From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, January 19, 2018 2:19 AM
  



http://nasional.kompas.com/read/2018/01/18/14195031/pengamat-ada-yang-mengganjal-dari-jokowi-dalam-reshuffle-kali-ini
 


Pengamat: Ada yang Mengganjal dari Jokowi 
dalam Reshuffle Kali Ini...
Fabian Januarius Kuwado
Kompas.com - 18/01/2018, 14:19 WIB

Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla saat melantik menteri dan pejabat 
hasil reshuffle di Istana Negara, Jakarta, Rabu 
(17/1/2018)(KOMPAS.com/Ihsanuddin)

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, 
Hendri Satrio, melihat, ada sesuatu mengganjal dari Presiden Joko Widodo 
terkait reshuffle kali ini, Rabu (17/1/2018) kemarin.

"Kemarin saya melihat prosesi pelantikan. Saya tidak melihat roman muka segar 
pada wajah Jokowi. Terlihat tidak rileks air mukanya," ujar Hendri kepada 
Kompas.com, Kamis (18/1/2018) siang.

"Dalam komunikasi politik, itu menggambarkan bagaimana Pak Jokowi 
mempertimbangkan masak-masak apa yang dia putuskan hari itu. Atau mungkin masih 
ada sesuatu yang mengganjal dalam reshuffle," lanjutnya.

Satu-satunya hal yang menurut Hendri mengganjal Jokowi berkaitan dengan 
reshuffle adalah mempersilahkan Airlangga Hartarto merangkap jabatan, yakni 
sebagai Menteri Perindustrian sekaligus Ketua Umum Partai Golkar.

Di sisi lain, jabatan Menteri Sosial yang sebelumnya dipegang Khofifah Indar 
Parawansa diberikan kepada Idrus Marham, Sekretaris Jenderal Partai Golkar.

"Mungkin (pelantikan) yang paling tidak ada perdebatan adalah pelantikan KSAU 
dan Wantimpres. Masuknya Moeldoko menggantikan Teten juga jadi pertanyaan, 
tetapi ya sudah itu saja tidak jadi masalah," ujar Hendri.

"Hanya keputusan memberikan posisi Mensos kepada Golkar, sementara di sisi lain 
Airlangga tetap dipertahankan sebagai Menperin, itu yang menurut saya akan 
tetap menjadi pertanyaan (publik)," lanjutnya.

(Baca juga: Jokowi Izinkan Airlangga Hartarto Rangkap Jabatan, Ini Alasannya)

Hendri menilai, Jokowi sadar keputusannya itu akan jadi sasaran kritik. 
Apalagi, alasan Jokowi bahwa Airlangga merupakan orang yang paling kompeten di 
bidangnya bukan alasan yang kuat. Sebab, publik masih belum bisa melihat 
prestasi Airlangga sebagai Menperin.

"Prestasinya sebagai Menperin belum bisa dibaca orang dan belum terlihat nyata. 
Maka itulah yang saat ini jadi pertanyaan. Komitmen Jokowi dalam mempertahankan 
prinsip kabinetnya," lanjut Hendri.

"Reshuffle" dan rangkap jabatan

Diberitakan, Presiden Jokowi kembali melakukan perombakan kabinet di pengujung 
masa jabatannya. Berbeda dengan dua kali reshuffle sebelumnya, kali ini menteri 
yang diganti jauh lebih sedikit.

Tak ada juga pengumuman ke publik terlebih dulu layaknya dua kali reshuffle 
sebelumnya. Menteri dan pejabat yang baru hasil reshuffle langsung dilantik 
Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Rabu pagi.

Mereka adalah Idrus Marham sebagai Menteri Sosial, Moeldoko sebagai Kepala Staf 
Kepresidenan, dan Agum Gumelar sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Idrus menggantikan Khofifah Indar Parawansa yang maju dalam Pilkada Jawa Timur. 
Moeldoko menggantikan Teten Masduki yang digeser menjadi Koordinator Staf 
Khusus Presiden. Sementara Agum Gumelar menggantikan Hasyim Muzadi yang 
meninggal.

(Baca juga: Reshuffle, Komitmen yang Dilanggar, dan Persiapan Pilpres 2019)

Namun, dari nama-nama yang baru masuk dan diganti, sorotan justru tertuju pada 
nama yang tidak diganti Jokowi. Nama itu adalah Airlangga Hartarto, Menteri 
Perindustrian yang juga Ketua Umum Partai Golkar.

Pasalnya, Jokowi melanggar komitmen menteri rangkap jabatan seperti yang 
diungkapkannya sejak pemerintahan awal. Komitmen Jokowi itu seakan tidak 
berlaku bagi seorang Airlangga Hartarto.

Jokowi beralasan, masa kerja kabinet saat ini hanya tersisa satu tahun lebih 
sedikit. Oleh karena itu, tak efektif apabila dilakukan pergantian di pos 
Menteri Perindustrian.

"Kita tahu, ya, Pak Airlangga ini kan di dalam, sudah jadi menteri. Ini kan 
tinggal satu tahun saja praktis ini kita. Kalau ditaruh orang baru ini belajar 
bisa enam bulan, kalau enggak cepat bisa setahun kuasai itu," kata Jokowi.

Jokowi juga beralasan, Airlangga adalah sosok yang sangat mengerti mengenai 
dunia perindustrian.

"Jangan sampai dalam kondisi ini berubah dan yang baru bisa belajar lebih 
(lama), ini kementerian yang tidak mudah," kata Jokowi.

Saat ditanya apakah larangan rangkap jabatan yang semula ditegaskan Jokowi di 
awal pemerintahan sudah tak berlaku, Jokowi tidak menjawab dengan tegas.

"Tadi kan sudah saya sampaikan jelas gitu, kok," kata mantan Gubernur DKI 
Jakarta ini.

Presiden Joko Widodo resmi melantik sejumlah pejabat penting di kabinetnya. 
Sejumlah nama yang dilantik membuat banyak pihak bertanya.(Kompas TV)








Kirim email ke