http://nasional.kompas.com/read/2018/01/31/13592891/presiden-jokowi-dipikir-saya-tidak-tahu-itu-
permainannya-apa
Presiden Jokowi: Dipikir Saya Tidak Tahu Itu
Permainannya Apa?
Ihsanuddin
Kompas.com - 31/01/2018, 13:59 WIB
Presiden Joko Widodo saat membuka raker Kemendag di Istana Negara,
Jakarta, Rabu (31/1/2018).
Presiden Joko Widodo saat membuka raker Kemendag di Istana Negara,
Jakarta, Rabu (31/1/2018).(KOMPAS.com/Ihsanuddin)
*JAKARTA, KOMPAS.com —* Presiden Joko Widodo meminta agar jajarannya
mempermudah impor untuk menunjang produksi dalam negeri.
Salah satu cara yang ditekankan Presiden adalah dengan mempermudah impor
bahan baku yang masuk kategori larangan terbatas.
"Saya sudah sampaikan ke Menko Perekonomian Pak Darmin Nasution. Saya
minta larangan terbatas dihilangkan, dikurangi," kata Jokowi
<http://indeks.kompas.com/tag/Jokowi> saat membuka rapat kerja
Kementerian Perdagangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu
(31/1/2018).
(Baca juga : Kesal Ekspor Minim, Jokowi Ancam Bubarkan ITPC
<http://nasional.kompas.com/read/2018/01/31/12243871/kesal-ekspor-minim-jokowi-ancam-bubarkan-itpc>)
Presiden mengatakan, saat ini larangan terbatas memang sudah dipangkas
dari 5.000 ke 2.200. Namun, ia menilai, jumlah tersebut masih terlalu
banyak dan bisa menghambat impor bahan baku.
"Itu kebanyakan. Itu apa sih? Dipikir saya tidak tahu itu buat apa?
Permainannya apa?" kata dia.
Jokowi meminta agar Kementerian Perdagangan mengecek setiap pasokan yang
ada di daerah.
(Baca juga: Presiden Jokowi Instruksikan Tak Ada Kenaikan Iuran BPJS
Kesehatan
<http://nasional.kompas.com/read/2018/01/31/11525501/presiden-jokowi-instruksikan-tak-ada-kenaikan-iuran-bpjs-kesehatan>)
Oleh karena itu, bisa diketahui wilayah mana saja yang sedang surplus
dan mana yang sedang kekurangan.
Dengan demikian, Kemendag bisa memiliki data mengenai rantai perdagangan
guna menjamin ketersediaan pasokan bagi industri.
"Suplai pasar terjaga juga menjamin ketersediaan industri. Jangan buat
regulasi yang justru industri teriak karena pasokan terhambat," kata dia.