Kalau begitu bolehlah direnung sejenak kata-kata Lenin tentang 

 tahapan tertinggi dari kapitalisme. Sebab, tahapan tertinggi itu 

 rupanya bukan lagi (menjadi) imperialis melainkan menyamai tuhan.

 

 Bayangkan, alam saja memberi segala isinya secara cuma-cuma, 

 lha kapitalisme malah menuntun untuk jadi penguasa endapan fosil, 

 baik minyak maupun emas. Dan sekarang melalui GMO mulai 

 memonopoli benih. Bisa-bisa kelak ketika jualan artificial intelligence
 mereka bakal seprimitif Firaun yang merasa dirinya dewa tuhan, hehehh...
 

 Begini-begini, Indonesia masih punya kewarasan ketika mencopot
 pasal benih dari UU Hak Cipta.

 

 --- jetaimemucho1@... wrote:


 
 Iya betul! Di kapitalisme tidak ada yang haram selama melahirkan keuntungan!!! 
Si Chan pun akhirnya sudah memperlihatkan bagaimana "sayangnya" dia dengan 
modal!!! Nggak boleh modal itu dirampas!! Dia tidak perduli dan tidak mampu 
melihat bahwa justru modal itulah asal penderitaan manusia.Yah, begitulah 
aturan di kapitalisme. siapa yang punya modal lebih besar, dialah yang akan 
memonopoli apa saja.
 
On Wednesday, January 31, 2018 6:03 PM, ajeg wrote:
Mengeruk keuntungan dari tragedi laboratorium semacam ini 

 bukan sesuatu yang diharamkan dalam kapitalisme. Ibaratnya, 

 selama para korban belum putus kepala, masih ada waktu untuk 

 menggaruk laba sampai ukuran ketip - itu pun kalau jumlah 

 korban cuma belasan orang ya nggak direken.


 

 Tragedi ilmiah seperti ini bukan pertamakali terjadi. Siapa yang 

 tidak tahu bencana thalidomide, misalnya. Atau obat-obatan 

 bermasalah yang harusnya ditarik dari peredaran tapi tetap dijual 

 ke negara-negara dunia ketiga demi menyelamatkan investasi.
 

 Begitu juga dengan bibit transgenik ini yang menimbulkan perdebatan 

 tentang dampak kesehatan bagi konsumen. Memang butuh waktu 

 (dan korban) untuk membuktikannya. Tetapi kalau Monsanto betul 

 adalah pelopor revolusi bahan pangan tentu tidak takut untuk 

 mempertanggungjawabkan produknya. Sebaliknya, terus memperjuangkan 

 "ideologi" revolusinya seperti yang dilakukannya di Indonesia 

 dengan menyuapi pejabat sejak 1997 hingga protes besar-besaran 

 saat Megawati menggusur Gus Dur.
 


 Faktanya, Monsanto malah menjual dirinya kepada Bayer. Artinya, 

 segala akibat yang timbul dari racikan GMO di kemudian hari

 bukanlah tanggungjawab Monsanto. Karena Monsanto telah merevisi
 dirinya menjadi revolusioner kekayaan yang berideologi duit.


 

 --- jetaimemucho1@... wrote:

 

 benar sekali, bung ajeg. Harusnya Pemerintah justru menolak bioteknologi 
pangan. Dengan semakin besarnya monopoli Monsanto dan Dupont dalam bidang 
pertanian-pangan, banyak jenis tanaman asli yang hilang. Adalah kebohongan 
bahwa tanaman transgenik/bioteknologi pangan akan menyelesaikan masalah pangan 
/kelaparan di dunia. Lagi-lagi itu hanya untuk memuluskan multinasional untuk 
mendapatkan super ganancia!!!







 

 On Wednesday, January 31, 2018 6:46 AM, ajeg wrote:
 

 Indonesia belum secara resmi melarang penggunaan bibit

 kedele transgenik, tetapi masyarakat khususnya petani

 menolak pengadaannya. Yang menarik, penolakan saat menjelang

 berakhirnya kekuasaan Orba itu bersamaan dengan polemik

 RUU Hak Cipta yang dikhawatirkan hanya melindungi hak

 pengusaha / perusahaan.
 

 Setelah Soeharto lengser, Monsanto & Dupont semakin galak

 memaksakan bisnisnya di Indonesia sehingga masyarakat tak mau

 kalah galak menolaknya. Protes besar-besaran terjadi setelah

 Gus Dur dijatuhkan. Berbarengan dengan protes besar di Eropa.

 Petani Sumatra dan Jawa menolak bibit GMO apa pun, bukan

 cuma kedele transgenik. Monsanto lalu lari ke Sulawesi.
 

 Di sana kedele transgenik sempat dicoba. Hasilnya, bikin petani

 geram. Aktivis, ekonom, politisi, dan kaum nasionalis (kecuali PDIP),

 juga ikut marah karena selain tumbuhan GMO ini merusak unsur

 tanah, rakus menyedot unsur yang dibutuhkan tumbuhan lain, bisnis

 pengadaan bibit yang dimonopoli Monsanto maupun Dupont jelas

 melabrak UUD'45 dan demokrasi.
 

 Nah, ketika 2014 PDIP kembali menguasai istana, isu transgenik ini
 mulai dihembuskan lagi. Caranya macam-macam. Antara lain

 melalui berbagai pembahasan serta seminar "ilmiah" tentang biotek,

 sampai-sampai di rakornas kemarin kadingaren bu ketum tiba-tiba

 pidato soal iptek. Minta presiden menaikkan anggaran riset.
 

 Seminar yang diberitakan di bawah ini termasuk. Seolah-olah ilmiah 

 dengan mengundang 3 profesor doktor sekaligus untuk blabla

 soal biotek yang memukau. Padahal bagi yang tahu tentu nyengir

 karena ketiga profesor itu dikenal sebagai pendukung pertanian

 transgenik.
 

 Jadi tidak salah kalau ada yang menilai pembahasan atau seminar-seminar

 "ilmiah" seperti ini sebenarnya cuma iklan dan para pembicaranya

 adalah jurkam pemodal, setidaknya dimanfaatkan, untuk merayu awam

 dengan mantra-mantra "ilmiah".
 

 Ini yang belum banyak disadari, profesor doktor di Indonesia semua

 pinter di bidangnya, tapi kebanyakan hidup di menara gading.
 

 --- djiekh@... wrote:
 

 Bung karma,
Di Bioteknologi diajarkan teknik2 :

 1. Fermentasi dengan menggunakan bakteri, jamur. Kalau ini

 sudah lama dipakai dan dianggap aman seperti pembuatan 

 tempe,alcohol, keju, MSG, Ribotiden dll.

 2. Enzym (biokatalisator) seperti dalam pembuatan keju, High Fructose Sugar.

 3. Yang masih ditakutkan dan tidak dikehendaki di beberapa negeri adalah

 dengan rekayasa genetik dengan recombinant DNA. Di Amerika kedelainya

 hasil rekayasa genetik. Diimport oleh Indonesia, dibikin tahu, tempe, kecap.

 Tetapi rupanya tanam kedele dengan bibit hasil rekayasa genetik dilarang 

 di Indonesia ?

 Waktu saya masih kerja, Unilever tidak menggunakan bahan GMO (Genetic Modified

 Organism), dan suppliernya harus membuat pernyataan kalau produknya tidak

 mengandung GMO

 Salam,

 Djie
 

 2018-01-30 1:23 GMT+01:00 'Karma, I Nengah :

 Ini sebenarnya ide yang  sangat bagus, karena bisa meningkatkan pendapat 
petani sampai 20 %

 Mungkin sama seperti di teknologi nano perminyakan bisa meningkatkan produksi 
minyak sampai 20%

 20 % itu lumayan bisa membantu petani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

 Bayangkan jika penghasilan petani diseluruh indonesia mancapai 200 triliun 
berarti peningkatan penghasilan petani kurang lebih  400 miliyar
 

 Sangat permitif sekali jika para petani masih menjual hasil taninya dalam 
bentuk alami.

 Hasil pertaniannya mesti diolah dan difermetasi terlebih dulu dijadikan kecap, 
tempe, kripik, yogut, peyek dll sehingga akan meningkatkan hasil taninya
 
From: Sunny ambon
 

 Bisa dianggap oleh mereka yang menyatakan diri sebagai pemegang kunci pintu 
gerbang taman Firdaus bahwa bioteknologi adalah ilmu sihir dan oleh sebab itu 
haram karena dapat merubah apa yang telah diciptakanNya.
 
http://www.suarakarya.id/detail/54427/Pemerintah-Masih-Setengah-Hati-Terapkan-Bioteknologi-Pangan
 http://www.suarakarya.id/ detail/54427/Pemerintah-Masih- 
Setengah-Hati-Terapkan- Bioteknologi-Pangan 
http://www.suarakarya.id/detail/54427/Pemerintah-Masih-Setengah-Hati-Terapkan-Bioteknologi-Pangan

 

 Pemerintah Masih Setengah Hati Terapkan Bioteknologi Pangan

 

 Seminar bioteknologi pangan di Jakarta, Senin (29/1/2018). (foto: laksito)
 

 JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah sepertinya masih setengah hati untuk 
mengembangkan bioteknologi bidang pertanian. Padahal, teknologi tersebut dapat 
menggenjot produksi pangan nasional sehingga kebergantungan terhadap impor bisa 
ditekan.
 

 Anggapan bahwa bioteknologi tanaman atau hasil produk rekayasa genetik pada 
tanaman tidak aman bagi kesehatan dan lingkungan, masih menjadi ganjalan untuk 
diterapkan di Indonesia.

 

 "Produknya kita makan saban hari, tapi penerapannya dilarang, kan nggak masuk 
akal sebenarnya," ujar  pakar tanaman pangan Bayu Krisnamurthi, dalam Seminar 
Refleksi san Masa Depan Bioteknologi Pertanian dalam Mendukung Kedaulatan 
Pangan Indonesia, di Hotel Mercure Jakarta, Senin (29/1/2018).

 

 Seminar yang diinisiasi IndoBIC bersama PBPI, Seameo Biotrop dan ISAAA in, 
juga menghadirkan Prof Dr Agus Pakpahan, Prod Dr Antonius Suwanto, dan Prof Dr 
Bambang Purwantara.

 

 Bayu mengungkapkan, bioteknologi pangan sebenarnya sudah ada sejak ratusan 
tahun lalu. Di indonesia sudah ditemukan dalam produk tempe, tahu, jamu, roti, 
anggur, keju.

 

 Sedikitnya 28 negara di dunia sangat intensif menerapkan bioteknologi tanaman 
pada areal seluas 180 juta hektare.

 

 "Nilai ekonomisnya luar biasa, mencapai 604,4 miliar dolar AS. Di Filipina 
saja ada 812.000 hektare yang ditanami hasil bioteknologi pertanian.. India 
menargetkan nilai tambah ekonomi sebesar 100 miliar dolar AS pada tahun 2025 
dari biotek ini," papar Bayu.

 

 Sejak 2010, bioteknologi pangan sudah diterapkan di banyak negara, dan akan 
menjadi tren. "Artinya bisnis biotek akan menguntungkan, jika telah menguasai 
riset, teknologi, dan infrastrukturnya," ujarnya.

 

 Laporan International Service for Acquisition Agri-biotech Application (ISAAA) 
 selama 21 tahun terkahir, bioteknologi tanaman telah mengurangi dampak 
lingkungan pertanian secara signifikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di 28 
negara di mana teknologi tersebut diadopsi.

 

 Juga terjadi peningkatan 110 kali lipat adopsi tanaman biotek secara global 
dalam kurun waktu 21 tahun terakhir sejak dikomersialkan, dari 1,7 juta hektare 
(tahin 1996) menjadi 185,1 juta hektare di tahun 2016.

 

 "Secara umum biotek telah meningkatkan pendapatan lebih dari 22 persen, 
mwngurangi pestisida lebih dari 37 persen,  serta meningkatkan pendapatan 
bersih petani 68 persen," ujar Agus Pakpahan.

 

 Merujuk hasil penelitian Graham Brookes, Bayu Krisnamurthi mengungkapkan bahwa 
bioteknologi tanaman telah mengurangi emisi gas rumah kaca dan mampu 
mempwrtahan lebih banyak karbon di dalam tanah.

 

 “Teknologi pertanian yang inovatif berkontribusi dalam melestarikan sumber 
daya alam dengan menanam lebih banyak tanaman bermutu tinggi. Aplikasi tersebut 
membantu mengurangi angka kemiskinan di negara-negara berkembang sebanyak 16,5 
juta petani kecil,” ujarnya.

 

 Direktur Indonesian Biotecnology Information Centre (IndoBIC), Bambang 
Purwantara menambahkan ada banyak faktor mengapa bioteknologi pertanian di 
Indonesia tidak berkembang, salah satunya pada regulasi serta implementasi. 
Padahal, apabila kebijakan ini telah lama dikembangkan, pendapatan petani 
Indonesia akan meningkat. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi saat ini 
yang mana pendapatan petani terus merosot tajam, tak sebanding dengan biaya 
yang dikeluarkan untuk produksi.

 

 Menurutnya, persoalan krusial yang melanda pertanian di Indonesia saat ini 
meliputi penurunan jumlah petani dan percepatan laju alih fungsi lahan. Karena 
itu, dia menyarankan perlunya upaya lain pada sektor pertanian yang lebif 
efektif dan efisien. Bila tidak, pemerintah tak akan mampu mengimbangi 
pertumbuhan populasi penduduk dengan pasokan pangan nasional.

 

 "Indonesia, sekitar 65 persen penduduk miskinnya ada di desa dan dari jumlah 
itu, sekitar 60 persen adalah petani. Ini harus diakhiri dengan pertanian 
inovatif,” ujar Bambang. ***
 

 

















Kirim email ke