Artikel - 
Jokowi menantang teror Kabul, meredam isu agama
 Rabu, 31 Januari 2018 10:55 WIB
 
Presiden Joko Widodo diterima Presiden Mohammad Ashraf Ghani di Istana Presiden 
Arg, Afghanistan, Senin (29/1/2018). (Biro Pers Setpres)

Komandan Paspampres Mayjend TNI (Mar) Suhartono dan Menlu Retno LP Marsudi yang 
sempat mengusulkan pembatalan ke Kabul, mendadak ingin menangis.
Jakarta (ANTARA News) - "Presiden juga manusia" barangkali sedang menjadi idiom 
yang demikian pas untuk Jokowi.


Isu hoax khususnya yang terkait dengan agama dari mulai mempertanyakan 
keislaman hingga kriminalisasi ulama seperti tak pernah berhenti dibenturkan 
padanya.

Boleh jadi itulah yang menguatkan langkahnya untuk tetap ke Kabul, Afghanistan, 
pada sebuah pagi yang sesaat sebelumnya baru saja dibom.

Rangkaian bom lainnya bahkan sudah menewaskan lebih dari 100 orang, meledak 
hanya sejengkal dari Kantor KBRI di ibukota Afghanistan pada dua hari 
sebelumnya.

"Kita berangkat!" ujarnya beberapa menit setelah menerima laporan soal bom di 
Kabul, ketika Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 masih berada di Dhaka, 
Bangladesh.

Komandan Paspampres Mayjend TNI (Mar) Suhartono dan Menlu Retno LP Marsudi yang 
sempat mengusulkan pembatalan ke Kabul, mendadak ingin menangis.

Beberapa anggota rombongan Presiden sempat mengirimkan pesan kepada handai 
tolan di Tanah Air untuk mendoakan perjalanan mereka.

Ini perjalanan bukan skenario, bukan permainan, bukan pencitraan, sebut mereka 
sepakat.

Presiden punya sederet alasan panjang untuk menantang risiko di Kabul dan bukan 
malah kembali ke Tanah Air seperti pengecut.

Baca juga: Presiden Jokowi tolak pakai rompi anti-peluru di Afghanistan

Alasan Khusus


Faktanya Presiden Joko Widodo memang punya alasan khusus untuk tetap ke Kabul. 
Bukan semata untuk sebuah janji kepada Ashraf Ghani yang pernah mengunjunginya 
di Jakarta.

Bukan semata juga janji untuk dapat turut serta menciptakan perdamaian di 
wilayah Afghanistan dan sekitarnya.

Alasan yang lebih besar bagi Indonesia untuk menjadi pusat ulama dunia memang 
barangkali juga menjadi sebagian yang menguatkan nyali Jokowi.


Presiden Joko Widodo diterima Presiden Mohammad Ashraf Ghani di Istana Presiden 
Arg, Afghanistan, Senin (29/1/2018). (Biro Pers Setpres) 


Staf Khusus Presiden Johan Budi cenderung melihat sifat dan tabiat Jokowi yang 
justru semakin tak gentar ketika dihadapkan makin dekat pada situasi teror.

Kalian tahulah Presiden kita, sebutnya. Semakin ditantang dia akan semakin 
menjadi.

Kabul boleh saja menjadi pijakan Jokowi untuk memperlihatkan betapa serius 
dirinya pada Islam.

Bukan sekadar untuk dunia tapi kepada dirinya sendiri dan bangsanya.

Jokowi ingin menciptakan kesan yang mendalam sekaligus memperlihatkan betapa 
besar komitmennya untuk Islam.

Langkah kecilnya menembus ancaman teror bom yang mungkin saja terjadi, melawan 
dinginnya hujan salju yang pekat di Kabul, hingga menjadi imam sholat di negara 
mayoritas Islam seakan ingin membungkam mulut-mulut penyebar hoax yang 
menyudutkannya dengan isu agama.

Kepada dirinya sendiri, Jokowi ingin membuktikan bahwa ia dapat menaklukan rasa 
takutnya, rasa khawatirnya, hingga egonya untuk kepentingan yang lebih besar. 
Maka rompi ataupun kendaraan anti-peluru pun tak lagi penting baginya.


Baca juga: Presiden Jokowi punya alasan khusus untuk tetap ke Afghanistan

Was-was


Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana Jokowi sepayung berdua saat tiba di di 
Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Selasa, pada pukul 05.20 
WIB usai lawatan lima negara di Asia Selatan. (Biro Pers Setpres) 

Ketika kunjungan berakhir dengan kisah yang manis, Jokowi kembali ke Tanah Air 
dengan senyum kemenangan yang penuh arti.

Media telah memberitakan besar-besaran tentang kunjungannya ke Kabul, tepat 
seperti yang dia inginkan.

Isu-isu negatif termasuk tentang kriminalisasi ulama atau tentang rencana 
kepulangan seorang ulama yang selama ini dianggap buron pun selaksa tenggelam 
ditelan bumi.

Kubu seberang yang menjadi lawan politiknya, mulai ribut sendiri, ia pun 
kembali ke meja kerjanya membereskan sejumlah urusan lain yang masih belum juga 
terselesaikan.

Menlu dan Danpaspamres menarik napas lega buka kepalang, bagi keduanya, 
perjalanan ke Kabul adalah pertaruhan hidup dan mati.




Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi dan Komandan Paspampres Mayjen TNI 
(Mar) Suhartono melakukan sujud syukur di dalam Pesawat Kepresidenan 
Indonesia-1, Senin (29/1/2018). (Istimewa) (FOTO: Istimewa) 

Wajar jika keduanya sujud syukur dalam suasana yang penuh haru di atas Pesawat 
Kepresidenan Indonesia-1 ketika kunjungan Kabul rampung.

Jokowi hanya tersenyum mengetahui tingkah keduanya, meski ia bisa memahami 
kekhawatiran itu.

Namun, untuk sesuatu yang menurutnya lebih besar, tak ada satupun yang bisa 
menyurutkan langkahnya.

Inilah Jokowi, yang selalu menantang teror untuk meredam sesuatu, yang baginya 
kerja kerja kerja menjadi caranya untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa..



Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Monalisa

Kirim email ke