----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Selasa, 30 Januari 
2018 02.27.02 GMT+1Judul: [nasional-list] Sosok Militerkah Calon Pendamping 
Jokowi?
     

  
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/01/30/p3bxf9440-sosok-militerkah-calon-pendamping-jokowi

Sosok Militerkah Calon PendampingJokowi?

Selasa 30 January 2018 05:19 WIB

Red: Elba Damhuri




Foto: AP PHOTO 

Jokowi dinilai butuh sosok militer sementara PDIP banyakmengangkat jenderal 
polisi.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Dessy Suciati Saputri, RonggiAstungkoro, Febrianto A 
Saputro

Pendaftaran kandidat presiden dan wakil presiden untuk Pilpres2019 masih 
tergolong lama. Namun, berbagai manuver politik sudahterlihat untuk bisa tampil 
baik sebagai capres maupun cawapres. 

Sejumlah tokoh mencoba menarik perhatian dengan memasang balihodan 
poster-poster di jalan-jalan. Ada juga yang memberikan komentarsensitif untuk 
mendapat atensi rakyat atas masalah-masalah krusial.Lainnya, mencoba tampil 
dengan gerakan bawah tanah yang tak terlihat.

Presiden Jokowi salah satu yang menjadi sorotan saat ini. Banyakindividu yang 
mencoba merangsak masuk untuk bisa menjadi calon wapresPresiden Jokowi. Namun, 
tampaknya upaya-upaya itu masih jauh dariharapan. Yang menarik, ada semacam 
sinyal dari Presiden Jokowi untukmenarik sosok militer ke dalam lingkaran 
pilpres mendatang.

Yang jelas, pengamat militer dari Universitas Padjadjaran, Muradi,menlilai 
Presiden Joko Widodo membutuhkan sosok berlatar belakangmiliter untuk persiapan 
Pilpres 2019. Penunjukan Jenderal (Purn)Moeldoko dan Agum Gumelar untuk mengisi 
posisi strategis dipemerintahan mengesankan hal itu.

"Itu memungkinkan kenapa Pak Jokowi memilih Pak Moeldoko danPak Agum Gumelar," 
ungkap Muradi, Senin (29/1).

Muradi menilai pemilihan kedua figur berlatar belakang militer itudipilih untuk 
mengimbangi figur lain yang berlatar belakang militerpula. Figur yang sekiranya 
akan menjadi lawan pada Pilpres 2019mendatang. "Jadi memang ini langkah yang 
saya kira harus dilihatuntuk persiapan 2019. Saya kira sosok Moeldoko dan Agum 
relatifbersih," katanya.

Melihat perkembangan sejak 2016-2017, ada persepsi yangdikembangkan oleh lawan 
politik Jokowi. Persepsi di mana pemerintahanJokowi dikesankan berjarak dengan 
TNI. Khususnya, kata Muradi, saatpanglima TNInya dijabat Gatot Nurmantyo. 
Karena itu, kata Muradi,dengan menjadikan sejumlah purnawirawan TNI pada posisi 
strategis,diharapkan persepsi dan kesan berjarak dengan TNI itu tidak 
lagimenguat, justru sebaliknya dapat dikesankan mencair dan semakinakrab.

Presiden Jokowi pada Rabu (17/1) lalu melantik Moeldoko sebagaikepala Kantor 
Staf Kepresidenan menggantikan Teten Masduki yang akanmenjabat sebagai 
koordinator Staf Khusus Presiden. Selain itu, iajuga melantik Agum Gumelar 
sebagai anggota Wantimpres.

Dalam beberapa diskusi tentang calon pendamping Jokowi padaPilpres 2019 
sejumlah nama militer muncul. Salah satunya nama Moldokoitu sendiri yang kini 
masuk ke dalam lingkaran satu Presiden.Sebelumnya, nama Gatot Nurmantyo sempat 
santer dikabarkan, namunkemudian hilang seiring kurang harmonisnya hubungan 
Gatot danPresiden.

Nama lain yang masuk bukan dari militer. Ada Kapolri TitoKarnavian, Kepala BIN 
Budi Gunawan, ada Menteri Keuangan Sri Mulyani,Agus Harymurti Yudhoyono, 
Zulkifli Hasan, hingga mantan Ketua MKMahfud MD.

PDIP dekati polisi

Penilaian persiapan Jokowi untuk Pilpres 2019 dengan mendekatisosok militer 
berbanding terbalik dengan PDIP selaku partai yangmengusung Jokowi pada 2014 
lalu. Belakangan ini, PDIP justru merapatke jenderal-jenderal polisi, terutama 
yang masih aktif.

PDIP mengusung tiga jenderal aktif untuk maju di sejumlah daerahpilkada, yaitu 
Irjen Anton Charliyan di Jawa Barat, Irjen MuradIsmail di Maluku, dan Irjen 
Safaruddin di Kalimantan Timur.

Selain itu, yang terbaru, Mendagri Tjahjo Kumolo yang berasal dariPDIP berkeras 
mengangkat dua jenderal aktif polisi sebagai penjabatgubernur, yaitu Irjen M 
Iriawan yang saat ini menjabat asistenkapolri bidang operasi sebagai pj 
gubernur Jawa Barat dan KadivPropam Polri Irjen Martuani Sormin menjadi pj 
gubernur Sumatra Utara.

PDIP hingga saat ini belum resmi mendeklarasikan untuk mengusungJokowi sebagai 
capres 2019. Padahal, sejumlah partai seperti Hanura,Nasdem, dan Golkar sudah 
resmi mengusung Jokowi.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago melihat adaindikasi PDIP 
lebih merapat ke jenderal polisi. Itu tak terlepas darisosok Jenderal Budi 
Gunawan yang memang terkenal dekat dengan PDIPdan Megawati Soekarnoputri.

Menurut Pangi, ada indikasi PDIP menginginkan BG untuk menjadicawapres pada 
pilpres mendatang, sedangkan hingga saat ini PDIP belummelihat ada capres lain 
yang lebih potensial dari Jokowi. Karena itu,langkah politiknya adalah PDIP dan 
BG perlu memasang dan mengaderpara jenderal. Tujuannya untuk menguatkan 
jaringan BG hingga ke bawahdari lingkaran Polri.

“Ini bukan tidak mungkin ada jaringan ke BG. Jadi, BG membangunjaringan dulu, 
ibaratnya cakar ayam. Nah, kita tahu BG dan PDIP itukan dekat,” kata Pangi.

Sementara, Jokowi juga memasang strategi menguatkan sosok militerdi sekitarnya. 
Tujuannya untuk memecah barisan para purnawirawan agartidak mendukung capres 
lain yang berasal dari militer. “Prabowo,misalnya,” kata Pangi.

Polri sebelumnya menegaskan netralitasnya dalam pilkada 2018maupun pemilu 2019. 
Kadiv Propam Polri Irjen Martuani Sorminmengeluarkan 13 butir pedoman 
netralitas polisi pada pilkada 2018 danPemilu 2019. 

Sikap netralitas Polri, kata dia, bersikap wajib untuk seluruhanggota Polri.. 
Anggota Polri dilarang terlibat langsung dalam politikpraktis. Siapa pun yang 
melanggar akan disanksi.

PDIP tak Pernah Ikut Campur

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan, PDIP tidakpernah campur 
tangan menentukan sosok yang akan dipilih menjadipenjabat (pj) gubernur. PDIP 
menyerahkan seluruhnya urusan itu kepadapemerintah.

"Kami yakin pemerintah menjalankan tugasnya sepenuhnya denganketentuan UUD," 
kata Hasto, Senin (29/1).

Hasto mengakui, dirinya sudah berkoordinasi dengan Mendagri TjahjoKumolo 
terkait hal tersebut. Menurut dia, hal yang paling utama yangharus dipikirkan 
adalah bagaimana penjabat menjalankan tugassebaik-baiknya. "Kita menempatkan 
segala sesuatu padaproporsinya. Sekali lagi, partai tidak pernah campur tangan 
haltersebut," ujarnya.

Hasto menilai ada kesalahpahaman terkait kabar usulan pengangkatanpenjabat 
gubernur tersebut. Hasto mengambil contoh, pengangkatanpenjabat gubernur di 
Sumatra Utara dan Jawa Barat baru akan dimulaipada pertengahan Juni, mengingat 
gubernur pejawat masih menjabatsampai pertengahan juni atau 10 hari sebelum 
pilkada serentakdijalankan. 

Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies(CSIS) Philips 
J Vermonte berpendapat penunjukan anggota Polri danTNI dalam pemerintahan ini 
lebih dimaksudkan untuk mengantisipasipotensi konflik di tiap daerah. 

“Sebetulnya pertimbangannya mungkin, ya, karena kita tahumungkin ini 
mengantisipasi pilkada dan kemungkinan potensi konflik.Tapi, yang kedua, memang 
Mendagri punya wewenang menetapkan pltsehingga itu kewenangan Mendagri,” 
jelasnya.

Philips mengatakan, penunjukan jenderal polisi aktif ini tak akanmemengaruhi 
citra pemerintahan Jokowi. Sebab, jabatan tersebut hanyaakan diemban sementara. 

(Pengolah: muhammad hafil).




    

Kirim email ke