https://tirto.id/saat-dijajah-belanda-cuma-1-orang-papua-dibunuh-sekarang-b6cJ


*"Saat Dijajah Belanda Cuma 1 Orang Papua Dibunuh, Sekarang?"*

Tokoh kemerdekaan Papua, Filep Karma. RNZI / Koroi Hawkins

4k Shares

Reporter: Arbi Sumandoyo
<https://tirto.id/author/arbisumandoyo?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>

01 Desember, 2016 *dibaca normal 6 menit *

   -

   Papua satu-satunya provinsi Indonesia yang bergabung melalui mekanisme
   internasional.
   -

   Saat dijajah Belanda hanya satu orang Papua yang dibunuh.

*Filep Karma belum lama bebas dari penjara. Namun nyalinya tak ciut. Ia
mengungkapkan alasan mengapa Papua layak merdeka dari Indonesia.*

*tirto.id <http://tirto.id> - *Filep Jacob Samuel Karma terus konsisten
menyuarakan kemerdekaan Papua. 11 tahun hidup di balik jeruji besi tak
membuatnya ciut. Suaranya masih lantang mengutarakan berbagai  penindasan
yang terjadi di tanah kelahirannya, penindasan di masa lalu sampai yang
terbaru.

Baginya, ini perjuangan sepanjang hayat, dan ia tahu harus mengorbankan
banyak hal. Demi kemerdekaan rakyat Papua, dia pun rela keluar masuk
penjara.

“Tidak apa-apa. Namanya pejuang kemerdekaan, itu bagian dari hidup. Sukarno
dan Mohammad Hatta juga keluar masuk penjara,” kata Filep Karma.

Filep bicara banyak mengenai pandangannya soal kemerdekaan Papua. Ia tahu
memperjuangkan kemerdekaan adalah persoalan yang tidak gampang. Tersirat
betapa ia juga mengetahui bagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia,
dulu, juga harus menghadapi pemenjaraan, pembuangan hingga kematian saat
mengusahakan kemerdekaan Indonesia.

Tidak mudah menghubungi Filep. Berkali-kali menghubungi tidak dijawab.
Sampai 12 kali *Tirto* berusaha menghubunginya. Pada usaha yang ke-13,
*Tirto* pun akhirnya dapat bercakap-cakap dengan lelaki kelahiran Biak 57
tahun lalu itu.

Berikut penuturan Filep Karma kepada Arbi Sumandoyo dari *Tirto *pada 30
November 2016, sehari menjelang perayaan ulang tahun Organisasi Papua
Merdeka (OPM).

*Bagaimana pandangan Anda tentang perlakuan pemerintah di tanah Papua
sekarang?*

Perlakuan pemerintah tidak ada perubahan. Jadi sejak 1963 sampai sekarang,
tidak banyak. Jadi seperti sekarang ada perhatian dari Pak Jokowi dengan
beberapa kali kunjungan ke sini, itu hanya *lip service*, permukaan saja.
Secara mendasar tidak memperbaiki situasi yang sebenarnya di situ.

*Bukankah pemerintah berjanji memperbaiki Papua, termasuk sudah
menggelontorkan puluhan triliun untuk membangun infrastruktur?*

Itu, kan, diberikan setelah kami demo, demo dan meminta merdeka. Jadi itu
kan, ibaratnya bukan dikasih karena kesadaran untuk membangun masalah
Papua, tetapi karena terjepit masalah Papua yang mendunia, terpaksa
diberikan, begitu.

*Apa, sih, harapan warga Papua?*

Kalau berangkat dari latar belakang sejarah, kami bangsa yang berbeda
dengan Indonesia. Kami bangsa yang lain dan kami punya hak untuk merdeka.
Oleh Soekarno negara kami dimatikan, negara kami yang belum merdeka. Contoh
waktu peristiwa Dwikora, saya ingat waktu itu ada "Ganyang Malaysia", terus
perintahnya, bubarkan negara boneka Malaysia buatan Inggris. Tahu enggak,
di Trikora juga pidatonya seperti itu, “Bubarkan negara Papua buatan
Belanda”. Sama. Untung saja Malaysia gagal, kalau tidak Malaysia sama
menderita seperti Papua sekarang.

*Bukankah pemerintah berupaya mewujudkan perdamaian di Papua? Sebetulnya
seperti apa kondisi Papua saat ini?*

Kalau menurut saya, di Era Gusdur kami merasakan itu (menjadi warga Papua
sebenarnya), tetapi di era Jokowi penangkapan-penangkapan warga Papua
meningkat sekali sampai 6000 orang. Demo-demonya teman-teman KNPB (Komite
Nasional Papua Barat) ditangkap, sampai 5000 orang. Kalau itu dikumpulkan,
sampai kota-kota jumlahnya sampai 6000 orang. Jadi sebetulnya, di era
Jokowi eskalasinya semakin meningkat. Pelanggaran HAM semakin meningkat,
kebebasan mengemukakan pendapat, itu dilarang.

Di Papua, demo itu dilarang, katanya tidak ada izin. Lho, padahal aturan
demo itu bukan izin, tetapi hanya pemberitahuan, bukan meminta izin. Nah,
kalau demo yang di Jakarta, seperti sekarang menjelang tanggal 2 Desember
(Aksi Bela Islam III) itu tidak dihambat, tidak berani dihambat.

*Anda merasakan sebetulnya tidak ada perbedaan antara Jokowi dengan
pemimpin sebelumnya?*

Tidak ada. Ada sedikit perubahan, artinya sedikit dibuka, kami boleh
berbicara. Tetapi itu langsung dibungkam. Jadi seperti aksi demo itu,
langsung dilokalisir, tidak boleh bergerak. Misalnya, teman-teman di KNPB,
sudah memberitahukan tiga hari sebelumnya, dia bilang mau ke DPR Provinsi,
tidak boleh bergerak. Jadi langsung dihambat di titik kumpul, jadi tidak
boleh bergerak.

*Apa harapan Anda ke depan untuk Papua?*

Harapannya adalah pemerintah Indonesia harus bisa mengakui bahwa waktu
Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) itu dilakukan secara represif di bawah
tekanan militer dan bukan Papua bebas memilih. Itu di bawah ancaman. Jadi
ke depan, kalau Indonesia mau dewasa dalam berdemokrasi dan membuktikan
kepada negara luar bahwa betul-betul Indonesia negara demokrasi, bentuk
referendum di Papua. Memberikan izin referendum dilakukan oleh PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Karena begini, Papua satu-satunya provinsi yang masuk ke Indonesia melalui
campur tangan internasional. Kalau Provinsi lain, kan, memang secara
sukarela ingin membangun bersama Indonesia. Kalau Papua tidak. Papua
mempersiapkan diri untuk merdeka sendiri, lalu dicaplok begitu. Dicaplok,
dipaksa dengan perjanjian internasional, baru masuk Indonesia. Itu
pun Pepera dilakukan di bawah tekanan intimidasi militer.

Jadi kami berusaha. Kalau pun kami keluar dari bingkai Indonesia, itu juga
karena campur tangan internasional. Jadi itu hal yang wajar. Jadi
pemerintah Indonesia tidak bisa bilang tidak boleh (membangun solidaritas
internasional).

*Menurut Anda Papua sudah siap untuk merdeka?*

Lho siap sekali. Sekarang saya tanya, waktu Indonesia merdeka, berapa sih
sarjana, doktor? Pak Karno saja baru insinyur, Pak Hatta baru doktorandus,
lah Papua sudah punya doktor. Doktor sudah berapa orang, jadi kenapa Papua
merdeka teman-teman Indonesia memusingkan, itu urusan kami, mau kami
merdeka kemudian makan dan tidak makan kenapa Indonesia yang pusing begitu,
lho.

Dan ini bahasa-bahasa khas penjajah begitu, kaya Belanda dulu: wah
Indonesia enggak bisa merdeka, nanti kamu merdeka mau makan apa. Sama saja
seperti itu. Sekarang kami mendengar hal yang sama seperti itu.

*Banyak dorongan agar Papua tidak melepaskan diri, bagaimana pandangan
Anda?*

Itu kan sebenarnya karena SDA Papua yang diinginkan. Buktinya kami
bersama-sama dengan Indonesia, tapi hidup kami dalam ancaman, bahaya dari
sejak gabung sampai saat ini. Dan itu terjadi setiap hari, setiap saat ada
pembunuhan orang Papua. Mana bisa kita bebas berbicara tentang merdeka.
Dulu saja, untuk menyebut nama Papua (saat masih bernama Irian Jaya), sudah
dituduh separatis.

Siapa yang tahan kalau hidup menderita begitu. Tidak ada kesejahteraan
(saat) kami bergabung dengan Indonesia. Kesejahteraan itu bukan makan minum
cukup, terutama hati, kalau hati damai makan dan minum bisa dicari. Tetapi
kalu hati tidak sejahtera, bagaimana mau makan minum? Kaya lagunya siapa ya
dibilang, “Burung Dalam Sangkar”, tetapi hatinya tersiksa, sama orang Papua
juga seperti itu. Jadi bukan masalah makan dan minum, tetapi masalah hak
asasi Papua untuk merdeka.

*Apa upaya Anda untuk mewujudkan itu?*

Kami melakukan pendekatan-pendekatan politik dengan teman-teman Indonesia.
Karena saya yakin, rakyat Indonesia banyak yang punya hati nurani. Kalau
dia melihat penderitaan Papua selama 50 tahun, pasti dia tidak tega. Aduh
kenapa, ditahan padahal tidak bawa senjata, tetapi malah disiksa terus.

*Sampai saat ini Anda masih terus berjuang bersama Benny Wenda dan Jacob
Rumbiak?*

Ya betul. Saya tidak di negara tetangga, saya di dalam negeri. Saya
berbicara dengan bung, saya menjelaskan penderitaan kami, selama bergabung
dengan Indonesia, apa saja yang kami rasakan. Sebab begini, bung, saat
dijajah Belanda, hanya satu orang Papua saja dibunuh, bandingkan sekarang?
Itupun karena dia melakukan pembunuhan terhadap pejabat pemerintah. Tetapi
setelah Indonesia masuk menjajah kami, wow orang Papua yang dibunuh sudah
ratusan ribu.

*Anda menolak menandatangi grasi yang diberikan Presiden?*

Betul. Begini, grasi diberikan kepada pelaku kriminal, saya ini tahanan
politik dan bukan pelaku pidana. Berbeda ideologi, lalu kenapa saya
dikriminalkan. Saya tidak mau.

Saya dipaksa keluar, remisi yang dipaksakan begitu dan menyalahi aturan
sebenarnya. Sebab namanya kalau dikeluarkan karena remisi, harusnya masih
ada wajib lapor. Tetapi saya kok tidak melakukan itu.

*Apa yang Anda lihat dari kondisi warga Papua saat ini?*

Orang Papua terpinggirkan, di mana-mana tanah milik TNI AD, tanah milik TNU
AU, tanah milik Polda, tanah milik TNI AL. Orang Papua tidak bisa
berbicara, karena kalau berbicara dituduh separatis.

*Sampai saat ini?*

Masih ada. Tadi saja pulang dari kantor, ada konvoi militer dengan Polisi.
Karena menjelang 1 Desember, rakyat kok ditakut-takuti, aneh menurut saya.

*Besok berarti tetap ada perayaan Papua Merdeka?*

Iya, kita tetap melakukan perayaan. Kita ibaratkan, sering polisi tanya,
kalau bapak ulang tahun, bapak ngapain aja? Mukulin tetangga? Enggak juga,
kan? Mungkin isterinya belanja, mungkin masih ada kelebihan makanan orang
lewat kita panggil, bolehlah makan, bolehlah mampir.

Orang Papua juga begitu. Istilahnya kita merayakan, senang begitu lho,
gembira. Tetapi, kok, selalu dikonotasikan negatif, seakan-akan kami
merampok, membunuh dan mengacau. Kami heran, kok cara pandang terhadap kami
seperti itu. Saya juga heran.

*Apakah ada pengibaran bendera Bintang Kejora?*

Kalau pengibaran, saya tidak tahu karena sekarang saya tidak telibat. Dulu
saya memang aktif, tetapi saya sudah mengkader orang, sudah ada yang
berani, saya harus mundur. Istilahnya Ki Hajar Dewantoro, *ing madyo mangun
karso* (tertawa).

Saya ikut hadir memberikan semangat, nanti kalau salah saya yang memberikan
nasihat, begitu. Sudah tidak saya ambil alih lagi, jadi bukan cuma saya
saja yang berani, itu jangan. Banyak orang Papua yang berani berbicara
tentang haknya dengan damai. Sekali pun ancamannya masuk penjara, atau apa,
tetapi kami berani berbicara tentang hak kami dengan damai.

*Berapa jumlah orang yang akan menghadiri perayaan itu?*

Saya belum bisa memastikan, karena adik-adik lain yang menjadi
koordinatornya, saya tidak tahu. Jadi pemerintah juga berupaya memecah
massa. Jadi di lapangan menjadi tempat almarhum Theys Hiyo Eluay
dimakamkan, itu juga dibuat acara. Itu yang buat Dandim dan Kapolres di
sana. Itu juga saya bingung, ini bagaimana.

*Apa cita-cita Anda yang belum tercapai?*

Ya membuat merdeka sendiri, lepas dari jajahan Indonesia, begitu. Sehingga
hasil sumber daya alam kami bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat Papua..

*Anda tentu sangat ingin dan rindu melihat Papua merdeka?*

Ya, karena sekarang kami dijajah, kami jadi daerah koloniasasi dari
Indonesia. Terus kekayaan kami diambil, perundingannya antara Indonesia
dengan Amerika. Kami dibungkam tidak boleh berbicara. Jadi seperti begini
lho, bung. Saya bertetangga, lalu saya datang ke rumah bung, dan bung saya
suruh tinggal di emperan, begitu. Terus semua hasil ladang di halaman, saya
yang nikmati dan kemudian kalau ada sisa-sisanya, lalu bung yang saya suruh
nikmati panen, kan begitu. Itu terjadi di Papua.

Indonesia kan punya rumah sendiri, kenapa rumah saya direbut, lalu saya
disuruh tinggal di emperan. Padahal, Tuhan menciptakan kita sudah punya
rumah sendiri, sudah punya wilayah masing-masing. Kemudian kalau dirunut
sejarahnya, tidak ada orang Papua ikut Sumpah Pemuda, tidak ada orang Papua
ikut perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Yang tiga pahlawan nasional itu, itu pun baru ada setelah reformasi, karena
kami gencar teriak merdeka, baru tiba-tiba ada yang diangkat jadi
pahlawan. Jadi ketawa. Orang lain mau jadi pahlawan saja harus
dipermasalahkan dan jadi ramai, Papua tanpa minta, tanpa mengajukan, lalu
diangkat tiga orang sekaligus. Hahaha.... jadi itu, kan, pahlawan nasional
boneka, begitu.

*Kalau tadi Anda mengatakan Papua siap merdeka, apakah perangkat
kenegaraannya memang benar-benar sudah siap?*

Nah itu, kan, urusan kami di sini. Istilahnya kalau dibandingkan dengan
jumlah sarjana waktu Indonesia merdeka sebenarnya kita lebih banyak.
Indonesia merdeka saja mampu, kenapa Papua tidak mampu? Padahal kalau
dihitung, sarjana kami sudah lebih banyak.

*Anda yakin dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi itu, Papua bisa
mengelola negaranya sendiri dan tanpa  kekerasan?*

Oleh sebab itu, saya berusaha dengan teman-teman, kami harus meluruskan
sejarah kami, meletakkan dasar yang baik. Jangan kami membuat kebohongan
dengan sejarah kami, kami harus meluruskan yang benar. Sebab Indonesia juga
didirikan atas kebohongan-kebohongan. Kemudian beberapa gelintir orang,
kekayaan untuk keluarga sendiri atau trah mereka atau kelompok mereka,
sebagian rakyat Indonesia dibiarkan menderita. Ini yang saya lihat,
teman-teman di Indonesia.

Jadi saya melihat ini seperti contoh ya, masyarakat menjadi korban lumpur
Lapindo, itu kan kasihan negara harus memperhatikan kepentingan mereka.
Jangan kepentingan Aburizal Bakrie lebih dipentingkan daripada rakyat. Yang
punya negara ini rakyat yang banyak, bukan Aburizal sendiri.

*Anda tidak takut dipenjara kembali?*

Tidak apa-apa. Hahahaha… namanya pejuang kemerdekaan itu bagian dari hidup.
Sukarno dan Mohammad Hatta juga  keluar masuk penjara.

*Siapa tokoh yang menginspirasi Anda?*

Saya banyak belajar dari Indonesia lah, bagaimana Sukarno berjuang untuk
rakyatnya, bangsanya. Sehingga saya berpikir, jika Sukarno bisa berjuang
untuk bangsanya, saya pun juga bisa berjuang untuk bangsa saya. Juga
Mahatma Gandhi, kemudian ya salah satu pejuang yang baru saja almarhum di
Kuba, Fidel Castro.

Bung, saya titip pesan untuk orang-orang Indonesia yang punya hati nurani,
yang kemarin mendeklarasikan forum rakyat Indonesia bagi Refrendum West
Papua. Terimakasih banyak untuk teman-teman di Indonesia. Saya yakin di
Indonesia masih banyak orang yang punya hati nurani. Oke, terimakasih ya.

Baca juga artikel terkait WAWANCARA
<https://tirto.id/q/wawancara-cZ4?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
<https://tirto.id/author/arbisumandoyo?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor>

(tirto.id - arb/zen)

Kirim email ke