Kamis , 14 December 2017, 08:01 WIB
 Inilah Profesor Ekonomi Pertama Asal Indonesia di Australia 
http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/abc-australia-network/17/12/13/p0wpyy366-inilah-profesor-ekonomi-pertama-asal-indonesia-di-australia
 Red: Ani Nursalikah
 

 ABC

 
 Prof Budy Resosudarmo mendampingi Presiden Jokowi ketika berkunjung ke 
Australia pada Februari 2017.

 

 REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Satu lagi pencapaian akademis dilakukan oleh 
putra asal Indonesia setelah Budy Resosudarmo menyandang gelar profesor di 
bidang ekonomi dari Australian National University di Canberra. Dia menjadi 
profesor asal Indonesia pertama di bidang ekonomi yang mencapai hal tersebut.
 "Ya saya kemungkinan yang pertama di bidang ekonomi, meski di bidang lain 
seperti politik, budaya, atau bahasa, ada yang lain yang sudah lebih dulu dari 
saya seperti Prof Vedi Hadiz dan Prof Ariel Heryanto," kata Budy dalam 
percakapan dengan wartawan ABCSastra Wijaya.
 Budy Resosudarmo sebelumnya menamatkan pendidikan S1 di Institut Teknologi 
Bandung (ITB) sebelum melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Amerika Serikat dan 
mendapat gelar Doktor dari Cornell University. Dia pindah ke Australia untuk 
bergabung dengan ANU di tahun 2001 setelah sebelumnya menjadi tenaga pengajar 
di Universitas Indonesia dan juga di BPPT (Badan Pengkajian Penerapan 
Teknologi) di Jakarta.
 Gelar profesor ini secara resmi akan disandangnya mulai 1 Januari 2018. Sama 
seperti di negara lain, seorang tenaga akademis bisa mengajukan diri untuk 
mendapatkan gelar profesor berdasarkan kriteria tertentu, dan menurut Budy 
Resosudarmo, hal yang paling utama adalah sumbangan pemikiran apa yang akan 
berguna bagi keilmuwan dan tempat dia bekerja bila dia diangkat menjadi 
profesor.
 "Saya mengajukan argumen saya bisa berkontribusi di bidang pembangunan dan 
lingkungan di Asia Tenggara," katanya.
 
 Pembangunan infrastruktur di Indonesia harus mempertimbangkan serius sisi 
pemanfaatan maksimalnya
 AFP: Bay Ismoyo: File



 Bagaimana Budy Resosudarmo melihat perekonomin Indonesia di bawah Pemerintahan 
Joko Widodo selama tiga tahun terakhir ini? "Melihat keadaan ekonomi Indonesia 
sekarang ini harus kita lihat dalam bandingan dengan apa. Kalau secara umum 
kita melihat keadaaan ekonomi dunia yang mengalami resesi, dan pertumbuhannya 
rendah," katanya.
 "Namun dibandingkan dengan Filipina, atau India atau Cina, pertumbuhan ekonomi 
Indonesia di bawah mereka," katanya.
 Menurut Budy, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sekitar lima persen 
dalam tiga tahun terakhir sudah relatif baik namun sebenarnya memiliki potensi 
untuk lebih baik lagi.
 "Masalahnya apakah pemerintah Indonesia bisa memenuhi potensi itu, di situ 
pertanyaan besarnya."
 Menurut Prof Budy Resosudarmo, beberapa hal yang menjadi masalah bagi 
Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah antara lain masalah 
tekanan dari dalam negeri untuk bersikap lebih nasionalis dalam kebijakan 
ekonomi.
 "Persoalan lain adalah infrastruktur yang tidak selesai-selesai. Sejak krisis 
ekonomi 1997-1998, laju pembangunan infrastruktur Indonesia menurun sehingga 
banyak infrastruktur yang tidak dibangun atau tidak diperbarui," katanya.
 Dalam masa tiga tahun terakhir Pemerintahan Jokowi, menurut Budy, sudah 
mengalokasikan dana untuk pembangunan infrastruktur namun dalam hal seperti 
pembangunan infrastruktur, dampaknya tidak akan dirasakan dengan cepat. Ada 
kritikan di Indonesia bahwa Presiden Jokowi terlalu banyak menghabiskan dana 
untuk infrastruktur, hal yang sebagian menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat.
 Bagaimana Prof Budy Resosudarmo melihat hal tersebut? "Menurut saya saat ini 
alokasi dana untuk pembangunan infrastruktur memang perlu tetapi jangan sampai 
mengurangi anggaran untuk pelayanan publik lainnya."
 "Apakah terlalu banyak atau tidak, sulit untuk dinilai. Namun yang lebih 
penting lagi dan saya tidak melihat perdebatan mengenai hal ini di Indonesia 
adalaha bagaimana efisiensi dan kualitas pembangunan infrastruktur tersebut," 
katanya.
 Menurutnya, yang dipentingkan di Indonesia saat ini adalah pembangunan 
infrastruktur yang lebih berkualitas terutama di daerah-daerah yang membutuhkan 
misalnya di kawasan Indonesia Timur.
 "Sekarang ini menurut saya masih pada tahap, oke kita bangun, ini uangnya. Dan 
bukan pada tahap membangun sesuatu yang berkualitas dan strategis."
 Hal yang strategis menurut Budy Resosudarmo, sudah banyak dibicarakan, namun 
apakah pemerintah sekarang membangun infrastruktur yang berkualitas tidak 
mendatangkan banyak diskusi.
 Pembangunan infrastruktur yang berkualitas, menurut dia, bisa dicontohkan 
dengan apakah dalam pembangunan sebuah bandara di kawasan Indonesia Timur yang 
memang diperlukan, gedung yang dibangun tidak mengalami masalah atau mengalami 
kerusakan dalam waktu setahun saja, ataukah bertahan lama.
 Pengajar di Fakultas Ekonomi di ANU tersebut mengatakan dia memiliki contoh 
pembangunan dua bandara di Lombok dan di Tual Maluku, dimana pembangunan 
infrastruktur tidak berkualitas terjadi.
 Masalah lain dalam pembangunan infrastruktur menurut Budy adalah bagaimana 
penggunaannya setelah dibangun. "Pembangunan bandara di berbagai kawasan saya 
kira sudah tepat. Namun misalnya pembangunan jalan apa kegunaannya. Kalau kita 
misalnya bicara mengenai pembangunan jalan di Papua, apakah perlu? Ya perlu 
namun seberapa banyak pembangunan itu bisa meningkatkan ekonomi."
 
 Prof Budy Resosudarmo sudah menjadi staf ANU sejak 2001
 Foto: ANU



 Perhatian ke masalah lingkungan Berkenaan dengan kebijakan penggenjotan 
pembangunan infrastruktur, Prof Budy Resosudarmo mengatakan pemerintah 
Indonesia perlu juga memperhatikan masalah lingkungan dalam kebijakan 
pembangunan yang dijalankan selama ini. Dia memuji Pemerintahan Jokowi dalam 
dua kebijakan berkenaan dengan lingkungan selama tiga tahun terakhir yaitu 
dicabutnya subsidi BBM dan juga kebijakan yang dijalankan oleh Menteri 
Perikanan Susi Pudjiastuti.
 "Menurut saya yang juga perlu diperhatikan oleh Pak Jokowi adalah juga masalah 
gambut dan perubahan iklim," katanya.
 "Ada penurunan intensitas dari jamannya Presiden SBY ke masa Pak Jokowi dalam 
hal isu-isu perubahan iklim. Saya tidak mengatakan Pak Jokowi tidak melakukan 
apa-apa mengenal hal itu."
 "Pemerintah memang mengeluarkan moratorium pembukaan lahan kelapa sawit yang 
baru, namun kita maunya lebih maju," tambahnya lagi.
 Menurut dia, debat yang harus dilakukan di Indonesia adalah melihat dalam soal 
perubahan iklim, apakah yang sudah dilakukan di Indonesia sudah mencapai titik 
maksimal atau belum.
  


 
 Sumber : 
http://www.australiaplus.com/indonesian/sosok/budy-resosudarmo-prof-ekonomi-di-autsralia/9255736
 
http://www.australiaplus.com/indonesian/sosok/budy-resosudarmo-prof-ekonomi-di-autsralia/9255736
 

Kirim email ke