Para Jenderal Penasihat SBY dan Jokowi

Ilustrasi Moeldoko dan Agum Gumelar. tirto.id/Hafitz Maulana 3 Shares   

Reporter: Husein Abdulsalam
21 Januari, 2018a.. Tiga dari total sembilan anggota Wantimpres di era Presiden 
Jokowi adalah eks perwira tinggi TNI.
Presiden bekerja dibantu para menteri dan juga penasihatnya. Bagaimana 
perbedaan antara Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo dalam memilih 
penasihatnya?tirto.id - Dua presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dan Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY), menunjukkan cara berbeda dalam memilih anggota Dewan 
Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Dari total 9 anggota Wantimpres yang diharuskan Undang-undang Nomor 19 Tahun 
2006, SBY menempatkan lebih banyak orang yang berasal dari kalangan akademisi 
ketimbang tentara, politisi, maupun tokoh agama.

Pola yang dibangun SBY dalam memilih anggota Wantimpres pun cukup sederhana: 1 
orang dari kalangan militer untuk menjadi penasihat bidang pertahanan dan 
keamanan, 1 orang tokoh agama untuk menjadi penasihat bidang kehidupan 
beragama. Sedangkan 7 orang lainnya biasanya berlatar guru besar universitas di 
Indonesia bidang tertentu, ekonom, maupun politisi senior.

Dua tentara yang dipilih SBY sebagai anggota Wantimpres adalah Letnan Jenderal 
Tiopan Bernhard Silalahi (Wantimpres 2004-2009) dan Laksamana Widodo Adi 
Sutjipto (Wantimpres 2009-2014).

Widodo Adi Sutjipto adalah Panglima TNI semasa pemerintahan Presiden 
Abdurrahman Wahid. Dia berasal dari matra Angkatan Laut (AL), dan oleh karena 
itu, Widodo juga menjadi Penglima TNI pertama yang bukan berasal dari matra 
Angkatan Darat (AD) dalam sejarah TNI.


Baca juga: Gus Dur Memelopori Rotasi Panglima TNI dari Tiap Angkatan

Sementara itu, Presiden Jokowi menempatkan dua pensiunan tentara sekaligus 
sebagai anggota Watimpres yang dia pertama kali lantik pada 2015. Keduanya 
adalah Letjen (Purn) Yusuf Kartanegara dan Jenderal TNI (Purn) Subagyo H.S.

Kemudian, pada Januari 2018, Presiden Jokowi melantik Jenderal TNI (HOR) 
(Purn.) Agum Gumelar sebagai anggota Wantimpres, menggantikan KH Hasyim Muzadi 
yang wafat pada Maret 2017.

Dengan begitu komposisi Watimpres di era Presiden Jokowi saat ini terdiri dari 
3 pensiunan perwira tinggi militer, 1 pensiunan perwira tinggi polisi (Sidarto 
Danusubroto), 3 pebisnis yang sebelumnya aktif di partai politik (Rusdi Kirana, 
Jan Darmadi, Suharso Monoarto), dan 2 orang dari kalangan akademisi (Sri 
Adininingsih, Abdul Malik Fajar).

Dengan melihat kedua pola tersebut, SBY tampak mencegah betul masuknya tentara 
dalam susunan Watimpres.  Salah satu faktor yang kemungkinan menyebabkan hal 
ini adalah latar belakang karier ketentaraan SBY.

Semasa reformasi 1998, SBY disebut jenderal reformis. Anggapan itu muncul 
karena SBY merupakan salah salah satu perwira tinggi TNI Angkatan Darat (AD) 
yang getol menyuarakan serta mengusahakan pelaksanaan reformasi dalam TNI.

Reformasi itu dilaksanakan dalam rangka menyusutkan peran TNI yang diberi 
tempat spesial semasa Orde Baru berkuasa. Pada saat itu, dengan adanya konsep 
Dwifungsi ABRI, para tentara diperbolehkan berpolitik praktis, mulai dari 
menjadi pejabat legislatif sampai eksekutif.


Baca juga: 
  a.. Cerita Orde Baru Mendudukkan Kepala Daerah 
  b.. Kapan Jokowi Menepati Janji Mereformasi Peradilan Militer? 
  c.. Malari 1974: Protes Mahasiswa yang Ditunggangi Para Jenderal

Saat reformasi berulir, ABRI memutus hubungan resmi dengan Golkar – organisasi 
politik utama yang menyalurkan kelompok TNI di parlemen – pada 1998. Kemudian, 
doktrin Dwifungsi ABRI dicabut pada 2000. Dengan otomatis, prajurit TNI tidak 
bisa lagi menjadi anggota parlemen dan menjabat posisi eksekutif, misalnya 
presiden, menteri, atau kepala daerah.

Semasa menjabat presiden pun, SBY tampak tidak ingin kehilangan citra jenderal 
reformisnya itu dengan memberikan hanya 1 kursi anggota Watimpres kepada 
kalangan tentara, itupun bidang memang untuk bidang pertahanan dan keamanan.

Selain itu, komposisi anggota Watimpres 2007-2014 juga menunjukkan bahwa SBY – 
sebagai pensiunan perwira tinggi militer– punya kepercayaan diri yang tinggi 
untuk menangani manuver politik yang dilancarkan para tentara, baik oleh 
institusinya maupun para pensiunannya.

Satu hal lain yang dapat menunjukkan itu juga dapat diihat dari komposisi Unit 
Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Lembaga 
tersebut dibentuk pada 2009 dengan tugas, secara umum, membantu presiden dalam 
melaksanakan pengawasan dan pengendalian pembangunan sehingga mencapai sasaran 
pembangunan nasional dengan penyelesaian penuh.

Pimpinan UKP4, baik kepala maupun deputi, tidak ada yang berasal kalangan 
militer.


Baca juga: Mantan Presiden Indonesia Gemar Dirikan Lembaga Think Tank

 share infografik


Upaya Jokowi Kendalikan Politik Tentara
Tidak seperti SBY, Jokowi tidak punya latar belakang militer. Dia hanya seorang 
pebisnis mebel yang karier politiknya meroket sejak menjabat Walikota Surakarta 
(2005-2012) dan Gubernur DKI Jakarta (2012-2014).

Potensi dukungan dari pihak militer didapatkan Jokowi dari para pensiunan 
perwira tinggi militer yang kemudian menjadi petinggi partai poitik yang 
mendukungnya  saat Pilpres 2014.

Dipilihnya Agum sebagai anggota Wantimpres dan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, 
mantan Panglima TNI, sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) – lembaga 
semacam UKP4 versi Jokowi – pada Januari 2018, di satu sisi, dapat dilihat 
sebagai bentuk tanggapan atas polemik tentang politik TNI yang menguat selama 
setahun terakhir.

Panglima TNI periode 2015-2017, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, sempat 
menginstruksikan agar jajaran TNI di tingkat daerah menggelar nonton bareng 
(nobar) film Penumpasan Pengkhiatan G30S/PKI bersama masyarakat pada September 
2017. Ada nukilan video wawancara Gatot bersama stasiun televisi swasta 
Indonesia yang mesti ditonton hadirin nobar sebelum menonton film tersebut.

Gatot Nurmantyo juga mengundang perhatian karena datang ke aksi 212, pada 2 
Desember 2017, dengan mengenakan peci putih. Dia turut disebut oleh Alan Nairn 
menyetujui rencana penggulingan Presiden Jokowi lewat "Aksi Bela Islam.."

Itu dapat dilihat sebagai manuver politik yang dilakukan Gatot agar namanya 
populer. Di saat yang bersamaan Gatot juga masuk dalam busa kandidat Pemilihan 
Presiden 2019 dan Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018.

“Yang dilakukan oleh Pak Gatot akhir-akhir ini menurut saya bukan dalam rangka 
politik negara, itu politik personal politik individual, demi apa? Ya, demi 
kepentingan meningkatkan popularitasnya.  Apa tujuannya? Ya tentu saja Pilpres 
2019. Apalagi banyak lembaga survei yang menempatkan Pak Gatot [urutan] nomor 1 
dan nomor 2," ujar Ray Rangkuti, pengamat politik dari Lingkar Madani.


Baca juga: 
  a.. Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar 
  b.. Kemenangan dan Kekalahan Supremasi Sipil 
  c.. Jenderal Gatot dan Imajinasi Proxy War 
  d.. Gatot Nurmantyo di Bursa Pilkada 2018 dan Pemilu 2019

Namun, di sisi lain, adanya Agum dan Moeldoko juga dapat dilihat sebagai 
lobi-lobi politik Jokowi dengan partai. Meskipun tidak menyatakan berafiliasi 
dengan partai politik, Agum sempat dekat dengan PDIP kala dicalonkan sebagai 
gubernur dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2008. Sedangkan Moeldoko adalah 
Wakil Ketua Umum DPP Partai Hanura.

Selain itu, Yusuf dan Subagyo H.S, juga aktif dalam partai politik sebelum 
menjabat anggota Watimpres, keduanya. Yusuf adalah sekretaris jenderal PKPI, 
sedangkan Subagyo H.S. berafiliasi dengan Hanura.

Baik PKPI, Hanura, PDIP merupakan partai yang saat ini menjadi bagian dalam 
Koalisi Partai Pendukung Pemerintah (KP3).

Kecuali PDIP, ketiga partai tersebut memiliki figur sentral yang adalah 
pensiunan perwira tinggi TNI. Ketua Umum Hanura adalah Jenderal TNI (purn.) 
Wiranto, mantan Panglima TNI, yang saat ini menjadi Menko Polhukam. Sedangkan 
Ketua Umum PKPI adalah AM Hendropriyono, Artinya, Jokowi masih sulit lepas dari 
cengkeraman partai-partai tersebut 

Baca juga artikel terkait JENDERAL atau tulisan menarik lainnya Husein 
Abdulsalam 

(tirto.id - hsa/ivn)

Kirim email ke