Harapannya adalah pemerintah Indonesia harus bisa mengakui bahwa waktu Pepera 
(Penentuan Pendapat Rakyat) itu dilakukan secara represif di bawah tekanan 
militer dan bukan Papua bebas memilih. Itu di bawah ancaman. Jadi ke depan, 
kalau Indonesia mau dewasa dalam berdemokrasi dan membuktikan kepada negara 
luar bahwa betul-betul Indonesia negara demokrasi, bentuk referendum di Papua. 
Memberikan izin referendum dilakukan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
....Itu kan sebenarnya karena SDA Papua yang diinginkan. Buktinya kami 
bersama-sama dengan Indonesia, tapi hidup kami dalam ancaman, bahaya dari sejak 
gabung sampai saat ini. Dan itu terjadi setiap hari, setiap saat ada pembunuhan 
orang Papua. Mana bisa kita bebas berbicara tentang merdeka. Dulu saja, untuk 
menyebut nama Papua (saat masih bernama Irian Jaya), sudah dituduh separatis.
....Orang Papua terpinggirkan, di mana-mana tanah milik TNI AD, tanah milik TNU 
AU, tanah milik Polda, tanah milik TNI AL. Orang Papua tidak bisa berbicara, 
karena kalau berbicara dituduh separatis.
....

"Saat Dijajah Belanda Cuma 1 Orang Papua Dibunuh, Sekarang?"


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
'Saat Dijajah Belanda Cuma 1 Orang Papua Dibunuh, Sekarang?'

Arbi Sumandoyo

Filep Karma belum lama bebas dari penjara. Namun nyalinya tak ciut. Ia 
mengungkapkan alasan mengapa Papua layak ...
 |

 |

 |



Tokoh kemerdekaan Papua, Filep Karma. RNZI / Koroi Hawkins4k Shares   Reporter: 
Arbi Sumandoyo01 Desember, 2016dibaca normal 6 menit   
   - Papua satu-satunya provinsi Indonesia yang bergabung melalui mekanisme 
internasional.
   - Saat dijajah Belanda hanya satu orang Papua yang dibunuh.
Filep Karma belum lama bebas dari penjara. Namun nyalinya tak ciut. Ia 
mengungkapkan alasan mengapa Papua layak merdeka dari Indonesia.tirto.id - 
Filep Jacob Samuel Karma terus konsisten menyuarakan kemerdekaan Papua. 11 
tahun hidup di balik jeruji besi tak membuatnya ciut. Suaranya masih lantang 
mengutarakan berbagai  penindasan yang terjadi di tanah kelahirannya, 
penindasan di masa lalu sampai yang terbaru. 

Baginya, ini perjuangan sepanjang hayat, dan ia tahu harus mengorbankan banyak 
hal. Demi kemerdekaan rakyat Papua, dia pun rela keluar masuk penjara. 

“Tidak apa-apa. Namanya pejuang kemerdekaan, itu bagian dari hidup. Sukarno dan 
Mohammad Hatta juga keluar masuk penjara,” kata Filep Karma. 

Filep bicara banyak mengenai pandangannya soal kemerdekaan Papua. Ia tahu 
memperjuangkan kemerdekaan adalah persoalan yang tidak gampang. Tersirat betapa 
ia juga mengetahui bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia, dulu, juga 
harus menghadapi pemenjaraan, pembuangan hingga kematian saat mengusahakan 
kemerdekaan Indonesia.

Tidak mudah menghubungi Filep. Berkali-kali menghubungi tidak dijawab. Sampai 
12 kali Tirto berusaha menghubunginya. Pada usaha yang ke-13, Tirto pun 
akhirnya dapat bercakap-cakap dengan lelaki kelahiran Biak 57 tahun lalu itu.

Berikut penuturan Filep Karma kepada Arbi Sumandoyo dari Tirto pada 30 November 
2016, sehari menjelang perayaan ulang tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM). 

Bagaimana pandangan Anda tentang perlakuan pemerintah di tanah Papua sekarang?

Perlakuan pemerintah tidak ada perubahan. Jadi sejak 1963 sampai sekarang, 
tidak banyak. Jadi seperti sekarang ada perhatian dari Pak Jokowi dengan 
beberapa kali kunjungan ke sini, itu hanya lip service, permukaan saja. Secara 
mendasar tidak memperbaiki situasi yang sebenarnya di situ. 

Bukankah pemerintah berjanji memperbaiki Papua, termasuk sudah menggelontorkan 
puluhan triliun untuk membangun infrastruktur?

Itu, kan, diberikan setelah kami demo, demo dan meminta merdeka. Jadi itu kan, 
ibaratnya bukan dikasih karena kesadaran untuk membangun masalah Papua, tetapi 
karena terjepit masalah Papua yang mendunia, terpaksa diberikan, begitu. 

Apa, sih, harapan warga Papua?

Kalau berangkat dari latar belakang sejarah, kami bangsa yang berbeda dengan 
Indonesia. Kami bangsa yang lain dan kami punya hak untuk merdeka. Oleh 
Soekarno negara kami dimatikan, negara kami yang belum merdeka. Contoh waktu 
peristiwa Dwikora, saya ingat waktu itu ada "Ganyang Malaysia", terus 
perintahnya, bubarkan negara boneka Malaysia buatan Inggris. Tahu enggak, di 
Trikora juga pidatonya seperti itu, “Bubarkan negara Papua buatan Belanda”. 
Sama. Untung saja Malaysia gagal, kalau tidak Malaysia sama menderita seperti 
Papua sekarang. 

Bukankah pemerintah berupaya mewujudkan perdamaian di Papua? Sebetulnya seperti 
apa kondisi Papua saat ini?

Kalau menurut saya, di Era Gusdur kami merasakan itu (menjadi warga Papua 
sebenarnya), tetapi di era Jokowi penangkapan-penangkapan warga Papua meningkat 
sekali sampai 6000 orang. Demo-demonya teman-teman KNPB (Komite Nasional Papua 
Barat) ditangkap, sampai 5000 orang. Kalau itu dikumpulkan, sampai kota-kota 
jumlahnya sampai 6000 orang. Jadi sebetulnya, di era Jokowi eskalasinya semakin 
meningkat. Pelanggaran HAM semakin meningkat, kebebasan mengemukakan pendapat, 
itu dilarang. 

Di Papua, demo itu dilarang, katanya tidak ada izin. Lho, padahal aturan demo 
itu bukan izin, tetapi hanya pemberitahuan, bukan meminta izin. Nah, kalau demo 
yang di Jakarta, seperti sekarang menjelang tanggal 2 Desember (Aksi Bela Islam 
III) itu tidak dihambat, tidak berani dihambat.

Anda merasakan sebetulnya tidak ada perbedaan antara Jokowi dengan pemimpin 
sebelumnya?

Tidak ada. Ada sedikit perubahan, artinya sedikit dibuka, kami boleh berbicara. 
Tetapi itu langsung dibungkam. Jadi seperti aksi demo itu, langsung 
dilokalisir, tidak boleh bergerak. Misalnya, teman-teman di KNPB, sudah 
memberitahukan tiga hari sebelumnya, dia bilang mau ke DPR Provinsi, tidak 
boleh bergerak. Jadi langsung dihambat di titik kumpul, jadi tidak boleh 
bergerak. 

Apa harapan Anda ke depan untuk Papua?

Harapannya adalah pemerintah Indonesia harus bisa mengakui bahwa waktu Pepera 
(Penentuan Pendapat Rakyat) itu dilakukan secara represif di bawah tekanan 
militer dan bukan Papua bebas memilih. Itu di bawah ancaman. Jadi ke depan, 
kalau Indonesia mau dewasa dalam berdemokrasi dan membuktikan kepada negara 
luar bahwa betul-betul Indonesia negara demokrasi, bentuk referendum di Papua. 
Memberikan izin referendum dilakukan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). 

Karena begini, Papua satu-satunya provinsi yang masuk ke Indonesia melalui 
campur tangan internasional. Kalau Provinsi lain, kan, memang secara sukarela 
ingin membangun bersama Indonesia. Kalau Papua tidak. Papua mempersiapkan diri 
untuk merdeka sendiri, lalu dicaplok begitu. Dicaplok, dipaksa dengan 
perjanjian internasional, baru masuk Indonesia. Itu pun Pepera dilakukan di 
bawah tekanan intimidasi militer. 

Jadi kami berusaha. Kalau pun kami keluar dari bingkai Indonesia, itu juga 
karena campur tangan internasional. Jadi itu hal yang wajar. Jadi pemerintah 
Indonesia tidak bisa bilang tidak boleh (membangun solidaritas internasional). 

Menurut Anda Papua sudah siap untuk merdeka?

Lho siap sekali. Sekarang saya tanya, waktu Indonesia merdeka, berapa sih 
sarjana, doktor? Pak Karno saja baru insinyur, Pak Hatta baru doktorandus, lah 
Papua sudah punya doktor. Doktor sudah berapa orang, jadi kenapa Papua merdeka 
teman-teman Indonesia memusingkan, itu urusan kami, mau kami merdeka kemudian 
makan dan tidak makan kenapa Indonesia yang pusing begitu, lho. 

Dan ini bahasa-bahasa khas penjajah begitu, kaya Belanda dulu: wah Indonesia 
enggak bisa merdeka, nanti kamu merdeka mau makan apa. Sama saja seperti itu. 
Sekarang kami mendengar hal yang sama seperti itu.

Banyak dorongan agar Papua tidak melepaskan diri, bagaimana pandangan Anda?

Itu kan sebenarnya karena SDA Papua yang diinginkan. Buktinya kami bersama-sama 
dengan Indonesia, tapi hidup kami dalam ancaman, bahaya dari sejak gabung 
sampai saat ini. Dan itu terjadi setiap hari, setiap saat ada pembunuhan orang 
Papua. Mana bisa kita bebas berbicara tentang merdeka. Dulu saja, untuk 
menyebut nama Papua (saat masih bernama Irian Jaya), sudah dituduh separatis. 

Siapa yang tahan kalau hidup menderita begitu. Tidak ada kesejahteraan (saat) 
kami bergabung dengan Indonesia. Kesejahteraan itu bukan makan minum cukup, 
terutama hati, kalau hati damai makan dan minum bisa dicari. Tetapi kalu hati 
tidak sejahtera, bagaimana mau makan minum? Kaya lagunya siapa ya dibilang, 
“Burung Dalam Sangkar”, tetapi hatinya tersiksa, sama orang Papua juga seperti 
itu. Jadi bukan masalah makan dan minum, tetapi masalah hak asasi Papua untuk 
merdeka.

Apa upaya Anda untuk mewujudkan itu?

Kami melakukan pendekatan-pendekatan politik dengan teman-teman Indonesia. 
Karena saya yakin, rakyat Indonesia banyak yang punya hati nurani. Kalau dia 
melihat penderitaan Papua selama 50 tahun, pasti dia tidak tega. Aduh kenapa, 
ditahan padahal tidak bawa senjata, tetapi malah disiksa terus. 

Sampai saat ini Anda masih terus berjuang bersama Benny Wenda dan Jacob Rumbiak?

Ya betul. Saya tidak di negara tetangga, saya di dalam negeri. Saya berbicara 
dengan bung, saya menjelaskan penderitaan kami, selama bergabung dengan 
Indonesia, apa saja yang kami rasakan. Sebab begini, bung, saat dijajah 
Belanda, hanya satu orang Papua saja dibunuh, bandingkan sekarang? Itupun 
karena dia melakukan pembunuhan terhadap pejabat pemerintah. Tetapi setelah 
Indonesia masuk menjajah kami, wow orang Papua yang dibunuh sudah ratusan ribu.

Anda menolak menandatangi grasi yang diberikan Presiden?

Betul. Begini, grasi diberikan kepada pelaku kriminal, saya ini tahanan politik 
dan bukan pelaku pidana. Berbeda ideologi, lalu kenapa saya dikriminalkan. Saya 
tidak mau.

Saya dipaksa keluar, remisi yang dipaksakan begitu dan menyalahi aturan 
sebenarnya. Sebab namanya kalau dikeluarkan karena remisi, harusnya masih ada 
wajib lapor. Tetapi saya kok tidak melakukan itu.

Apa yang Anda lihat dari kondisi warga Papua saat ini?

Orang Papua terpinggirkan, di mana-mana tanah milik TNI AD, tanah milik TNU AU, 
tanah milik Polda, tanah milik TNI AL. Orang Papua tidak bisa berbicara, karena 
kalau berbicara dituduh separatis. 

Sampai saat ini?

Masih ada. Tadi saja pulang dari kantor, ada konvoi militer dengan Polisi. 
Karena menjelang 1 Desember, rakyat kok ditakut-takuti, aneh menurut saya. 

Besok berarti tetap ada perayaan Papua Merdeka?

Iya, kita tetap melakukan perayaan. Kita ibaratkan, sering polisi tanya, kalau 
bapak ulang tahun, bapak ngapain aja? Mukulin tetangga? Enggak juga, kan? 
Mungkin isterinya belanja, mungkin masih ada kelebihan makanan orang lewat kita 
panggil, bolehlah makan, bolehlah mampir. 

Orang Papua juga begitu. Istilahnya kita merayakan, senang begitu lho, gembira. 
Tetapi, kok, selalu dikonotasikan negatif, seakan-akan kami merampok, membunuh 
dan mengacau. Kami heran, kok cara pandang terhadap kami seperti itu. Saya juga 
heran. 

Apakah ada pengibaran bendera Bintang Kejora?

Kalau pengibaran, saya tidak tahu karena sekarang saya tidak telibat. Dulu saya 
memang aktif, tetapi saya sudah mengkader orang, sudah ada yang berani, saya 
harus mundur. Istilahnya Ki Hajar Dewantoro, ing madyo mangun karso (tertawa). 

Saya ikut hadir memberikan semangat, nanti kalau salah saya yang memberikan 
nasihat, begitu. Sudah tidak saya ambil alih lagi, jadi bukan cuma saya saja 
yang berani, itu jangan. Banyak orang Papua yang berani berbicara tentang 
haknya dengan damai. Sekali pun ancamannya masuk penjara, atau apa, tetapi kami 
berani berbicara tentang hak kami dengan damai. 

Berapa jumlah orang yang akan menghadiri perayaan itu?

Saya belum bisa memastikan, karena adik-adik lain yang menjadi koordinatornya, 
saya tidak tahu. Jadi pemerintah juga berupaya memecah massa. Jadi di lapangan 
menjadi tempat almarhum Theys Hiyo Eluay dimakamkan, itu juga dibuat acara. Itu 
yang buat Dandim dan Kapolres di sana. Itu juga saya bingung, ini bagaimana.

Apa cita-cita Anda yang belum tercapai?

Ya membuat merdeka sendiri, lepas dari jajahan Indonesia, begitu. Sehingga 
hasil sumber daya alam kami bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat Papua..

Anda tentu sangat ingin dan rindu melihat Papua merdeka?

Ya, karena sekarang kami dijajah, kami jadi daerah koloniasasi dari Indonesia. 
Terus kekayaan kami diambil, perundingannya antara Indonesia dengan Amerika. 
Kami dibungkam tidak boleh berbicara. Jadi seperti begini lho, bung. Saya 
bertetangga, lalu saya datang ke rumah bung, dan bung saya suruh tinggal di 
emperan, begitu. Terus semua hasil ladang di halaman, saya yang nikmati dan 
kemudian kalau ada sisa-sisanya, lalu bung yang saya suruh nikmati panen, kan 
begitu. Itu terjadi di Papua. 

Indonesia kan punya rumah sendiri, kenapa rumah saya direbut, lalu saya disuruh 
tinggal di emperan. Padahal, Tuhan menciptakan kita sudah punya rumah sendiri, 
sudah punya wilayah masing-masing. Kemudian kalau dirunut sejarahnya, tidak ada 
orang Papua ikut Sumpah Pemuda, tidak ada orang Papua ikut perjuangan 
kemerdekaan Indonesia. 

Yang tiga pahlawan nasional itu, itu pun baru ada setelah reformasi, karena 
kami gencar teriak merdeka, baru tiba-tiba ada yang diangkat jadi pahlawan.. 
Jadi ketawa. Orang lain mau jadi pahlawan saja harus dipermasalahkan dan jadi 
ramai, Papua tanpa minta, tanpa mengajukan, lalu diangkat tiga orang sekaligus. 
Hahaha.... jadi itu, kan, pahlawan nasional boneka, begitu. 

Kalau tadi Anda mengatakan Papua siap merdeka, apakah perangkat kenegaraannya 
memang benar-benar sudah siap?

Nah itu, kan, urusan kami di sini. Istilahnya kalau dibandingkan dengan jumlah 
sarjana waktu Indonesia merdeka sebenarnya kita lebih banyak. Indonesia merdeka 
saja mampu, kenapa Papua tidak mampu? Padahal kalau dihitung, sarjana kami 
sudah lebih banyak. 

Anda yakin dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi itu, Papua bisa mengelola 
negaranya sendiri dan tanpa  kekerasan?

Oleh sebab itu, saya berusaha dengan teman-teman, kami harus meluruskan sejarah 
kami, meletakkan dasar yang baik. Jangan kami membuat kebohongan dengan sejarah 
kami, kami harus meluruskan yang benar. Sebab Indonesia juga didirikan atas 
kebohongan-kebohongan. Kemudian beberapa gelintir orang, kekayaan untuk 
keluarga sendiri atau trah mereka atau kelompok mereka, sebagian rakyat 
Indonesia dibiarkan menderita. Ini yang saya lihat, teman-teman di Indonesia.

Jadi saya melihat ini seperti contoh ya, masyarakat menjadi korban lumpur 
Lapindo, itu kan kasihan negara harus memperhatikan kepentingan mereka. Jangan 
kepentingan Aburizal Bakrie lebih dipentingkan daripada rakyat. Yang punya 
negara ini rakyat yang banyak, bukan Aburizal sendiri. 

Anda tidak takut dipenjara kembali?

Tidak apa-apa. Hahahaha… namanya pejuang kemerdekaan itu bagian dari hidup. 
Sukarno dan Mohammad Hatta juga  keluar masuk penjara. 

Siapa tokoh yang menginspirasi Anda?

Saya banyak belajar dari Indonesia lah, bagaimana Sukarno berjuang untuk 
rakyatnya, bangsanya. Sehingga saya berpikir, jika Sukarno bisa berjuang untuk 
bangsanya, saya pun juga bisa berjuang untuk bangsa saya. Juga Mahatma Gandhi, 
kemudian ya salah satu pejuang yang baru saja almarhum di Kuba, Fidel Castro. 

Bung, saya titip pesan untuk orang-orang Indonesia yang punya hati nurani, yang 
kemarin mendeklarasikan forum rakyat Indonesia bagi Refrendum West Papua. 
Terimakasih banyak untuk teman-teman di Indonesia. Saya yakin di Indonesia 
masih banyak orang yang punya hati nurani. Oke, terimakasih ya. 

Baca juga artikel terkait WAWANCARA atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo 
(tirto.id - arb/zen)

Kirim email ke