John menyindir pemerintah yang terkesan cepat dalam merespons pernyataan 
sepihak Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel 
serta memberikan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. 

Hal berbeda dengan penanganan persoalan di negaranya sendiri. Pemerintah 
dianggap mengesampingkan kasus HAM di Papua....
Tokoh Papua: Kami Tidak Lebih Penting daripada Palestina


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Tokoh Papua: Kami Tidak Lebih Penting daripada Palestina

CNN Indonesia

Tokoh masyarakat Papua menilai penyelesaian kasus HAM di Papua berjalan lambat. 
Sementara pemerintah cepat meres...
 |

 |

 |



Dias Saraswati , CNN Indonesia | Selasa, 19/12/2017 08:51 WIBBagikan :     LIPI 
menilai tim investigasi kasus HAM di Papua belum mengalami kemajuan, penanganan 
cenderung lambat karena pemahaman yang kurang terkait HAM. (CNN Indonesia/Adhi 
Wicaksono)Jakarta, CNN Indonesia -- Tokoh masyarakat Papua, John Jonga kecewa 
dengan penyelesaian kasus hak asasi manusia di Papua oleh Pemerintahan Presiden 
Joko Widodo. Menurutnya, pemerintah lambat menangani persoalan HAM di Papua.

John menyindir pemerintah yang terkesan cepat dalam merespons pernyataan 
sepihak Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel 
serta memberikan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. 

Hal berbeda dengan penanganan persoalan di negaranya sendiri. Pemerintah 
dianggap mengesampingkan kasus HAM di Papua.


"Papua tidak lebih penting daripada Palestina," kata John saat Seminar Nasional 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK untuk Papua di Gedung Lembaga Ilmu 
Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, kemarin.

Dia mengkritik tim penanganan kasus HAM Papua yang dibentuk pemerintah. John 
menilai sampai saat ini belum ada aksi dan gerakan nyata dari tim tersebut 
untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Papua.


| 
Lihat juga:
 Damien Kingsbury Klarifikasi soal Andil dalam Gejolak Papua |


"Aksi dan gerakannya khayal, tidak ada apa-apa, apa yang mau diharapakan untuk 
penegakkan hukum," ucapnya.

John juga menyinggung kinerja Kejaksaan Agung dan Komnas HAM yang diberi amanat 
untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Papua namun terkesan lambat. 
Pasalnya, kata John, di masa pemerintahan Jokowi tidak ada satu pun kasus 
pelanggaran HAM di Papua yang bisa diselesaikan.

Sementara LIPI menilai kasus pelanggaran HAM di Papua masih menjadi pekerjaan 
rumah bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tim investigasi yang dibentuk 
belum menunjukkan hasil penyelesaian kasus HAM di Papua.

Ketua Tim Kajian Papua LIPI Andriana Elisabeth mengatakan, pemerintah melalui 
Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM telah membentuk tim 
terpadu untuk menanggulangi kasus pelanggaran HAM berat di Papua dan Papua 
Barat.

"Tim investigasi HAM sudah dibentuk tapi kemajuan belum bisa dirasakan, 
penanganan cenderung lambat karena pemahaman kurang soal HAM. Ada kesan 
menghindar soal HAM karena terkesan hanya masalah sipil politik," kata Andriana.


| 
Lihat juga:
 LIPI: Papua Juga Perlu Pembangunan Infrastruktur Sosial |


Menurut Andriana, kasus pelanggaran HAM di Papua tidak hanya terkait dengan 
para korban. Namun juga, kasus yang terjadi karena ada perlawanan orang Papua 
terhadap pihak asing atas tanah adat mereka yang dirampas.

"Ketika masyarakat adat mempertahankan hak adat, tanah adat, dianggap kelompok 
antipembangunan," ujarnya.

| Polisi mengamankan aksi karyawan korban PHK PT Freeport Indonesia di Check 
Point Mile 28, Timika, Papua. (ANTARA FOTO/Spedy Paereng) |

Sementara itu, Asisten Deputi I bidang Koordinasi Desentralisasi dan Otonomi 
Daerah Kemenko Polhukam Syafii mengatakan, tim terpadu di bawah Kemenko 
Polhukam masih terus bekerja hingga saat ini.

Tak hanya itu, tim tersebut juga berkoordinasi dengan Komnas HAM untuk segera 
bisa menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Papua.

"Tidak ada keinginan kami untuk menunda tapi ada proses administrasi yang harus 
kami lakukan, kami ingin menyelesaikan pelanggaran HAM di Papua," kata Syafii.


| 
Lihat juga:
 Koper HAM Sebut Pembangunan ala Jokowi 'Bangkitkan' Orde Baru |


Di sisi lain, Andriani berpendapat, salah satu cara untuk menyelesaikan masalah 
di Papua adalah dengan melakukan dialog dengan masyarakat di Papua.

"Yang terpenting dialog jadi bagian proses demokratisasi harus jadi satu 
pemikiran dan direalisasikan," ujar Andriana.

Pasalnya, menurut Andriana jika pendekatan kekerasan yang masih digunakan untuk 
menyelesaikan masalah, nantinya justru Indonesia akan mengalami kemunduran 
demokrasi dan melunturkan nasionalisme.

"Penghentian kekerasan, penataan aparat keamanan dan intelijen juga harus 
dilakukan," katanya.(pmg)

Kirim email ke