Kapolda Riau : sakit hati motif pelaku pembakaran Istana Siak

 Rabu, 10 Januari 2018 18:59 WIB

ilustrasi penangkapan (ANTARA FOTO)
Pekanbaru (ANTARA News) - Kepala Kepolisian Daerah Riau, Inspektur Jenderal Pol 
Nandang, menyatakan bahwa sakit hati merupakan motif terduga pelaku upaya 
pembakar Istana Siak. 

"Karena kecewa, dia melakukan pembakaran," kata Nandang kepada Antara di 
Pekanbaru, Rabu. 

Kekecewaan itu, kata Nandang disebabkan pelaku bernama Tengku Said Abdullah 
alias Faisal (41) dilarang berjualan di salah satu kios komplek Istana Siak. 

Menurut Nandang, Faisal diketahui merupakan salah seorang anggota keluarga 
pewaris kesultanan Siak. Selama ini, Faisal diketahui berjualan pada salah satu 
kios di komplek Istana Siak. 

"Tadinya jualan di belakang Istana Siak. Ada kios dan sekarang dilarang 
sehingga dia kecewa," tuturnya. 

Lebih jauh, ia menjelaskan Faisal ditangkap di salah satu tempat di Kabupaten 
Siak. Penangkapan itu merupakan hasil penyelidikan antara Kepolisian Daerah 
Riau dan Polres Siak. 

"Ditangkap di Siak, sekarang dibawa ke Pekanbaru," ujarnya. 

Upaya pembakaran Istana Siak terjadi pada Senin awal pekan ini. Beruntung upaya 
pembakaran cepat diketahui petugas sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat. 

Hanya saja, akibat upaya pembakaran itu diketahui menyebabkan sejumlah ornamen 
rusak. Diantaranya adalah Diorama serta Tirai peninggalan bersejarah. 

Istana Siak Sri Indrapura atau disebut juga "Istana Matahari Timur", merupakan 
kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa 
pemerintahan Sultan Syarif Hasyim.

Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai 
dibangun pada tahun 1893.

Kompleks istana ini memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi yang terdiri 
dari empat istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana 
Baroe. Istana Siak sendiri memiliki luas 1.000 meter persegi.

Istana Siak memiliki arsitektur bercorak Melayu, Arab, dan Eropa. Bangunannya 
terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang, ruang 
tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk 
perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga 
digunakan untuk ruang pesta.

Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan 
serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang 
sebagai lambang keberanian Istana. 

Sementara pada halaman istana masih dapat dilihat delapan meriam menyebar ke 
berbagai sisi-sisi halaman istana, kemudian di sebelah kiri belakang istana 
terdapat bangunan kecil yang dahulunya digunakan sebagai penjara sementara.
Pewarta: Bayu Agustari Adha
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kirim email ke