Pada akhirnya puncak sengketa terkulminasi pada Tembok Ratapan atau Tembok 
Burag.Kembali lagi kemasalah agama, situs yang dianggap suci dan jadi rebutan.
---
Gedung Putih Beri Sinyal Tembok Barat Yerusalem Milik Israel

Berlianto
Sabtu, 16 Desember 2017 - 08:47 WIB

Tembok barat Yerusalem. Foto/Istimewa

WASHINGTON - Pejabat senior pemerintahan Trump menggarisbawahi pandangan mereka 
bahwa Tembok Barat Yerusalem akan dinyatakan bagian dari Israel. Hal itu 
termuat dalam sebuah pernyataan yang dipastikan akan memicu kemarahan warga 
Palestina dan negara Timur Tengah.

Meskipun mereka mengatakan batas akhir Yerusalem harus diselesaikan melalui 
perundingan, para pejabat tersebut pada dasarnya mengesampingkan skenario yang 
tidak mempertahankan kontrol Isrel atas tanah suci dalam agama Yudaisme itu. 

Isu ini menjadi sensitif karena tembok itu berada di luar perbatasan Israel 
sebelum 1967 dan berbatasan dengan beberapa situs dunia yang dipuja dunia Islam.

"Kami tidak bisa membayangkan situasi di mana Tembok Barat tidak akan menjadi 
bagian Israel. Tapi seperti yang dikatakan presiden, batas-batas spesifik 
kedaulatan Israel akan menjadi bagian dari kesepakatan status akhir," kata 
seorang pejabat senior pemerintah. 

"Kami mencatat bahwa kita tidak dapat membayangkan Israel akan menandatangani 
sebuah kesepakatan damai yang tidak termasuk Tembok Barat," ucap pejabat lain 
menambahkan melalui email seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (16/12/2017).

Para pejabat tersebut berbicara tanpa menyebut nama untuk membahas rincian 
perjalanan mendatang wakil presiden. Sebagaimana diketahui Wakil Presiden 
Amerika Serikat (AS), Mike Pence, dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke Timur 
Tengah dalam beberapa hari mendatang.

Seorang penasihat senior Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Nabil Abu Rdeneh, 
bereaksi dengan marah atas komentar tersebut.

"Kami tidak akan menerima perubahan apapun di perbatasan Jerusalem timur, yang 
diduduki pada tahun 1967," tegas Abu Rdeneh mengatakan kepada The Associated 
Press. 

"Pernyataan ini sekali lagi membuktikan bahwa pemerintahan Amerika ini berada 
di luar proses perdamaian. Kelanjutan dari kebijakan Amerika ini, apakah 
pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, atau memindahkan kedutaan besar 
Amerika, atau pernyataan semacam itu, yang dengannya Amerika Serikat memutuskan 
secara sepihak mengenai isu-isu negosiasi status akhir, adalah pelanggaran 
terhadap hukum internasional dan memperkuat pendudukan Israel. Bagi kami, ini 
tidak bisa diterima. Kami benar-benar menolaknya. Dan kami benar-benar 
mencela," tegasnya lagi.

Pence berencana mengunjungi Tembok Barat minggu depan. Pejabat pemerintah 
mengatakan bahwa dia akan didampingi oleh seorang rabbi untuk melestarikan 
sifat spiritual dari kunjungannya yang direncanakan ke tembok suci di Kota Tua 
Yerusalem. Pejabat tersebut mengatakan bahwa kunjungan Pence pada hari Rabu 
akan dilakukan dengan cara yang sama seperti ketika Presiden Donald Trump 
berkunjung pada bulan Mei lalu.

Status Jerusalem telah menjadi isu sentral dalam konflik Israel-Palestina 
selama puluhan tahun. Pengumuman Trump minggu lalu yang menyatakan bahwa 
Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel mengguncang puluhan tahun kebijakan luar 
negeri AS. Keputusan itu juga menentang konsensur internasional bahwa status 
Yerusalem harus diputuskan dalam perundingan antara Israel dan Palestina, yang 
mengklaim Yerusalem timur sebagai Ibu Kota negara masa depan mereka.

Pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel telah memicu protes 
di Timur Tengah. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, bahkan menolak untuk 
bertemu dengan Pence.

Pejabat senior lain mencatat reaksi terhadap keputusan Yerusalem dan banyak 
emosi yang telah ditunjukkan mengenai hal itu. Pejabat tersebut mengatakan 
bahwa perjalanan Pence dipandang sebagai bagian akhir dari bab itu dan awal 
dari apa yang akan dilakukan di bab selanjutnya.

Pejabat Trump mengatakan bahwa Pence akan memperkuat pengumuman Trump di 
Yerusalem, namun pemerintah juga mengerti bahwa Palestina mungkin memerlukan 
masa untuk menenangkan diri.

Israel merebut Kota Tua, rumah bagi situs-situs keagamaan Yahudi, Kristen dan 
Muslim yang penting, bersama dengan Yerusalem timur lainnya dalam perang 1967. 
AS tidak pernah mengakui kedaulatan Israel atas wilayah yang diduduki pada 
tahun 1967, termasuk Yerusalem timur. Untuk alasan ini, pejabat AS telah 
menolak untuk mengatakan secara eksplisit bahwa tembok tersebut adalah bagian 
dari Israel.

Tembok Barat, tembok penahan dari Bait Suci Yahudi, dianggap sebagai tempat 
tersuci dimana orang Yahudi dapat berdoa. Israel mengendalikan tembok dan 
memperlakukannya seperti wilayah Israel, secara rutin mengadakan upacara 
kenegaraan di sana.

Secara luas diasumsikan bahwa Israel akan mempertahankan kontrol atas lokasi 
tersebut di bawah kesepakatan damai potensial. Tapi kesepakatan menjadi rumit 
terkiat situs puncak bukit yang dipuja oleh umat Islam sebagai Tempat Suci dan  
Yahudi sebagai Bukit Bait Suci. Kompleks ini adalah rumah bagi Masjid al-Aqsa, 
situs tersuci ketiga dalam Islam, dan di situlah bekas Kuil Yahudi tersebut 
berdiri. Ini dianggap sebagai situs tersuci dalam Yudaisme.(ian)

Kirim email ke