Felix Siauw, Muallaf yang Melampaui Batas
Kajitow Elkayeni 
09-Desember-2017
https://seword.com/umum/felix-siauw-muallaf-yang-melampaui-batas-ryPbS7h0-

Sebagai seorang muslim sejak lahir, saya jadi malu bersaudara seagama dengan 
muallaf seperti Felix Siauw. Saya menyesal, Felix memilih islam sebagai 
agamanya. Di tengah rasa malu yang memuncak itu, kadang saya berpikir, apakah 
keislaman saya ini perlu saya evaluasi lagi?

Semenjak saya belajar bicara dan berjalan, doktrin agama ini telah saya terima. 
Kedua orang tua saya lulusan pesantren. Lingkungan tempat saya tumbuh homogen, 
seratus persen muslim, Jawa. Dari satu guru ke guru yang lain. Dari satu 
pesantren ke pesantren yang lain. Saya telah melampaui semua kegelisahan 
filsafati. Pernah jadi sosok fanatik yang meyakini jihad dan pertumpahan darah 
sebagai jalan satu-satunya untuk memuliakan islam. Membawa slogan dengan penuh 
amarah, 'al-islamu ya'lu wala yu'la 'alaih (islam yang tertinggi, tidak ada 
yang lebih tinggi dari islam)'.

Sampai akhirnya, tulisan-tulisan Gusdur membuat saya sadar. Pendapat-pendapat 
Habib Quraish Shihab dan Kyai Husein Muhammad membuka pemahaman baru. Islam 
tidak mesti digambarkan dengan brutal dan sadis. Islam harus terbuka pada 
perbedaan, kebhinekaan, kebaruan ijtihad. Islam bukan agama marah dan penuh 
kebencian. Islam harus rahmatan lil'alamin, menjadi ramat bagi seru-sekalian 
alam.

Sementara ulama-ulama Wahabi, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), IM (Ikhwanul 
Muslimin), berusaha merusak sendi utama itu. Mereka merobohkan islam dari 
dalam. Islam yang sudah dibangun ratusan tahun dengan bersusah payah oleh 
Walisanga. Oleh orang-orang mulia yang rela mengalah demi kemaslahatan. Sunan 
Kudus melarang penyembelihan sapi, Sunan Kalijaga memakai pakaian Jawa, 
kemenyan dan wayang. Sunan Giri menggunakan tembang dan dolanan anak-anak 
sebagai media. Sunan Gresik menata irigasi dan pertanian. Sementara ulama 
radikal yang melenceng itu membawa jargon kearaban dan isu pemurnian agama. 
Semua selain mereka dianggap sesat.

Yang lebih menyedihkan lagi, para muallaf yang pemahaman agamanya dipertanyakan 
itu, tiba-tiba didaulat menjadi ulama. Bermodalkan ayat terjemahan dan hadits 
sepotong-sepotong, mereka mengkafirkan yang lain. Mereka menjadi corong 
penyesatan berjamaah. Ustadz karbitan yang baru mengenal kulit agama itu 
menjadi dajal kecil di masjid-masjid tertutup. Sebagian memang memahami sedikit 
bahasa Arab dan kaidah fikih, meskipun untuk disebut ulama, jelas masih sangat 
kurang memadai ilmunya.

Felix Siauw adalah salah satu muallaf itu. Orang yang baru saja pindah agama 
dengan segala keterbatasan ilmunya. Ia murtad dari agama sebelumnya, dengan 
embel-embel telah mendapat pencerahan. Esok, bisa jadi ia pindah agama lagi 
jika mendapat pencerahan baru. Orang yang tidak memiliki kesetiaan beragama ini 
kemudian dijadikan jargon pemurnian agama. Seorang muallaf pendobrak. Ia 
menyalahkan pendiri bangsa, para ulama Aswaja. Mempertanyakan nasionalisme dan 
keislaman moderat.

Padahal seorang muallaf, meski telah dua puluh tahun memeluk islam sekalipun 
berhak menerima zakat, karena kadar keislamannya dipertanyakan. Namun muallaf 
yang jelas serba fakir ilmu seperti Felix Siauw ini merasa 'allamah melampaui 
ulama-ulama sepuh Nusantara. Ia lahir dari organisasi terlarang bernama HTI. 
Tidak mau mengakui Pancasila sebagai dasar negara (sesuai pemberitaan 
muslimoderat.net). Tidak menerima sistem demokrasi dan ingin menggantinya 
dengan sistem khilafah. Orang ini tersesat ke ceruk yang sangat dalam, tapi 
menuduh orang lain yang ada di jalur yang benar, sebagai yang tersesat.

Menghadapi makhluk tak tahu diri seperti Felix Siauw ini menimbulkan rasa malu 
luar biasa. Tahun-tahun panjang mempelajari agama islam menjadi sia-sia. Rasa 
hormat pada Kyai sepuh dan ulama Nusantara seolah tak berguna. Tiba-tiba saja 
orang yang bodoh dalam hal agama, yang baru saja murtad dari agama sebelumnya 
itu, mengobarkan permusuhan atas nama islam. Agama yang saya peluk sejak lahir, 
yang saya daras siang-malam dari berbagai guru sejak kanak. Ia yang bahkan 
tidak sepadan jika dibandingkan dengan saya ini berani-beraninya memusuhi NU, 
memusuhi Banser, memusuhi ulama-ulama yang jauh lebih alim dari saya.

Felix baru masuk islam di kisaran tahun 2002-2003, tahun itu saya sudah 
berceramah ke mana-mana, meski untuk tingkatan pelosok kampung. Saya sudah 
berani menyebut diri sebagai macan podium. Tahun itu saya sudah mempelajari 
dasar-dasar kitab kuning dan lulus dengan nilai terbaik dari pesantren pertama. 
Tentunya sesudah melalui pendidikan agama dari keluarga, kemudian madrasah 
diniah dan tsanawiyah selama tujuh tahun lebih. Masih pula dilanjutkan ke 
pesantren lain untuk kilatan. Dan proses pembelajaran itu terus berlanjut 
sampai sekarang. Meskipun begitu, saya tidak berani menyebut diri ulama. 
Menyebut diri ustadz saja tidak berani, padahal pernah mengajar di madrasah 
tsanawiyah dan menjadi guru ganti di aliyah.

Provokasi Felix Siauw, juga keanggotaannya sebagai ormas terlarang (HTI), sudah 
cukup meresahkan. Kejadian di Bangil tempo hari adalah puncak dari kemarahan 
dan kegelisahan warga. Felix tentunya membangun opini berbeda dan berusaha 
membelokkan pemberitaan sesuai versinya. Orang ini (dan kelompok 
undergorundnya) seolah mengganggap diri lebih islam dari jutaan nahdliyin. Ia 
sengaja menyusup, berpura-pura sebagai saudara untuk merebut dukungan mereka. 
Beberapa orang dungu, dengan pengetahuan agama minim, banyak yang terhasut. 
Felix dianggap mujahid, pendakwah yang dizalimi.

Padahal bisa jadi ia adalah versi lain Christiaan Snouck Hurgronje yang 
menyusup dalam islam di jaman penjajahan Belanda dulu?

Drama muallaf yang melampaui batas itu terus berlanjut. Terus terang saya malu 
berada satu perahu dengannya. Sepak terjangnya yang meresahkan dengan membawa 
nama islam, membuat saya kadang sampai pada keputusan krusial, Felix atau saya 
yang mesti keluar dari agama ini?

Kajitow Elkayeni


Kirim email ke