http://www.suara-islam.com/read/kabar/editorial/9075/Fenomena-Jokowi-Ketidakmampuannya-Mulai-Terbongkar
Fenomena Jokowi : Ketidakmampuannya Mulai Terbongkar

Minggu, 24 November 2013 - 15:43 WIB | Dilihat : 102855




*HM Aru Syeif AssadullahPemred Tabloid Suara Islam*

Baru dua bulan yang silam, Agustus 2013, menyusul dilansirnya survei oleh
Harian *Kompas* dan  sejumlah lembaga survei, nama Joko Widodo mencuat
menduduki pilihan tertinggi dan dipastikan tak terbendung akan terpilih
sebagai presiden pada Pilpres 2014. Puja-puji terhadap Jokowi pun makin
tumpah ruah di media massa, bagai Jokowi tanpa cacat-cela. Bahkan bagi
pengkritiknya, jika berani melontarkan kecaman akan berakibat bagai kepala
dibenturkan sendiri ke tembok, yang berakibat celaka.

Adalah Amien Rais, mantan Ketua MPR-RI yang melontarkan kritik jika Jokowi
maju mencalonkan diri sebagai presiden hanya bermodalkan popularitas, tentu
tidak bisa, nanti akan terjadi seperti yang dialami Presiden Filipina,
Estrada yang hanya bermodalkan sebagai popularitas selebriti, ia terpilih
menjadi presiden Philipina dan jatuh hanya dalam waktu 9 bulan saja. Amien
dengan kritiknya itu “dihajar” ramai-ramai oleh pers nasional .

Inilah yang kemudian diyakini siapa saja yang berniat mengkritik Jokowi,
niscaya bagai membenturkan kepala ke tembok dan akan mengalami celaka.
Pendapat seperti ini yang mengentalkan opini bahwa Jokowi memang hebat
dalam segala hal. Karena itu disimpulkan rakyat Indonesia bagai tidak sabar
menunggu agar Jokowi segera menduduki kursi Presiden. Dan puja-puji kepada
Jokowi pun makin santer “didendangkan” politisi Liberal, dan disebarluaskan
oleh semua media nasional. Fenomena Jokowi seperti ini dipastikan sangat
menyesatkan.

Puja-puji kepada Jokowi memang sangat berlebihan. Jokowi disebut-sebut
bagai Nelson Mandelanya Indonesia. Di tengah karut-marut Indonesia hari
ini, bagai dipastikan bisa diselesaikan Jokowi jika ia terpilih sebagai
presiden RI 2014 mendatang. Setahun menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta,
Jokowi dan wakilnya Ahok dipuji-puji  semua programnya dan diekspose media
massa sebagai program yang sangat sukses dan telah mengatasi permasalahan
ibukota.

Puja-puji ini seraya menyebut sejumlah proyek, misalnya  penggusuran dan
pengerukan Waduk Pluit dan Waduk Ria-Rio, pembersihan Kaki Lima di Tanah
Abang, Mester Jatinegara dan Pasar Minggu. Pencanangan dimulainya
pembangunan MRT, semua ini dijadikan indikasi sukses Jokowi. Bahkan
penghentian sementara proyek jalan layang non-tol Casablanka yang
sesungguhnya sangat ditunggu-tunggu agar segera diresmikan, kini ditunda
Jokowi pun, justru Jokowi dipuji karena dianggap Jokowi sebagai sangat
teliti untuk memeriksa proyek tersebut karena dianggap ada
penyelewengan/korupsi dan mark-up proyek jalan layang itu.

Pendek kata tidak ada yang bisa disalahkan pada diri Jokowi. Jokowi selalu
hebat, selalu benar. Sebaliknya prestasi jeblog Jokowi, semenjak ia
menjabat sebagai walikota Solo (dua kali) sampai setahun menjabat sebagai
gubernur DKI Jakarta, tidak pernah dimunculkan dalam pemberitaan, bahkan
ditutup-tutupi.

Di tengah puja-puji kepada Jokowi ini muncul pula lembaga-lembaga, mulai
LSM, ormas, bahkan parpol yang tampil secara Spartan mengagul-agulkan
kelebihan dan kehebatan Jokowi secara terbuka. Bagai Jokowi layak didewakan
dan disembah. Ironisnya tokoh-tokoh pemuja seperti itu justru dikenal
sebagai intelektual muda, seperti Boni Hargen dari UI, Ade Armando yang
juga dari UI yang mengklaim bahkan mempertaruhkan lehernya jika Jokowi
tidak terpilih sebagai presiden RI 2014 mendatang, ”Potong leher saya kalau
Jokowi kalah jika maju saat ini,” kata Ade Armando (Baca Suara Islam 166
hal. 20).

Mengapa Jokowi sangat dipuja begitu serentak. Dalam laporan-laporan tabloid
ini beberapa kali diungkapkan di balik penampilan Jokowi ternyata di-*back
up* konglomerat bahkan asing, antara lain James Riady (Group Lippo), bahkan
didukung pula mantan Menteri Perdagangan Luhut Panjaitan yang kini dikenal
sebagai penguasaha batu bara. Sebelumnya pun telah beredar rumor di balik
pendanaan Jokowi juga berdiri  Menteri Perumahan  Dzan Farid, dan sejumlah
konglomerat lainnya. Dari sini rupanya asal muasal berbagai rekayasa usaha
yang amat  gigih untuk memaksakan Jokowi agar naik menduduki RI 1 pada 2014
mendatang. Tentu di balik rencana ini niscaya ada udang di balik batunya.

*Jauh Panggang dari Api *

Sayang puja-puji berlebihan kepada Jokowi ini, belakangan terbongkar
sebaliknya. Kemampuan dan prestasi Jokowi yang didongkrak habis-habisan
dalam proyek pencitraan dan merebut opini masyarakat ini, terlalu
berlebihan, dan justru kontra-produktif, ketika terbongkar kenyataan
kemampuan dan prestasi Jokowi yang sesungguhnya adalah nihil, jauh panggang
dari api. Mulai terbongkar ketidakmampuan Jokowi.

Keraguan masyarakat, khususnya warga ibukota mencuat ketika terbongkar
Jokowi melansir berbagai kebijakan strategis dengan sembrono. Hal itu
muncul tatkala Jokowi mulai menerapkan kebijakan sterilisasi jalur bus-way
mulai 5 November 2013. Bagi penyerobot jalur bus-way tidak ada ampun akan
didenda sangat berat. Bagi penyerobot mobil ditetapkan denda Rp 1 juta, dan
bagi pengendara sepeda motor didenda Rp 500 ribu. Akibat kebijakan ini
ibukota Jakarta menjadi lumpuh total dalam kemacetan, bahkan kemacetan
ibukota berlangsung sampai jam 1 dinihari. Kemacetan ini juga diperparah
dengan pembuatan sumur-sumur resapan di pinggir-pinggir jalan yang
dikerjakan bagai tanpa program yang tepat-guna.

Warga Jakarta pun gempar, Bahkan presiden SBY pun tampil mengkritik
kebijakan Jokowi. SBY dalam pidato resmi, meminta agar Jokowi mengatasi
masalah kemacetan itu karena sudah menjadi tanggungjawab Pemda DKI. Tapi
Jokowi ganti menentang kritik itu dan menyatakan masalah kemacetan Jakarta
juga menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Jadilah polemik SBY versus
Jokowi di tengah masyarakat. Jokowi nekat mempertahankan kebijakan
sterilisasi bus-way ini, kendati masyarakat sudah mulai mencak-mencak tidak
bisa menerima kebijakan yang sepihak dan otoritar serta sok benar ini.
Semua warga ibukota hakikatnya setuju sejak awal hadirnya bus-way namun
bus-way dibangun dengan memakan jalan yang sudah ada sehingga menyempitkan
jalur di sampingnya. Karena itu di berbagai jalur bus-way seperti di Jalan
Raya Bogor niscaya tidak dibuat jalur bus-way secara mutlak, karena
sempitnya jalan yang ada. Di sini pasti tidak bisa diterapkan sterilisasi
bus-way, dan selama ini bus-way dan kendaraan umum lainnya menggunakan
jalur bersama-sama. Kini tiba-tiba dengan paksa Jokowi memperlakukan aturan
denda yang berat  itu, seolah-olah busway “bermodal” sendiri membuat jalan
khusus buat dirinya. Padahal bus-way dibangun dengan memakan jalur atau
jalan umum yang kini menjadi sempit karena dipakai bus-way.

Dari kasus *bus way *ini masyarakat bagai mulai menyadari bahwa kebijakan
Jokowi tidak selalu benar, selalu hebat, selalu unggul seperti digambarkan
sejak ia menjabat sebagai gubernur DKI. Kini masyarakat pun mulai menyadari
gebrakan-gebrakan Jokowi ---seperti melarang topeng monyet---hakikatnya
kurang ada kaitannya dengan usaha membenahi ibukota, khususnya mengatasi
banjir, dan kemacetan. Kebijakan topeng monyet hanyalah proyek pencitraan.
Pers audio visual pun kini mulai kritis dan melihat Jokowi ternyata tidak
konsisten membersihkan endapan lumpur di berbagai waduk, padahal hujan
besar sudah mulai turun di Jakarta dan kawasan hulu yang niscaya akan
berakibat banjir besar di Jakarta. Wartawan TV pun meliput kondisi
waduk-waduk di Jakarta yang ternyata tidak disentuh pengerukan lumpurnya,
sehingga terbayang akan berakibat banjir pada bulan Januari 2014 seperti
Januari 2013 di mana banjir menyerbu Jalan Soedirman-Thamrin Bunderan HI,
Istana Negara bahkan kantor Pemda DKI di Medan Merdeka Selatan. Mata warga
mulai melek melihat fakta ini.

Jika masyarakat luas mulai fair melihat fakta prestasi Jokowi--yang
ternyata nihil-- niscaya Jokowi dianggap bukanlah tokoh seperti digambarkan
dalam opini yang memuja-muji berlebihan seperti itu. Bahkan sebaliknya
Jokowi hakikatnya tokoh yang sarat kegagalan sebagai pejabat. Ketika
menjabat sebagai Wali Kota Solo Jokowi  gagal dalam proyek pemindahan
pedagang kaki lima di Pasar Banjarsari ke Pasar Ngarsopuro, Semanggi.
Proyek ini gagal karena para pedagangnya kini kembali lagi ke Banjarsari.
Proyek mobil SMK yang menghebohkan itu juga proyek gagal-total bahkan tidak
lulus uji kelayakan berkendara.

Jokowi juga mengidap isu kasus korupsi dana pendidikan, penjualan Hotel
Mulyawan, 11 kasus korupsi yang dilaporkan tokoh Solo, juga suap bos
Sritex. Kini di Jakarta proyek-proyeknya yang digambarkan sebagai mengubah
dan mengatasi ibukota mulai terbukti hanya omong kosong, seperti proyek
pemindahan pedagang kaki lima di Tanah Abang ke Blok G Pasar Tanah Abang
ternyata kini barang dagangannya tidak laku sama sekali.

Tiba saatnya masayarakat *melek* melihat fenomena Jokowi yang spektakuler,
hakikatnya hanya omong kosong, dan sengaja ditiup kalangan tertentu.
Misalnya mendorong Jokowi menjadi presiden RI pada 2014, dan konsekuensinya
akan menaikkan Ahok, yang warga keturunan Cina menduduki jabatan sebagai
gubernur DKI. Jika terjadi, ini pertama kali dalam sejarah Jakarta dipimpin
oleh warga keturunan Cina yang minoritas dan selama menjabat sebagai Wakil
Gubernur saja, Ahok sudah “mentang-mentang” dan arogan, hendak menggusur
masjid seenaknya  sendiri, bahkan menuduh umat Islam sering menyerobot
tanah milik pemerintah dengan cara membangun masjid.

Segalanya memang terserah rakyat ibu kota dan rakyat Indonesia pada
umumnya. Apakah mereka mau dibohongi dan dibodohi oleh opini penyesatan
seperti itu! *Wallahu a’lam bissawab. *

Kirim email ke