http://nasional.kompas.com/read/2018/01/08/06070091/drama-dan-jenderal-aktif-tni-ad-dan-polri-di-pilkada-2018-
Drama dan Jenderal Aktif TNI AD dan Polri di
Pilkada 2018
Aiman Witjaksono
Kompas.com - 08/01/2018, 06:07 WIB
Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB Hasanuddin (kiri)
dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman
cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan,
Minggu (7/1). PDIP resmi mengumumkan para cagub dan cawagub enam
provinsi yakni provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat,
Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Pilkada 2018.
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.
Bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB Hasanuddin (kiri)
dan Anton Charliyan (kanan) mengepalkan tangan saat pengumuman
cagub-cawagub PDIP di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan,
Minggu (7/1). PDIP resmi mengumumkan para cagub dan cawagub enam
provinsi yakni provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat,
Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Pilkada 2018.
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.(SIGID KURNIAWAN)
Drama sedang mencari jalan ceritanya dalam Pilkada 2018
<http://indeks.kompas.com/tag/Pilkada-2018> ditambah keterlibatan para
jenderal aktif TNI AD dan Polri di Pilkada Setentak yang akan digelar 27
Juni 2018.
Sejumlah foto viral akhirnya membuat bakal calon wakil gubernur Jawa
Timur, Abdullah Azwar Anas mundur dan menyerahkan mandat ke partai
pengusungnya PDI-P dan PKB.
Sontak, informasi ini menjadi kabar yang paling mengejutkan di pangkal
tahapan Pilkada terakhir, sebelum Pemilu Raya 2019.
*Manuver Jelang Pendaftaran *
Awalnya PDI-P tetap mempertahankan posisi Azwar Anas sebagai calon wakil
gubernur yang diusungnya. Isu ini mulai berhembus di awal pekan lalu.
Namun, foto–foto pendukung muncul dan kemudian viral, hari Kamis (4/1).
Kala itu, isu mundur makin menguat, hingga sehari setelahnya, Sekretaris
Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, mengumumkan PDI-P tetap mengusung
Azwar Anas sebagai Bakal Cawagub Jawa Timur.
Namun di Minggu (7/1) pagi, Anas resmi membuat surat keterangan mundur
dari pencalonan dan menyerahkan mandat kepada dua partai pengusungnya.
**
*Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat berkunjung di Doesoen Kakao
Glenmore Banyuwangi. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat
berkunjung di Doesoen Kakao Glenmore Banyuwangi.*
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat berkunjung di Doesoen Kakao
Glenmore Banyuwangi.(KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI)
*Jenderal Aktif di Pilkada *
Pilkada 2018 ini memang berbeda. Belum pencalonan, sudah ada setidaknya
5 Jenderal aktif
Bakal calon gubernur Jawa Barat Mayjen TNI (Purn) Sudrajat dan bakal
calon Wakil Walikota Jabar Ahmad Syaikhu di Kantor DPP PKS, Jalan TB
Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (27/12/2017)
Bakal calon gubernur Jawa Barat Mayjen TNI (Purn) Sudrajat dan bakal
calon Wakil Walikota Jabar Ahmad Syaikhu di Kantor DPP PKS, Jalan TB
Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (27/12/2017)(KOMPAS.com/Nabilla Tashandra)
yang menjadi nonaktif.
Mereka mengajukan pensiun dini, meski kariernya masih mulus, dan
memiliki waktu dua tahun menjelang pensiun.
Ada pula pemegang komando tertinggi pasukan elite Polri, yang juga
memiliki kecemerlangan karier yang sama.
Belum pernah terjadi sebelumnya. Proses belum dimulai, tapi fenomena
sudah terasa.
Sebelumnya banyak yang memperkirakan, Pilkada 2018 ini, tidak akan
lebih “seru” ketimbang, Pilkada 2017, dimana DKI Jakarta menjadi titik
sentral “gempa” isu dan gonjang–ganjing politik.
Tapi perkiraan ini, ternyata salah. Belum dimulai, guncangan sudah
terjadi. Apa yang menjadi penyebab sesungguhnya?
*Bukan Sekadar Angka *
Selama ini, seolah hanya angka yang dipublikasikan. Bahwa Pilkada 2018
yang hari puncaknya alias hari pemungutan suara jatuh pada Rabu, 27 Juni
2018, diikuti oleh 171 Daerah di Indonesia.
Dari angka terdiri atas, 17 Provinsi, 39 Kota, dan 115 Kabupaten.
Bukan hanya menjadi Pilkada yang lebih besar jumlah daerahnya ketimbang
Pilkada 2017, bukan pula karena paling banyaknya provinsi sepanjang
sejarah pilkada serentak digelar, tetapi banyak yang tidak menyadari,
bahwa Pilkada 2018 ini, adalah Pilkada dengan daerah strategis terbanyak
sepanjang selama Pilkada Serentak.
Tidak hanya itu, daerah strategis ini, berpadu dengan waktu, yang hanya
berselang kurang dari setahun dengan pelaksanaan pemungutan suara Pemilu
2019, pada 17 April 2019.
*Daerah Strategis*
Sebut saja, Provinsi terpadat di Pulau Sumatera; Sumatera Utara di
bagian Barat, Sebagian besar Provinsi di Pulau Jawa, yang memiliki
jumlah penduduk mayoritas dan signifikan dari proporsi penduduk
Indonesia keseluruhan; Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Sementara di timur, ada provinsi terkaya di Kalimantan; Kalimantan
Timur, dan Provinsi strategis di Indonesia Timur; Maluku, serta Provinsi
yang pada setiap pemilu pasti menjadi rebutan suara pemilih; Papua.
Warga yang memiliki hak pilih menunjukkan surat suara dari dalam bilik
suara saat pelaksanaan Simulasi Nasional Pemilihan Umum Serentak 2019
tahap II di Desa Kadungmangu, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa
Barat, Sabtu (30/9/2017). Simulasi ini meliputi tata cara pemungutan dan
penghitungan suara yang akan dijadikan acuan dalam penyusunan Peraturan
KPU Pemungutan, dan Penghitungan Suara Pemilu 2019.
Warga yang memiliki hak pilih menunjukkan surat suara dari dalam bilik
suara saat pelaksanaan Simulasi Nasional Pemilihan Umum Serentak 2019
tahap II di Desa Kadungmangu, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa
Barat, Sabtu (30/9/2017). Simulasi ini meliputi tata cara pemungutan dan
penghitungan suara yang akan dijadikan acuan dalam penyusunan Peraturan
KPU Pemungutan, dan Penghitungan Suara Pemilu 2019.(ANTARA FOTO/YULIUS
SATRIA WIJAYA)
Semua daerah yang saya sebutkan di atas, adalah provinsi strategis yang
jika dimenangkan oleh kandidat partai politik
<http://indeks.kompas.com/tag/partai-politik> tertentu, maka akan jauh
lebih mudah untuk memperoleh suara pada Pemilu 2019. Alhasil, suara
Pemilu 2019, selangkah di depan untuk diperoleh, dan itu berarti lebih
dekat kepada kemenangan.
Karena jelang Pemilu 2019 pula, kemenangan seolah menjadi satu-satunya
tujuan, pada Pilkada kali ini. Oleh karenanya perhitungan–perhitungan
tajam, menjadi tumpuannya. Sekecil apapun resiko, terlebih yang
memengaruhi suara negatif agen pembawa suara alias para /opinion
leaders/, mutlak dihindari.
Oleh karenanya, mundur menjadi pilihan bagi calon yang mungkin
berpengaruh pada proses ke depan.
*Jenderal TNI AD dan Polri *
Sementara, di sisi lain, kondisi geografis dan pengetahuan medan sangat
diperlukan, bukan hanya bagi putra daerah, tapi juga sedalam apa,
jaringan yang telah dibangun oleh para kandidat.
Oleh karenanya, para Jenderal “teritorial” TNI dan Polri yang ikut
bergabung, yakni dari kesatuan di TNI Angkatan Darat dan Polisi-yang
selain sebagiannya adalah putra daerah-sebagian yang lain juga pernah
lama bertugas di daerah itu.
Seolah tidak ada pilihan, bagi para peserta Pilkada maupun Partai
Politik <http://indeks.kompas.com/tag/partai-politik> pengusungnya,
selain kemenangan. Tinggal bagaimana “pertarungan” akan terjadi di
depan. Keadaban layak jadi tumpuan!
Saya Aiman Witjaksono…
Salam.
EditorWisnu Nugroho
<http://info.crowdynews.com/crowdynews-social-media-curation-widget-contact-us?utm_source=cn-widget-logo&utm_medium=cn-regular&utm_campaign=cn_widget>