Si Buruk Muka Membelah Cermin 12hari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan 
Yerusalem menjadi ibukota Israelpada 6 Desember 2017, Gedung Putih menerbitkan 
strategi keamanan nasional (NSS)yang baru. Mudah ditebak, NSS rezim Trump ini 
hanyalah kelanjutan dari NSS-nya GWBush. Beruntunglah Bush, strategi keamanan 
yang digembar-gembor sejak kampanyepilpresnya tahun 2000 segera didukung publik 
AS karena gedung kembar WTC"kebetulan" runtuh dalam serangan 11 September 2001. 
Penerapan NSSpun dimulai. Dengan komando Bush yang sangat memalukan: “Crusadeǃ” 
Beruntungpula Trump, terus-menerus mengkampanyekan SARA dan diskriminasi tapi 
malahdijadikan presiden di negara yang mengaku jagoan demokrasi. Karuan saja 
pendukung pihak yangkalah dalam pilpres jadi pada histeris, "SARA adalah tabiat 
Partai Republikǃ" jerit mereka. Atau, “itu ideologi evangelisǃ” Betulkah 
begitu? Jelastidak. Faktanya, Trump toh tetap dijadikan presidennya orang 
Amerika. Artinya,mereka yang histeris cuma frustasi lantaran idolanya keok. 
Mereka tidaksungguh-sungguh menolak SARA. Buktinya, di tangan presiden asal 
Partai Demokratpun NSS yang berazaskan diskriminasi dan SARA tetap dijalankan. 
Sampai-sampaimantan petinggi kementerian pertahanan AS secara guyon mengakui 
bahwa wibawapemerintah AS yang ditopang dengan NSS sangat bergantung pada 
keberadaanteroris. Masukakal. Makanya dalam “war on terror” alias ‘crusade war’ 
sebagian rakyat AS berbahagiaketika anak-anak muda bersenjatanya menyerbu Irak, 
menculik presiden Saddam, dan bertempur terus-menerus di sana entah melawan 
siapa. Begitu juga di Afghanistan,bertahun-tahun tentara AS memburu Osama Bin 
Laden (terdakwa peristiwa 11 September tanpapengadilan) lalu membunuhnya pada 
Hari Buruh 2011, dan toh Amerika terus bertempur. Entah siapa pula yang mereka 
perangi di sana. Yang pasti, pertumpahandarah terpelihara dengan baik untuk 
menutupi kedodoran AS menghadapi Iran danKorea Utara yang oleh Bush dijadikan 
trio axis of evil bersama Irak. Hebat memang presiden AS itu, dia 
mengakudibisiki Tuhan untuk menghabisi axis of evil ini :)) 
 Pesta Panen Sekarang Iraksudah hancur lebur, tetapi tentara AS tak juga pergi 
dari sana. Kehadiran AS dengansemangat SARA dan politik pecah-belahnya justru 
memicu tumbuhnyakelompok-kelompok bersenjata di Irak hingga meluas sampai ke 
Libya. Dengansendirinya rakyat AS jadi percaya bahwa terorisme itu nyata. Dan 
mereka semakinyakin bahwa NSS memang diperlukan. Padahal, bagi pemerintah AS 
keberadaanteroris dan terorisme memang enak dan perlu. Enak karena industri 
senjata AS terusberproduksi dan perlu karena keberadaan teroris membuat 
pemerintah AS seolah berwibawa.  Itu sebabnya “waron terror” tetap dijalankan 
presiden berikutnya dari Partai Demokrat dengan gayacrusade yang berbeda. Di 
tangan presiden yang pernah hidup di Jakarta ini, musimsemi terorisme di 
Indonesia dianggap telah cukup. Usai. Begitu juga kebangkitanterorisme di 
Afghanistan dan Irak yang menjalar hingga ke Xinjiang, Chechnya, sampaike 
Afrika-utara (Arab Spring). Cukup. Musim semi terorisme telah usai. 
Selanjutnyaadalah saat memanen teroris yang disemai di seluruh kawasan tersebut 
untukmelanjutkan proyek merobah peta dunia, dimulai dari peta Timur-tengah. Ide 
gila inilah yang mengundangreaksi keras Iran dengan usulan agar AS lebih dulu 
menghapus peta Israel di Timur-tengah. Pecahkan Cermin Perkara “crusadewar” 
Partai Demokrat jelas berangkulan dengan Partai Republik. Bahu-membahu 
antar-partaiuntuk kepentingan nasional AS boleh saja dilakukan. Tetapi urusan 
kekuasaan, sikut-menyikutjuga mereka halalkan. 

Itulah yang terjadi dalam pilpres AS 2016. Trumpmenggebuki Hillary Clinton 
habis-habisan. Menelanjanginya bulat-bulat lalu membeberkanborok Demokrat 
seputar memo Hillary yang bocor ke publik. Jelas dangamblang kampanye Trump 
cuma ngomong praktis: Obama is the founder of ISIS. And I would say 
theco-founder would be crooked Hillary Clinton. Beres. Sekalipunmuka pucatnya 
merona malu, nyonya Clinton tetap pandai berlagak pilon. Dipasangnyakedok 
berbesar hati supaya kekalahannyaseolah demokratis, seolah murni karena pilihan 
rakyat. Betulkah begitu? Tentu saja tidak.Sebab, kemenangan capres di AS bukan 
berada di tangan pemilih. Nasib capres diAS ditentukan sebuah majelis yang 
bernama electoral college. Jadi, sangatmungkin majelis ini bermusyawarah dan 
bermufakat untuk menghukum PartaiDemokrat yang begitu bodoh sehingga seluruh 
dunia tahu siapa yang menciptakangerombolan teroris Timur-tengah dengan nama 
berbahasa asing: ISIS - Islamic State of Iraq and Syria.. Barangkali inilah 
gerombolan teroris Arab pertama yang tidak bernama Arab.. Ya, bukanmustahil 
majelis electoral memutuskan untuk menyelamatkan wajah buruk AS dengancara 
membelah cermin. Caranya, pecahkan cerminsupaya tidak terlihat lagi wajah 
bangsa yang melahirkan ISIS.
 Jadikan ISISsebagai wajah rezim Obama / Demokrat semata. Kemudian menghukum 
Partai Demokrat dan Hillary untuk menyerahkan kekuasaan kepada Trump. Amerika 
yangBerbahaya Seperti semuapresiden AS, Trump lalu mengenakan topengnya untuk 
menutupi wajah lucu Amerika Serikat... 
Ke sana-sini bicara demokrasi padahal dokumen keamanan nasionalnya (sepertijuga 
NSS Bush maupun NSS Obama) jelas-jelas bersemangat Machiavellian. 
Menghalalkansegala cara demi tujuan. Lalu, apa tujuan AS?

Dalam NSS-nyaTrump terang-terangan menuding Cina dan Rusia sebagai penantang 
yang menggerogoti keamanan dankesejahteraan AS. Trump bahkan menyebut Rusia dan 
Cina sebagai kekuatanrevisionis yang bertekad membangun tata ekonomi baru 
melalui perdagangan yangtidak bebas untuk membangun kekuatan militernya. Tidak 
lupa Trump juga mengakui tetapmemusuhi Iran dan Korea Utara, sambil mengganti 
posisi Irak dengan Syria dalamkonstelasi trio axis of evil. Ini baru di 
preambul NSS. Secara keseluruhan, tujuan AS ya cuma pengin mengembalikan 
hegemoni AS yang rupanya belum juga tercapai sejak era Reagan si "Perang 
Bintang" dan si bintang perang, GW Bush. 
 Ya, strategikemananan nasional Trump ini memang kelanjutan dari NSS Bush. Bisa 
dilihat dengan mata telanjang, sebagaimana Bush mengkhayalkan Irak memiliki 
senjata pemusnah massal, Trump pun berhalusinasiKorea Utara sedang memuat 
senjata kimia dan biologis ke dalam rudal-rudalnya. Selainitu, NSS ini tak 
ketinggalan menyebut para teroris yang telah berjasa mendongkrakwibawa 
pemerintah AS sekaligus dijadikan alasan mengirim senjata berikut regu-regu 
pembunuh kepenjuru dunia.  Kemiripan inibukan karena kebetulan mereka sesama 
Republikan, tetapi memang merupakan strategi keamanan nasional AS yang disusun 
berdasarkan Project ofthe New American Century (PNAC). Sebuah proyek yang 
memuat semacam GBHN di bidang keamanan. Garisbesar yang dijadikan blue print 
politik luarnegeri AS sejak era Bush dan juga dilaksanakan Obama dari Demokrat. 
Benang merahnya lebih menekankan kembalinya hegemoni AS ketimbang kerjasama 
antarbangsa. 

Singkatnya, ini sebuah proyek politik danstrategi AS di milenium III yang 
diharapkan Bush bakal berguna untuk mewujudkan Amerika yang berbahaya, Amerika 
yangdia harapkan bakal ditakuti lawan dan terutama kawan.  09 Januari 2018

Kirim email ke