Wang Yi Paparkan Diplomasi Tiongkok Sepanjang 2017
2017-12-26 11:03:37 CRI
Menjelang pergantian tahun baru, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi
sempat menerima wawancara wartawan People's Daily, di mana ia telah secara
mendalam menguraikan hasil-hasil yang dicapai diplomasi Tiongkok sepanjang
tahun 2017.
Wang Yi mengatakan, pada 2017, situasi internasional terus mengalami
perubahan dan penyesuaian kembali yang mendalam. Tahun 2017 merupakan tahun
yang membuka era baru bagi perkembangan Tiongkok. Sidang Kongres Nasional ke-19
Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menghasilkan Pemikiran Xi Jinping tentang
sosialisme yang berkarakteristik Tiongkok pada zaman baru, yang juga menandakan
dimulainya periode baru pembangunan modernisasi sosialis secara menyeluruh.
Wang Yi menambahkan, sepanjang 2017, Tiongkok secara aktif mengusahakan
pembinaan kemitraan yang berdialog dan tidak berkonfrontasi, bermitra tapi
tidak bersekutu dengan berbagai negara demi terwujudnya perdamaian kekal dan
keadilan sosial.
Pertama, Tiongkok telah mencapai kemajuan baru dalam koordinasi dan kerja
samanya dengan negara-negara utama. Pemimpin Tiongkok dan AS mengadakan tiga
kali pertemuan dalam satu tahun, sementara itu berkali-kali mengadakan hubungan
telepon atau surat menyurat, sehingga telah menetapkan arah bagi perkembangan
hubungan Tiongkok-AS pada zaman baru. Kolaborasi strategis dan komprehensif
Tiongkok-Rusia sepanjang 2017 terus berkembang ke level yang lebih tinggi dan
mencakup bidang yang lebih luas. Hubungan Tiongkok-Eropa berkembang secara
stabil, di mana kerja sama saling menguntungkan antara kedua pihak telah
ditingkatkan lebih lanjut.
Kedua, kerukunan antara Tiongkok dengan negara-negara tetangga semakin
meningkat. Vietnam dan Laos menjadi dua negara yang dikunjungi Xi Jinping pasca
Kongres Nasional ke-19 PKT. Hal ini telah mengeluarkan sinyal tegas bahwa
Tiongkok ingin membina komunitas senasib sepenanggungan dengan negara-negara di
sekitarnya. Kehadiran Perdana Menteri Li Keqiang dalam rangkaian pertemuan
kerja sama Asia Timur telah mendorong hubungan Tiongkok-ASEAN berkembang dari
masa awal pertumbuhan ke masa matang. Tiongkok dan Korsel telah mencapai
kesepakatan bertahap mengenai masalah sistem antirudal THAAD. Hubungan
Tiongkok-Jepang telah menunjukkan momen membaik dan berkembang. Tiongkok
berpegang teguh pada target denuklirisasi Semenanjung Korea, menggagasi "dua
penghentian" demi pemulihan perundingan damai dan terwujudnya ketenteraman
Semenanjung Korea dalam jangka panjang. Itu berarti Tiongkok telah melaksanakan
kewajibannya. Sementara itu, Tiongkok aktif melakukan penengahan atas isu-isu
panas seperti masalah Afghanistan dan masalah Rakhine Myanmar. Tiongkok juga
telah mencapai dokumen kerangka mengenai kode etik perilaku Laut Tiongkok
Selatan dengan negara-negara ASEAN, kedua pihak telah memulai perundingan
mengenai detail pelaksanaannya, sehingga telah memainkan peranan konstruktif
bagi terpeliharanya perdamaian dan kestabilan kawasan.
Ketiga, kerja sama Tiongkok dengan negara-negara berkembang telah
mencapai terobosan yang baru. Tiongkok dan negara-negara Afrika berupaya
melaksanakan hasil-hasil yang tercapai dalam KTT Johannesburg Forum Kerja Sama
Tiongkok-Afrika.
Keempat, kedaulatan dan kepentingan sah Tiongkok terlindungi secara kuat.
Melalui pendekatan diplomatik, Tiongkok menyelesaikan peristiwa pelanggaran
perbatasan oleh pasukan India di Dong Lang, Tibet. Hal itu selain telah
melindungi kedaulatan Tiongkok, juga telah mempertahankan arah tepat dalam
hubungan Tiongkok-India.