From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, December 16, 2017 2:07 AM


  



http://megapolitan.kompas.com/read/2017/12/15/20140191/mustahil-membangun-jakarta-tanpa-menggusur


Mustahil Membangun Jakarta Tanpa 

Menggusur
Hasanudin Abdurakhman
Kompas.com - 15/12/2017, 20:14 WIB

Suasana deretan rumah kumuh di bantaran kali di Jalan Jati Bunder, Kelurahan 
Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2017). Pemprov 
DKI Jakarta bersama dengan Pemerintah Pusat akan menata kawasan kumuh melalui 
program 100-0-100 yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan 
Rakyat dengan target Jakarta bebas dari kawasan kumuh pada 2019 
mendatang.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)




MEMBANGUN Jakarta itu artinya menambah hal-hal baru, sekaligus memperbaiki yang 
sudah ada. Dalam hal bangunan fisik, membangun Jakarta itu berarti membuat 
bangunan baru, juga memperbaiki bangunan fisik yang sudah ada.

Masalahnya, bangunan fisik di Jakarta itu banyak yang tidak benar. Banyak 
bangunan yang melanggar peraturan, atau tidak sesuai izin.

Apa yang harus dilakukan? Ubah atau bongkar. Banyak pula bangunan didirikan di 
atas lahan yang tidak sesuai peruntukan. Solusinya sama, bongkar.

Jakarta sudah puluhan tahun tumbuh liar. Begitu ada lahan kosong, orang 
mendirikan bangunan secara liar. Jangankan tanah kosong, yang bukan tanah 
kosong pun dipakai untuk bangunan. Banyak orang mendirikan gubuk di bahu jalan, 
trotoar, bahkan di atas badan jalan.

Ada pula yang membangun di bibir sungai, membuat sungai jadi sempit. Bahkan ada 
yang membangun di atas sungai. Sungai ditutup bagian atasnya, lalu di siti 
didirikan bangunan.

Padahal sungai ini tempat air mengalir. Ketika air tak bisa melewati sungai, 
maka air akan mengalir ke tempat-tempat lain, menimbulkan banjir.

Itulah antara lain yang ditemukan Gubernur Anies Baswedan di Jati Padang. Ia 
geleng-geleng melihat rumah-rumah dibangun di pinggir kali sampai di atas kali. 
(Baca: Anies Geleng-geleng Kepala Lihat Rumah Warga Caplok Bibir Kali Pulo)

Lalu, mau diapakan? Adakah cara menormalisasi sungai tanpa menggusur 
bangunan-bangunan itu? (Baca: Anies Bakal Tertibkan Bangunan Liar di Bantaran 
Sungai)

Menggusur bangunan- bangunan liar adalah keputusan logis dan benar. Itu juga 
yang harus dilakukan terhadap bedeng-bedeng liar yang dibangun di atas jalan 
kontrol sepanjang kanal banjir. Anies berjanji akan menggusurnya, entah sudah 
dilakukan atau belum.

Menggusur juga diperlukan ketika ada lahan milik perorangan atau lembaga yang 
hendak dipakai untuk keperluan umum, misalnya membangun jalan. Untuk membangun 
MRT Anies menegaskan harus ada bangunan yang digusur.

Tapi, bukankah Anies sendiri yang berjanji tidak akan menggusur? 

Mungkin waktu itu Anies belum tahu bahwa membangun itu termasuk juga 
menertibkan dan menggusur.

Kok bisa? Calon gubernur tidak tahu? Bisa saja.

Kemungkinan lain, Anies tahu, tapi ia sedang melakukan political marketing. 
Salah satu strategi marketing adalah dengan mencitrakan diri berbeda dengan 
produk lain. Ahok lawan Anies dulu banyak menggusur. Maka Anies membangun citra 
berbeda.


Permukiman warga di Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang berada 
di Bantaran Kali Krukut, Jumat (7/10/2016). Sejumlah bangunan akan dibongkar 
untuk penataan sungai yang terus dilakukan oleh pemerintah di 
Jakarta.(KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI)


Etiskah itu? Itu politik.

Sulit bicara etika dalam politik praktis. Ketimbang menangisi politik yang 
tidak etis, saya lebih suka mengajak orang untuk berpikir cerdas, agar tidak 
tertipu oleh janji-janji yang tidak masuk akal dari politikus.

Jadi, Anies melanggar janji?

Ya. Anies pun tidak sendiri. Semua politikus melakukan itu, termasuk Presiden 
Joko Widodo.

Karena itu, ulah kalian para pendukung fanatik yang saling membagikan 
janji-janji politik konyol pihak lawan yang belum terlaksana, untuk 
ditertawakan, adalah ulah orang-orang bodoh. Siapapun yang kalian dukung pasti 
melanggar janji.

Bagi saya tak penting lagi janji-janji politik di masa kampanye. Lebih penting 
untuk bertindak rasional, membangun Jakarta.

Maka, langkah-langkah Anies untuk menggusur bangunan liar saya dukung. Sama 
seperti saya mendukung langkah Ahok dulu.

Syukur-syukur kalau Anies bisa melakukan komunikasi yang lebih baik, sehingga 
tidak menimbulkan gejolak besar.

Masalahnya, kapan tindakan itu dilaksanakan?

Sejak dilantik Anies sangat banyak berkata “akan”. Saya akan ini, saya akan itu.

Berbicara itu penting bagi seorang gubernur. Tapi bertindak lebih penting. 
Jangan sampai semua serba akan, sehingga orang mengenalnya sebagai Gubernur 
Akan Baswedan.

Selamat bekerja keras, Gubernur.








Kirim email ke