Whenthe working class is in power

 
OÜ: You’ve justaddressed the fundamental difference between the capitalist 
approach and Mao’ssocialist approach to the problem of how to increase 
production. I think thisdifference is deeply rooted in the theory of knowledge. 
Epistemologicalfoundations of the Maoist approach, which assumes labouring 
people possess theknowledge of social reality particularly since they directly 
take part inproduction process, and the capitalist approach, which advocates 
permanentreproduction of the distinction between intellectual and manual labor, 
aretotally different. I imagine this unique epistemological stance of Maoism 
isalso what led to the Up to the Mountains and Down to the Countryside 
Movement.Educated youths were sent down to the countryside or workplaces to 
learn fromthe real masters of the knowledge, i.e. workers and peasants. You 
alsoparticipated in manual labor at that time. What did you learn from 
yourexperiences? Do you really think that Mao’s approach was valid?


 
Andabaru saja membahas perbedaan mendasar antara pendekatan kapitalis dan 
pendekatansosialis Mao terhadap masalah bagaimana meningkatkan produksi. Saya 
pikirperbedaan ini berakar kuat dalam teori pengetahuan. Landasan epistemologis 
daripendekatan Maois, yang mengasumsikan orang-orang yang bekerja 
memilikipengetahuan tentang realitas sosial terutama karena mereka secara 
langsungberperan dalam proses produksi, sangat berbeda dengan pendekatan 
kapitalis,yang mendukung reproduksi permanen dari perbedaan antara kerja 
intelektual dankerja manual. Saya membayangkan sikap epistemologis unik dari 
Maoisme ini jugayang melahirkan gerakan naik gunung dan turun ke pedesaan. Para 
pemuda yangberpendidikan dikirim ke pedesaan atau tempat kerja untuk belajar 
pada tuanpengetahuan yang sebenarnya, yaitu kaum buruh dan kaum tani. Anda juga 
ikut kerjamanual pada saat itu. Pelajaran apa yang anda tarik dari pengalaman 
itu? ApakahAnda benar-benar berpikir bahwa pendekatan Mao itu valid?


 
FE: Yes, of course.But the main thing is: In capitalism, the goal of production 
is different. Forexample, the improvement in farming equipment is not usually 
made by engineerssitting in the office and designing machines. It is quite 
often the farmers whofind faults in the machinery. U.S. farmers, for example, 
have little workshopsin their farms. They modify the machinery there. Machine 
dealers come in, seeit, steal the idea and perfect it. But knowledge, of 
course, comes frompractice; that is the source of all ideas. Capitalist 
intellectuals andengineers can refine that knowledge, and of course, workers in 
the factorywithout formal education may not be able to theorize it that well. 
But in thelast analysis, the accumulated practices of workers is the primary 
source ofknowledge.


 
Yatentu saja. Namun yang terpenting adalah: Dalam kapitalisme, tujuan 
produksiberbeda. Misalnya, perbaikan dalam peralatan pertanian biasanya tidak 
dilakukanoleh para insinyur yang duduk di kantor dan merancang mesin. 
Seringkali petaniyang menemukan kesalahan pada mesin. Petani A.S., misalnya, 
memiliki sedikitbengkel di peternakan mereka. Mereka memodifikasi mesin di 
sana. Dealer mesindatang, melihat, mencuri ide dan menyempurnakannya. Tapi 
pengetahuan tentu sajaberasal dari praktek; itulah sumber semua gagasan. Para 
intelektual daninsinyur kapitalis dapat memperbaiki pengetahuan itu, dan tentu 
saja, paraburuh di pabrik tanpa pendidikan formal mungkin tidak dapat berteori 
denganbaik. Namun dalam analisis terakhir, praktik buruh yang terakumulasi 
merupakansumber pengetahuan utama.

That’s exactly why Mao advocatedintellectualization of workers and 
participation of intellectuals in manualwork. Combining these two was very 
important. Yes, a theory of knowledge is oneaspect of this. But my own work 
experience in the U.S. and in China duringMao’s period showed me that the most 
striking point is the goal of production.In the US, we, as workers, try not to 
make any technological improvementsuggestions for the management in fear of 
losing our jobs. I mean, you can makea suggestion that can make production very 
efficient and just because of thissomeone may lose his job. So workers quite 
often sabotage the machinery and theproduction process, because they are not on 
the same side with the managers;when push comes to the shove, they are on the 
opposite side. Capitalists alwayssay “we’re all in the same boat.” Of course, 
if company goes bankrupt workerswill lose their jobs, their wages. From that 
perspective, yes, we’re “in thesame boat!” But you know what: we’re going to 
lose our jobs first beforecapitalists lose their money. When they say “we’re 
bankrupt” it means theydon’t have excess, but they can still survive.

Itulah mengapa Mao menganjurkanintelektualisasi kaum buruh dan partisipasi kaum 
intelektual dalam pekerjaanmanual. Menggabungkan keduanya sangat penting. Ya, 
teori pengetahuan adalahsalah satu aspeknya. Tapi pengalaman kerja saya sendiri 
di A.S. dan di Tiongkokselama periode Mao menunjukkan kepada saya bahwa yang 
paling mencolok adalahtujuan produksi. Di AS, kami, sebagai buruh, mencoba 
untuk tidak membuat saranperbaikan teknologi untuk manajemen karena takut 
kehilangan pekerjaan kami.Maksud saya, Anda bisa membuat saran yang bisa 
membuat produksi sangat efisiendan hanya karena ini seseorang bisa kehilangan 
pekerjaannya. Jadi kaum buruh  sering menyabot mesin dan proses produksi,karena 
mereka tidak berada pada sisi yang sama dengan para manajer; ketikakeadaan 
menjadi buruk, mereka berada di sisi yang berlawanan. Kaum kapitalis 
selalubilang "kita semua berada dalam perahu yang sama." Tentu saja, 
jikaperusahaan bangkrut, buruh akan kehilangan pekerjaan dan upah mereka. 
Dariperspektif itu, iya, kita "berada dalam perahu yang sama!" Tapi Andatahu : 
kita akan kehilangan pekerjaan kita terlebih dahulu sebelum kaumkapitalis 
kehilangan uangnya. Ketika mereka berkata "kita bangkrut"itu berarti mereka 
tidak memiliki kelebihan, tapi mereka tetap bisa bertahan.

In Mao’s China, however, the goal ofproduction was totally different. Leaders 
could not dock your wage or fire you.Workers could just yell back if the 
manager asked him to do something that hethought was not right. I mean, of 
course, there were some discipline measures,but the perception was people in a 
workplace were doing things together.Leaders were in charge of giving 
directions for what to do, but thesedirections had to be reasonable for 
workers. If a leader was just sitting inthe office, sipping his tea, reading 
his newspaper and telling workers what todo, you could just tell him: “Walk out 
there and come here! Work with us!”Workers had a right to do so. Who would 
become the leader was also subject toworkers’ approval. Not in the sense of 
electoral politics maybe, but if workersdemanded to replace the leader and if 
their demand was not accepted by themanagement, they could go on strike or 
slowdown. So anybody wanted to beeffective had to get the consent from the 
workers. Again: Here, the key wasthat leaders could not fire the workers or 
dock their pay. So if I want to leadyou, I cannot force you. I can only lead 
you by consent and reason. That’s thebasic difference between capitalist mode 
of production and socialism! This, ofcourse, was a source of motivation for 
people to contribute to the improvementof production process. I remember 
workers making many suggestions. People hadvery different opinions of how to 
handle the things. Sometimes, like during theCultural Revolution, two factions 
became so antagonistic to each other thatthey even went into armed conflict in 
some places.. But that’s another story,anyway.

Di Tiongkoknya Mao, tujuan produksi samasekali berbeda. Pemimpin tidak bisa 
mengurangi upahmu atau memecat kamu.Pekerja bisa saja berteriak balik jika 
manajer memintanya melakukan sesuatuyang menurutnya tidak tepat. Maksud saya, 
tentu saja, ada beberapa ukurandisiplin, tapi persepsinya adalah orang di 
tempat kerja melakukan sesuatubersama-sama. Pemimpin bertanggung jawab untuk 
memberi arahan tentang apa yangharus dilakukan, namun petunjuk ini harus masuk 
akal bagi pekerja. Jika seorangpemimpin hanya duduk di kantor, minum tehnya, 
membaca korannya dan memberi tahupekerja apa yang harus dilakukan, Anda bisa 
bilang sama dia: "Keluar darisitu  dan datang kesini! Bekerjalahdengan kami! 
Pekerja punya hak untuk berbuat begitu. Siapa yang akan menjadipemimpin juga 
tunduk pada persetujuan para pekerja. Bukannya dalam arti politikelektoral 
mungkin, tapi jika pekerja menuntut untuk mengganti pemimpinnya danjika 
permintaan mereka tidak diterima oleh manajemen, mereka bisa mogok 
ataumelambatkan produksi. Jadi, siapa pun yang ingin efektif harus 
mendapatpersetujuan dari para pekerja. Sekali lagi: Di ​​sini, kuncinyaadalah 
bahwa para pemimpin tidak dapat memecat pekerja atau mengurangi gajimereka. 
Jadi jika saya ingin memimpin Anda, saya tidak bisa memaksa Anda. Sayahanya 
bisa menuntun Anda dengan persetujuan anda dan alasan. Itulah 
perbedaanmendasarantara cara produksi kapitalis dan cara produksi sosialis! Ini 
tentu sajamerupakan sumber motivasi kepada masyarakat untuk berkontribusi 
padapeningkatan proses produksi. Saya ingat para buruh mengajukan banyak 
saran.Orang punya pendapat yang sangat berbeda tentang bagaimana menangani 
hal-halitu. Kadang-kadang, seperti pada Revolusi Kebudayaan, dua faksi menjadi 
sangatantagonis sehingga mereka bahkan mengalami konflik bersenjata di 
beberapatempat. Tapi itu cerita lain.

Some people say, in Mao’s era, theworking class was never in power. I reject 
this. The fact that there werefactional fights and a degree of armed conflict 
precisely demonstrates that theworking class was in power. Without the working 
class being in power, it wouldnot be possible for grassroots organizations to 
fight over how to run afactory. Yes, factional fighting is not good, and it was 
the most devastatingthing for the working class. But it also proves that in 
Mao’s era the workingclass was in power. That’s the irony of history.

Ada orang yang berkata di jaman Mao, kelaspekerja tidak pernah berkuasa. Saya 
menolak pernyataan itu. Kenyataan bahwa adaperkelahian faksi dan konflik 
bersenjata justru menunjukkan bahwa kelas pekerjaberkuasa. Tanpa kelas pekerja 
yang berkuasa, tidak mungkin organisasi akarrumput berkelahi tentang bagaimana 
menjalankan pabrik. Ya, betul, pertarunganfaksi tidak baik, dan itu adalah hal 
yang paling menghancurkan bagi kelasburuh. Tapi itu juga membuktikan bahwa di 
jaman Mao kelas pekerja berkuasa. Itulahironi sejarah.

OÜ: Did you directlyobserve factional struggles when you worked in your factory?


 
Apakahanda langsung menyaksikan perjuangan antar faksi ketika bekerja di pabrik?


 
FE: Not in myfactory, no. But we heard many stories about violent fights. When 
I went to acoal mine at the beginning of the Cultural Revolution, there were 
arguments.There was no fistfight maybe, but conservative factions defending the 
mineleadership and rebel factions criticizing it were all writing big 
characterposters, holding demonstrations, organizing rallies… We went to a lot 
ofrallies too.


 
Tidakdi pabrik saya. Tapi kami dengar banyak cerita tentang pertarungan 
sengit.Ketika saya pergi ke sebuah tambang batu bara pada awal RBKP, 
terjadiperdebatan. Mungkin tidak ada baku hantam, tapi faksi konservatif yang 
membelapimpinan tambang dan faksi pemberontak yang mengkritik sama-sama menulis 
posterberhuruf besar, melakukan demonstrasi, mengorganisasi pawai… Kami ikut 
sertajuga dalam banyak pawai.

In Mao’s China, the working class was the masterof society. So, when there is a 
lot of different opinions among workers, howare you gonna resolve that? This 
was the key issue. Today, people always talkabout “democracy.” In many cases, 
that is a lie! Active, day-to-day democracywas exercised in Mao’s China! For 
heaven’s sake, tell me: People were gettinginto arguments, even getting into 
fistfights to defend what they think wasright! If this is not the working class 
in power, tell me what it is?

Di jaman Mao, kelas buruh adalah tuan dalammasyarakat. Jadi, ketika terjadi 
banyak perbedaan pendapat di kalangan kaumburuh, bagaimana kamu 
menyelesaikannya? Ini adalah isu paling penting. Dewasaini, orang selalu bicara 
tentang “demokrasi”. Dalam banyak kasus, itu bohong!Demokrasi sehari-hari yang 
aktif  ada dandilakukan di Tiongkoknya Mao! Demi Tuhan, coba katakanpada saya: 
Orang berdebat , bahkan sampai baku hantam untuk membela apa yang mereka anggap 
benar! Jika inibukan kelas pekerja yang berkuasa, lalu apa itu?

(bersambung)

Kirim email ke