Itulah ind…. yang terlalu panatik dan banyak dokrin, sehingga semua ditakuti. 
Padahal kalau impor makanan juga di semua produk serba rekayasa.
Kalau mau jujur tape saja yang alkoholnya lebih dari 5 %, tapi minuman yang 
berakohol 5 % dilarang

From: kh djie [mailto:[email protected]]
Sent: Tuesday, January 30, 2018 10:22 AM
To: Gelora45 <[email protected]>; Karma, I Nengah [PT. BI-POS] 
<[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Pemerintah Masih Setengah Hati Terapkan 
Bioteknologi Pangan


Bung karma,
Di Bioteknologi diajarkan teknik2 :
1. Fermentasi dengan menggunakan bakteri, jamur. Kalau ini
sudah lama dipakai dan dianggap aman seperti pembuatan
tempe,alcohol, keju, MSG, Ribotiden dll.
2. Enzym (biokatalisator) seperti dalam pembuatan keju, High Fructose Sugar.
3. Yang masih ditakutkan dan tidak dikehendaki di beberapa negeri adalah
dengan rekayasa genetik dengan recombinant DNA. Di Amerika kedelainya
hasil rekayasa genetik. Diimport oleh Indonesia, dibikin tahu, tempe, kecap.
Tetapi rupanya tanam kedele dengan bibit hasil rekayasa genetik dilarang
di Indonesia ?
Waktu saya masih kerja, Unilever tidak menggunakan bahan GMO (Genetic Modified
Organism), dan suppliernya harus membuat pernyataan kalau produknya tidak
mengandung GMO
Salam,
Djie

2018-01-30 1:23 GMT+01:00 'Karma, I Nengah [PT. BI-POS]' 
[email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45] 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>:

Ini sebenarnya ide yang  sangat bagus, karena bisa meningkatkan pendapat petani 
sampai 20 %
Mungkin sama seperti di teknologi nano perminyakan bisa meningkatkan produksi 
minyak sampai 20%
20 % itu lumayan bisa membantu petani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Bayangkan jika penghasilan petani diseluruh indonesia mancapai 200 triliun 
berarti peningkatan penghasilan petani kurang lebih 400 miliyar

Sangat permitif sekali jika para petani masih menjual hasil taninya dalam 
bentuk alami.
Hasil pertaniannya mesti diolah dan difermetasi terlebih dulu dijadikan kecap, 
tempe, kripik, yogut, peyek dll sehingga akan meningkatkan hasil taninya

From: [email protected]<mailto:[email protected]> 
[mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>]
Sent: Tuesday, January 30, 2018 7:16 AM
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Pemerintah Masih Setengah Hati Terapkan 
Bioteknologi Pangan





Bisa dianggap oleh mereka yang menyatakan diri sebagai pemegang kunci pintu 
gerbang taman Firdaus bahwa bioteknologi adalah ilmu sihir dan oleh sebab itu 
haram karena dapat merubah apa yang telah diciptakanNya.



http://www.suarakarya.id/detail/54427/Pemerintah-Masih-Setengah-Hati-Terapkan-Bioteknologi-Pangan



Pemerintah Masih Setengah Hati Terapkan Bioteknologi Pangan

Seminar bioteknologi pangan di Jakarta, Senin (29/1/2018). (foto: laksito)

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah sepertinya masih setengah hati untuk 
mengembangkan bioteknologi bidang pertanian. Padahal, teknologi tersebut dapat 
menggenjot produksi pangan nasional sehingga kebergantungan terhadap impor bisa 
ditekan.

Anggapan bahwa bioteknologi tanaman atau hasil produk rekayasa genetik pada 
tanaman tidak aman bagi kesehatan dan lingkungan, masih menjadi ganjalan untuk 
diterapkan di Indonesia.

"Produknya kita makan saban hari, tapi penerapannya dilarang, kan nggak masuk 
akal sebenarnya," ujar  pakar tanaman pangan Bayu Krisnamurthi, dalam Seminar 
Refleksi san Masa Depan Bioteknologi Pertanian dalam Mendukung Kedaulatan 
Pangan Indonesia, di Hotel Mercure Jakarta, Senin (29/1/2018).

Seminar yang diinisiasi IndoBIC bersama PBPI, Seameo Biotrop dan ISAAA in, juga 
menghadirkan Prof Dr Agus Pakpahan, Prod Dr Antonius Suwanto, dan Prof Dr 
Bambang Purwantara.

Bayu mengungkapkan, bioteknologi pangan sebenarnya sudah ada sejak ratusan 
tahun lalu. Di indonesia sudah ditemukan dalam produk tempe, tahu, jamu, roti, 
anggur, keju.

Sedikitnya 28 negara di dunia sangat intensif menerapkan bioteknologi tanaman 
pada areal seluas 180 juta hektare.

"Nilai ekonomisnya luar biasa, mencapai 604,4 miliar dolar AS. Di Filipina saja 
ada 812.000 hektare yang ditanami hasil bioteknologi pertanian.. India 
menargetkan nilai tambah ekonomi sebesar 100 miliar dolar AS pada tahun 2025 
dari biotek ini," papar Bayu.

Sejak 2010, bioteknologi pangan sudah diterapkan di banyak negara, dan akan 
menjadi tren. "Artinya bisnis biotek akan menguntungkan, jika telah menguasai 
riset, teknologi, dan infrastrukturnya," ujarnya.

Laporan International Service for Acquisition Agri-biotech Application (ISAAA)  
selama 21 tahun terkahir, bioteknologi tanaman telah mengurangi dampak 
lingkungan pertanian secara signifikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di 28 
negara di mana teknologi tersebut diadopsi.

Juga terjadi peningkatan 110 kali lipat adopsi tanaman biotek secara global 
dalam kurun waktu 21 tahun terakhir sejak dikomersialkan, dari 1,7 juta hektare 
(tahin 1996) menjadi 185,1 juta hektare di tahun 2016.

"Secara umum biotek telah meningkatkan pendapatan lebih dari 22 persen, 
mwngurangi pestisida lebih dari 37 persen,  serta meningkatkan pendapatan 
bersih petani 68 persen," ujar Agus Pakpahan.

Merujuk hasil penelitian Graham Brookes, Bayu Krisnamurthi mengungkapkan bahwa 
bioteknologi tanaman telah mengurangi emisi gas rumah kaca dan mampu 
mempwrtahan lebih banyak karbon di dalam tanah.

“Teknologi pertanian yang inovatif berkontribusi dalam melestarikan sumber daya 
alam dengan menanam lebih banyak tanaman bermutu tinggi. Aplikasi tersebut 
membantu mengurangi angka kemiskinan di negara-negara berkembang sebanyak 16,5 
juta petani kecil,” ujarnya.

Direktur Indonesian Biotecnology Information Centre (IndoBIC), Bambang 
Purwantara menambahkan ada banyak faktor mengapa bioteknologi pertanian di 
Indonesia tidak berkembang, salah satunya pada regulasi serta implementasi. 
Padahal, apabila kebijakan ini telah lama dikembangkan, pendapatan petani 
Indonesia akan meningkat. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi saat ini 
yang mana pendapatan petani terus merosot tajam, tak sebanding dengan biaya 
yang dikeluarkan untuk produksi.

Menurutnya, persoalan krusial yang melanda pertanian di Indonesia saat ini 
meliputi penurunan jumlah petani dan percepatan laju alih fungsi lahan. Karena 
itu, dia menyarankan perlunya upaya lain pada sektor pertanian yang lebif 
efektif dan efisien. Bila tidak, pemerintah tak akan mampu mengimbangi 
pertumbuhan populasi penduduk dengan pasokan pangan nasional.

"Indonesia, sekitar 65 persen penduduk miskinnya ada di desa dan dari jumlah 
itu, sekitar 60 persen adalah petani. Ini harus diakhiri dengan pertanian 
inovatif,” ujar Bambang. ***







Kirim email ke