Abbas Kepada Trump: Yerusalem Tak Dijual
Riva Dessthania Suastha , CNN Indonesia | Rabu, 03/01/2018 18:26 WIBBagikan :   
  Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan kepada Donald Trump bahwa 
Yerusalem bukan barang jualan. (OIC-ES2016/Panca Syurkani)Jakarta, CNN 
Indonesia -- Presiden Mahmoud Abbas menegaskan bahwa kota Yerusalem, yang 
selama ini diperebutkan Palestina dengan Israel, bukan barang jualan.

Abbas menekankan bahwa kota suci bagi umat Muslim, Kristiani, dan Yahudi itu 
tidak sebanding dengan nilai bantuan yang selama ini diberikan Amerika Serikat 
kepada Palestina.

"Yerusalem adalah ibu kota abadi Palestina dan kota itu tidak diperjual-belikan 
dengan emas atau miliaran dolar," ucap Abbas melalui juru bicaranya, Nabil Abu 
Rudeina kepada AFP, Rabu (3/1).




Abbas melalui Rudeina juga menuturkan AS sudah tidak bisa menjadi mediator 
perdamaian di Timur Tengah sejak Trump memutuskan untuk mengakui Yerusalem 
sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember lalu.

Menurutnya, Palestina tidak menentang perdamaian dan selalu mendukung jalur 
dialog untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan dengan Israel.
| 
Lihat juga:
 Trump Ancam Hentikan Bantuan Buat Palestina |

Namun, pemerintahnya hanya ingin berdamai jika perjanjian itu mencakup 
pembentukan negara Palestina dengan batasan-batasan wilayah seperti sebelum 
Israel merebut Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza pada perang 1967 
silam, kata Rudeina.

"Kami tidak menentang untuk kembali bernegosiasi, tapi [negosiasi] harus 
didasarkan hukum dan resolusi internasional yang telah mengakui negara 
Palestina dan Yerusalem timur sebagai ibu kotanya," ujarnya.

"Jika Amerika Serikat menginginkan perdamaian dan melindungi kepentingannya, 
mereka harus mematuhi semua itu."

Melalui Twitter, Trump menyebut Amerika telah mengucurkan dana ratusan juta 
dolar bagi Palestina setiap tahun, tapi tak kunjung dihargai atau dihormati.
| 
Lihat juga:
 Israel Kembali Serang Basis Hamas di Gaza |

"Mereka [Palestina] bahkan tidak ingin menegosiasikan traktat damai yang telah 
lama berjalan dengan Israel. Ketika warga Palestina tidak lagi ingin 
membicarakan damai, kenapa kita [AS] harus mengeluarkan dana sangat besar untuk 
mereka?" kicaunya.

Selama ini, AS merupakan donatur terbesar Badan PBB urusan Pemulihan bagi 
Pengungsi Palestina (UNRWA) dengan kucuran bantuan sebesar US$370 juta (Rp5 
triliun) pada 2016.
| Donald Trump mengancamm akan mencabut bantuan untuk Palestina. (REUTERS/Kevin 
Lamarque) |

Selain dana, Washington juga telah lama menyalurkan sejumlah bantuan keamanan 
bagi Palestina. Sejumlah pengamat menilai langkah itu dilakukan untuk membantu 
menjaga stabilitas di negara tersebut.

Meski begitu, belum jelas apakah AS mengancam menarik dana bantuannya secara 
menyeluruh.
| 
Lihat juga:
 Israel Sahkan UU yang Persulit Pembebasan Yerusalem Timur |

Di sisi lain, sejumlah pejabat Palestina menyebut ancaman Trump tersebut 
merupakan bentuk pemerasan. (aal)

Kirim email ke