From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Thursday, February 1, 2018 2:36 AM
  



https://www.antaranews.com/berita/682200/presiden-minta-perjanjian-perdagangan-bebas-segera-direalisasikan


Presiden minta perjanjian 

perdagangan bebas segera direalisasikan
Rabu, 31 Januari 2018 23:21 WIB


 
Presiden Joko Widodo. (ANTARANews/Joko Susilo)

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo meminta agar perjanjian 
perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) antara Indonesia dengan 
sejumlah negara bisa segera direalisasikan.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung setelah rapat terbatas bertema peningkatan 
investasi dan peningkatan ekspor yang dipimpin Presiden Jokowi di Kantor 
Presiden Jakarta, Rabu, mengatakan Presiden telah meminta sejumlah jajarannya 
untuk segera merampungkan proses perundingan FTA dengan sejumlah negara.

"Diperintahkan ke Mendag, Menko Perekonomian untuk FTA dan PTA segera 
diselesaikan. Free trade agreement-nya segera diselesaikan," katanya.

Hal itu terutama untuk FTA dengan negara-negara seperti Uni Eropa, Amerika, dan 
Australia. 

Selain soal FTA, Presiden Jokowi juga memerintahkan kepada seluruh menteri 
untuk melakukan deregulasi peraturan terkait investasi dan ekspor.

"Intinya adalah menyederhanakan semua aturan yang berkaitan dengan investasi 
dan ekspor," kata Pramono.

Selama ini, dinilai masih terlalu banyak persoalan yang ada di Indonesia 
terkait regulasi yang justru membuat Indonesia tidak fleksibel dalam hal 
investasi dan ekspor.

"Hal ini membuat kita tidak fleksibel dalam hal yang berkaitan dengan investasi 
dan ekspor," katanya.

Oleh karena itulah, beberapa langkah dilakukan di antaranya dengan menetapkan 
kebijakan untuk menyederhanakan tata niaga melalui pergeseran pengawasan 
ketentuan Larangan dan/atau Pembatasan (Lartas) dari "border" ke "post border".

Kebijakan ini bertujuan mendorong daya saing industri yang butuh bahan baku 
impor, daya saing ekspor dan efisiensi kebutuhan konsumsi, dimana pemerintah 
menerapkan kebijakan baru di perbatasan yang terkait dengan pintu masuk barang 
impor.

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018






Kirim email ke