Emma, Bayi Imut yang Terlahir setelah Dibekukan 25 Tahun
KAMIS, 21 DEC 2017 07:10 | EDITOR : DWI SHINTIA




 
BAHAGIA: Keluarga Gibson bersama Emma. (CNN)


JawaPos.com – Emma Wren Gibson bukan bayi biasa. Bayi imut tersebut berasal 
dari embrio yang dibekukan pada 14 Oktober 1992. Artinya, embrio Emma berusia 
25 tahun sebelum akhirnya dia terlahir sebagai bayi.

Bukan hanya itu, perempuan yang melahirkan Emma, Tina Gibson, berusia 26 tahun. 
Itu membuat Emma sejatinya hanya berbeda setahun dengan Tina yang menjadi 
ibunya. Lahir bulan lalu di Tennessee, AS, Emma memecahkan rekor dunia sebagai 
bayi dari embrio beku terlama di dunia.

Diceritakan Dr. Jeffrey Keenan, Direktur Medis Pusat Sumbangan Embrio Nasional, 
Emma terlahir pada 25 November 2017. Orang tua Emma, Tina dan Benjamin Gibson 
dari Tennessee Timur pun merasa terkejut saat diberi tahu usia embrio yang 
dicairkan pada tanggal 13 Maret oleh Carol Sommerfelt, Direktur Laboratorium 
Embriologi di Pusat Donor Embrio Nasional itu.

 
SEHAT TERUS YA: Emma Wren Gibson. (CNN)



"Usianya 25 tahun. Embrio ini dan saya bisa menjadi teman terbaik kalau dia 
terlahir 25 tahun yang lalu," kata Tina Gibson kepada CNN.

Sommerfelt mengatakan kelahiran Emma cukup menarik mengingat berapa lama embrio 
itu telah membeku. ”Embrio beku tertua yang diketahui berhasil melahirkan 
adalah berusia 20 tahun,” katanya.

Kisah Emma dimulai jauh sebelum Gibson mengadopsi embrio (dan empat saudara 
kandung Emma dari donor telur yang sama). Embrio Emma berasal dari pasangan 
yang melakukan pembuahan in vitro (IVF) atau pembuahan di luar tubuh.

Dalam pembuahan itu biasanya dihasilkan beberapa embrio. Sebagian embrio 
digunakan untuk program bayi tabung pasangan tersebut. Bila ada sisa embrio, 
bisa dibekukan dan digunakan bila pasangan itu ingin memiliki anak lagi.

Namun jika tidak, embrio itu bisa disumbangkan untuk penelitian, dicairkan dan 
dibiarkan mati, atau seperti kasus Emma, diadopsi oleh pasangan yang tidak 
memiliki anak.

Dan embrio Emma, setelah melalui pemeriksaan medis mendalam, cocok dengan 
pasangan Tina dan Benjamin. ”Suami saya menderita cystic fibrosis, itu salah 
satu jenis ketidaksuburan yang sering terjadi," kata Tina.

Namun itu tidak menjadi masalah. Kehidupan pernikahan mereka tetap indah. ”Kami 
telah memutuskan untuk mengadopsi anak suatu saat nanti,” katanya. Dan, proses 
adopsi itu mulai dilaksanakan. Bersama keluarga besar pasangan ini kerap 
mengunjungi panti sosial untuk bertemu anak-anak yatim.

Tetapi, semua itu berubah ketika ayah Tina membaca mengenai adopsi embrio. ”Ini 
disebut adopsi embrio. Mereka akan menanamkan embrio di dalam tubuh Anda, dan 
Anda bisa melahirkan bayi," katanya pada anak perempuannya. Dan begitulah. 
Setelah melewati pertimbangan matang, pemeriksaan medis mendalam, embrio Emma 
dimasukkan rahim Tina dan kemudian terlahir dengan sehat.(*)

(tia/ce1/JPC)

Kirim email ke