----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Awind [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; PERSAUDARAAN 
<[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>Terkirim: Sabtu, 2 Desember 2017 00.32.44 GMT+1Judul: 
[GELORA45] 42 Orang di Semarang Terindikasi HIV/AIDS, Salah Satunya Balita ---- 
Ibu Rumah Tangga Lebih Rentan Terinfeksi HIV daripada PSK, Kok Bisa?
     
 


 
 

 
 
42 Orang di Semarang Terindikasi HIV/AIDS, Salah Satunya Balita
   Kontributor Ungaran, Syahrul Munir Kompas.com - 02/12/2017, 00:14 WIB        
              Aktivis mengelar aksi peringatan Hari AIDS di kawasan Nol 
Kilometer, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta, kamis (1/12/2011). Aksi yang diikuti 
oleh sejumlah elemen itu menyerukan hak-hak Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang 
digelar tahunan tiap 1 Desember.(TRIBUN / HASAN SAKRI GHOZALI)       
UNGARAN, KOMPAS.com - Seorang anak berusia di bawah lima tahun (balita) di 
Kabupaten Semarang terindikasi menderita HIV/AIDS. Temuan Komisi Penanggulangan 
Aids (KPA) Kabupaten Semareng ini terjadi pada rentang waktu bulan Januari 
hingga Juni 2017.
 
 Kepala Bagian Program KPA Kabupaten Semarang, Taufik Kurniawan mengatakan, 
semester pertama tahun 2017 ditemukan 42 orang yang terindikasi HIV/AIDS. Dari 
jumlah itu, 6 orang atau 14 persen menderita AIDS, sementara 36 orang atau 86 
persen lainnya menderita HIV.
 
 "Berdasarkan usia, ada satu balita. Kemudian satu anak usia 15 hingga 19 
tahun," kata Taufik, Jumat (1/12/2017).
 
 42 orang diduga terindikasi HIV/AIDS ini ditemukan di 11 kecamatan. Rinciannya 
8 orang di Bergas, 5 di Ambarawa, 4 di Ungaran Timur, 4 di Sumowono, 2 di 
Bandungan, 2 di Pringapus, 1 di Bawen, 1 di Ungaran Barat, 1 di Susukan, 1 di 
Tuntang, dan 13 orang dari luar wilayah Kabupaten Semarang.
 
Baca juga : Ibu Rumah Tangga Lebih Rentan Terinfeksi HIV daripada PSK, Kok 
Bisa? 
 
 Berdasarkan demografi, selain 1 balita dan seorang remaja berusia 15-19 tahun, 
terdapat 3 orang dari usia 20-24 tahun, 7 orang usia 25-29 tahun, dan 8 orang 
dari usia 30-34 tahun.
 
 Selanjutnya dari kelompok usia 35-39 tahun ada 11 orang, usia 40-44 tahun ada 
4 orang, usia 45-49 tahun ada 4 orang, usia 50-54 tahun 2 orang, dan 1 orang 
dari kelompok usia 55-59 tahun.
 
 "Jadi paling dominan di usia produktif dan kalangan perempuan," ujarnya.
 
Baca juga : Jumlah Remaja Penderita HIV/AIDS di Purbalingga Terus Meningkat 
 
 Taufik mengatakan, hingga tahun 2016 ada 492 kasus HIV/AIDS di Kabupaten 
Semarang. Saat itu, dari 19 kecamatan, hanya kecamatan Kaliwungu dan Pabelan 
yang zero kasus HIV/AIDS.
 
 Sekretaris KPA Kabupaten Semarang Puguh Widjojo mengatakan, sebanyak 29 dari 
42 orang yang terindikasi HIV/AIDS merupakan warga Kabupaten Semarang. 
Sedangkan 13 orang lainnya merupakan warga dari luar wilayah Kabupaten Semarang.
 
 "Berdasarkan profesi, pengidap HIV masih didominasi oleh kelompok pekerja 
seks. Temuan kasus menonjol terlihat juga pada kelompok swasta, buruh, dan 
wiraswasta," kata Puguh.
   Jurnalis KompasTV Yasir Nene Ama akan mengajak Anda untuk melihat bagaimana 
kehidupan ODHA serta berbincang bagaimana kehidupan mereka di 
masyarakat.(Kompas TV)
 
 
 
                                                                                
       ===============
 
 
 
http://sains.kompas.com/read/2017/12/01/170500023/ibu-rumah-tangga-lebih-rentan-terinfeksi-hiv-daripada-psk-kok-bisa-
 
 
           
Ibu Rumah Tangga Lebih Rentan Terinfeksi HIV daripada PSK, Kok Bisa?
   Shierine Wangsa Wibawa Kompas.com - 01/12/2017, 17:05 WIB                    
  Ilustrasi HIV/AIDS(thinkstock/vchal)      

 
KOMPAS.com – Jika masyarakat awam ditanya “Siapa yang paling rentan mengidap 
HIV?”, kebanyakan akan menjawab pekerja seks komersial atau yang berhubungan 
sesama jenis.
 
Namun, data yang dikumpulkan dari tahun 1987 hingga 2014 oleh Pusat Data 
Informasi HIV AIDS dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan kenyataan yang 
berbeda. Ibu rumah tangga justru lebih berisiko terinfeksi HIV daripada pekerja 
seks komersial (PSK).
 
Lebih dekat, hasil serupa juga ditemukan di Riau. Dari data sampai Agustus 
2015, jumlah PSK yang terkena HIV di Riau hanya tujuh orang, sedangkan ibu 
rumah tangga mencapai 41 orang. Angka ini juga menunjukkan kecenderungan 
meningkat.
 
Dikutip dari Kompas.com, Selasa (10/11/2017), Mareno selaku Koordinator D-KAP 
Riau, organisasi pemerhati HIV/AIDS Riau berkata bahwa PSK justru lebih bersiap 
untuk mencegah HIV dengan memakai kondom.
 
Baca juga : Pengidap HIV Terus Meningkat, Akankah SDGs Tercapai?
 
“Adapun ibu rumah tangga lebih banyak ditularkan oleh suaminya yang berperilaku 
menyimpang di luar rumah,” imbuhnya.
 
Masalah ini diperkeruh dengan keengganan ibu rumah tangga untuk mencegah 
penyebaran dan penularan HIV.
 
Artikel Hellosehat yang ditulis oleh Fauzan Budi Prasetya dan datanya ditelaah 
oleh dr Tania Savitri mengungkapkan bahwa masih banyak ibu rumah tangga yang 
menolak menjalani tes HIV.
 
Alasannya bermacam-macam. Ada yang karena sedang hamil, merasa malu atau tabu, 
atau menganggap dirinya dan pasangan tidak pernah berhubungan dengan orang lain.
 
“Menurut Yusniar Ritonga, seorang konselor HIV/AIDS, hanya ada 10 persen orang 
yang bersedia ikut dalam tes HIV setelah mereka menikah,” tulis Fauzan.
 
Baca juga : Terobosan Baru, Antibodi Super Serang 99 Persen Strain HIV
 
“Padahal, seperti yang kita tahu, ada banyak cara penularan HIV/AIDS selain 
lewat hubungan seksual. Bisa dari pisau cukur, bisa dari jarum suntik, atau pun 
benda lain yang tidak steril dan pernah terkena darah dari pengidap AIDS,” 
imbuhnya.
 
Menghadapi dilema ini, solusi yang diusulkan oleh Fauzan dan dr Tania adalah 
dengan menggunakan kartu skor berisi pertanyaan-pertanyaan terkait pekerjaan 
dan aktivitas seksual diri dan pasangan.
 
“Jika suami Anda bekerja sebagai supir truk atau bis lintas provinsi dan jarang 
pulang ke rumah, maka bisa jadi Anda adalah kelompok berisiko dan membutuhkan 
pemeriksaan lebih lanjut,” tulis Fauzan.
 
Namun, yang paling penting adalah menyadari bahwa semua orang bisa tertular 
HIV, meski telah berstatus ibu rumah tangga. “Karenanya, lebih baik mencegah 
dan mengobatinya secepat mungkin,” tutup Fauzan.
                 

Kirim email ke