----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>Kepada: "[email protected]"
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 26 Januari 2018 06.21.10 GMT+1Judul:
[GELORA45] Ilmuwan Tiongkok Berhasil Kloning Monyet, Kembar Pula, Bagaimana
dengan Manusia?
Ilmuwan Tiongkok Berhasil Kloning Monyet, Kembar Pula, Bagaimana dengan Manusia?
Kamis, 25 Januari 2018 18:00
HANDOVER
monyet hasil kloning
TRIBUN-TIMUR.COM-Teknologi kloning, hingga saat ini masih menjadi hal yang
manrik untuk dibicarakan. Setelah kloning domba Dolly pada 1996, para peneliti
terus mengkloning hewan-hewan lainnya.
Sayangnya, belum pernah ada yang berhasil membuat kloning bayi dari jenis
primata seperti monyet, kera, dan manusia.
Namun, para peneliti di Tiongkok melaporkan pada Rabu (24/01/2018), bahwa
mereka telah berhasil menciptakan dua monyet kloning. Dengan kata lain, ini
pertama kalinya primata dikloning dengan teknik yang sama untuk menghasilkan
domba Dolly.
"Batasan dari kloning spesies primata sekarang telah terlampaui," ungkap
Mu-Ming Poo dari Chinese Academy of Sciences, Shanghai dikutip Time, Rabu
(24/01/2018).
Kedua monyet hasil kloning tersebut diberi nama Zhong Zhong dan Hua Hua. Mereka
dibuat dari sel janin yang tumbuh di cawan petri.
"Ini adalah primata pertama yang pernah dikloning," kata Dr Leonard Zon,
direktur program sel induk di Rumah Sakit Anak Boston dikutip dari New York
Times, Rabu (24/01/2018).
Hasil kloning ini merupakan kembar identik dan membawa DNA dari janin monyet
yang sebenarnya menyediakan sel-sel yang digunakan. Hal ini disebutkan dalam
publikasi di jurnal Cell.
Kedua monyet tersebut "lahir" di Chinese Academy of Sciences, Shanghai.
"Ini telah melalui jalan yang panjang," ungkap Shoukhrat Mitalipov, ilmuwan
yang pernah berusaha membuat kloning primata namun gagal.
"Akhirnya, kita berhasil," sambung pria yang bekerja untuk Oregon Health &
Science University itu.
Poo menyebut, pada prinsipnya, pencapaian ini berarti bahwa manusia dapat
dikloning. Namun, pria ini menyebut bahwa dia dan timnya tak berniat melakukan
hal itu.
Sebaliknya, dia menyebut tujuannya adalah menciptakan banyak monyet yang
identik secara genetik untuk digunakan dalam penelitian medis. Pria Tiongkok
ini berpikir bahwa hewan ini akan berharga karena lebih mirip manusia dibanding
hewan laboratorium lainnya seperti tikus.
Kloning Manusia
Mitalipov mencatat kegagalan ilmuwan Tiongkok tersebut dalam mengkloning dari
monyet dewasa. Ini membuat dia mencurigai hal yang sama juga akan terjadi saat
mengkloning bayi dari sel manusia dewasa.
"Saya rasa tidak perlu ada orang yang memikirkannya," kata Mitalipov.
Jose Cibelli, ilmuwan dari Michigan State University menyebut bahwa mungkin
suatu hari nanti kloning manusia dapat terjadi. Tapi dia juga menyebut bahwa
kita akan menghadapi "dilema etika yang besar" jika melakukannya pada manusia.
Pendapat serupa juga diutarakan oleh Dieter Egli, peneliti dari Columbia
University.
"Saya tidak berpikir itu harus dikejar," ungkapnya.
"Saya tidak bisa memikirkan manfaat besarnya," imbuhnya.
Henry Greely, profesor hukum Universitas Stanford yang mengkhususkan diri pada
implikasi teknologi biomedis, mengatakan argumen terkuat yang dapat dia
pikirkan dalam mengkloning manusia adalah keinginan orang tua yang berduka
untuk menghasilkan duplikat genetik anak yang meninggal. Namun, dia meragukan
ada alasan lain yang cukup kuat untuk melakukan hal ini.
Marcy Darnovsky, direktur eksekutif di Center for Genetics and Society,
Berkeley, California juga menyebut bahwa ada dampak psikologis yang besar pada
anak yang "dihasilkan" dari kloning.
"Risiko psikologis dan emosional hidup dalam bayang-bayang pendahulu
genetiknya," ujar Darnovsky.
Selain itu, karena masalah keamaan, aturan federal Amerika Serikat juga tidak
mengizinkan bayi manusia dikloning. Kelompok ilmiah international pun
menentangnya.
"Kloning adalah pertunjukkan yang mengerikan: buang-buang nyawa, waktu, dan
uang - dan penderitaan yang dihasilkan dari percobaan semacam itu tak
terbayangkan," kata Kathy Guillermo, Wakil Presiden Senior di People for the
Ethical Treatment of Animals (PETA).
"Karena kloning memiliki tingkat kegagalan 90 persen, kedua monyet ini mewakili
kesengsaraan dan kematian dalam skala besar," imbuhnya.(*)
Berita ini sebelumnya terbit di Kompas.com dengan judul Ilmuwan Tiongkok
Berhasil Kloning Monyet, Apakah Manusia Selanjutnya?