http://historia.id/kota/masa-lalu-orang-kaya-baru
Masa Lalu Orang Kaya Baru

OKB istilah yang dilabelkan bagi mereka secara mendadak hidup bergelimang
materi. Kaum berduit ini selalu ada dan mewarnai kelas sosial masyarakat
dari masa ke masa.
















Societeit Harmonie, tempat para pembesar dan orang kaya Batavia berkumpul.
Foto: KITLV





Martin Sitompul

Minggu 03 Desember 2017 WIB

pengunjung

4.9k

A A

Fredrich Yunadi, pengacara Setya Novanto sesumbar. “Warisan saya saja untuk
10 turunan juga nggak habis kok. Sejak lahir saya sudah hidup berkecukupan.
Supaya tahu. Jadi jangan kira saya ini OKB’,” katanya
<https://news.detik.com/berita/d-3746490/fredrich-saya-bukan-okb-harta-warisan-saya-nggak-habis-10-turunan>.
Dia menolak anggapan bahwa reputasi dirinya sebagai orang kaya lantaran
menangani kasus korupsi E-KTP yang menjerat Ketua DPR, Setya Novanto.
Sontak ucapan angkuhnya menjadi viral di lini massa.

Lantas, bagaimana ceritanya sebutan OKB (Orang Kaya Baru) mengemuka?

Fenomena OKB sebenarnya bukan barang baru. Ia telah mengakar sejak zaman
kolonial. Istilah ini mengacu kepada mentalitas suatu kelas sosial dalam
masyarakat.

Sejarawan Belanda terkemuka Bernard Vlekke mencatat, struktur masyarakat
Batavia terbagi atas dua kelompok: pegawai Kompeni dan warga bebas. Hampir
semua warga bebas adalah mantan pegawai Kompeni dan orang-orang kaya baru
Batavia yang suka pamer kekayaan namun berselera rendahan.

“Dianggap tanda kemakmuran bila punya banyak budak dan melepaskan semua
kerja dan urusan, bahkan pendidikan anak-anak kepada pelayan,” tulis Vlekke
dalam *Nusantara: Sejarah Indonesia*.

Ki Hadjar Dewantara dalam obituari mengenang Mr. C. Th. van Deventer
bertajuk “De Taak” (Tugasnya) termuat di mingguan *Algemeen Indisch
Weekblad*, Agustus 1917 pernah menyentil kaum perlente sebangsanya yang
banyak gaya ini. Ki Hadjar menyebut mereka sebagai borjuis pribumi yang
berorientasi Barat. Mereka memuja sesuatu yang berbau Barat dan fasih dalam
penguasaan tata budaya Belanda.

“Dia (Ki Hadjar Dewantara) mencela para *parvenue* (orang kaya baru) Jawa
tertentu yang selalu ingin pamer dan menonjolkan materi, namun tidak mampu
menghargai bentuk pendidikan yang tidak menyertakan bahasa Belanda,”
demikian menurut Frances Gouda dalam *Dutch Cultures Overseas: Praktik
Kolonial di Hindia Belanda, 1900--1942*.

Namun istilah OKB sendiri barangkali mulai mengkhalayak setelah meletusnya
revolusi sosial di Sumatera Timur. Mohammad Radjab, wartawan *Kantor Berita
Antara*, dalam reportasenya di Pematang Siantar pada 23 Juni 1947
melaporkan, banyak orang biasa yang tiba-tiba bergelimang harta; punya
mobil, perhiasan, dan rumah mewah. Kekayaan itu ditengarai berasal dari
penjarahan saat terjadi revolusi sosial yang menumbangkan kekuasaan
kesultanan feodal di Sumatera Timur. Ratusan orang yang ”beruntung” itu
hilir-mudik di jalan, berbelanja dan memborong di pasar.

“Inilah busa tiap-tiap pergolakan. Oleh rakyat di sana mereka dinamakan
O.K.B. (Orang Kaya Baru) atau kaum feodal baru yang menggantikan kaum
feodal yang dibasminya setahun yang lalu,” tulis Radjab dalam
memoarnya *Tjatatan
di Sumatera* (1949).

Antropolog Universitas Nasional Malaysia, Shamsul Amari Baharuddin juga
meyakini istilah OKB bermula dari Sumatera. Istilah ini sejak tahun 1950-an
sering disinggung dan menjadi diksi yang melekat dalam masyarakat hanya
dengan singkatannya. OKB bahkan populer hingga ke Malaya.

“Istilah OKB digunakan dalam percakapan sehari-hari, lirik lagu,
pertunjukan komedi, cerita pendek, ataupun tajuk rencana koran-koran lokal
berbahasa Melayu,” ungkap Shamsul dalam artikel “From Orang Kaya Baru to
Melayu Baru” termuat di kumpulan tulisan* Cultural Privilege in Capitalist
Asia* suntingan Michael Pinches.

Gaya dan tren OKB pun mewabah. Di Jakarta yang telah menjadi ibu kota
negara Indonesia, mereka teridentifikasi dari bangunan rumahnya yang
menyolok. Firman Lubis dalam memoarnya *Jakarta 1950-an:Kenangan Semasa
Remaja *menyaksikan bangunan rumah yang aneh-aneh di sekitaran Menteng,
Kebayoran baru, Simpruk, atau Pondok Indah. Rumah-rumah ini dibangun dengan
arsitektur meniru berbagai gaya bangunan asing seperti gaya Spanyol, klasik
Eropa, Yunani, Italia, dan lain-lain. Padahal desain rumah demikian sangat
tidak cocok dengan iklim tropis.

“Tetapi memang begitulah umumnya yang terjadi pada orang kaya baru (OKB)
yang mendadak duitnya banyak tetapi kurang diimbangi dengan kemampuan
intelektualitasnya sehingga mempunyai selera seni yang rendah, kurang
mempunyai estetika. Memang tidak ada istilah lain kecuali sekali lagi,
norak!" celoteh Firman Lubis.

Seiring dengan genjotan pembangunan dan modernisasi di era Orde baru, OKB
berdandan mengikuti zaman. Mereka ini biasanya merujuk kepada para pejabat
yang tiba-tiba kaya setelah menduduki jabatan strategis dalam pemerintahan.
Sebagian lainnya menyebut kepada orang yang ketiban warisan.

Sebagai sebuah “suku urban”, menurut sejarawan Universitas Leiden Henk
Schulte Nordholt, orang kaya macam ini dapat dikenali dari pakaian mereka
yang berbeda dan mahal. Identitas kelasnya mencuat lewat gaya hidup baru:
konsumerisme.

Nordholt mencatat, ragam kebiasaan orang kaya baru yang menarik adalah
upaya mereka untuk mengoleksi kartu nama, undangan, relasi (sosialita),
alat pembakar roti, mobil hingga apartemen. Juga tak ketinggalan, aktivitas
plesiran mancanegara.

“Secara serempak dunia orang kaya baru ini terdiri atas sekumpulan jaringan
kerja yang lebih besar, termasuk Hongkong (untuk belanja), Amerika Serikat
(tempat anak-anak mereka bersekolah), Eropa (untuk perjalanan lima hari),
dan Makah (untuk ibadah haji bintang lima),” tulis Nordholt dalam *Outward
Appreances: Trend, Identitas, Kepentingan.*

Kirim email ke