KALAU berita/laporan wartawan ini memang mencerminkan kenyataan di lapangan, 
maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Hubungan antara penduduk asli 
dan penduduk pendatang sama sekali tidak ada masalah. Mereka sudah membaur, 
bahkan berani melindungi penduduk pendatang dari berbagai suku bangsa. 2. 
Kekejaman dan pelanggaran HAM aparat militer bisa digunakan oleh pasukan 
pemberontak untuk melampiaskan balas dendamnya kepada penduduk pendatang. 
Bentuknya sudah terlihat dalam skala kecil: mendatangi penduduk pendatang untuk 
mengintimidasi. 3. Kelakuan dan kebijakan tentara pemberontak jelas tidak 
pro-rakyat, maka itu ada penduduk asli yang merasa berada pada kedudukan yang 
sulit. Yang jelas malah memecah belah.Dalam berita yang pernah dipostingkan 
pernah saya baca beberapa tuntutan tentara pemberontak. Antara lain mereka 
menuntut ditarik mundurnya TNI untuk DIGANTIKAN DENGAN TENTARA PBB. Ini mutlak 
harus ditolak!!! Kita menuntut Tentara tidak turut campur dalam konflik tanah, 
konflik buruh, konflik sosial, dan konflik lainnya, tapi KEHADIRAN TENTARA PBB 
adalah mengundang instrumennya kaum imperialis sendiri masuk ke rumah kita!!! 
Pernah saya juga baca pernyataan seorang Jenderal tentara pemberontak yang 
minta agar tentara AS di basis militer di Darwin masuk ke Papua Barat untuk 
membantu menyelesaikan masalah pemisahan diri Papua Barat. Dari situlah maka 
sikap saya adalah harus menganalisa organisasi-organisasi pendukung 
separatisme.. apakah memang organisasi yang berpihak kepada rakyat jelata 
Papua??? Jonathan menganggap rakjyat Papua lepas dari jajahan Belanda dan masuk 
dalam jajahan Indonesia (lepas dari mulut harimau=Belanda, dan masuk ke mulut 
buaya=Indonesia). Itulah pendapat yang sebenarnya pro kolonial Belanda!!! 
Karena sama sekali tidak membedakan posisi Indonesia, yang membela kedaulatan 
nasionalnya, dari posisi Belanda kolonial yang membela penjajahan dan 
pendudukan atas Papua Barat!!! Dalam semua argumentasinya, tidak pernah dikutuk 
posisi Belanda kolonial!!! Yang dikutuk malah Indonesia!!!  Mengutuk 
pelanggaran HAM di Papua memang HARUS!! Tapi solusinya bukan memisahkan diri 
dengan alasan yang memalsu fakta sejarah!!! 

    On Thursday, November 30, 2017 1:38 AM, "Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

     
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/11/29/p06od2393-sanderasandera-itu-tiputipu
Kamis , 30 November 2017, 06:00 WIB‘Sandera-Sanderaitu Tipu-Tipu’Red: Fitriyan 
ZamzamiDok TNI Masyarakat asli Kimbeli dan Banti, Tembagapura, Mimika, 
Papuadievakuasi ke Gedung Emeneme, Timika, Papua. 
 Pertengahan November lalu publik dikejutkan oleh pernyataanaparat polisi soal 
situasi penyanderaan di lokasi pertambangan ilegaldi Tembagapura, Mimika, 
Papua. Jumlah sandera mencapai seribuan,menurut klaim polisi. Yang disandera 
adalah warga pendatang dantempatan. Penyandera adalah kelompok separatis Papua 
Merdeka.Pemberitaannya, pada saat itu, akhirnya bergantung dari 
pernyataanpolisi dan pernyataan kelompok separatis. Sukarnya akses ke 
Mimikamembuat peristiwa tersebut masih kelabu. Wartawan Republika MasAlamil 
Huda di Timika dan Fitriyan Zamzamiberkesempatan menggali kejadian itu, sejak 
pekan lalu. Berikuttulisannya.REPUBLIKA.CO.ID, MIMIKA -- Di kaki pegunungan 
Jayawijaya, Papua,ada sebuah danau. Wanagon dia punya nama. Airnya dahulu 
jernih,bersumber dari lelehan salju di puncak gunung.Bagi suku Amungme yang 
bermukim di sekitar lokasi itu, Wanagonjuga semacam tempat keramat. Danau ini 
adalah titik berkumpulnyaarwah para leluhur. Arwah-arwah tersebut nantinya 
membalas kebaikanalam dengan membawa kelestarian dan keberkahan bagi warga 
Amungmemelalui aliran sungai-sungai besar, salah satunya Aijkwa.Sungai-sungai 
besar itu kemudian bercabang lagi menjadi sejumlahkali. Di Distrik Tembagapura, 
membelah Kampung Utikini, KampungKimbely, dan Kampung Banti, Aijkwa bercabang 
menjadi Kali Kabur yangmengular sepanjang lima kilometer.Sudah sejak lama, yang 
mengalir dari Wanagon bukan lagi airjernih. Ini karena limbah bekas pengayakan 
bebatuan di pertambanganPT Freeport Indonesia di Grasberg menimbun danau 
tersebut. Wanagonkini jadi salah satu danau paling kritis di Indonesia.Residu 
pertambangan yang menimbun itu kemudian ikut mengalir kesungai-sungai di 
bawahnya. Termasuk ke Kali Kabur yang bentanganawalnya bermula dari Mile 37 
dari pusat pertambangan di Tembagapurahingga Banti.Masyarakat Mimika menamai 
wilayah Utikini-Kimbely-Banti dengansebutan ‘Atas’. Ini berkaitan dengan 
kondisi geografis dua daerahtersebut. Dua kampung itu membelah bukit-bukit dan 
dataran tinggi.Ketika warga berpelesiran ke tengah Kota Mimika, mereka 
disebutsedang ‘turun ke Bawah’.Terlepas posisi itu, Utikini-Kimbely-Banti bukan 
wilayah yang sepibetul, terlebih di tepian Kali Kabur. Limbah tambang dari PT 
Freeportyang masih mengandung sekutip emas mengundang penambang ilegal kelokasi 
tersebut tak lama selepas Reformasi pada 1998.Demam emas dari limbah tambang 
itu membuat warga dari luar Papuamemepaki tepian sungai dan kali di Mimika, 
termasuk Kali Kabur.Mereka mendulang emas dari kali yang airnya kini kerap tak 
lebih darisatu meter. Kegiatan ilegal itu, meski berkali-kali 
sempatditertibkan, akhirnya menciptakan ekosistem tersendiri. Banyak warga 
pendatang tak hanya mendulang emas. Beberapa lainnyaberjualan. Mereka berdagang 
bahan makanan dan bahan pokok lainnyaguna kebutuhan pendulang.Tempat dagangan 
atau kios-kios ini berdiri di sepanjang jalan diKampung Banti dan Kimbely di 
tepi Kali Kabur. Berjejeran dengantenda-tenda sederhana para pendulang.Kegiatan 
mendulang tersebut juga akhirnya dicontoh warga lokal.Etty Waker (29 tahun) 
seorang warga Kimbely, salah satunya. Lelakisuku Amungme itu menuturkan, ia 
biasa mencari emas bersebelahandengan warga pendatang dari Sulawesi dan Jawa di 
Kali Kabur.Menurut dia, selama ini jarang ada perselisihan di antara 
mereka.“Kita ini masyarakat biasa-biasa saja. Kita ini mereka punyasaudara,” 
kata Etty saat ditemui Republika di Mimika,pekan lalu.Hal serupa disampaikan 
Obaja Lawame (30 tahun). Ketika ditanyaisoal hubungan mereka dengan pendatang, 
ia lekas menyela.“Tidak-tidak, mereka tinggal dengan kita. Mereka kita 
punyasaudara,” katanya di Gedung Graha Eme Neme Yauware, Mimika.Lelaki yang 
juga tokoh masyarakat di Kimbely ini mengatakan,selama beberapa tahun terakhir 
sejak para pendatang ke kampunghalamannya, kehidupan bermasyarakat di antara 
mereka terjalin cukupbaik. Mereka saling mengisi kebutuhan satu sama lain.Ketua 
Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB) di Mimika, ImamPradjono, menuturkan, ada 
90 warga suku Jawa yang mencari nafkah didua kampung tersebut. Sebagian besar 
pendulang, beberapa lainnyaberjualan.“Kita bukan orang baru di sana, sudah 
cukup lama. Ada yang satutahun, ada yang lebih dari lima tahun. Mereka ini 
bersahabat,keluarga kita yang pendatang dengan masyarakat putra daerah yang 
diBanti dan Kimbely itu keluarga, berbaur. Dengan orang Toraja dansebagainya 
juga,” kata dia kepada Republika diMimika.Hingga kemudian terjadi insiden pada 
21 Oktober 2017. Aparatkepolisian yang sedang berpatroli ditembaki saat 
melintas di BukitSanger, Kampung Utikini. Dua anggota Brimob terluka. 
Penembakankembali terjadi keesokan harinya di lokasi yang sama. Kali ini, 
bakutembak mengakibatkan anggota Brimob Yon B Mimika bernama Briptu 
BerryPermana Putra kemudian gugur. Empat anggota Brimob yang mengevakuasiBriptu 
Berry juga menjadi korban luka.Pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua 
Barat-Organisasi PapuaMerdeka (TPNPB-OPM) mengklaim sebagai dalang penembakan 
tersebut.Bukan itu saja, mereka juga menjanjikan akan meningkatkan 
penyerangandi wilayah Tembagapura dengan dalih merongrong keberadaan PT 
Freeportserta sebagai upaya pembebasan Papua dari NKRI.Sayap militer OPM 
tersebut sudah sejak lama beroperasi dipegunungan tengah Papua. Pada 2014-2015, 
serangan-serangan kianterkonsentrasi di wilayah pedalaman sekitar areal tambang 
PTFreeport. Kepolisian melansir, selain sejumlah pasukan tewas darikedua sisi, 
sebanyak 32 senjata api juga dirampas kelompok bersenjatadari pihak kepolisian 
pada periode itu.Komandan Operasi TPNPB-OPM III Timika, Hendrik Wanmang, 
menyatakandalam pernyataan resmi, mereka telah menyepakati pada 21 Oktober 
2017untuk membalas perlakuan aparat keamanan Indonesia atas warga Papua.Wanmang 
jadi salah satu yang menandatangani kesepakatan itu.Bersamaan itu pula, Imam 
Pradjono mengklaim, ia kerap mendapatlaporan via telepon dari warga Jawa yang 
berada di Banti dan Kimbelybahwa mereka disatroni kelompok bersenjata. 
“Kemudian orang Jawaada yang sempat kena pukul, dompet dirampas, uang diambil, 
HP diambildengan tujuan agar tidak bisa komunikasi dengan dunia luar,” 
ujarImam.Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom tak menampik ada perampasantelepon 
genggam. Menurut dia, tentara-tentara TPNPB-OPM menyitasementara telepon 
genggam itu agar para pendulang emas takmenghubungi kepolisian soal keberadaan 
pasukan mereka. Terlebih, mereka mendengar kabar bahwa pendulang dari 
luardisusupi aparat keamanan. “Kami kumpulkan semua HP dan hartasementara 
saja,” ujarnya kepada Republika viasambungan telepon.Bagaimanapun, situasi 
terus memanas. Muncul isu adanya pemerkosaanterhadap seorang perempuan warga 
pendatang. Pada Sabtu (4/11) hinggaAhad (5/11), terjadi pembakaran terhadap 
kios-kios warga yang beradadi seputaran asrama Polsek Tembagapura di Mile 
68.Tenda-tenda rumah darurat para pendulang emas di pinggiran KaliKabur, juga 
dibakar. Polsek Tembagapura, sekira 500 meter dariUtikini-Kimbely-Banti 
ditembaki. Bendera Bintang Kejora berkibar disalah satu bukit di Banti.Suasana 
mencekam di Tembagapura dan sekitar lokasi tambang. Salingburu antara aparat 
keamanan dan kelompok bersenjata lalu menjadikanakses utama menuju 
Utikini-Kimbely-Banti tertutup. Bahan makanantidak bisa masuk. Warga tempatan 
tak berani keluar.Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar menyatakan, pada 11 
November2017, Utikini-Kimbely-Banti telah dikuasai kelompok bersenjata.Sekitar 
1.300 warga, menurut kepolisian, disandera kelompokbersenjata yang berkekuatan 
sekitar 100 petempur dibekali 35 senjataapi. Namun, benarkah ada penyanderaan 
saat itu?  Tentaramengevakuasi warga pendatang dari Kampung Kimbely ke Timika, 
Jumat(17/11). (Jeremias Rahadat/Antara)‘Mereka Kita Amankan’Raut-raut wajah 
menampakkan ketegangan dan kelelahan begitu turundari bus. Sejumlah 344 jiwa, 
mulai dewasa, perempuan, hinggaanak-anak kala itu diangkut dengan 10 bus milik 
PT Freeport Indonesiadari Kampung Banti dan Kimbely.Ratusan warga yang 
dievakuasi Satgas Terpadu TNI-Polri pada Jumat(17/11) itu nyaris seluruhnya 
pendatang. Mereka gabungan dari banyaksuku, mulai Jawa, Toraja, hingga Batak 
dan beberapa lainnya. Hanyaseorang pria dan delapan anak-anak asli Papua dalam 
rombongan itu.Tak sampai sepekan di Timika, pusat Kota Mimika, mereka 
langsungdipulangkan ke daerah masing-masing. Kepolisian dan TNI 
mengklaim,ratusan warga pendatang itu dibebaskan dari penyanderaan olehkelompok 
kriminal bersenjata alias KKB.Namun, ada versi lain yang didapat Republika 
dariwarga tempatan. “Sandera-sandera itu tipu-tipu,” kata Soli Alomkepada 
Republika di Graha Eme Neme Yauware, Timika,akhir pekan lalu. Lelaki 28 tahun 
itu terus mengunyah buah pinang dankapur sirih sepanjang berbicara dengan 
Republika.Soli mengernyitkan dahi mengingat-ingat, warga pendatang yangsebagian 
berdagang bahan makanan dengan mendirikan kios-kios ditepian jalanan kampung 
terus menerima ancaman sejak pertengahan bulanlalu. Beberapa melaporkan ada 
perampasan bahan makanan, uang, hinggatelepon genggam. “Mereka takut terus lari 
ke kita (warga lokal).Mereka juga kita punya saudara,” kata Soli.Tak jauh dari 
Soli berdiri, Obaja Lawame ikut menimpali. WargaKimbely ini menyebut, krisis di 
Kimbely-Banti dimulai dari kontaksenjata aparat TNI-Polri dengan kelompok 
bersenjata sejak 8 Oktober.Praktis sejak saat itu, menurut dia, akses utama 
menuju kampung disana terblokir. Pedagang tidak bisa mendapat bahan makanan 
dari“bawah”, sebutan untuk Distrik Timika, dan warga terisolasi tidakbisa ke 
mana-mana.Warga bertahan dengan makanan yang tersisa. Pada 22 Oktober,lelaki 
yang ditokohkan di Kimbely ini mendapat kabar ada anggotaBrimob bernama Briptu 
Berry Permana Putra gugur tertembak.Sejak saat itulah, menurut dia, keadaan 
kian tak aman dan semuawarga pendatang diajak untuk tinggal bersama warga lokal 
demi alasankeamanan. “Kita kumpulkan jadi satu tempat, tapi bukan 
disandera.Kita kasihan mereka, makanya kita amankan di kita punya rumah 
sambilkita tunggu jalan buka,” ujar Obaja.Dia mengatakan, situasi itu terus 
terjadi hingga beberapa pekanselanjutnya. Persediaan makanan kian menipis 
sehingga mereka harusbertahan berpekan-pekan dalam keterbatasan.Obaja juga 
mengiyakan kelompok bersenjata merampas barang daganganmasyarakat di kios, 
uang, hingga emas hasil pendulangan yang belumdijual. Sebagian warga pendatang, 
menurut dia, tinggal di daerah yangkerap disebut Longsoran di tepi Kali Kabur. 
Sementara perkampunganwarga tempatan agak masuk ke dataran yang lebih 
tinggi.“Orang-orang ini, mereka punya tempat jualan itu, jualan itu dipinggir 
jalan. Jadi orang OPM naik turun itu selalu ganggu-ganggu.Mereka naik turun ada 
orang kios dipukul, ditodong, jadi mereka(pendatang) takut. Jadi 300 berapa 
orang itu kita tampung di rumahkita di dalam,” kata Obaja lebih lanjut.Ketua 
majelis gereja di Kimbely, Natanbagai (35 tahun) menekankan,yang terjadi adalah 
warga asli di Kimbely-Banti ikut mengamankan parapendatang dari gangguan 
kelompok bersenjata. Selama beberapa pekandalam situasi yang tidak kondusif, 
menurut dia, para pendatang bisamerasa cukup aman.Situasi jadi pelik saat 
kios-kios warga yang berada di seputaranasrama Polsek di Mile 68, Tembagapura, 
dibakar. Beberapa kios yangsudah tak berpenghuni dibakar pada Ahad (5/11) dini 
hari. “Kalautidak bawa ini semua bahaya, (persediaan) makanan habis. 
Masyarakatminta turun karena ada kontak senjata dan bahan makanan habis,”ujar 
Natanbagai.Kisah lain pula muncul dari sisi para pendatang. Salah satunya,Desi 
Rante Tampang (33). Wanita asal Toraja, Sulawesi Selatan, itumengklaim telah 
berjualan kelontong di areal pendulangan emas sejak2014. "Puji syukur kepada 
Tuhan karena kami sudah berada ditempat yang aman sehingga tidak lagi ketakutan 
dan terintimidasi,"kata Desi setelah dievakuasi pada Jumat (17/11) seperti 
dilansirAntara.Ia mengatakan, selama sebulan di “Atas”, kelompok 
bersenjatasenantiasa berpatroli dari rumah ke rumah dengan membawa senjata 
apidan senjata tajam. Ibu tiga anak itu menuturkan, wajah para anggotakelompok 
bersenjata tak bisa dikenali karena dilumuri cat hitam."Bila malam tiba kami 
semua dikumpulkan di satu rumah danbila siang kami kembali ke rumah masing- 
masing. Bila mereka datang,kami langsung masuk ke dalam ruangan atau kamar 
karena takut,"kata Desi.Versi Polda Papua, tak hanya intimidasi, warga 
pendatang jugamendapatkan pelecehan seksual. Kabid Humas Polda Papua Kombes 
AhmadMustofa Kamal menuturkan, warga yang mengalami pelecehan seksual olehKKB 
di area Longsoran sebanyak lima perempuan atas nama EK, T, HY, D,dan L. 
Sementara korban kekerasan seksual di kampung Kimbely atasnama R, MM, LL, S, 
RK, I, dan ML.Data warga yang dianiaya dan ditodong dengan senjata api 
sebanyak19 orang. Warga yang dirampas telepon genggamnya sebanyak 74 
orangdengan jumlah barang bukti 200 unit telepon.Total uang yang dirampas 
kelompok bersenjata senilai Rp 107,5juta. Jumlah paling kecil yang dirampas 
senilai Rp 500 ribu milikpendatang berinisial P, dan yang paling besar Rp 30 
juta miikpendatang berinisial B. Sedangkan total emas yang dirampas 
seberat254,4 gram. Yang paling ringan, milik YP seberat 5,4 gram, dan 
palingbanyak milik YM seberat 100 gram.Situasi yang lebih kompleks disampaikan 
Ketua Kerukunan KeluargaJawa Bersatu (KKJB) di Mimika, Imam Pradjono. Dalam 
tamsil, iamengatakan, ada sentimen tertentu juga di warga lokal Kimbely 
danBanti.Sejumlah saksi mata juga mengatakan, simpatisan Papua merdeka 
taksekadar 20-an orang seperti yang diklaim kepolisian. Jumlahnyaratusan dan 
sebagian berbaur dengan warga lokal.“Orang-orang yang di seberang sana, yang 
sehati, tapiberseberangan pandangan itu menyandera orang kita,” ujar dia 
kepadaRepublika. Menurut dia, nyaris sebulan penuh warga pendatangtak boleh 
bekerja. Tak boleh keluar dari perimeter yang ditetapkankelompok bersenjata di 
Kimbely-Banti.Komandan Operasi TPNPB-OPM III Timika, Hendrik Wanmang 
mengklaim,yang mereka lakukan hanyalah menjaga agar warga Kimbely-Banti 
takmasuk dalam wilayah tempur dengan TNI-Polri. Pihak TPNPB-OPM jugamenyatakan, 
kios-kios yang disatroni juga milik mereka yangterindikasi bekerja sama dengan 
TNI-Polri. Menurut mereka, tak adapemerkosaan.Bagaimanapun, pada Jumat (17/11), 
pihak TNI-Polri merasa cukup.Operasi penyerbuan digelar. Operasi yang kemudian 
memunculkan versiberbeda pula.Paratentara anggota operasi penyerbuan ke 
Kimbely-Banti saat menerimapenghargaan, Ahad (19/11). (dok. Puspen TNI)Misteri 
Dua Jenazah di Bukit KimbelyPernak-pernik khas suku-suku di pegunungan Papua 
menggantung dileher Kamaniel Waker. Mulai dari taring babi hutan hingga tas 
rajutkecil menghiasi dada pria berumur 49 tahun itu. Ia ditemuiRepublika ketika 
tengah mengordinasi para pengungsi diGraha Eme Neme Yauware, Distrik Timika, 
Mimika, pekan lalu.Tangannya liat dan berotot sewarna kayu jati, genggamannya 
kerassaat bersalaman. Sorot matanya yang tajam, jenggot lebat di 
wajah,memunculkan kesan tegas. Namun, ketika diajak berbinjang,keramahannya 
muncul. Ia beberapa kali tertawa di sela-selapembicaraan. “Kalau mereka lapar, 
saya lapar. Kalau mereka mati, sayamati.” Kamaniel mengingat bagaimana ia harus 
terus mengulangikata-kata itu di hadapan saudara-saudara satu sukunya yang 
telahmenggabungkan diri dengan TPNPB-OPM. Ada keponakannya dan sepupu di antara 
mereka. Ayub Waker yangdisebut memimpin para petempur TPNPB-OPM di Mimika, kata 
Kamaniel,adalah pamannya.Sambil pasang badan, Kamaniel mengatakan, ia harus 
dibunuh dulusebelum para pendatang beretnis  Jawa, Toraja, Buton, Bugis, 
danBatak, yang ia lindungi di Kampung Kimbely dan Kampung Banti, 
DistrikTembagapura, Mimika, dihabisi kelompok bersenjata. “Lebih saya mati sama 
kamu orang, dari pada sama orang lain,”kata Kamaniel kepada kelompok 
bersenjata. Ia berupaya meyakinkanpetempur-petempur TPNPB-OPM, para pendulang 
emas ilegal tersebutwarga biasa. “Mereka kamu orang punya masyarakat, 
tentara(Indonesia) punya masyarakat.”Baku buru antara TNI-Polri dengan kelompok 
bersenjata TPNPB-OPMtelah membuatnya dalam posisi sulit sejak pertangahan 
Oktober lalu.Sebagai kepala suku umum yang melingkupi suku-suku di Mimika, 
iawajib melindungi puaknya. Kamaniel juga merasa berkewajiban melindungi warga 
pendatangpendulang emas di Kali Kabur yang belakangan kerap diganggu 
kelompokbersenjata. Ia meyakini, perang semestinya hanya antara para petempur 
darikedua sisi. Warga sipil tak boleh diganggu. Kamaniel mengklaim sempatdicap 
pengkhianat oleh anggota kelompok bersenjata terkait sikap itu.“Dia orang 
tembak saya empat kali,” kata Kamaniel kepadaRepublika.Kemudian datang pagi 
hari itu. Pada Jumat (17/11), pukul 07.00WIT, pasukan TNI memasuki desanya saat 
anggota TPNPB-OPM yangberjaga-jaga di pintu masuk menuju Utikini dan di dalam 
Kimbely-Bantimundur ke pos-pos mereka di bukit-bukit yang mengitari kampung. 
“Mereka (TNI) kasih tahu masyarakat tidak boleh lari dan haruspasang 
Merah-Putih,” kata Kamaniel. Pukul 08.00 WIT, kata Kamaniel,sekitar 300 warga 
pendatang diminta keluar dari rumah-rumah diKimbely. Warga lokal juga 
dikumpulkan di lapangan kampung. Sementara itu, serangan dilancarkan. Kamaniel 
bersaksi, tentaramelepaskan tembakan dengan senjata api ke arah gunung-gunung 
hinggasekitar pukul 09.00 WIT. “Mereka juga tembak bom pakai meriam,”kata 
Kamaniel.Ketakutan, warga kampung tetap di posisi mereka hingga 
seranganselesai. Aparat kemudian menguasai lokasi sekitar pukul 11.00 
WIT.Sebanyak 335 warga non-Papua di Kimbely-Banti beserta satu pria dandelapan 
anak Papua lalu dievakuasi berjalan kaki keluar kampung dandijemput menggunakan 
sejumlah bus di Polsek Tembagapura.Versi resmi dari Komando Daerah Militer 
(Kodam) XVII/Cendrawasih,sekira lima hari sebelum evakuasi 13 personel Kopassus 
dan 10personel Kostrad sudah mengintai lokasi. Hadir juga Peleton IntaiTempur 
Kostrad bersama Batalyon Infanteri 754/Eme Neme Kangasi yangmasing-masing 
berkekuatan 10 personel.Mereka mengendap dan memantau pergerakan kelompok 
bersenjata yangdisebut membaur dengan warga lokal. Pada Jumat (17/11) pagi, 
saatanggota kelompok bersenjata naik ke pos masing-masing di bukit,tentara 
merangsek masuk ke Kimbely dan Banti sembari menghalaukelompok bersenjata 
dengan tembakan-tembakan.Sehari setelah evakuasi, aparat kemudian melakukan 
penyisiran. Duajenazah di temukan di gunung-gunung yang ditembaki sehari 
sebelumnya.“Ada dua orang mati ditembak pakai bom,” kata seorang wargaKimbely, 
Soli Alom (28 tahun), kepada Republika diTimika, pekan lalu.Pihak Kodam 
XVII/Cendrawasih mengklaim keduanya anggota kelompokkriminal bersenjata. "Satu 
orang menggunakan kaos loreng TNIcelana hitam sampai lutut, pakai sepatu boot, 
dan ikatkepala Bintang Kejora. Yang satu lagi, celana selutut tanpa baju,sepatu 
boot karet, noken Bintang Kejora," tuturKepala Penerangan Kodam 
XVII/Cendrawasih Letnan Kolonel Infantri MAidi.Sedangkan Juru Bicara TPNPB-OPM 
Sebby Sambom berkeras, keduanyaadalah warga sipil. “Kami mengklarifikasi bahwa 
mereka adalah wargasipil yang berada di Kimbely.  Itu adalah pelanggaran HAM 
danIndonesia harus bertanggungjawab,” ujar Sambom dalam pernyataanresmi, pekan 
lalu.Menurut Kamaniel, kenyataannya berada di tengah-tengah. Salah satuyang 
tewas, seingat Kamaniel, adalah Ilame Waker. Ia berusia sekitar20 tahun. “Dia 
bapak ade (paman) punya anak,” kataKamaniel. Menurutnya, Ilame memang petempur 
TPNPB-OPM. “Dia pegangsenjata.”Lain halnya dengan korban lainnya, Berina Waker 
yang seumurandengan Ilame. Seperti Ilame, Berina juga sepupu Kamaniel. 
Iamenuturkan, Berina sedianya seorang pendulang emas yang kerap 
bekerjabersisian dengan para pendatang. Saat krisis di Kimbely-Banti, Berina 
beberapa kali naik kebukit-bukit menemui saudara-saudara anggota kelompok 
bersenjata. Saatterjadi penyerangan dan evakuasi warga oleh TNI, Berina 
kebetulanberada di lokasi yang jadi sasaran tembak. “Dia tidak bisa 
turun.”Pihak TNI mengklaim, kedua jenazah kemudian diserahkan ke sukumereka 
untuk dibakar sesuai adat tempatan. Sedangkan menurutKamaniel, bukan karena 
ritual jenazah mereka dibakar. “Kulit sudahterkupas semua, tulangnya 
kelihatan,” kata Kamaniel merujuk kondisijenazah. Selepas penemuan jenazah itu, 
perburuan kelompok bersenjata masihterus dilakukan. Suara-suara tembakan masih 
kerap terdengar dariKimbely dan Banti. Tak mau ambil resiko, Kamaniel merayu 
sekitar800-an warganya turun mengungsi ke Timika, pusat kota Mimika. ”Babi sama 
kebun kita tinggal semua,” ujarnya. Meski begitu,ada sebagian yang tak hendak 
turun dengan dalih menjaga ternak.Sebagian mengungsi di Graha Eme Neme Yauware, 
lainnya di keKampung Damai di Distrik Kwamki Narama. Mereka menempati Gereja 
GKIIwilayah II Pegunungan Tengah Papua Jemaat Anugerah.Kamaniel mengatakan, 
sebagian pengungsi yang tidak memilikikeluarga di Timika akan direlokasi ke 
lahan di Mile 32, Distrik KualaKencana. Situasi di atas yang tak menentu 
membuat Kamaniel merasaperlu adan tempat baru untuk penghidupan yang lebih 
layak dankeberlanjutan pendidikan anak-anak Banti, Kimbely, dan 
sekitarnya.Namun tak semua warga suku membagi keinginan itu. Belum 
sepekan,pengungsi sudah merindukan dataran tinggi yang lebih sejuk. “Sayasu 
(sudah) tidak kuat panas di sini,” kata Agustina,seorang warga Kimbely kepada 
Republika di halamanGedung Eme Neme Yauware pekan lalu.Kehidupan di Kampung 
Kimbely, kata perempuan Amungme berusia 40tahun itu, adalah surga meski penuh 
kekurangan. Dia juga memikirkankelanjutan pendidikan empat anaknya yang masih 
duduk di bangkusekolah dasar, yang  juga ikut turun ke pengungsian. Harapannya 
sederhana, agar kedamaian di kampungnya bisa dipulihkankembali dengan cara 
sebaik-baiknya. “Tuhan kasih saya tempat ini(Kampung Kimbely). Tuhan yang kasih 
kau jaga saya punya gunung,”ujar dia. n
  #yiv7835332184 #yiv7835332184 -- #yiv7835332184ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-mkp #yiv7835332184hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-mkp #yiv7835332184ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-mkp .yiv7835332184ad 
{padding:0 0;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-mkp .yiv7835332184ad p 
{margin:0;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-mkp .yiv7835332184ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-sponsor 
#yiv7835332184ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-sponsor #yiv7835332184ygrp-lc #yiv7835332184hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-sponsor #yiv7835332184ygrp-lc .yiv7835332184ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7835332184 #yiv7835332184actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7835332184
 #yiv7835332184activity span {font-weight:700;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7835332184 #yiv7835332184activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7835332184 #yiv7835332184activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7835332184 #yiv7835332184activity span 
.yiv7835332184underline {text-decoration:underline;}#yiv7835332184 
.yiv7835332184attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7835332184 .yiv7835332184attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7835332184 .yiv7835332184attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7835332184 .yiv7835332184attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7835332184 .yiv7835332184attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7835332184 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7835332184 .yiv7835332184bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7835332184 
.yiv7835332184bold a {text-decoration:none;}#yiv7835332184 dd.yiv7835332184last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7835332184 dd.yiv7835332184last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7835332184 
dd.yiv7835332184last p span.yiv7835332184yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7835332184 div.yiv7835332184attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7835332184 div.yiv7835332184attach-table 
{width:400px;}#yiv7835332184 div.yiv7835332184file-title a, #yiv7835332184 
div.yiv7835332184file-title a:active, #yiv7835332184 
div.yiv7835332184file-title a:hover, #yiv7835332184 div.yiv7835332184file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7835332184 div.yiv7835332184photo-title a, 
#yiv7835332184 div.yiv7835332184photo-title a:active, #yiv7835332184 
div.yiv7835332184photo-title a:hover, #yiv7835332184 
div.yiv7835332184photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7835332184 
div#yiv7835332184ygrp-mlmsg #yiv7835332184ygrp-msg p a 
span.yiv7835332184yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7835332184 
.yiv7835332184green {color:#628c2a;}#yiv7835332184 .yiv7835332184MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7835332184 o {font-size:0;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184photos div {float:left;width:72px;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7835332184
 #yiv7835332184reco-category {font-size:77%;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184reco-desc {font-size:77%;}#yiv7835332184 .yiv7835332184replbq 
{margin:4px;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-mlmsg select, #yiv7835332184 input, #yiv7835332184 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-mlmsg pre, #yiv7835332184 code {font:115% 
monospace;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-mlmsg #yiv7835332184logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-msg 
p#yiv7835332184attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-reco #yiv7835332184reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-sponsor 
#yiv7835332184ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-sponsor #yiv7835332184ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-sponsor #yiv7835332184ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7835332184 #yiv7835332184ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7835332184 
#yiv7835332184ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7835332184 

   

Kirim email ke