Banyak orang melongo dan kagum atas “keberhasilan” dan angka 
pertumbuhan“Sosialisme a la Deng Xiaoping”. Apalagi para renegad-remo 
pendukungnya,kontan  mengejek pembangunan sosialis dibawah pimpinan Mao sebagai 
“pemerataan kemiskinan”, seolah-olah pada jaman Maotidak ada pertumbuhan. Sudah 
tentu pemujaan terhadap kapitalisme Deng danperemehan terhadap hasil sosialisme 
tidak didasari sebuah studi ataupenelitian. Dihadapan penelitan yang serius, 
mereka diam seribu bahasa. Sepertimisalnya, penelitan prof. Wertheim yang 
menulis “Secarakeseluruhan, apakah model Mao dari permulaan tahun 60-an 
menghasilkan kemajuandalam perkembangan desa? Yang paling mengesankan adalah 
jawaban yang kamiterima ketika kami tanya dalam periode yang mana 
diambilinisiatif penting dalam Komune Rakyat atau Brigade. Dalam 
jawaban-nya,mereka selalu memilih tahun-tahun yang justru jatuh dalam periode 
10 tahun yangmereka katakan ”hilang” itu, yang menurut kader-kader Peking, 
periode di mana”the gang of four” berkuasa, mulai dibangun atau diperbesar 
bendungan-bendunganatau bangunan penyimpanan air”. ”Bahkan di Komune yang 
kurang makmurpun,Stiefel dan saya tidak  berhasilmelihat  ”10 tahun yang 
hilang” itu.

Nah, sekarang Fred Engst mengajukan hasil penelitiannya yang 
membandingkanpersentase pertumbuhan produksi baja (jaman Mao 10,1, RBKP 8,1 dan 
jaman Deng9,5), produksi batu bara (Mao 13,2 RBKP11,1, Deng 8,8) dan 
seterusnya. Hanyadalam produks textil, Deng mencapai pertumbuhan lebih tinggi. 
Sebaliknya dalamjumlah anak-anak yang masuk pendidikan menengah atas, pada 
jaman Mao dan RBKPjauh lebih tinggi dari pada jaman Deng. Dalam mengukur angka 
GDP, Fred Engstjuga menjelaskan perbedaan penghitungan pada jaman Mao dan jaman 
Deng; padajaman Mao, sektor jasa/ pelayanan tidak dihitung!

Jadi apa yang kelihatannya seperti ”miracle” pada jaman Deng bukanlahsesuatu 
yang luar biasa, apalagi kalau kita mau dengan jujur mengakui Dengmenggunakan 
PENGHISAPAN atas rakyatnya sendiri dan juga rakyat negeri-negeridunia ketiga 
dan penjarahan kekayaan alam negeri orang lain. Faktor ini SAMASEKALI tidak 
pernah disentuh oleh para pendukung Remo.


 
Fred Engst meyinggung juga kemajuan pesat ekonomi dan militer Soviet Unidi 
bawah Stalin. Bahkan J.E. Davies, DubesAS ketika itu, dalam kesempatan bertemu 
dengan Stalin,  berkata hampirseluruh pabrik industri berat sudah 
dikunjunginya. Begitu juga perkembangan hydrauliknya.Iamenyatakan kekagumannya 
karena semua hasilluar biasa itu dicapai hanya dalam waktu 10 tahun. 
Selanjutnya, Davies berkatabahwa sejarah akan mencatat sukses dan orang yang 
memimpin keberhasilan ituakan tercatat sebagai pembangun negeri lebih besar 
dari pada Peter the Greatatau Catherina.


 
Si Chan, karena tidak bisa membantah keberhasilan Soviet Unie dalammengusir 
fasisme, pernah ikut-ikut memuji Stalin. Tapi itu pujian yang munafikdan 
pencerminan oportunismenya. Karena, dia juga menyalahkan Stalin yang diaanggap 
orang yang menghentikan NEP. Dan itu dia anggap salah! Ini kan 
kontradiktif!!Justru karena Stalin menghentikan NEP, karena menganggap ekonomi 
sudah mulaijalan lagi, dan melaksanakan kolektivisasi di pertanianlah, maka 
ekonomi Sovietmulai melejit!! Kalau memang menghentikan NEP itu SALAH, 
pembangunan ekonomidan militer Soviet tidak mungkin bisa melejit maju!! Makanya 
saya bilang si Chanitu oportunis dan munafik! Bukannya orang tidak boleh 
mengkritik Stalin atauLenin atau Mao!!! Soalnya adalah APA yang dia kritik!! 
Yang dia kritik justrukebijakan yang TEPAT  dan dibuktikan olehPRAKTEK telah 
berhasil!!! Seperti juga dengan Lenin yang mengecam orang-orangsosdem dan 
revisionis Eropa barat yang mengatakan Rusia belum ada syarat untuk 
melancarkanrevolusi dan membangun sosialisme. Karena tidak mampu membantah 
Lenin, Chanpakai alasan, bukan karena Lenin yang mengatakan, lantas orang harus 
percaya.Tapi soalnya adalah apa yang dikatakan Lenin telah dibuktikan dalam 
praktek!! Tapibagi Chan, Lenin itu SALAH! Revolusi Oktober terlalu awal 
memukulkapitalisme!!! Kalau gitu, ngapain Chan ikut-ikut puji Lenin, kalau 
karya terbesarnya,yaitu revolusi oktober dia anggap salah!! Mana mungkin di 
satu pihak memujitapi bersamaan dengan itu menghujat karya terbesarnya yang 
mengguncangkandunia!!! Apa nggak jelas kelihatan munafik dan oportunisnya???


 
Chan tidak mampu mengapresiasi bahwa baik di Tkk maupun di Soviet Unie,ketika 
masalah agraria diselesaikan melalui kolektivisasi, di Tkk dengan komunerakyat 
dan di Soviet Unie melalui kolkhoz, rakyat lebih tinggi lagi semangatnyauntuk 
membangun sosialisme, karena merasa BEBAS dan MENJADI TUAN DI TANAHAIRNYA 
SENDIRI!!! Orang remo dan pro-kapitalisme dan pro penghisapan TIDAK AKANPERNAH 
MENGERTI DAN MENERIMA kenyataan ini!!!

Thereal “Chinese miracle” was socialism


 
OÜ: In post-Mao era,socialism was somehow reduced to economic development or 
simply GDP growth inChinese official discourse. As we know, for Mao, socialism 
was much more thanthat. What he had in mind as gradual transition to classless 
society was also aprocess of establishing direct democracy of the toilers. So 
my question is: wasthis really the case in Maoist China?


 
Diera pasca-Mao, sosialisme  tereduksimenjadi pembangunan ekonomi atau 
pertumbuhan PDB dalam wacana resmi Tiongkok.kita tahu, bagi Mao, sosialisme 
lebih jauh dari pada itu. Apa yang ada dalampikirannya saat transisi bertahap 
ke masyarakat tanpa kelas juga merupakanproses membangun demokrasi langsung d 
kaum pekerja.  Pertanyaan saya adalah: apakah ini benarterjadi di Tiongkok 
Maois ?


 
FE: Of course.Defenders of Mao-era policies can dwell on the democratic aspect 
of them. Butwe should not fail to counter the total misconception of the 
capitalists whosay economic growth is faster in the post-Mao era. That is 
utterly untrue! Inthe last few months, I looked through data from the National 
Bureau ofStatistics of China (NBSC) to compare the growth rates. Yes, GDP is 
onemeasurement. But instead of using GDP, I measured grain production, 
clothproduction, railroad transportation, power generation, coal production and 
someother basic components of economic growth. To my astonishment, other than 
clothproduction and the GDP figure the speed of industrial development during 
Mao’sera was much higher than the development during Deng’s era. The truth is 
GDPwas non-existent during Mao’s era and was fabricated by later officials. 
Also,in Mao’s era, service sector was not counted!


 
Tentusaja. Pembela kebijakan era Mao dapat bicara banyak tentang aspek 
demokratiknya.Tapi kita harus melawan pengertian salah total dari kaum 
kapitalis yangmengatakan pertumbuhan ekonomi  di jamansetelah Mao/pasca-Mao 
lebih cepat . Itu sama sekali tidak benar!Dalam beberapa bulan terakhir, saya 
melihat-lihat data dari Biro StatistikNasional China (NBSC) untuk membandingkan 
tingkat pertumbuhan. Ya memang GDPadalah satu ukuran. Tapi alih-alih 
menggunakan PDB, saya mengukur produksigandum, produksi kain, transportasi 
kereta api, pembangkit listrik, produksibatubara dan beberapa komponen dasar 
dari pertumbuhan ekonomi lainnya. Yangmengherankan saya, selain produksi kain 
dan angka PDB, kecepatanperkembangan industri pada jaman Mao jauh lebih tinggi 
daripada  selama jaman Deng. Kenyataannya adalahPDB tidak ada selama jaman Mao, 
ia dibuat oleh pejabat yang kemudian. Juga, dijaman Mao, sektor jasa tidak 
dihitung!

In Mao’s era, we had dormitories,cafeteria, nursery, libraries, trade school 
and so on in a factory. All thesethings are not counted as a part of GDP. But 
when you break them up, they allstart to contribute to GDP. So, when this fact 
is taken into consideration, itcan be seen that even during the supposedly 
“chaotic” last ten years of Mao’sera, the speed of development was faster than 
or at least equal to the speed ofdevelopment in post-Mao era. Here are the 
facts (see Table 1).

 Di jaman Mao, dalamsebuah pabrik terdapat asrama, kafetaria, klinik, 
perpustakaan, sekolah perdagangandan sebagainya. Semua ini tidak dihitung 
sebagai bagian dari PDB. Tapi saatsemua itu dihancurkan,  semuanya 
mulaidimasukkan dalam PDB. Jadi, ketika fakta ini dipertimbangkan, dapat 
dilihatbahwa bahkan selama masa sepuluh tahun Mao yang dikatakan "kacau" 
itu,kecepatan pembangunan lebih cepat  atausetidak-tidaknya sama dengan 
kecepatan pembangunan di era pasca-Mao.  Inilah faktanya (lihat Tabel 1).


|  Period \ Growth Rate %

  |  Steel

  |  Coal

  |  Electric

  |  Freight

  |  Auto

  |  High School Enrollment

  |  Grain

  |  Cloth

  |  GDP

  |
|  Mao’s Era (1952-1976)

  |  10.1

  |  6.9

  |  13.2

  |  6.7

  |  22.0

  |  17.3

  |  2.5

  |  3.3

  |  5.8

  |
|  Cultural Revolution

 (1966-1976)

  |  8.1

  |  8.7

  |  11.1

  |  7.3

  |  16.5

  |  33.1

  |  7.0

  |  2.8

  |  6.0

  |
|  Post-Mao Era (1977-2015)

  |  9.6

  |  5.3

  |  8.8

  |  3.7

  |  14.3

  |  2.5

  |  4.1

  |  5.9

  |  14.9

  |

In my analysis, I did not usepotentially misleading measures like “gross 
output.” I just looked at how muchcloth was produced, how much steel was 
produced, how much power was generated,etc. These kinds of measures run no risk 
being double-counted. I also excludeddata for 1949–1951 to account for the 
devastation caused by the Revolution—anecessary period of recovery for Mao. So, 
I took data from 1952 to 1976, andthen compared that with Deng’s period and 
beyond. Results are astonishing.While talking about Mao’s period, most people 
just say the people weresacrificed. This is empty talk, nothing more. Only by 
making people the mastersof society can you have such rapid economic 
development!

Dalam analisis saya, saya tidak menggunakanukuran yang berpotensi menyesatkan 
seperti "output kotor." Saya hanyamelihat berapa banyak kain yang diproduksi, 
berapa banyak baja yang diproduksi,berapa banyak tenaga listrik yang 
dihasilkan, dll. Ukuran semacam ini tidak menimbulkanrisiko dihitung dua kali. 
Saya juga mengecualikan data  tahun 1949-1951 untuk menjelaskan kehancuranyang 
disebabkan oleh Revolusi - periode pemulihan yang diperlukan Mao. Jadi,saya 
mengambil data dari tahun 1952 sampai 1976, dan kemudian membandingkannyadengan 
periode Deng dan seterusnya. Hasilnya menakjubkan. Saat berbicaratentang masa 
Mao, kebanyakan orang hanya bilang rakyat dikorbankan.. Iniomong kosong, tidak 
lebih dari itu!!. Hanya dengan membuat rakyat menjadi tuandalam masyarakat, 
Anda bisa melahirkan perkembangan ekonomi yang begitu pesat!

Comparedto other economically underdeveloped countries like India or Brazil, 
the recenteconomic development of China under capitalism is also very fast. 
This cannotbe denied. That’s why people keep talking about the “Chinese 
miracle” today.But the thing is economic development under socialism is faster. 
Note a simplefact in the history: after Soviets crushed the reactionaries in 
the Civil War, from1921 to 1941, Russia went from a backward industrial society 
on the outskirtsof Europe to a highly industrialized super-power. A span of 
twentyyears immediately after a devastating war. Compared to the Soviet 
Union,what happened to China in the last 40 years was nothing. Like in the 
SovietUnion, socialism achieved a remarkable economic success in Mao’s China. 
So itis a fallacy that the economic growth was sacrificed during Mao’s period 
tomake people feel better. This is not true.


 
Dibandingkandengan negeri-negeri ekonomi terbelakang lainnya seperti India atau 
Brazil,perkembangan ekonomi Tiongkok akhir-akhir ini di bawah kapitalisme juga 
sangatcepat. Ini tidak bisa dipungkiri. Itulah mengapa orang sekarang ini terus 
berbicaratentang "keajaiban Tiongkok". Tapi masalahnya adalah 
perkembanganekonomi di bawah sosialisme lebih cepat. Perhatikan sebuah fakta 
sederhanadalam sejarah: setelah Soviet menghancurkan kaum reaksioner dalam 
PerangSipil, dari tahun 1921 sampai 1941, Rusia beralih dari masyarakat 
industriterbelakang di pinggiran Eropa menuju kekuatan super industri. Dalam 
jangkawaktu dua puluh tahun segera setelah perang yang 
menghancurkan.Dibandingkan dengan Uni Soviet, apa yang terjadi dengan Tiongkok 
dalam 40 tahunterakhir ini bukanlah apa-apa. Seperti di Uni Soviet, sosialisme 
mencapaisukses ekonomi yang luar biasa di Tiongkoknya Mao. Jadi, merupakan 
satukesalahan kalau orang bilang bahwa selama periode Mao pertumbuhan 
ekonomidikorbankan, untuk membuat orang merasa lebih baik. Itu tidak benar.

Moreover, in Mao’s China not only thedevelopment of production was much faster 
in the post-Mao era, but also peoplehad gained the belief that they were the 
masters of society. That was the veryreason for the 1989 crackdown. People went 
out into the street in massivenumbers to protest because they thought the 
government belonged to them. Thiswas the spirit of the Cultural Revolution! 
However, this very basic fact aboutthe uprising has been totally ignored by the 
mainstream scholars.

Apalagi di Tiongkoknya Mao tidak hanyaperkembangan produksinya yang jauh lebih 
cepat dari pada di jaman pasca-Mao,tapi juga rakyat  mendapatkan 
kepercayaanbahwa mereka adalah tuan dalam masyarakat. Itulah alasan untuk 
tindakan penindasanpada 1989. Orang-orang keluar ke jalan dalam jumlah besar 
untuk melakukanprotes karena mereka mengira pemerintah adalah milik mereka. 
Itulah semangatRevolusi Kebudayaan! Namun, fakta mendasar tentang pemberontakan 
ini samasekali diabaikan oleh kebanyakan para ilmuwan yang berdominasi


(bersambung)
 
  • [GELORA45] wawancara den... Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45]

Kirim email ke