Biar jungkir balik majuin export, kalo mutu dan harganya kalah dibawah negara2 
tsb. yang di-iri-kan, ya sia2 saja. Majukan dulu mutunya, baru ajukan 
penawaran. Konsumen sih liat mutu dan harga.
 Saya ngomong gini karena memang saya lihat barang2 kebutuhan se-hari2 yang 
dijual di pasar2 USA kalah dalam hal mutu dan harga dibanding Vietnam, India, 
Mexico dll.
 

 Juga politik perlu. Apa Jokowi juga sudah optimal dekati negara2 luar buat 
kasih kuota lebih ke Indonesia? 
 Pasar paling bagus mungkin USA, kok USA malah dimusuhi demi Palestina. 
 Negur yang dianggap ga becus kerja ya penting, tapi harus mau koreksi diri 
dulu juga.
 

 


---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :

 Dibawah ini grafik export Indonesia dalam 10 tahun terakhir diambil dari 
Trading Econimic, Jokowi naik tahta October 2014 dari grafik terlihat ekspor 
turun terus sampai 2016 dipaling bawah untuk kemudian naik lagi sampai 
sekarang. Enggartiasto Lukita jadi Menteri Perdaganan sejak pertengahan 2016, 
melihat grafik dibawah Lukita berhasil meningkatkan ekspor cukup significant. 
Sebenarnya tanggung jawab apa yang diminta Jokowi? Asal bunyi?
 

 


 

 

 ---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 Ekspor Indonesia kalah dengan tetangga, Presiden minta Kemendag tanggungjawab  
Rabu, 31 Januari 2018 11:40 WIB
    Presiden Joko Widodo. (ANTARA /Puspa Perwitasari)

 Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo menyindir dan menyebut ada yang 
salah dengan ekspor Indonesia karena masih kalah dengan negara tetangga di 
ASEAN.

Presiden menyebut ekspor Indonesia pada 2017 mencapai 145 miliar dolar AS masih 
kalah dengan Thailand yang mencapai 231 miliar dolar As, Malaysia 184 miliar 
dolar dan Vietnam yang mencapai 160 miliar dolar. 

"Negara sebesar ini kalah dengan Thailand. Dengan resources dan SDM yang sangat 
besar, kita kalah. Ini ada yang keliru dan harus ada yang diubah," kata 
Presiden saat pidato pembukaan rapat kerja Kementerian Perdagangan 2018 di 
Istana Negara Jakarta, Rabu.

Menurut Presiden, ini semua tanggung jawab Kementerian Perdagangan untuk 
meningkatkan ekspor Indonesia. "Ini tanggung jawab saudara sekalian," kata 
Jokowi.

Presiden menyebut ada kekeliruan yang harus dibenahi sehingga ekspor Indonesia 
tidak kalah dengan negara-negara tetangga yang jumlah penduduk dan sumber 
dayanya masih dibawah Indonesia.

Jokowi juga menyebut Indonesia terlalu monoton dan mengurus pasar tradisonal 
saja dan tidak mau membuka pasar baru.

"Kita nggak lihat Pakistan yang penduduknya 270 juta dibiarkan dan tidak 
diurus. Bangladesh misalnya penduduknya tidak kecil, 160 juta ini pasar besar 
meski sudah surplus tapi angkanya terlalu kecil. Afrika tidak pernah kita 
tengok, bahkan ada expo di sana kita tidak ikut. Kesalahan seperti ini yang 
rutin dan tidak pernah diperbaiki," ungkap Presiden.

Jokowi mengingatkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk melakukan 
evaluasi dan apa yang harus dilakukan dalam meningkatkan ekspor Indonesia.

"Setelah pembukaan (Raker) tolong Pak Menteri secara detail dievaluasi dan apa 
yang harus dilakukan. Jangan raker tapi tidak memunculkan sesuatu yang baru dan 
tidak memunculkan ide baru, gagasan baru agar kita bisa bersaing dengan negara 
lain," katanya.

Presiden di awal pidatonya juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya 
didorong oleh dua hal, yakni investasi dan ekspor.

"Sudah berulang kali saya sampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuncinya ada dua. 
Bagaimana kita bisa meningkatkan investasi dan meningkatkan ekspor, hanya itu 
ngak ada yang lain. Oleh sebab itu Kementerian Perdagangan sangat berperan 
sekali terutama di satu hal ekspor," kata Presiden.

Dalam pembukaan rapat kerja Kemendag ini beberapa menteri dan kepala lembaga 
hadir, diantaranya Menko Perekonomian Darmin Nasution, Mendag Enggartiasto 
Lukita, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal (Pol) Tito 
Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko. 
 Pewarta: Joko Susilo
Editor: Unggul Tri Ratomo






 



Kirim email ke