http://aceh.tribunnews.com/2017/12/19/kisah-peselancar-australia-rob-henry-yang-menemukan-jati-diri-di-antara-suku-mentawai


Kisah Peselancar Australia Rob Henry yang Menemukan Jati Diri di Antara
Suku Mentawai

Selasa, 19 Desember 2017 11:20


[image: Kisah Peselancar Australia Rob Henry yang Menemukan Jati Diri di
Antara Suku Mentawai]Rob Henry, pria asal Australia yang sudah tinggal
bersama penduduk asli Mentawai selama delapan tahun dan mengabadikannya
dalam film dokumenter As Worlds Divide


*SERAMBINEWS.COM <http://SERAMBINEWS.COM> -* Pencarian jati diri memang
jalan yang panjang dan berliku. Setiap orang memiliki caranya sendiri,
termasuk seorang peselancar asal Australia
<http://aceh.tribunnews.com/tag/australia> ini.

Rob Henry, pria asal Melbourne, Australia
<http://aceh.tribunnews.com/tag/australia> ini dulunya bekerja sebagai
peselancar. Namun, kini dia memilih tinggal di kepulauan Mentawai yang
terletak di lepas pantai barat Sumatera bersama penduduk asli suku bangsa
Mentawai. Tidak tanggung-tanggung, Henry sudah menetap di sana selama lebih
dari delapan tahun.

Hal ini dilakukan Henry tak lama setelah krisis keuangan global mengguncang
dunia pada tahun 2008. Buatnya, krisis ekonomi ini menjadi katalisator
untuk memikirkan kembali caranya menjalani kehidupan.

"Saya perlu menjauh dari sana (Melbourne) dan melihat apa arti kehidupan.
Saya merasakan ada sesuatu yang mungkin lebih bermakna dan ada cara hidup
yang lebih baik. Jadi saya memutuskan untuk meninggalkan Melbourne dan
mencari hal itu," kata Henry seperti dikutip dari ABC, Kamis (14/12/2017).

Awalnya, Rob memang tidak langsung menuju ke Mentawai. Dia mengunjungi
Indonesia untuk berselancar di sebuah resor dan melakukan pekerjaan terkait
proyek film.

Sampai akhirnya, dia bertemu seseorang yang membuatnya kembali berpikir
tentang kehadirannya di dunia.

"Dia seorang anak muda asli Mentawai bernama Andy yang sudah bekerja di
resor itu selama setahun. Dia memiliki hubungan luar biasa dengan tempat
itu (Mentawai) yang kemudian membuat saya berpikir, jangan-jangan budaya
dan kebebasan yang selama ini dipahami justru sebenarnya adalah sesuatu
yang tidak pernah saya lihat selama ini," jelasnya.

Bertemu dengan Andy dirasa Henry sebagai sesuatu yang sangat menyegarkan.
Membangkitkan rasa penasarannya untuk merasakan langsung.

"Saya ingin tahu apa yang dialami dan diketahuinya, yang tidak kita
ketahui," sambungnya.

Menyanggupi rasa penasarannya, Henry benar-benar datang ke desa nelayan
terpencil untuk tinggal bersama penduduk asli Mentawai yang telah hidup di
sana selama ribuan tahun dan sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris.

"Saya tertarik tinggal di desa yang jauh dari pariwisata. Saat saya
menginjakkan kaki pertama kali, saya tidak tahu banyak tentang daerah itu.
Apalagi saya tidak mengerti bahasa mereka. Datang ke sana (Mentawai) begitu
luar biasa, menakutkan sekaligus menantang," ujarnya.

*Kekayaan tradisional yang terpendam*

Seiring berjalannya waktu dan segala proses yang dilakukannya untuk
mendekatkan diri dengan penduduk lokal, akhirnya Henry dapat memahami
bahasa daerah yang digunakan suku bangsa Mentawai.

Sangat diterima dalam masyarakat di sana, Henry juga menjalankan sejumlah
ritual adat agar tubuhnya bisa ditato seperti yang dimiliki orang Mentawai.
Tato yang disebut Titi ini merupakan tato tertua di dunia, yang
diperkirakan sudah dirajah ke tubuh orang Mentawai saat mereka mendarat di
pantai barat Sumatera pada Zaman Logam (1500 SM-500SM).

Dia juga mempelajari lebih banyak tentang sistem kepercayaan suku bangsa
Mentawai yang disebut Arat Sabulungan.

"Mereka mempercayai bahwa semua hal di alam memiliki jiwa dan jika manusia
akan meninggal, jiwa mereka akan kembali ke alam dan menjadi bagian dari
alam," jelasnya.

Sayangnya, saat ini tidak semua orang Mentawai meneruskan pesan luhur ini.
Generasi baru mulai mengikis cara hidup tradisional orang Mentawai.

"Semakin menghilang. Hal ini masih hidup di kalangan tetua, mereka ingin
terus meneruskannya kepada generasi berikutnya," ujarnya.

Menurut Henry, orang Mentawai saat ini sudah dapat hidup secara bebas,
berbeda dengan para leluhur mereka. Selama Henry tinggal di sana, dia
membuat film dokumenter yang diberi judul As Worlds Divide. Dia berharap
film perjalanan delapan tahunnya dapat menyoroti bagaimana kehidupan asli
orang Mentawai.

"Saya belajar banyak. Saya belajar betapa hanya sedikit yang diperlukan
untuk bahagia. Hal itu jelas bukan berasal dari materi. Benar-benar dari
dalam diri sendiri dan hubungan kita dengan keluarga dan teman. Saya pikir
bagi semua kebudayaan asli, hal itulah yang menyebabkan mereka bisa
bertahan selama puluhan ribu tahun," papar Rob Henry.

Kirim email ke