----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada:
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Jumat, 8 Desember 2017 19.48.05
GMT+1Judul: [GELORA45] Apa yang mendasari pengakuan Trump atas Yerusalem? Tujuh
hal yang harus Anda ketahui
Apa yang mendasari pengakuan Trump atas Yerusalem? Tujuh hal yang harus Anda
ketahui
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Apa yang mendasari pengakuan Trump atas Yerusalem? Tujuh hal yang harus ...
Mengapa Trump akui Yerusalem sebagai ibu kota Israel? Apakah kira-kira ia akan
berubah pikiran? BBC menjawab per...
|
|
|
- 6 jam lalu
- Bagikan artikel ini dengan Facebook
- Bagikan artikel ini dengan Twitter
- Bagikan artikel ini dengan Messenger
- Bagikan artikel ini dengan Email
- Kirim
Hak atas fotoRONEN ZVULUN/AFP/GETTY IMAGESImage captionPresiden Donald Trump
saat berkunjung ke Yerusalem, Mei 2017.
Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem
sebagai ibu kota Israel telah memicu kutukan, kecaman, dan penentangan dari
berbagai pihak.
Di kalangan pembaca BBC Indonesia, muncul pertanyaan tentang apa yang mendasari
keputusan Trump tersebut dan apa dampaknya bagi dunia. Berikut kami menjawab
berbagai pertanyaan Anda.
Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Presiden Trump mengatakan 'sudah
saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel'.
Menanggapi keputusan ini, kami menerima sejumlah pertanyaan pembaca tentang apa
yang akan terjadi selanjutnya. Berikut pertanyaan Anda dan jawaban kami:
Mengapa Presiden Trump mengambil keputusan ini? Apa kepentingan Trump di balik
pengakuan tersebut?
Menurut penjelasan Barbara Plett Usher, wartawan BBC di Kementerian Luar Negeri
AS, bahwa tidak ada strategi khusus di balik keputusan ini.
"Fakta bahwa Palestina, dan seperti dilaporkan, para pemimpin dunia Arab,
dikejutkan oleh keputusan ini merupakan satu tanda bahwa ini bukan merupakan
bagian dari strategi Timur Tengah yang lebih luas," menurut Usher.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionDalam pernyataan pers di Gedung Putih,
Presiden Trump juga mengatakan Israel memiliki hak untuk menentukan ibu kotanya.
Lebih lanjut dia menyatakan, ada spekulasi bahwa Trump berupaya untuk mengubah
beberapa hal sebagai taktik persiapan di lapangan untuk perundingan damai,
namun ada lebih banyak bukti yang menunjukkan bahwa Trump hanya berfokus pada
pemenuhan janji kampanye terhadap Yahudi Amerika pro-Israel dan kelompok
Kristen Evangelis yang merupakan basis massa politisnya.
Menurut berbagai laporan, Trump merasa frustrasi dengan penentangan yang
terus-menerus dari tim keamanan nasionalnya, yang berkumpul Senin (04/12) untuk
membahas opsi pengabaian kedutaan besar.
- Yerusalem: Tiga hal yang perlu Anda ketahui tentang kota suci
- Yerusalem 'ibu kota Israel': Presiden Jokowi dan para pemimpin dunia kutuk
keputusan Trump
- Memahami peta konflik Israel-Palestina
Isu ini muncul setiap enam bulan saat AS diwajibkan oleh aturan untuk
memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv atau mengabaikan tuntutan Kongres
atas alasan keamanan.
Pejabat AS mengatakan bahwa mereka setuju untuk menandatangani pengabaian itu
dengan janji mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan membuka proses
memindahkan kedutaan besar.
"Sementara beberapa presiden sebelumnya menjadikan ini sebagai janji utama
kampanye mereka, mereka gagal memenuhinya. Hari ini, saya memenuhi janji itu,"
kata Trump dengan penuh kemenangan dalam pidatonya.
Hak atas fotoEPAImage captionWajah Wakil Presiden AS Mike Pence yang
berseri-seri di belakang Trump punya arti penting.
Selain itu, wajah Wakil Presiden Mike Pence yang berseri-seri di belakang Trump
saat pengumuman sudah menyampaikan semuanya, menurut Usher lagi.
Wakil Presiden Pence disebut sebagai 'suara berpengaruh' dalam meyakinkan Trump
untuk memenuhi janji kampanyenya itu, dan ini menggambarkan kekuatan politik
dari Evangelis Kristen garis keras yang mendukung penuh Israel.
Dan pengaruh Pence ini tak lepas dari pengamatan legislator Palestina dan
penganut Kristen, Hanan Ashrawi.
"Tuhan saya tidak memberi tahu apa yang disampaikan oleh Tuhannya," kata
Ashrawi dalam wawancara dengan BBC.
"Kami adalah Kristen yang asli, kami pemilik tanah itu, kami adalah orang-orang
yang sudah di sana selama berabad-abad. Berani-beraninya mereka datang ke sini
dan memberikan ayat Injil dan posisi absolutis!"
Mungkinkah Trump mengubah keputusan?
Bisa saja, tapi tampaknya sulit.
Keputusan Trump ini memang berbeda dari presiden-presiden AS sebelumnya,
mendapat kecaman dunia, dan mengejutkan banyak orang dan sepertinya Trump
memang ingin berbeda dari presiden AS lain.
- Donald Trump: Yerusalem adalah ibu kota Israel
- 'Yerusalem ibu kota Israel': AS desak Palestina tak batalkan pertemuan
Wapres Pence dengan Presiden Abbas
Namun juga keputusan ini diambil untuk memuaskan massa pendukungnya, sehingga
sepertinya sulit untuk membayangkan Trump mengubah keputusan.
Apakah pengakuan ini akan membuat marah umat Islam seluruh dunia? Bagaimana
peta politik konflik Timur Tengah pascaputusan Trump? Apa implikasi kebijakan
sepihak AS di Timur Tengah?
Pengumuman Trump ini merupakan ujian baru bagi Timur Tengah. Setidaknya, ada
reaksi kuat dari sekutu AS di dunia Arab, menurut Usher.
Status Yerusalem sebagai tempat yang suci berarti bahwa pemimpin Arab tidak
akan terlalu tergerak untuk mengambil pendekatan pragmatis yang akan mereka
pakai dalam isu penting lain terkait konflik Israel-Palestina.
Hak atas fotoAFP/GETTY IMAGESImage caption"Pence, Anda tidak disambut baik,"
tulis sebuah grafiti di Bethlehem di Tepi Barat.
Yordania dan Arab Saudi, sebagai penjaga situs suci Islam, telah mengeluarkan
peringatan bahwa langkah ini bisa membuat marah dunia Islam.
Namun revolusi Arab kini memindahkan prioritasnya dari isu Palestina ke isu
soal Iran, terutama di kalangan negara-negara Teluk.
Karena mereka telah membentuk kerja sama intelijen diam-diam dengan Israel, dan
membutuhkan Trump.
Jika pemimpin Arab mengeluarkan banyak pertanyaan soal Yerusalem tapi tak
mengambil aksi apa-apa, ini menjadi bukti bahwa ada Timur Tengah yang baru.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan pada apakah ibu kota Israel adalah
Yerusalem Barat, tapi apakah Yerusalem Timur yang diduduki Israel akan menjadi
ibu kota negara Palestina.
Hak atas fotoBBC INDONESIA
Trump membuka kemungkinan itu dengan mengatakan bahwa pemerintahnya tidak
mengambil posisi final mengenai status kota suci, "termasuk soal batasan
spesifik akan kedaulatan Israel di Yerusalem, atau resolusi dari perbatasan
yang diperdebatkan".
Ini mengindikasikan bahwa klaim Palestina terhadap Yerusalem Timur akan tetap
ada dalam agenda negosiasi.
Meski begitu, Trump tidak memperjelas pernyataan ini, atau bahwa dia menyatakan
dengan jelas bahwa tujuannya adalah solusi dua negara.
- Yerusalem 'ibu kota Israel': Hamas serukan intifada baru, sebut Trump
'buka gerbang neraka'
- AS konsultasi dengan RI soal Yerusalem? Dubes AS: Itu salah terjemahan
Namun dia menyatakan bahwa AS akan mendukung solusi tersebut jika disepakati
oleh dua belah pihak: dan ini bukanlah dukungan yang diharapkan oleh Palestina.
Pada akhirnya, Trump tidak menawarkan apa-apa bagi Palestina, dan pidatonya
terasa seperti dukungan hanya kepada Israel.
Apa ada sisi positif dari pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota
Israel?
Trump telah mengklaim bahwa pengakuan atas Yerusalem ini akan memajukan proses
perdamaian.
Tapi, menurut Usher, tampaknya Trump mensabotase upaya perdamaiannya sendiri.
Keputusan ini pastinya akan menguatkan hak Israel dan mereka yang menentang
negara Palestina dan konsesi kepemilikan akan Yerusalem.
Hak atas fotoAFP
Dan keputusan ini, akan menyulitkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk
melakukan perundingan.
Pejabat pemerintahan Trump mengindikasikan bahwa mereka akan melanjutkan
rencana perundingan damai dan menunggu sampai keadaan tenang. Karena belum
siap, maka ada waktu bagi Palestina untuk menolak proses tersebut dan
mempertimbangkan ulang.
Namun Trump, menurut Usher, telah menjerumuskan AS ke konflik soal Yerusalem.
Dan ini adalah posisi yang tidak nyaman dan tidak ideal bagi mediator.
Hak atas fotoAFPImage captionSuasana di sekitar Gerbang Damaskus di Yerusalem.
Melalui perbincangan dengan banyak orang di Ramallah, BBC News memperoleh
tanggapan bahwa keputusan Washington telah merusak peluang Palestina meraih
kemerdekaan sebagai negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
"Kami mengecam keputusan Amerika yang mengakhiri mimpi kami, warga Palestina.
Keputusan itu menyudahi solusi dua negara," ujar Abed Jayussi, warga Ramallah
lainnya.
Sebenarnya Yerusalem itu wilayah siapa? Bukankah Yerusalem adalah bagian dari
Israel? Bukankah ini adalah hak masing-masing negara berdaulat untuk menentukan
ibu kota negaranya?
Beberapa pertanyaan lain yang kami terima dan senada dengan status Yerusalem
termasuk: apakah wilayah Yerusalem diakui PBB sebagai bagian wilayah
administratif Israel atau status sebagai wilayah jajahan?
Israel telah menduduki Yerusalem Timur sejak perang Timur Tengah 1967.
Mereka mencaplok wilayah itu pada tahun 1980 dan menganggapnya sebagai wilayah
mereka. Menurut hukum internasional, Yerusalem timur termasuk wilayah
pendudukan.
Hak atas fotoBBC INDONESIA
Status Yerusalem merupakan jantung konflik panjang Israel-Palestina, karena
Israel mencaplok Yerusalem Timur yang bagi Palestina merupakan ibu kota negara
mereka di masa depan, sementara Israel menetapkan bahwa Yerusalem adalah ibu
kota abadi yang tak dapat ditawar lagi.
Pemerintah AS sejak tahun 1948 bersikap bahwa status Yerusalem diputuskan oleh
negosiasi dan bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan yang mungkin dianggap
sebagai upaya mengarahkan hasil dari negosiasi tersebut.
Berdasarkan kesepakatan damai Israel-Palestina tahun 1993, status akhir atas
Yerusalem akan dibahas dalam tahap perundingan lebih lanjut di kemudian hari.
Namun sejak tahun 1967, Israel sudah membangun belasan kawasan permukiman
-untuk menampung 200.000 warga Yahudi- di Yerusalem Timur.
Langkah itu dianggap melanggar hukum internasional walau posisi ini selalu
diabaikan oleh Israel.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionYerusalem adalah salah satu kota tertua
di dunia.
Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, maka Amerika Serikat akan
memperkuat posisi Israel bahwa permukiman di kawasan timur kota itu merupakan
komunitas Israel yang sah.
Pusat -bahkan inti- Yerusalem adalan bagian Kota Tua, suatu labirin gang-gang
sempit dan arsitektur bersejarah yang menandai empat penjuru kota: kawasan
Kristen, Muslim, Yahudi dan Armenia.
Siapa saja negara yang setuju dengan keputusan AS ini dan siapa yang tidak
setuju?
Amerika menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui Yerusalem
sebagai ibu kota Israel, dan selain sambutan gembira dari PM Israel Benjamin
Netanyahu yang mengatakan bahwa pengumuman ini adalah sebuah 'monumen
bersejarah', tampaknya tak ada lagi yang setuju.
Yang muncul adalah gelombang kecaman dan kritik dari berbagai penjuru dunia.
Presiden Joko Widodo menyebut "pengakuan sepihak itu melanggar berbagai
resolusi Dewan Keamanan PBB" dan "bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia."
Ia juga menyerukan PBB dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk segera
membahas dan menentukan sikap.
Hak atas fotoBIRO PERS KEPRESIDENANImage captionPresiden Jokowi akan berangkat
menghadiri KTT OKI di Istanbul untuk membahas pengakuan AS atas Yerusalem
sebagai ibu kota Israel.
Para pemimpin dari dunia Muslim dan masyarakat internasional lain melontarkan
kemarahan mereka, dan sebagian memperingatkan bahwa langkah itu menimbulkan
potensi kekerasan dan pertumpahan darah.
Paus Fransiskus mengatakan, "Saya tidak dapat membungkam keprihatinan saya yang
mendalam atas situasi yang muncul dalam beberapa hari ini. Pada saat yang sama,
saya sangat mengharapkan semua orang untuk menghormati status quo kota, sesuai
dengan resolusi PBB yang relevan."
Hak atas fotoURIEL SINAI/GETTY IMAGESImage captionWarga Israel ultraortodoks di
depan Kubah Shakhrakh atau kubah emas di kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, mengatakan
pernyataan Presiden Trump "akan membahayakan prospek perdamaian bagi Israel dan
Palestina".
Uni Eropa meminta "dimulainya kembali proses perdamaian yang berarti menuju
solusi dua negara" dan mengatakan "harus ditemukan suatu cara, melalui
negosiasi, untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibu kota masa depan
kedua negara, sehingga aspirasi dari kedua belah pihak bisa terpenuhi".
Hak atas fotoEPAImage captionSejumlah warga Palestina sudah menggelar aksi
unjuk rasa menentang rencana Presiden Trump memindahkan ibu kota Israel ke
Yerusalem.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan keputusan Trump untuk mengakui
Yerusalem sebagai ibu kota Israel "sangat disesalkan".
Cina dan Rusia juga menyatakan keprihatinan mereka bahwa langkah itu dapat
menyebabkan peningkatan ketegangan di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pemerintah Inggris tidak setuju
dengan keputusan AS itu, yang disebutnya 'tidak membantu dalam hal prospek
perdamaian di kawasan itu.'
- Berkaca dari Yerusalem: bagaimana memilih Ibu Kota suatu negara?
- Rencana pemindahan ibu kota 'bukan solusi' kesenjangan pembangunan
Juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan di Twitter bahwa Berlin
"tidak mendukung sikap (Trump) ini karena status Yerusalem hanya dapat
dirundingkan dalam kerangka solusi dua negara".
Apakah mayoritas umat Kristen setuju terhadap pemindahan ibu kota Israel ke
Yerusalem?
Ada sekitar dua miliar lebih penganut Kristen di dunia, tentu sulit untuk
menentukan atau menjawab tanggapan dari mayoritas umat Kristen, namun ada
beberapa otoritas yang sudah mengeluarkan pernyataan atau diuntungkan dari
keputusan Presiden Trump ini.
Seperti sudah disebutkan, keputusan Trump ini menggembirakan bagi kaum
Evangelis Kristen di Amerika Serikat yang merupakan basis pendukung Trump.
Paus Fransiskus sudah menyatakan bahwa dia prihatin atas pengakuan dari Trump.
Hak atas fotoAFPImage captionYerusalem merupakan tempat situs-situs suci yang
penting bagi pemeluk Yudaisme, Islam, dan Kristen.
Di Indonesia, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr
Ignatius Suharyo mengatakan pemindahan ibu kota merupakan hal politik, tidak
menyangkut dengan keimanan.
"Bagi umat apa pun, Yerusalem tetap akan jadi kota suci karena sebagai lambang.
Iman Katolik tidak akan berubah siapa pun yang menguasai Yerusalem," kata
Suharyo.
Sementara pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Persekutan Gereja-gereja
Indonesia (PGI) yang ditandatangani oleh ketuanya, Pdt. Dr. Henriette Tabita
Lebang, menyampaikan bahwa pengakuan Trump itu "merupakan bentuk pengabaian
terhadap perjalanan panjang gereja-gereja dan masyarakat dunia untuk
penyelesaian konflik Palestina dengan solusi dua negara, Israel dan Palestina,
yang berdiri secara damai."
"Penyelesaian menyeluruh sedemikian sesungguhnya mengharuskan status Yerusalem
diselesaikan dalam dialog konstruktif mempertimbangkan aspirasi dan kepentingan
kedua belah pihak," lanjut pernyataan tersebut.