Kaleidoskop Hukum 2017: Vonis yang Tak Redupkan Sinar Ahok
Rita Ayuningtyas
14 Des 2017, 07:07 WIB


Bisakah Ahok menang dalam Pilkada DKI 2017?



Liputan6.com, Jakarta - Jutaan cahaya lilin menggantikan sinar bulan sejak hari 
itu. Hari di mana hakim memutus Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersalah 
menodakan agama. Hari saat Indonesia menjadi sorotan dunia pada pertengahan 
2017.

Tepatnya Selasa, 9 Mei 2017, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang 
diketuai Dwiarso Budi Santiarto menjatuhkan hukuman penjara selama 2 tahun 
kepada Ahok.

BACA JUGA
   
   - Kasus Penistaan Agama, Dokter Otto Terima Divonis Seperti Ahok
   - Politikus PKS Apresiasi Langkah Kejaksaan Cabut Banding Ahok
   - Maruarar Sirait: Ahok Tidak Berpolemik Atas Kasus Hukumnya

Vonis ini lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang hanya 
menuntutnya dengan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.

Hakim menilai perbuatan Ahok meresahkan warga dan dapat memecah antargolongan. 
Ahok juga merasa tidak bersalah, sehingga memberatkan hukumannya.

Kasus ini bermula dari pidato Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, 27 
September 2016. Kala itu, Ahok menyambangi para nelayan dari berbagai pulau di 
satu-satunya kabupaten yang dimiliki DKI Jakarta.

Wajah para nelayan di Pulau Pramuka berbinar siang itu. Mereka berkumpul di 
tempat pelelangan ikan, di tepi pantai Pulau Pramuka untuk bertemu Ahok.

Terik matahari tak mengurungkan niat para nelayan untuk menghadiri undangan 
Dinas Perikanan DKI yang mengajak bekerja sama budidaya ikan kerapu.

"Sistem kita 80:20, bapak ibu (ambil) 80 persen, yang 20 persen untuk 
koperasi," ujar Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa 
Ahok, saat itu.

Namun, tawaran Ahok tak membuat para nelayan tertarik. Melihat reaksi datar 
nelayan, Ahok lantas teringat kasus di kampungnya, Bangka Belitung, dahulu, 
saat Pilgub Babel 2007.

Meski warga suka program yang ditawarkan, mereka mengaku tak dapat memilih 
Ahok. Maka, terucaplah kata-kata itu. Kalimat yang menjerat Ahok ke kasus 
penistaan agama hingga kurungan dua tahun penjara.

"Kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu, enggak pilih saya karena dibohongi 
(orang) pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak Bapak Ibu. Kalau 
Bapak Ibu merasa enggak bisa pilih karena takut masuk neraka, dibodohin, 
begitu, enggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi Bapak Ibu," kata Ahok saat 
itu.

"Program ini (budi daya kerapu) jalan saja. Jadi Bapak Ibu enggak usah merasa 
enggak enak karena nuraninya enggak bisa pilih Ahok," dia melanjutkan.

Tak ada protes atau penolakan dari warga saat mendengar perkataan Ahok itu. 
Semua berjalan normal setelah pidato itu, bahkan nelayan bertepuk tangan, 
berebut selfie dengan Ahok.

Esok harinya, Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) yang pertama kali melaporkan ke 
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI, terkait pernyataan Ahok yang mengutip 
surat Al Maidah.

Ahok, seperti biasa, tak mau ambil pusing dengan laporan ACTA. "Semua orang 
boleh mengutip kitab suci. Kitab suci terbuka untuk umum," kata Ahok di Balai 
Kota Jakarta, Rabu 28 September 2016.

Bagi Ahok, dilaporkan dan didemo adalah "makanan" sehari-harinya. Menurut dia, 
tak ada yang salah dengan pernyataan mengutip ayat suci itu.

Hingga pada 7 Oktober 2016, Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) melaporkan Ahok ke 
Polda Metro Jaya. Laporan itu dilakukan 10 hari usai kunjungan Ahok ke Pulau 
Pramuka, dengan membawa video yang telah diedit Buni Yani.

Desakan pelaporan itu didorong dengan demo massa 411 atas tuduhan penistaan 
agama, hingga membuat kata maaf keluar dari bibir Mantan Bupati Belitung Timur 
itu.

"Saya sampaikan kepada semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung, 
saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau 
apa," kata Ahok di Balai Kota, 10 Oktober 2016.

Namun, permintaan maaf Ahok tak digubris. Hal itu terlihat dari munculnya aksi 
lanjutan menolak Ahok yang dikenal aksi 212. Massa menuntut agar Ahok dipenjara.

Meski didemo besar-besaran, Ahok tetap menjalani kampanye pilkada dengan 
antusias dan tersenyum. Tak kalah antusias dengan warga yang selalu 
mengerubungi di tiap blusukan Ahok.

Namun, pada 13 Desember 2016, senyum Ahok mulai hilang. Di depan Majelis Hakim 
Pengadilan Negeri Jakarta Utara, tangis Ahok tumpah.

"Saya sangat sedih dituduh menista agama Islam, karena tuduhan itu sama saja 
saya dituduh menista orangtua dan kakak angkat saya yang sangat saya sayangi, 
dan mereka sangat menyayangi saya," ujar Ahok dengan suara tercekat menahan 
tangis.


Pengamanan Ketat
Ahok dipeluk kakak angkatnya Nana Riwayatie sambil menangis usai persidangan. 
(Ist)
Sejak pertama kali digelar, Selasa 13 Desember 2016, sidang Ahok memang menjadi 
sorotan publik. Baik kubu pro maupun yang kontra, selalu hadir ketika sidang 
dilaksanakan. Terutama saat sidang putusan pada 9 Mei 2017.

Sejak pagi, massa yang pro maupun kontra Ahok tumpah ruah di depan Gedung 
Kementan, Jakarta Selatan. Kedua kubu masing-masing dipisahkan oleh kawat 
berduri serta deretan pasukan pengamanan.

Pada aksinya, massa pro Ahok membawa tugu keadilan. Bangunan berukuran setinggi 
sekitar 2,5 meter itu berdiri dengan hiasan bunga-bunga kecil di bawahnya. Tugu 
tersebut terbuat dari kayu, gabus, dan diselimuti kain bertuliskan tugu 
keadilan.

Sementara massa kontra Ahok, lebih memilih memutar lagu-lagu rohani ataupun 
ceramah dari mobil komando.

Kepolisian pun menyediakan satu unit helikopter sebagai salah satu prosedur 
pengamanan maksimal di sidang vonis terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok 
kala terjadi chaos. Selain untuk mengevakuasi Ahok, capung besi itu juga untuk 
kendaraan pengamanan Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Ini SOP, mesti disiapkan kalau terjadi chaos," kata Kasubag Humas Polres 
Jakarta Selatan, Kompol Purwanta saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa 9 Mei 
2017.

Purwanta menyebut, helikopter itu sudah terparkir di lapangan Kementerian 
Pertanian sejak pukul 06.00 WIB. Meski sudah disiagakan, belum tentu kendaraan 
itu akan digunakan untuk Ahok.

"Maka target sekarang kan yang disidang tidak boleh ada gangguan secara psikis 
maupun ini. Nah, itu kalau terjadi apa-apa ya untuk escape. Kita lihat eskalasi 
dari intelijen kalau nanti itu tidak digunakan, tidak apa," jelas dia.

Penggunaan helikopter itu tidak berbeda dengan mobil ambulans atau kendaraan 
siaga lain.

"Apabila hakim di tengah jalan sakit jantung atau apa, kan butuh escape lebih 
cepat ke rumah sakit. Sama dengan ambulans di sini kan ada tiga tuh. Itu kan 
bisa untuk wartawan, untuk kita. SOP-nya begitu, itu tergantung penggunaannya 
saja," Purwanta menandaskan.

Awak media pun tak mau kalah. Tak hanya media dalam negeri, jurnalis dari luar 
pun berlomba menjadi saksi vonis Ahok.

StraitsTimes mengangkatnya melalui tulisan "Jakarta on edge ahead of court 
verdict against Ahok". Media Singapura itu menuliskan jumlah pengamanan dalam 
sidang putusan Ahok mencapai 13 ribu petugas, berbeda dari biasanya yang hanya 
3.000.

Dengan judul yang sama, media Malaysia The Star Online juga turut memberitakan 
sidang vonis Ahok.

Laman Australia, SBS.com.au turut mengangkatnya melalui tajuk "Jakarta court to 
rule on blasphemy case". Sementara media Inggris Reuters memuatnya dalam 
artikel "Verdict expected in blasphemy case against Jakarta's Christian 
governor".


Dulang Simpati
Ribuan pendukung Ahok menggelar acara Malam Solidaritas atas Matinya Keadilan 
di Tugu Proklamasi, Jakarta (10/05). Massa datang untuk bersimpati kepada Ahok 
karena dihukum kurungan penjara dua tahun. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Usai mendapat vonis dari majelis hakim, Ahok segera dieksekusi di Rutan 
Cipinang, Jakarta Timur. Pukul 18.15 WIB, usai salat maghrib, ratusan massa 
pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mulai menyalakan lilin di depan 
Rutan Cipinang. Aksi ini disebut sebagai simbol dukungan untuk Ahok.

"Kami semua di sini untuk Ahok, untuk bebas, bebaskan Ahok," teriak orator di 
mobil komando, Selasa, 9 Mei 2017.

Aksi ini memicu gerakan serupa di sejumlah daerah bahkan benua pada hari-hari 
berikutnya.

Pada Jumat, 12 Mei 2017, lagu Indonesia Pusaka menggema dan menambah khidmat 
aksi di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur.

Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah negara dunia. Setidaknya terjadi di 
empat benua, yakni Amerika, Australia, Eropa, dan Asia menurut catatan 
Liputan6.com.

WNI di beberapa negara itu menggelar aksi simpatik untuk Ahok dengan menyalakan 
lilin, menyanyikan lagu nasional Indonesia, dan memakai busana hitam atau 
merah-putih.

Pada poster yang disebar di media sosial, aksi simpatik digelar Warga Negara 
Indonesia di alun-alun Nathan Philips, Toronto, Provinsi Ontario, Kanada pada 
Jumat, 12 Mei 2017 pukul 21.00 waktu setempat. Acara dengan tajuk "Candlelight 
Vigil, Justice for Ahok" itu menekankan kebersamaan dalam menegakkan Negara 
Kesatuan Republik Indonesia.

Laporan yang diterima Liputan6.com, aksi untuk mendukung Ahok juga digelar di 
Australia. Aksi ini digelar di beberapa kota, di antaranya, Sydney, Canberra, 
Perth, Melbourne, dan Adelaide.

Di Ibu Kota Australia, Canberra, aksi dipusatkan di Queen Elizabeth 
Terrace-Lake Burley Griffin's Foreshore. Aktivitas tersebut diberi nama 'Aksi 
Solidaritas untuk Keadilan Indonesia' yang dilaksanakan pada 14 Mei 2017.

Sementara, di Sydney acara yang diberi nama Justice for Ahok diadakan pada 
Minggu, 14 Mei 2017 dengan titik kumpul Sydney Opera House. Kegiatan tersebut 
dimulai pukul 16.00 waktu setempat.

Sejumlah warga Indonesia di New York pun saat itu berencana menggelar aksi 
untuk mendukung Ahok. Salah satu peserta aksi, Imanuelly, jadwal aksi dukungan 
terhadap Ahok sempat mundur. Tadinya, aksi dijadwalkan pada Sabtu, 13 Mei 2017, 
kemudian diundur hingga tanggal 20 atau 21 Mei 2017.

WNI di Ibu Kota Amerika Serikat (AS), Washington DC, juga demikian. Salah satu 
peserta aksi, Joe Wahyudi menyebut, aksi diselenggarakan pada Minggu, 14 Mei 
2017, waktu setempat.

Masyarakat Indonesia di Eropa, terutama di Belanda akan menggelar acara serupa 
yang rencananya diadakan di Damrak, Amsterdam, Sabtu, 13 Mei 2017.

Selain Amsterdam, aksi dilaksanakan di Groningen, Den Haag, dan Utrecht. Di 
Groningen, aksi telah dilangsungkan pada 12 Mei 2017. Dua kota lainnya Den Haag 
dan Utrecht berlangsung pada tanggal yang sama, yaitu Minggu, 14 Mei 2017.

Di Negeri Singa, dari laporan yang diterima Liputan6.com, aksi dukungan untuk 
Ahok akan diselenggarakan pada Minggu, 14 Mei 2017 pukul 17.00 waktu setempat. 
Acara tersebut bertajuk, Doa Bersama untuk Indonesia.


Lebih Kuat
Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama berbincang dengan bakal calon kepala 
daerah Aceh Barat, Fuad Hadi saat sidang lanjutan Uji Materi Pasal 70 ayat 3 UU 
Pilkada mengenai cuti selama kampanye di MK, Jakarta, Senin (5/9). 
(Liputan6.com/Johan Tallo)
Desember ini, tujuh bulan sudah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mendekam di 
Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Kakak angkat Ahok, Nana 
Riwayatie, mengatakan, penjara membuat mantan Bupati Belitung Timur itu lebih 
kuat.

"Dia bilang, 'Salah yang memenjarakan aku. Aku di penjara malah jadi lebih kuat 
dan matang'." ujar Nana mengulangi kata-kata Ahok, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Menurut dia, Ahok banyak melakukan introspeksi diri saat di penjara. Ciri khas 
Ahok yang sulit mengontrol "mulut pedas", lanjut dia, tidak akan bisa diredam.

Ahok pun menyadari hal itu. Dia mengambil nilai positif dari pesakitan tersebut.

"Dia lho yang lebih tegar dari keluarga ketika dipenjara. Lebih nerimo. 
Keimanannya jadi lebih bagus. Dia yakin ini merupakan maksud dari Tuhan. Kalau 
saya malah paling lama menerima Ahok dipenjara karena mungkin saya perempuan 
jadi lebih pakai perasaan," kata Nana.

Saat ini, Ahok lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk berolahraga. Tak heran, 
Ahok semakin bugar meski di dalam rutan.

"Saya terakhir jenguk dua minggu lalu. Tambah keren sekarang badannya. Sudah 
enggak ada (lemak) perutnya. Rajin olahraga. Apalagi dia kan tinggi, ya. Keren 
jadinya," ujar Nana.

Namun, kulit Ahok justru semakin menghitam lantaran Ahok suka berjemur dan 
berolahraga.

"Yang jelas, jiwa raga Ahok sehat. Dia banyak belajar di dalam. Dia berusaha 
untuk memperbaiki diri," kata Nana.
4 dari 5 halaman


Dulang Prestasi
Bukan cuma soal penistaan agama, sidang perdana Ahok juga dihiasi dengan 
tangisan serta cerita keluarga angkat Ahok yang Muslim. (Bintang.com/Galih W 
Satria)
Meski berada dalam penjara, prestasi yang diukir Basuki Tjahaja Purnama atau 
Ahok masih tersebar ke dunia. Dunia internasional pun memberikan sejumlah 
penghargaan kepada mantan Anggota Komisi II DPR itu.

Penghargaan teranyar datang dari hasil pilihan majalah Foreign Policy. Dalam 
daftarnya, nama mantan Gubernur DKI Jakarta masuk dalam Global reThinkers 2017 
yang berisi para pemimpin terkemuka dan intelektual dunia.

Pada tahun lalu, berkat usaha Ahok dalam membangun ketahanan kota, Jakarta 
menjadi salah satu finalis dari kota-kota dunia yang diajak bergabung dalam 
jaringan 100 Resilient Cities atau 100 RC. Kota-kota itu nantinya akan 
bergabung dengan komunitas global.

100 RC merupakan sebuah program yang dipelopori The Rockefeller Foundation yang 
bercita-cita membantu kota di seluruh dunia dalam meningkatkan ketahanan dalam 
menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan fisik.

Prestasi Ahok lainnya juga mendapat sorotan dari media ternama AS, New York 
Times. Dalam koran terbesar di AS itu, cerita tentang Ahok ditulis pada halaman 
A10 dengan judul "Run by Jakarta Governor Up ends Indonesia’s Party Politics".

Dalam laporan New York Times yang diterbitkan pada 5 Juni 2016, dijelaskan, 
sejak menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2014, Ahok telah menunjukkan taring 
pada birokrat yang tak kompeten dan melakukan penyimpangan anggaran.

Kirim email ke