -

   Irak tahan 1.300 istri dan anak-anak dari terduga ISIS
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41231813>

Dia juga tidak dikenal relijius, tak juga terlibat dalam politik. Namun itu
semua mulai berubah ketika dia berusia 17 tahun.

Dia beralih ke agama.

Tak pernah dia menyangka bahwa pertemuannya dengan ekstremisme Muslim akan
membawanya ke Suriah yang dicabik perang sebagai istri tokoh terkemuka
kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Dia sekarang kembali tinggal di AS, bukan lagi perempuan ekstrimis seperti
beberapa tahun lalu.
"Saya ingin menjadi seseorang yang saleh"

Dia berbicara dengan wartawan BBC, Rickin Majithia tentang perjalanan
hidupnya yang penuh gejolak.

Hak atas foto Tania Georgelas Image caption Tania berkata di masa
remajanya, temannya yang seorang ekstrimis memberinya semacam rasa
memiliki.

"Saya hanya ingin mengubah jati diri saya waktu itu," ujarnya.

"Saya tidak mau menjadi Tania dari Harrow lagi saat itu. Saya mau menjadi
seorang yang saleh, seseorang yang orang tidak menjulukinya sebagai
perempuan jalang."

Pada usia remaja dan awal 2000an, Tania bergaul dengan bermacam kelompok
muslim radikal di London.

Dia mengatakan bahwa agama memberinya struktur yang dia butuhkan dalam
kehidupan, dan rasa memiliki.

   -

   Hidup di bawah ISIS 'amat berat' kata remaja Swedia
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160224_dunia_isis_swedia>
   -

   Istri-istri ISIS: Mengapa saya bergabung dengan 'kekhalifahan' di Raqqa
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40727358>
   -

   Irak tahan 1.300 istri dan anak-anak dari terduga ISIS
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41231813>

"'Seperti sebuah keluarga atau komunitas yang merangkul saya, sepanjang
saya mematuhi rasa nyaman mereka dalam keislaman."

Tania berasal dari latar belakang Inggris-Banglades.

*Jendela-jendela yang dipecahkan*

Dalam sebuah wawancara kepada majalah AS The Atlantic, dia berbicara
tentang kesulitan tumbuh dewasa di London. Ia menggambarkan keluarganya
sebagai ''imigran generasi kedua yang menderita berbagai bentuk rasisme''.

Mereka memiliki tetangga yang buruk, dan jendela mereka sering dipecahkan.
''Saya lalu mencari cara untuk membalas, dan saya ingin memperoleh lagi
martabat saya, '' kata Tania.

Hak atas foto Sean Gallup/Getty Image caption Para khotib sering berkisah
pada Tania tentang pembantaian Srebrenica, saat lebih dari 8.000 Muslim
Bosnia terbunuh pada tahun 1995

Teman-teman barunya mengubah cara dia memandang dunia.

"'Pikiran kami hanya dipenuhi dengan gambar-gambar yang menyeramkan itu.
Mereka memberi contoh tentang apa yang terjadi di Srebrenica dan Bosnia.
Mereka membuat kami menderita rasa bersalah bersama ini. Karena kami adalah
umat, dan adalah tugas kami untuk melakukan sesuatu. ''

Sesuatu yang dimaksud, Tania tahu, adalah jihad.

''Saya memandang takjub kepada al Qaeda, Taliban, siapa pun yang tampak
melindungi umat Islam, melindungi kehormatan kaum Muslimin. ''
Kehilangan seorang teman

Ketika pelaku bom bunuh diri menyerang sistem transportasi London pada
tanggal 7 Juli 2005, satu dari 52 orang yang terbunuh adalah Shahara Islam,
teman sekelas Tania di sebuah kursus tentang hukum.

Dia mengatakan bahwa hal itu membuat dia depresi. Tapi meski kehilangan
sahabat, Tania memberi pembenaran pada serangan tersebut pada saat itu.

''Jika seorang Muslim yang tidak terkait meninggal dunia, maka seorang
non-Muslim yang tidak tidak terkait meninggal dunia juga. Begitulah cara
kami membenarkan serangan itu. Ini salah, tapi begitulah cara berpikir saya
pada saat itu. ''

Hak atas foto AFP Image caption Tania kehilangan teman sekelasnya dalam
serangan bunuh diri di London pada 2005

Pada saat serangan London terjadi, Tania sudah menikah dengan John
Georgelas, warga Amerika yang pindah ke agama Islam. Mereka saling kenal
secara online.

"Dia sangat cerdas. Dia menawan," ujarnya. "Dia adalah cinta pertama saya.
Kami adalah sahabat baik."

Kehidupan pernikahan mereka mewujud lantaran mereka sama-sama menganut
nilai-nilai ekstremis.
Memiliki keraguan

Dia berpikir bahwa sumbangannya nanti terhadap perjuangan suci adalah
''melahirkan anak laki-laki yang akan tumbuh sebagai tentara mujahidin,
atau ilmuwan dan akademisi ''.

Mereka pindah ke Amerika Serikat dan punya anak. Setelah gejolak Musim Semi
Arab di tahun 2011, keluarga itu pindah ke Mesir.

John menganggap Mesir adalah tempat yang ideal untuk membesarkan anak
laki-laki mereka sebagai pejihad, tapi Tania mulai ragu.

Hak atas foto Tania Georgelas Image caption John Georgelas, mantan suami
Tani, lahir di Texas dan anak dari pensiunan dokter militer AS

"Suatu hari, entah mengapa, salah satu anak laki-laki saya pulang membawa
sebuah granat yang ditunjukkan kepada saya. Saya rasa bukan granat aktif,
tapi saya naik pitam dan mengambil pisau dapur, menghunusnya ke arah ke
arah John. Saya mengatakan kira-kira, 'Jangan pernah lakukan ini lagi. Saya
tidak ingin anak-anak saya dekat dengan hal-hal ini, saya tidak mau mereka
dekat dengan senjata.'

Pada tahun 2013, John memutuskan untuk memindahkan keluarga tersebut ke
Suriah.

   -

   Diduga bergabung dengan ISIS di Suriah, belasan WNI dimintai keterangan
   <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40916857>
   -

   Makin banyak wanita Prancis terbujuk gabung ISIS
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/04/150417_wanita_prancis_isis>
   -

   Makin terdesak, ISIS serukan kaum perempuan berperang
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41526207>

Saat itu, Tania sedang mengandung anak keempatnya.

"Bangunan tempat saya tinggal adalah rumah yang ditinggalkan mantan
militer. Jendela-jendela telah hancur, dan setiap malam saya terbiasa
mendengar tembakan. ''

Setelah tiga minggu di Suriah, Tania memohon agar John membiarkannya pergi.
Melarikan diri dari Suriah

"Berat sekali. Perkawinan saya hancur. Saya tidak tahu harus berbuat apa. ''

Hak atas foto Tania Georgelas Image caption Tania dan mantan suaminya
membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi mujahidin.

John setuju dan membantu dia dan anak-anaknya kabur.

"Banyak peluru. Sepertinya para penembak jitu di menara itu menembaki, dan
kita bisa melihat peluru melayang kemana-mana, dan saya ingat pernah
menyelusupkan anak-anak saya melalui kawat berduri ke kamp pengungsi.
Sangat menakutkan."

John tinggal di Suriah dan kemudian bergabung dengan apa yang disebut ISIS.
Kelompok ini menguasai sebagian wilayah Suriah dan Irak, dan membunuh
ribuan orang. Pada 2017, ISIS kehilangan sebagian besar wilayahnya, namun
masih terlibat dalam berbagai serangan teror.

Setahun setelah terakhir kali mendengar kabar dari John, Tania tidak tahu
apakah dia masih hidup.

*Keluar dari Islam *

"Hal terakhir yang dia katakan kepada saya - pesan terakhir - adalah dia
meminta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan terhadap saya dan
anak-anak. Bahwa dia berdoa agar kami menjadi Muslim, dan jika saya tidak
mendengar kabar darinya dalam enam bulan, kemungkinan besar karena dia
sudah mati, karena dia harus bertempur, dan pertempuran semakin dekat ke
tempat dia tinggal. ''

Sekarang Tania tinggal di Texas dan telah meninggalkan Islam.

Hak atas foto Tania Georgelas Image caption Dia bercerai dengan John
Gergelas setelah kembali ke AS

Dia berkata bahwa dia merasa lega ketika dia kembali ke AS.

"Perubahan yang menyenangkan dan ini memberi saya kesempatan untuk membaca
saja hal-hal lain, dan bukan hanya fokus pada satu topik di satu bidang,
Islam belaka. Saya harus mengenali semua agama yang berbeda. Saya memiliki
kebebasan untuk berpikir - itulah yang diberikan Amerika kepada saya -
tanpa rasa takut."

Tania telah menceraikan John. Dia bertemu tunangan barunya, Craig, di tahun
2015.
Kesempatan kedua di AS

"Saya menyesali pilihan yang telah saya buat, terutama menyangkut anak-anak
saya. Andai saja waktu itu saya memiliki rencana yang lebih baik untuk
mereka. Saya harap saya sudah memberi mereka gaya hidup yang stabil."

Sekarang, anak-anak Tania tampak sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan
Amerika, namun Tania kehilangan hak asuhnya saat kembali ke AS. Mereka kini
dirawat oleh orang tua John.

Tania mengatakan bahwa dia bertekad memperbaiki kesalahannya.

Image caption Tania berkata bahwa dia sudah belajar dari kesalahannya

"Saya ingin mendapat karir yang membuat saya bisa membantu merehabilitasi
kaum ekstrimis, kaum radikal - memberi mereka perasaan sebagai bagian dari
masyarakat dan memberi mereka keterampilan dan pendidikan, sehingga bisa
diintegrasikan ke dalam masyarakat dan menjadi warga negara yang baik."

Yang sekarang dilakukannya adalah mendidik dirinya sendiri melawan
ekstremisme.

"Para pejihad perlu didengar. Karena jika kita tidak tahu argumen mereka
dan seberapa buruk argumen mereka, kita tidak akan bisa mendiskusikan dan
menolaknya. Menurut saya, pengetahuan akan membebaskan orang dari anggapan
bahwa perang dan jihad dan kekerasan akan membawa pada kemajuan. Itu salah."

"Perang, jihad, tidak akan mencapai tujuan apa pun.''

Kirim email ke