Belum Sembuh, Novel Baswedan Ingin Cepat Berjuang Berantas Korupsi
KAMIS, 01 FEB 2018 11:59 | EDITOR : KUSWANDI





 
Novel Baswedan saat diwawancarai Jawa Pos di Singapura beberapa waktu lalu. 
(Imam Husein/Jawa Pos)


Berita Terkait
  a.. KPK Perpanjang Penahanan Dokter Bimanesh Sutarjo
   
  b.. Usai Ditetapkan Tersangka, Zumi Zola Dicegah ke Luar Negeri
   
  c.. Ditetapkan Tersangka, Bupati Halmahera Timur Terancam 20 Tahun 
PenjaraJawaPos.com - Perkembangan pengobatan mata penyidik senior Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan masih jauh panggang dari api. Sebab, 
operasi besar tahap 2 yang rencananya dilakukan akhir bulan ini urung 
terealisasi seiring progress negatif pertumbuhan selaput mata kiri Novel.

”Masih lambat tumbuhnya,” kata Novel kepada Jawa Pos kemarin (01/02).

Lebih parahnya lagi, dokter mata rumah sakit di Singapura yang menangani 
pengobatan suami Rina Emilda itu tidak bisa berbuat banyak. Kecuali menunggu 
pertumbuhan positif selaput mata kiri penyidik andalan KPK tersebut.

 
Gedung KPK Merah Putih (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)



Kondisi itu pun membuat harapan Novel kembali beraktivitas di KPK harus 
dipendam sementara. ”Sepertinya operasinya memang masih perlu waktu lama,” 
ujarnya.

Lantas apa yang membuat pertumbuhan selaput mata kiri Novel tak kunjung 
membaik? Novel mengatakan hal itu disebabkan lantaran tingkat kerusakan mata 
yang cukup parah. Tidak stabilnya kondisi kesehatan mata juga mempengaruhi 
pertumbuhan selaput buatan itu. ”Suplemen (mata) dan sebagainya juga tidak 
banyak pengaruh (memaksimalkan pertumbuhan selaput, Red),” tuturnya.

Terpisah, menanggapi lambannya pertumbuhan selaput mata kiri Novel, Ketua PP 
Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak berharap akan ada keajaiban, 
sehingga mantan Kasatreskrim Polresta Bengkulu tersebut bisa pulih kembali 
kesehatan matanya.

Dengan lebih cepat sembuh, diharapkan Novel bisa lebih cepat pulang dan kembali 
bekerja sesuai dengan keinginannya. Karena dia pesimistis terhadap pengusutan 
kasusnya.

“Iya, Novel sudah pesimis dengan upaya polisi mau menuntaskan kasus ini. 
Makanya dia fokus pada upaya penyembuhan matanya. Dia ingin segera kembali 
bertugas di KPK untuk membantu perjuangan lawan korupsi,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, Novel mendapat teror siraman air keras pada 11 April 
2017 atau 9 bulan yang lalu. Akibat penyerangan itu, Novel harus dirawat di 
rumah sakit mata di Singapura.

Selama tinggal di negara Singa itu, biaya hidup Novel tidak mendapat bantuan 
pemerintah. Hanya biaya pengobatan yang ditanggung negara. Dengan begitu, 
semakin lama dia tinggal di Singapura, biaya hidup juga semakin membengkak..

Meski demikian, Novel masih bisa membaca tulisan. Hanya, aktivitas itu harus 
dibantu hard lens yang dipasang di mata kanan. Dengan begitu, penyidik 
kelahiran Semarang itu masih bisa berkomunikasi via telepon dan berkirim pesan 
singkat melalui aplikasi WhatsApp (WA). ”Kalau itu (membaca) masih sama,” 
ungkap bapak 5 anak itu.

(tyo/ipp/JPC)

Kirim email ke