Pelanggaran HAM dan kualitas pendidikan Papua jadi sorotan masyarakat


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Pelanggaran HAM dan kualitas pendidikan Papua jadi sorotan masyarakat | ...

Muhammad Genantan Saputra

Let's be smart. Terakhir, ada miras dan narkoba, pelanggaran Hak Asasi Manusia 
(HAM), pelayanan publik yang tak ...
 |

 |

 |



Kamis, 14 Desember 2017 18:55Reporter : Muhammad Genantan Saputra   
   - 
    
   - 
    
   - 
    
   - 
Survei Change.org dan LIPI. ©2017 Merdeka.com/Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Change.org bekerja dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 
(LIPI) membuat sebuah survei mengenai isu yang sering terjadi di Papua. Survei 
tersebut dilakukan selama tiga minggu sejak November 2017 lalu.

Survei ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana publik memandang 
masalah-masalah yang terjadi di Papua ini. Serta sejauh mana pemahaman mereka 
tentang isu Papua. Survei diikuti oleh 2 persen warga asli Papua, 3 persen 
penduduk non asli Papua, dan 95 persen warga di luar Papua.

Dari 21 pernyataan tentang permasalahan umum di tanah Papua, masyarakat luar 
Papua lebih melihat isu yang santer di daerah Cendrawasih itu dari segi 
kualitas pendidikan rendah setinggi 14,33 persen. Kemudian penduduk Papua non 
asli menyoroti isu miras dan narkoba sebanyak 12,84 persen.

Sementara, pribumi Papua asli lebih mengkritisi masalah Pelanggaran HAM sebesar 
14,02 persen.

Kemudian dari pertanyaan tentang berita apa yang sering kamu dengar Tanah 
Papua, hasilnya masyarakat luar Papua lebih sering mendengar tentang Freeport 
dan penduduk asli non Papua menyoroti kekerasan. Warga Papua asli pun tetap 
condong ke kasus pelanggaran HAM. Mereka sering mendapat informasi itu karena 
peranan media online.

Sementara, Tim kajian LIPI Cahyo Pamungkas menjelaskan perbedaan persepsi 
tentang kondisi tanah Papua menunjukkan bahwa kawasan paling timur di Indonesia 
itu masih bermasalah.

Masalah tersebut dilihat dari keamanan bagi pendatang atau warga non Papua asli 
melihat Papua aman karena banyak tentara. Sedangkan pribumi Papua asli menilai 
tidak aman karena menimbulkan pelanggaran HAM.

"berdasarkan hasil survei, permasalahan di Papua tidak hanya pendidikan, 
kemiskinan dan miras, namun juga pelanggaran HAM (8 persen). Karena itu 
penyelesaian soal Papua tidak bisa dilepaskan dari penyelesaian HAM, baik 
dengan cara pengadilan apapun rekonsiliasi," katanya di Auditorium Widya Graha 
LIPI, Jl Jend Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (14/12).

Lebih lanjut, salah satu poin penting yang muncul di survei ini adalah terdapat 
perbedaan persepsi dari masing masing kelompok, hampir 93 persen responden 
menilai cara dialog nasional 'penting' dan 'penting sekali' untuk mencari 
solusi bagi masalah masalah yang ada di Papua.

Semua kelompok juga menilai bahwa peranan Presiden Joko Widodo efektif 
menyelesaikan masalah. Pasalnya dalam survei kepemimpinan Jokowi mendapat nilai 
sebesar 40 persen. Sementara, masyarakat Papua sebanyak 12 persen memegang 
peranan kunci untuk menyelesaikan masalah masalah yang ada di Tanah Papua.

Survei ini diikuti sebanyak 27 ribu responden, di antaranya 61,5 persen 
laki-laki, 38,5 persen perempuan. Sekitar 51 persen responden berpendidikan S1, 
25 persen lulusan SMA/sederajat, lulusan S2 13 persen, dan sisanya gabungan 
antara lulusan SD, SMP, D3, S3 dan sebagainya.

"Kita memilih Papua karena memang isunya sedang naik, dan atensinya juga naik, 
dan yang kita cari apa sebetulnya yang dipikirkan orang orang di luar Papua 
atau masyarakat yang tinggal di Papua mengenai isu isu di Papua," kata Direktur 
Komunikasi Change.org Arief Aziz.

Change.org pun membuat survei tentang isu akses ekonomi dan kemiskinan, 
diskriminasi rasial, eksploitasi SDA dan investasi, harga barang yang tinggi, 
infrastruktur dan transportasi, KDRT, kebebasan berekspresi dan pers, kekerasan 
politik, serta ketersediaan air dan listrik.

Kemudian, keterwakilan orang asli Papua di lembaga politik dan ekonomi, 
ketidakadilan terhadap masyarakat adat, konflik antargolongan masyarakat, 
korupsi, serta kualitas kesehatan rendah, dan kualitas pendidikan rendah.

Terakhir, ada miras dan narkoba, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), pelayanan 
publik yang tak profesional, proses integrasi dan wacana Papua merdeka.

Dalam forum survei itu, dihadiri oleh Direktur Komunikasi Change.org Arief 
Aziz, Direktur Internasional Amnesty Usman Hamid, Deputi V Kantor Staf Presiden 
Jaleswari Pramodhawardani, Peneliti dari Auriga Mumu Muhajir, Tokoh Papua Pater 
Neles dan di moderatori oleh Peneliti Politik LIPI Adriana Elisabeth. [fik]

Kirim email ke