Aneh, Jokowi yang dijuluki Presiden-nya rakyat oleh para pendukungnya (sekarang 
sudah tidak terdengar santer seperti dulu lagi dengan semboyannya :'Maju 
terus...Jokowi!) malah mensubsidi konglomerat, seperti Wilmar  group yang sudah 
terbukti menimbulkan banyak konflik tanah..

Lima Konglomerat Sawit 'Disuntik' Subsidi Mega Rp7,5 Triliun
CNN Indonesia , CNN Indonesia | Rabu, 17/01/2018 13:31 WIBLima perusahaan sawit 
berskala besar mendapatkan subsidi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa 
Sawit (BPDPKS) dengan total mencapai Rp7,5 triliun. (ANTARA FOTO/Nova 
Wahyudi)Jakarta, CNN Indonesia -- Lima perusahaan sawit berskala besar 
mendapatkan subsidi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) 
dengan total mencapai Rp7,5 triliun sepanjang Januari—September 2017.

Lima perusahaan sawit itu terdiri dari Wilmar Group, Darmex Agro Group, Musim 
Mas, First Resources, dan Louis Dreyfus Company (LDC). Berdasarkan data yang 
diperoleh CNNIndonesia.com, Wilmar Group mendapatkan nilai subsidi terbesar, 
yakni Rp4,16 triliun.
Padahal, setoran yang diberikan Wilmar Group hanya senilai Rp1,32 triliun.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Penghimpunan dan 
Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang diteken oleh Presiden Jokowi itu, 
diatur tentang penggunaan dana tersebut
Pada Pasal 11 ayat (1) dinyatakan bahwa dana yang dihimpun adalah untuk 
pengembangan sumber daya manusia; penelitian dan pengembangan perkebunan sawit; 
promosi perkebunan kelapa sawit; peremajaan tanaman perkebunan; serta prasarana 
perkebunan sawit.

Sedangkan pada ayat (2) dijelaskan bahwa penggunaan dana itu juga dipakai untuk 
kebutuhan pangan, hilirisasi industri dan pemanfaatan bahan bakar nabati jenis 
biodiesel. Ayat selanjutnya menyatakan BPDPKS dapat menentukan prioritas 
penggunaan dana berdasarkan program pemerintah dan kebijakan Komite Pengarah.

Terkait hal tersebut, kajian soal sawit milik Komisi Pemberantasan Korupsi 
(KPK) pada 2016 menemukan bahwa penggunaan dana yang berlebihan bagi perusahaan 
biodiesel bisa menimbulkan ketimpangan dalam pengembangan usaha perkebunan 
sawit. 

Nilai subsidi untuk perusahaan sawit lainnya adalah Darmex Agro Group (Rp915 
miliar) dengan setoran Rp27,58 miliar; Musim Mas (Rp1,54 triliun) dengan 
setoran Rp1,11 triliun; First Resources (Rp479 miliar) dengan setoran Rp86,95 
miliar; dan LDC (Rp410 miliar) sebesar Rp100,30 miliar.
Dengan demikian terdapat selisih nilai yang relatif besar untuk para 
konglomerat sawit tersebut. Ini terdiri dari Rp2,84 triliun (Wilmar Group); 
Darmex (Rp887,64 miliar); Musim Mas (Rp421,56 miliar); First Resources 
(Rp392,61 miliar) dan LDC (Rp309,83 miliar).

BPDPKS pada 2015 menyatakan penggunaan dana terbesar masih dialokasikan untuk 
biodiesel, yakni mencapai 89 persen. Sedangkan untuk peremajaan sawit, 
pengembangan SDM hingga perencanaan-pengelolaan masing-masing hanya satu persen.

BPDPKS sendiri dibentuk dalam wujud Badan Layanan Umum sejak 11 Juni 2015 di 
bawah kendali Kementerian Keuangan. Badan tersebut didirikan untuk mendukung 
program pengembangan kelapa sawit berkelanjutan.
Penikmat Biodesel

Dono Boestami, Direktur Utama BPDPKS, membantah bahwa dana yang diterima 
pelbagai perusahaan adalah subisidi. Ia menuturkan, yang penting diperhatikan 
adalah siapa penikmat biodiesel.

“Yaitu masyarakat juga karena biodiesel dibeli oleh PLN dari Pertamina dan PT 
AKR (Corporindo Tbk),” katanya kemarin.

Riset Kemitraan pada tahun lalu menyatakan, Orde Baru mendorong pertumbuhan 
perkebunan skala besar sejak 1970-an dan didukung pendanaan Bank Dunia. 

Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara dari ekspor dan 
mendorong diversifikasi ekonomi yang saat itu bergantung dengan minyak bumi.


| 
Lihat juga:
 Eropa akan Hapus Biodiesel dari Sawit Termasuk dari Indonesia |


Investasi pun ditujukan untuk perusahaan perkebunan negara atau PTPN dengan 
komoditas pertanian yang beragam. Namun, fokus investasi juga akhirnya 
melibatkan swasta karena meningkatnya permintaan minyak sawit dunia dan untuk 
memenuhi kebutuhan domestik.

“Dari 1968 hingga 1994, CPO yang dihasilkan umumnya dari perkebunan sawit 
negara, namun setelah 1990-an ada perubahan kebijakan yaitu mendorong mekanisme 
pasar dalam investasi perkebunan,” demikian riset tersebut.

Respons Wilmar

Sementara itu, Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia MP Tumanggor menampik kabar 
tersebut. Sebab, subsidi yang didapat tetap berdasarkan jumlah penjualan produk 
turunan minyak sawit yang digunakan sebagai campuran solar (fatty acid methyl 
este/FAME) ke PT Pertamina (Persero). 

“Wilmar dapat bayaran sejumlah FAME yang dijual ke BPDP. Bahkan bisa terjadi 
nilai dana pungutan yang kami bayarkan ke BPDP lebih besar dari dana yang kami 
dapatkan dari penjualan Fame ke Pertamina,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, 
Rabu (17/1). 

Kendati demikian, ia melihat, kondisi lebih besarnya subsidi dari BPDP ke 
perusahaan dibandingkan dengan jumlah pungutan ekspor yang dibayarkan 
perusahaan memang bisa terjadi pada perusahaan lain. 

“Harus bisa bedakan perusahaan eksportir CPO dan turunannya dengan perusahaan 
produsen biodiesel,” katanya. 

Sebab, sebagai eksportir, bisa saja setoran yang diberikan perusahaan lebih 
besar dibandingkan subsidi atas FAME yang dijual. Sebaliknya, sebagai produsen 
biodiesel bisa saja jumlah setoran lebih sedikit dari subsidi yang diterima. 

Namun, secara akumulasi tidak membuat jumlah subsidi yang diberikan BPDP lebih 
tinggi dibandingkan pungutan ekspor yang didapat. “Kalau begitu berarti defisit 
dong uang BPDP,” imbuhnya.

Hingga berita ini diturunkan, CNNIndonesia.com mencoba menghubungi PT Duta 
Palma Nusantara (Darmex Group) melalui telepon resmi di Jakarta maupun di Pekan 
Baru, namun tak ada yang merespons. (asa)

Kirim email ke