https://tekno.tempo.co/read/1038893/ternyata-inilah-biang-keladi-penyebab-alzheimer
Ternyata Inilah Biang Keladi Penyebab Alzheimer
Reporter:
Afrilia Suryanis
Editor:
Amri Mahbub
Sabtu, 2 Desember 2017 15:07 WIB
0 komentar
<https://tekno.tempo.co/read/1038893/ternyata-inilah-biang-keladi-penyebab-alzheimer#comments>
10002
# Font:
# Ukuran Font: -
<https://tekno.tempo.co/read/1038893/ternyata-inilah-biang-keladi-penyebab-alzheimer#font-decrease>
+
<https://tekno.tempo.co/read/1038893/ternyata-inilah-biang-keladi-penyebab-alzheimer#font-increase>
#
#
Kini Anda dapat mengganti jenis dan ukuran font sesuai preferensi Anda.
Saya mengerti
<https://tekno.tempo.co/read/1038893/ternyata-inilah-biang-keladi-penyebab-alzheimer#>
Ternyata Inilah Biang Keladi Penyebab Alzheimer
<https://tekno.tempo.co/read/1038893/ternyata-inilah-biang-keladi-penyebab-alzheimer>
Ilustrasi demensia/Alzheimer. Wisegeek.com
*TEMPO.CO, Montreal* - Penyakit Alzheimer
<https://tekno.tempo.co/read/1025261/kecerdasan-buatan-ini-bisa-deteksi-alzheimer-dengan-cepat>
adalah penyakit progresif yang berakibat pada kematian sel otak dan
ditandai dengan hilangnya fungsi kognitif secara bertahap. Tidak hanya
kemampuan berpikir dan mengingat yang menurun, tapi juga penderitanya
mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Semuanya
mengalami kemerosotan tanpa henti sampai tutup usia.
Meskipun Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum, mekanisme
dasarnya tidak sepenuhnya dipahami. Hingga kini tidak ada perawatan
untuk menghentikan penurunan itu. Namun kabar bagus datang dari para
peneliti di Universitas McGill, Montreal, Kanada. Mereka berhasil
mengungkapkan sepotong baru teka-teki, yang bisa memberi petunjuk untuk
pendekatan terapeutik baru.
Dalam studi yang dipublikasi di /Nature Communications/, mereka
menyatakan pemicu Alzheimer adalah terjadinya mekanisme sel yang
berkontribusi pada pemecahan komunikasi di antara neuron. Mereka
menyebutkan pentingnya peran molekul RNA dalam transmisi sinaptik, yakni
proses neuron berkomunikasi satu sama lain. Dalam jaringan otak pasien
Alzheimer, RNA yang menyandikan protein sinaptik mengalami penurunan
atau terdegradasi lebih cepat dibanding mereka yang memiliki sel otak
yang sehat.
Baca: Bahan Misterius Kopi Menangkal Alzheimer
<https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=10&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjGjcux7urXAhUP2o8KHSVCD1IQFghbMAk&url=https%3A%2F%2Ftekno.tempo.co%2Fread%2F343003%2Fbahan-misterius-kopi-menangkal-alzheimer&usg=AOvVaw3LaT7zTUP68jV5cYArrMS3>
Mereka juga menemukan jumlah protein dalam neuron pasien Alzheimer, yang
berfungsi membantu menstabilkan RNA, ini kurang berlimpah. Hamed S.
Najafabadi, penulis senior dan asisten profesor di Fakultas Genetika
Manusia Universitas itu, menyatakan tingkat protein yang tidak memadai
atau dikenal sebagai RBFOX1, diduga menjadi salah satu faktor kesalahan,
dan itu merupakan tanda dari penyakit Alzheimer.
Sel manusia menghasilkan ribuan jenis RNA berbeda untuk membawa
informasi genetik. Namun RNA juga mengalami proses pembusukan
terus-menerus. Padahal keseimbangan antara produksi dan degradasi
menentukan berapa banyak RNA yang diberikan ada di dalam sel. Sayangnya,
para ilmuwan itu baru mendapatkan informasi yang belum cukup banyak
tentang bagaimana proses pembusukan RNA dikendalikan.
Dalam penelitian sebelumnya yang juga dilakukan oleh Najafabadi,
diketahui bahwa degradasi RNA terlibat dalam penyakit manusia yang
berbeda. Sebagian besar temuan tersebut berasal dari penelitian pada
model penyakit garis sel. "Kami ingin mengukur laju degradasi RNA secara
langsung di jaringan manusia, namun metode yang tersedia tidak dapat
dilakukan," ujar Najafabadi.
Baca: Cokelat Hitam dan Anggur Merah buat Penderita Alzheimer
<https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=7&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjGjcux7urXAhUP2o8KHSVCD1IQFghJMAY&url=https%3A%2F%2Fwww.tempo.co%2Fread%2F895344%2Fcokelat-hitam-dan-anggur-merah-buat-penderita-alzheimer&usg=AOvVaw0CTPeDFvcHtU-aVXEVBZd5>
Mereka mencoba mencari tahu dengan memodelkan proses produksi dan
pembusukan RNA. "Kami merancang metode matematis untuk menghitung
degradasi RNA dengan menggunakan teknologi genomik yang ada," kata dia
lagi. Para peneliti pun melakukan pengujian dengan pendekatan yang lebih
baru. Caranya, mereka berkolaborasi dengan ilmuwan di University of
California, San Francisco, Amerika Serikat.
Mereka berbagi tugas. Tim California, yang dipimpin oleh Hani Goodarzi,
mengembangkan sel di laboratorium dan mengukur laju degradasi RNA dengan
menggunakan metode konvensional. Pada saat yang sama, di Montreal para
peneliti memperkirakan tingkat penggunaan metode matematika mereka.
Kedua hasil itu cocok. Najafabadi dan anggota tim penelitian kemudian
menerapkan metode matematis untuk menganalisis data yang tersedia di
jaringan otak orang-orang yang meninggal akibat Alzheimer dan
membandingkan dengan mereka yang tidak menderita Alzheimer. Hasilnya,
kedua kelompok tersebut menunjukkan tingkat degradasi RNA yang cepat dan
kekurangan protein RBFOX1 pada pasien Alzheimer.
Baca: Beda Penyakit Alzheimer dengan Pikun
<https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjGjcux7urXAhUP2o8KHSVCD1IQFgg3MAM&url=https%3A%2F%2Fcantik.tempo.co%2Fread%2F903071%2Fbeda-penyakit-alzheimer-dengan-pikun&usg=AOvVaw3vgBW3m1Lvj0y1BhoS3moF>
Namun ternyata hasil ini masih meninggalkan banyak hal yang harus mereka
ungkap. "Masih banyak yang harus dipelajari tentang peran degradasi RNA
pada penyakit Alzheimer dan lainnya," kata Najafabadi. Misalnya, dia
menambahkan, mengapa ada pengurangan RBFOX1 pada Alzheimer? Apakah
jumlah protein yang dikurangi ini merupakan faktor risiko, atau ciri
stadium selanjutnya?
"Dan dapatkah kita mengembalikan setidaknya sebagian dari fungsi normal
neuron, dengan mengendalikan aktivitas RBFOX1?" ujar dia. Alzheimer
tetap masih jadi misteri. Najafabadi masih terus bekerja keras
memecahkan teka-teki itu.
Baca: Nonton TV Seharian, Alzheimer Risikonya
<https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjGjcux7urXAhUP2o8KHSVCD1IQFggxMAI&url=https%3A%2F%2Fgaya.tempo.co%2Fread%2F855690%2Fnonton-tv-seharian-alzheimer-risikonya&usg=AOvVaw1SE742P_LaK9rZHBvKqBNg>
Simak artikel menarik lainnya tentang alzheimer
<https://www.tempo.co/tag/alzheimer> hanya di kanal /Tekno Tempo.co/
<https://tekno.tempo.co/>.
*NATURE COMMUNICATION | SCIENCE DAILY | DEMENTIA TODAY*
------------------------------------------------------------------------
# Alzheimer <https://www.tempo.co/tag/alzheimer>
# Penyebab Alzheimer <https://www.tempo.co/tag/penyebab-alzheimer>