Survei LIPI: Pelanggaran HAM Persoalan Terbesar di Papua

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Survei LIPI: Pelanggaran HAM Persoalan Terbesar di Papua

Persoalan Papua sudah sejak lama menjadi perhatian pemerintah, termasuk di era 
Presiden Joko Widodo. Dalam kampa...
 |

 |

 |



15/12/2017   
   - Fathiyah Wardah



Seorang aktivis Papua dengan hiasan kepala tradisional mengikuti demonstrasi 
memprotes perusahaan tambang Amerika, Freeport McMoRan di Jakarta, Indonesia, 
20 Maret 2017.


Persoalan Papua sudah sejak lama menjadi perhatian pemerintah, termasuk di era 
Presiden Joko Widodo. Dalam kampanye pemilihan presiden tiga tahun lalu, 
pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla menjanjikan penyelesaian beragam kasus 
pelanggaran hak asasi manusia dan pembangunan ekonomi lebih baik di wilayah 
paling timur Indonesia itu.

Salah satu upaya buat menangani berbagai persoalan di Papua ini, termasuk soal 
Papua merdeka dan masalah ketertinggalan, adalah melalui dialog nasional yang 
direncanakan berlangsung tahun depan.

Atas dasar itulah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama 
dengan Change.org, platform petisi online, melakukan survei online mengenai 
Papua selama tiga minggu, pada November 2017.

Survei ini melibatkan 27.298 responden untuk menjawab 19 pertanyaan. Responden 
terdiri dari 95 persen orang di luar Papua, tiga persen penduduk Papua 
non-asli, dan dua persen penduduk Papua asli.Sebanyak 62 persen responden 
adalah lelaki dan 38 persen perempuan. Responden terbanyak berpendidikan 
sarjana S-1 yakni 51 persen.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 14,02 persen orang Papua asli menilai 
pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sebagai persoalan terbesar di Papua, kata 
Direktur Komunikasi Change org. Arief Azis, dalam jumpa pers untuk memaparkan 
hasil survei di kantor LIPI, Kamis (14/12).

Selain itu,kata Arief, 53 persen orang Papua asli menganggap hal penting yang 
perlu diketahui oleh orang di luar Papua adalah mengenai HAM, hak untuk hidup, 
dan hak untuk mengelola.

“Kita tanya apa yang penting diketahui oleh orang-orang di luar Papua mengenai 
Papua?. Jawabannya macam-macam. Tapi kata kunci paling banyak muncul adalah 
HAM, hak hidup, atau hak untuk mengelola sumber daya alamnya sendiri. Di sini 
orang menggunakan istilah martabat atau harkat. Itu nomor satu yang menjadi 
perhatian mereka,” ujar Arief.

Menanggapi hasil survei tersebut Koordinator Jaringan Damai Papua, Pater Neles 
Tebay, membenarkan masalah pelanggaran HAM di Papua belum menjadi isu utama di 
media-media besar di Jakarta. Dia menekankan masyarakat Papua telah mengalami 
pelanggaran HAM sejak 1963 sampai saat ini.

Tebay menambahkan ketika rezim Presiden Soeharto berkuasa,pelanggaran HAM di 
Papua ditutupi. Bahkan orang yang tinggal di Papua sendiri tidak tahu apa yang 
terjadi di kampung-kampung. Sumber informasi kala itu adalahmiliter. Karena 
itulah, dia membenarkan pelanggaran HAM merupakan isu paling penting yang harus 
diketahui oleh orang-orang di luar Papua.

Yang menarik dalam survei itu, lanjut Pater, orang asli Papua sangat khawatir 
terhadap keadaan mereka.

“Yang dikuatirkan orang Papua adalah hidup dan masa depannya. Apakah hidup dan 
masa depan orang asli Papua itu terjamin dalam Republik Indonesia atau tidak. 
Itu kekhawatirannya, sehingga pemerintah Indonesia punya kewajiban untuk 
memberikan jaminan bahwa di dalam Republik Indonesia ini, hidup orang Papua dan 
masa depan orang Papua itu terjamin,” kata Pater.
Konferensi Pers Survei LIPI mengenai masalah Papua, Jakarta, 14 Desember 
2017.(Fathiyah Wardah/VOA)
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menjelaskan 
masalah Papua sekarang tidak hanya menjadi isu nasional, tapi jugaisu regional 
dan internasional. Persoalan Papua tidak lagi menjadi perhatian kaum aktivis 
dan akademisi, namun juga menjadi sorotan resmi negara-negara asing..

Usman mencontohkan isu Papua masuk dalam tinjauan berkala universal tiap kali 
Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar rapat.

Jadi, kata Usman, survei Change.org bersama LIPI ini menguatkan penelitian yang 
pernah dilakukan Yayasan Tifa bahwa masalah-masalah di Papua mengkhawatirkan. 
Hal ini terkait belum berhasilnya pelaksanaan otonomi khusus di Papua.

Lebih lanjut dia mengatakan kondisi Papua yang tidak aman, bukan hanya 
persoalan militer, tapi juga ada masalah infrastruktur, layanan pendidikan, 
kesehatan, dan kekerasan akibat main hakim sendiri dan konflik antar klan.

Usman menyatakan ketidakamanan di Papua diperparah oleh persoalan migrasi yang 
tidak terkontrol. Ada perpindahan penduduk begitu besar dari luar Papua, ke 
Papua sehingga menimbulkan banyak masalah di sektor sosial dan ekonomi.. Belum 
lagi isu literasi, absennya penegakan hukum, dan layanan kesehatan serta 
pendidikan.

Menurut Usman, penyelesaian pelanggaran HAM di Papua harus menjadi agenda utama 
dalam dialog nasional. Karena indikator damai di Papua adalah mengutamakan 
penegakan HAM.

MeskipunPresiden Joko Widodo memiliki perhatian terhadap Papua, Usman mengakui 
tidak mudah menjadikan persoalan HAM sebagai agenda nomor satu dalam dialog 
nasional yang akan dilaksanakan tahun depan. Sebab masih ada beberapa orang 
dalam pemerintahan bersifat konservatif atas isu Papua.

“Menkopolhukam mereduksi persoalan hak asasi manusia bukan ke dalam kerangka 
perundang-undangan untuk menyelesaikan lewat pengadilan HAM atau Komisi 
Kebenaran dan Rekonsiliasi.Tapi mereduksinya menjadi persoalan adat bakar batu, 
misalnya. Tanpa satu kejelasan konsep keadilan hukum, keadilan HAM yang mau 
ditawarkan untuk menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia dalam tragedi 
Wamena atau Wasior.

Jaleswari Pramowardhani, Deputi V Kantor Staf Presiden Urusan Politik, Hukum, 
Pertahanan dan Keamanan, serta HAM, menegaskan pemerintah tidak berniat 
menafikan persoalan HAM dalam konteks sipil dan politik di Papua. Dia menilai 
survei Change.org dan LIPI tersebut membuktikan persoalan di Papua bukan hanya 
HAM.

Dia menyebutkan Presiden Joko Widodo minggu ini telah menginstruksikan 
percepatan pembangunan di Papua dan Papua Barat dengan menggunakan pendekatan 
holistik.

“Misalnya, ketika bicara pendidikan, presiden menginstruksikan bagaimana 
Kementerian Pendidikan harus melihat kondisi geografis Papua, sumber daya 
manusia di Papua untuk membangun, baik itu infrastruktur maupun sumber daya 
manusianya, bagaimana pendidikan itu menjadi penting,” ujar Jaleswari.

Sebagian besar respondenyang tinggal di luar Papua, penduduk Papua non-asli, 
dan penduduk Papua asli sama-sama menginginkan dialog nasional untuk menemukan 
solusi final dan berkesinambungan mengenai persoalan Papua.

Pater Neles mengatakan hasil survei itu menyimpulkan masyarakat Indonesia tidak 
menginginkan masalah Papua diselesaikan dengan cara kekerasan atau pendekatan, 
tapi melalui dialog. Sebab dialog memungkinkan pihak-pihak bertikai bertemu 
sebagai mitra untuk mencari solusi-solusi bisa diterima semua pihak.

Kirim email ke