Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority" On 4 Jan 2018 6:57 a.m., "Hsin Hui Lin" <[email protected]> wrote:
> Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi kalau di > banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia...... Loo dari mana > kesejahteraan yg di capai German...... datang dari sorga atau dari hasil > penghisapan manusia oleh segelintir manusia yg menghadiri majority.... Tak > langsung anda menikmati hasil penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai > ahli teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan fakta, kenyataan", > bagimana menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun tak akan membawa kita ke > masyarakat yg anda impikan Lin > > On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij [email protected] > [GELORA45]" <[email protected]> wrote: > >> >> >> Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di Mekkah. >> Mereka yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih, sajadah, kafiah, peralatan >> salat, bahkan Alquran buatan orang-orang kafir itu bagaimana ya hukumnya, >> termasuk halal atau haram? Apakah ada sertifikasi halal dari MUI? >> >> Terus bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad, ataupun Anies >> Baswedan waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga pakai barang buatan orang2 >> kafir itu? >> >> Kutipan berita: >> Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat saja semua >> pernak-pernik peralatan ibadah umat Islam yang ada, hampir semua >> berasal dari Negeri Naga ini! Ada tasbih, sajadah, kafiah, peralatan >> salat,* malah Alquran** sekalipun, semua tertulis ”made in China”*. >> >> >> >> ---In [email protected], <lusi_d@...> wrote : >> >> Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang semacam >> itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum menjawab >> bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk menjawab masalah >> kesejahteraan masyarakatnya harus jelas bagaimana sistim produksi yang >> berlaku di dalam masyarakatnya, apakah berwatak exploitation de l'home >> par l'home atau tidak kata Bung Karno. >> >> >> >> >> Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800 >> schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]" >> <[email protected]>: >> >> > Made in China >> > Koran Sindo >> > Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB >> > https://nasional.sindonews.com/newsread/1266546/18/made-in >> -china-1513533508 >> > >> > Joni Hermana >> > Staf Pengajar ITS Surabaya >> > >> > SAYA tidak terlalu yakin apakah Anda sependapat dengan saya, >> > namun percayakah Anda dengan pendapat ”tiada hari tanpa >> > produk negeri China dalam kehidupan kita?” Coba simak >> > bagaimana sulitnya seorang ibu bernama Sara Bongiorni >> > beserta keluarganya di Amerika Serikat berjuang selama >> > setahun untuk tidak menggunakan barang yang berbau China. >> > Pengalaman luar biasa ini dia tulis dalam bukunya yang >> > berjudul A Year Without ”Made in China”. Atas eksperimennya itu, >> > dia ternyata harus berjibaku, berkendaraan dari mal ke mal >> > sekedar mencari sebuah kolam renang plastik untuk anaknya. >> > Bayangkan! Ini sekadar untuk menggambarkan bahwa tidak mudahnya >> > kita melepaskan diri dari barang buatan China dalam kehidupan >> > keseharian kita, bahkan untuk negara maju sekelas AS sekalipun. >> > Produk buatan negeri China sudah merasuk ke dalam semua sendi >> > kehidupan kita; di rumah, di sekolah, tempat kerja, dan di >> > mana-mana. Kalau bulan pun ada penduduknya, sudah dipastikan ada >> > buatan negeri China di sana, he.. he.. Tak terkecuali kota suci >> > Mekkah sekalipun. Lihat saja semua pernak-pernik peralatan ibadah >> > umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari Negeri Naga ini! Ada >> > tasbih, sajadah, kafiah, peralatan salat, malah Alquran >> > sekalipun, semua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun produk >> > mereka ini sudah menjadi keseharian dalam hidup kita, >> > mayoritas bangsa kita pasti akan merasa gamang kalau diminta >> > untuk memakai, apalagi membeli, produk berteknologi canggih dari >> > negeri China. Setidaknya kita akan bertanya masygul apa beneran >> > ya ? Sebab, branding produk buatan China yang tertanam dalam >> > benak kita selama ini adalah untuk barang remeh-temeh dan - >> > perlu juga dicatat - yang mudah rusak. Wajarlah ketika kemudian >> > China menampilkan produk-produk mereka yang berteknologi tinggi >> > dan modern di negara kita, banyak orang yang meragukan >> > keandalannya. Demikian, orang-orang bertanya ketika mulai >> > banyak infrastruktur dibangun oleh kontraktor China. Lalu, >> > orang-orang juga bertanya ketika kereta cepat dibangun mereka. >> > Tidak ketinggalan orang-orang juga bertanya ketika pembangkit >> > listrik dibangun mereka... beneran nih ? Untuk menjawab >> > keraguan seperti ini, tidak salah kalau direksi PLN mengajak >> > akademisi dan para insan media mengunjungi pabrikan di China yang >> > melaksanakan proyek pembangkit di Indonesia saat awal >> > Desember beberapa saat lalu. Apa yang dilihat memang sangat >> > berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya.. Negeri China >> > telah menjelma menjadi negara dengan kemampuan teknologi >> > canggih dan terkini. Semuanya telah mereka kuasai. Sungguh luar >> > biasa! Ini sesuai dengan misi mereka yang ingin menjadikan >> > semuanya ”made in China ” pada 2025. China ingin mengubah wajah >> > brandingnya tidak sekadar negara penghasil barang kelontongan, >> > tetapi juga barang berkualitas dengan dimensi teknologi tinggi, >> > canggih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke >> > teknologi luar angkasa. Tampaknya cita-cita itu akan mudah >> > terwujud dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya >> > manusia yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga adalah peran >> > pemerintah yang demikian besar (baca: negara hadir!) untuk menjamin >> > keberlanjutan produk-produk industrinya, China telah menggelar >> > garis imajiner ”New Silk Road ” untuk memastikan aktivitas ekonomi >> > mereka jalan dan berlanjut. Ini semua dengan memanfaatkan potensi >> > pasar yang ada di negara-negara Jalur Sutra mereka, dari barat >> > sampai timur dan dari utara sampai selatan dunia...(jadi ngiri >> > melihat triple helix A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi >> > modern yang telah dikuasai bangsa China, dapat disimpulkan bahwa >> > dari aspek teknis, sebetulnya produk mereka tidak ada masalah. >> > China hari ini bukan lagi China yang kemarin! Artinya keraguan >> > dalam keandalan teknologi mereka akan hilang dengan sendirinya >> > sejalan dengan waktu dan pengalaman. Toh, kita belajar, bagaimana >> > ketika tahun 1960-70an dunia nyinyir terhadap mobil ”kaleng” >> > buatan Jepang yang mulai masuk pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa >> > buatan Amerika dan Eropa yang saat itu merajai di jalan-jalan raya. >> > Namun, seiring perjalanan waktu, kegigihan dan inovasi yang terus >> > dilakukan produsen Jepang, mereka kemudian diterima bahkan >> > digemari banyak orang. Sekarang Indonesia termasuk negara dengan >> > persentase pemakai mobil Jepang terbesar di dunia di samping >> > Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu, teknologi tinggi >> > buatan negeri China pun akan mengalami fase dan pola yang serupa >> > dalam memasuki pasar di negara kita. >> > >> > SAYA tidak terlalu yakin apakah Anda sependapat dengan saya, >> > namun percayakah Anda dengan pendapat ”tiada hari tanpa >> > produk negeri China dalam kehidupan kita?” >> > >> > (kri) >> >> >> >> >
