Muslim muda Jakarta ternyata sangat toleran
 Kamis, 21 Desember 2017 12:47 WIB
 
Masyarakat berbusana adat dari lintas agama membawa spanduk dan poster saat 
mengikuti pawai memperingati Hari Toleransi Internasional di Banda Aceh, Sabtu 
(18/11/2017). (ANTARA /Ampelsa)

Jakarta (ANTARA News) - Kaum muda Islam menunjukkan toleransi terhadap 
kepercayaan non muslim menjelang Hari Natal di Indonesia pada 25 Desember 2017.

"Saya menghargai apa pun yang mereka lakukan untuk merayakan Natal. Itu hak 
mereka. Tetapi saya tidak akan ikut merayakan. Itu adalah sikap toleransi saya 
kepada mereka," kata mahasiswi bernama Dini kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Bagi Dini, toleransi tidak harus terlibat dalam perayaan suatu agama yang tidak 
dianutnya. Namun dengan memberi kebebasan kepada mereka untuk melakukan dan 
merayakan hari besar mereka pun sudah merupakan toleransi.

Rina yang juga muslimah menilai perayaan besar umat agama manapun harus 
dihormati agar tercipta kedamaian.

"Sikap saya sebagi muslim tentunya menghormati kepercayaan mereka karena mereka 
pun menghormati kepercayaan saya. Seperti waktu di bulan puasa, banyak teman 
saya yang bukan muslim ikut puasa demi menghormati umat muslim," kata Rina.

Sedangkan Ajeng yang juga mahasiswi dan hidup dalam keluarga yang berbeda 
agama, tetap menghormati kepercayaan saudaranya yang non muslim. Ajeng kadang 
ikut dalam acara Natal dengan keluarganya yang non muslim.

"Saya sendiri Islam, sedangkan saudara saya yang lain ada yang Kristen. Saya 
suka ikut acara Natal mereka di salah satu rumah saudara saya, tapi enggak 
sampai ikut kebaktian atau yang di luar aturan agama saya. Jadi hanya ikut 
kumpul keluarga saja," ujar Ajeng.

Toleransi berkurang

Meskipun kebanyakan kaum muda Jakarta menunjukkan toleransi yang tinggi kepada 
umat lain yang tidak seagama dengan mereka, para pemuda ini mengkhawatirkan 
berkurangnya toleransi dalam masyarakat.

Refita misalnya. Dia mengatakan saat ini toleransi Indonesia meluntur sehingga 
ketika ada hal yang berkaitan dengan agama pasti sensitif dan bahkan ada yang 
terbawa emosi sehingga menghina agama lain.

Sementara itu Della mengatakan, "Toleransi di Tanah Air masih kurang, terbukti 
dengan masih banyak sikap rasis di Indonesia. Tapi mungkin sulit diubah, 
mengingat Indonesia itu negara majemuk, memiliki banyak ras, suku, agama dan 
kebudayaan. Jadi, masing-masing orang punya pikirannya masing-masing".

Sebaliknya pemudi bernama Nur menilai toleransi di Indonesia cukup baik, tapi 
untuk beberapa hal kadang ada orang yang iseng memprovokasi masalah agama yang 
berujung dengan keributan, padahal saat terjun ke masyarakat dia terlihat 
toleran.

Tak dapat disangkal bahwa Indonesia negara majemuk sehingga kadang sulit 
diselaraskan. Akan tetapi, toleransi dapat menghindarkan masyarakat dari 
perpecahan antarumat beragama, selain menciptakan ketentraman dalam hidup 
bermasyarakat. 


Pewarta: Desri dan Arnaz
Editor: Jafar M Sidik

Kirim email ke