Jangan buang sampah di sunggai! 2017-12-19 20:50 GMT+01:00 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > > http://nasional.kompas.com/read/2017/12/18/17034841/ > pentingnya-pendidikan-untuk- > > penanggulangan-dan-darurat-bencana > Pentingnya Pendidikan untuk > Penanggulangan dan Darurat Bencana > Perhimpunan Pelajar Indonesia > Kompas.com - 18/12/2017, 17:03 WIB > [image: Anak-anak sekolah dasar berlindung di bawah meja mereka saat > latihan gempa di sebuah sekolah di Tokyo pada tanggal 1 September 2015. > Latihan anti-bencana nasional diadakan pada tanggal 1 September pada hari > peringatan gempa besar 1923 yang menewaskan lebih dari 100.000 orang di > daerah metropolitan Tokyo.] > Anak-anak sekolah dasar berlindung di bawah meja mereka saat latihan gempa > di sebuah sekolah di Tokyo pada tanggal 1 September 2015. Latihan > anti-bencana nasional diadakan pada tanggal 1 September pada hari > peringatan gempa besar 1923 yang menewaskan lebih dari 100.000 orang di > daerah metropolitan Tokyo.(AFP PHOTO/YOSHIKAZU TSUNO) > > *AKHIR-AKHIR* ini, bermacam jenis bencana singgah di Tanah Air. Mulai > dari Gempa (Sukabumi), banjir (Medan dan Jogjakarta), banjir bandang > (Pacitan dan Lombok Timur), gunung meletus (Gunung Agung, Bali), puting > beliung (Sidoarjo), dan beberapa bencana lainnya terjadi tanpa mengenal > musim. > > Karena Indonesia bagian dari kepulauan yang secara geografis terletak di > antara tiga lempeng besar (Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik), negeri ini > rentan akan bencana alam <http://indeks.kompas.com/tag/bencana-alam>. > > Selain itu, Indonesia juga masuk dalam zona *ring of fire* sehingga > kemungkinan bencana bisa saja terjadi. > > Semua faktor itu tentunya mengakrabkan negara ini dengan berbagai > kemungkinan bencana yang ada, di mana masyarakat perlu lebih bersahabat > dengan alam. > > Bencana *multihazard* sudah sering menjadi wacana dan pertimbangan untuk > diikutsertakan dalam semua perencanaan teknis di tingkat industri maupun > pembangunan. > > Perihal kesehatan dan keselamatan kerja dan lingkungan hidup (K3LH), > manajemen risiko bencana, *safety fire protection*, maupun penanggulangan > risiko bencana menjadi perhatian khusus yang tidak dikesampingkan para > pelaku pembangunan. > > Juga menjadi perhatian khusus karena bencana alam yang tergolong dalam > bencana tipe *rapid onset* (kejadian berlangsung cepat) memiliki total > kontribusi persentase kematian hingga kurang lebih 13 persen (Wisner, 2003). > > Untuk tingkat pekerjaan dan lapangan, Indonesia telah sangat memperhatikan > aspek K3LH (Kesehatan, Keselamatan, Kerja dan Lingkungan Hidup) untuk > pekerja-pekerjanya. > > Hal itu bisa dilihat dari sistem manajemen K3LH yang telah menjadi aspek > utama di ranah industri Indonesia di mana rambu-rambu K3 telah terpasang > secara rapi dan inspeksi juga audit terkait keselamatan kerja rutin > diadakan. > > Namun, perencanaan dan pembangunan yang melibatkan aspek K3LH dan > pertimbangan terhadap desain sesuai perilaku bencana pun tak cukup. > > Pada akhirnya, masyarakatlah yang secara langsung merespons ketika terjadi > bencana. Dalam hal ini, kesiapsiagaan melalui pendidikan dan pelatihan > menjadi bagian daripada upaya preventif sebelum memakan korban. > > Hal tersebut telah disampaikan oleh Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla > dalam acara World Tsunami Awareness (2016) bahwa "*Awareness* ini artinya > kesiapan atau kehati-hatian. Jadi yang kita harapkan adalah memasyarakatkan > persiapan apabila ada bencana. Persiapan diri mendidik." > > *Mencegah sebelum dan selagi bencana* > > Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, > baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan > menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 tentang > Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). > > Untuk hal semacam itu, Indonesia memiliki Badan Nasional Penanggulangan > Bencana (BNPB). Badan ini juga memiliki rantai terkecil, yaitu Badan > Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bisa menjadi wadah kuat dalam > masalah kebencanaan di Indonesia. > > BNPB mengeluarkan buku saku yang melingkupi prosedur kedaruratan seperti > gempa bumi, tsunami, gunung api, banjir, tanah longsor, angin puting > beliung, gelombang pasang, kebakaran lahan dan hutan, kekeringan, > kecelakaan transportasi, dan lainnya. Buku ini telah secara lengkap > memaparkan prosedur menghadapi bencana bagi masyarakat. > > Namun, itu semua tidak cukup diatur melalui tulisan. Masyarakat Indonesia > dari kalangan berbagai usia sedari dini memerlukan bimbingan intensif > terkait penanggulangan bencana. > > Yan Pieter, salah satu mantan staf pengajar ahli Kesehatan, dan > Keselamatan Kerja-Sistem Manajemen (K3-SMK) dari Universitas Negeri Jakarta > mengatakan, "Bukanlah mengurangi dampak risiko keselamatan, namun > menjadikan risiko bencana itu menjadi nol, yaitu melalui kegiatan > pencegahan." > > Tentunya semua ini bisa berhasil melalui aksi cepat tanggap dan darurat > dari masyarakat yang sudah mengenal, terbiasa, dan telah terlatih dalam > menghadapi risiko bencana yang ada. > > Kita bisa menengok dan belajar dari negara dengan tingkat kewaspadaan > bencana *(emergency preparedness)* cukup tinggi, misalnya Jepang dan > Filipina. > > Di Jepang, pendidikan kebencanaan sudah diterapkan sejak di bangku sekolah > dan masuk kedalam kurikulum nasional. Begitu pula dengan di Filipina. > > Hal itu tidak berbeda jauh dari kampus-kampus di China. Pelatihan dan > penyuluhan keselamatan dan darurat bencana dilakukan di asrama setiap > permulaan ajaran baru. Beijing Jiaotong University, misalnya, selain > pendidikan dan pelatihan, kampus ini juga menyediakan ruang eksibisi > tentang pendidikan kebencanaan. > > "Karena kita menginginkan agar mahasiswa mengetahui pengetahuan > keselamatan dasar dalam menghadapi bencana secara mandiri," ujar Myranda > selaku staf ahli asrama ketika ditanya alasan diadakannya pendidikan > kebencanaan rutin. > > Belajar dari negara luar, pendidikan, pelatihan dan simulasi perlu menjadi > akar utama untuk masyarakat di berbagai daerah, sehingga masyarakat tak > hanya cepat tanggap setelah terjadi, tetapi juga telah siaga dan mampu > bertindah pra dan pascabencana. > > *Annisa Dewanti Putri* > *Anggota Komisi Pendidikan PPI Dunia* > *Master of Civil Engineering Beijing Jiaotong Universit * > *PPI China (ppidunia.org <http://ppidunia.org>)* > > >
