Dan ini resensi film "The Young Karl Marx". Kok tahun segitu Marx sudah bicara 
soal revolusi komunis??? Menurut ahli filsafat unggul Chan, murid setia Deng 
xiaoping dengan teorinya "tikus hitam tikus putih...", salahlah si Marx ini... 
Belum waktunya bung, perkembangan masyarakat belum sampai situ!!! Gara-gara 
perkembangan masyarakat yang belum sampai itu, maka salahlah si Marx, Lenin , 
Mao , Ho Chiminh, Kim il sung!!! Siapa yang benar??? Deng xiaoping!!!Kwkwkwkw
FILM · RESENSI
The Young Karl Marx
1 Desember 2017jaganyala Sumber: GoogleKarl Marx, tentu kita sudah tidak asing 
lagi dengan nama “Bapak Komunis” ini. Film yang dirilis pada tahun 2017 ini 
umumnya menceritakan tentang ide-ide Marx, Engels, Proudon, Bakunin, dan 
Weitling. Namun yang menjadi fokus utama film ini adalah kisah persahabatan 
antara Karl Marx dan Frederich Engels. Dibuka denganscene yang menampilkan 
rakyat-rakyat jelata yang sedang mengumpulkan kayu bakar di hutan, dan beberapa 
saat kemudian mereka dengan kejamnya dipukuli oleh para petugas keamanan, yang 
merupakan simbolisasi dari perenungan Marx, tentang bagaimana bisa mengumpulkan 
kayu kering yang telah jatuh dari pohon dan ditakdirkan untuk membusuk di 
tanah, dianggap sebagai sebuah tindakan pencurian?Kemudian ditampilkan sebuah 
konflik di mana seorang buruh Irlandia, Mary Burns (diperankan oleh Hannah 
Steele) yang melawan pemilik perusahaan karena ketidakadilannya, sebelum 
kemudian diperintahkan untuk keluar. Hal ini yang kemudian mengawali kisah 
antara Mary Burns dengan Friedrich Engels yang ironisnya adalah anak dari 
pemilik perusahaan tersebut.Tokoh-tokoh utama film ini diperankan oleh para 
aktor dengan begitu apik dan meyakinkan. August Diehl, yang berperan sebagai 
Marx, bersama dengan Vicky Krieps sebagai Jenny Marx, dan Stefan Konarske 
sebagai Engels, begitu fasih dalam dialek Jerman, Perancis dan Inggris, yang 
menambah nilai otentik dalam film biografi berdurasi dua jam ini.Disutradarai 
oleh Raoul Peck, film ini secara keseluruhan bercerita tentang ide-ide revolusi 
dan radikalisme yang muncul bersamaan di Eropa. Dibuat berdasarkan 
surat-menyurat antara Marx dan Engels di tahun 1840-an, ikatan di antara kedua 
revolusioner ini menjadi tema utama dari film ini, bagaimana penelitian Engels 
tentang kondisi para pekerja di England berhasil mencuri perhatian Marx, atau 
bagaimana kagumnya Engels pada kecerdasan pemikiran Marx yang akhirnya 
mendorongnya untuk mengajak Marx membuat sebuah analisis ekonomi tentang 
kapitalisme. Keintiman persahabatan mereka terlihat jelas di sini, yang membawa 
mereka sampai kepada proses penulisanCommunist Manifesto.Bukan hanya antara 
Marx dan Engels, istri kedua pria ini juga turut mengambil bagian yang penting 
dalam film ini. Karakter-karakter perempuan utama di film ini tidak ditampilkan 
sebagai pelengkap saja. Sebut saja Mary Burns, seorang pekerja militan yang 
diperankan oleh Hannah Steele, yang merupakan istri Engels secara de 
facto.Dengan koneksinya dengan para buruh, ia mampu menyuguhkan kepada Engels 
wawasan-wawasan yang lebih dalam dan dekat tentang kehidupan para buruh. Dan 
Jenny Marx atau Jenny von Westphalen, yang digambarkan bukan sebagai kekasih 
Marx yang aristokratik, justru ia ditampilkan sebagai seseorang yang 
menginspirasi dan mendukung ide-ide Marx. Di suatu scene ditampilkan Jenny 
menyarankan sebuah judul untuk tulisan Marx, ‘Critique of Critical Critique’. 
Di satu scene lain, Engels berkata pada Jenny bahwa ia adalah perempuan yang 
hebat yang bisa saja hidup kaya, aristokratik dan mewah, yang ditanggapi Jenny 
dengan jawaban kritis, “Happiness requires rebellion. Rebellion against the 
establishment, the old world. That’s what I believe.””No, the three of us, 
Jenny,” jawab Engels menanggapi pernyataan Nyonya Marx tersebut. Jenny lalu 
dengan spontan menjawab, “It’ll take more than the three of us, don’t you 
think?”Film ini diakhiri dengan sebuah montase singkat dari adegan-adegan Che 
Guevara, perang dan protes yang terjadi di Vietnam, runtuhnya Tembok Berlin, 
dan peristiwa-peristiwa lain yang mungkin mengingatkan kita bahwa para filsuf 
menginterpretasikan dunia ini dalam beragam cara, yang terpenting bagi kita 
adalah bagaimana kita berpikir dan berusaha mengubah dunia itu sendiri.Melihat 
realita, masih banyak ketidakadilan yang terjadi, buruh-buruh masih jauh dari 
kata sejahtera dan barangkali Karl Marx saat ini sedang meringis di kuburnya. 
Tapi apakah ia kalah? Tentu tidak. Ajaran, ideologi, gagasan, dan perjuangannya 
masih akan terus berlanjut dan mungkin tidak akan berakhir.“Let the ruling 
classes tremble  at  a communist  revolution. The ploretarians have  nothing to 
lose but their chains. They have a world to win.Working men of all countries, 
unite!”-Karl Marx Penulis: Rara Lubis, Mahasiswa Sastra Indonesia UAD

Kirim email ke