Tak ada yang perlu didiskusikan dengan laporan Fred ini, ... entah darimana dia 
bisa dapatkan statistik perbandingan masa Mao sampoai masa Deng yng dinyatakan 
“pertumbuhan produksi baja (jaman Mao 10,1, RBKP 8,1 dan jaman Deng 9,5), 
produksi batu bara (Mao 13,2 RBKP11,1, Deng 8,8) dan seterusnya. Hanya dalam 
produks textil, Deng mencapai pertumbuhan lebih tinggi.”

Seandainya saja betul begitu, bgaimana bisa RRT bangun infrastruktur, khususnya 
KA-Cepat begitu cepat dan luasnya, bagaimana ekspor baja RRT mendesak dan 
menjadi ancaman bagi baja negara2 Eropah, terutama Inggris sampai berteirak??? 
Sedang masalah jumlah anak sekolah menengah dijaman Deng menurun, itu mungkin 
ada betulnya, hanya saja Fred tidak menyimpulkan itu akibat pembatasan anak 
tunggal, sedang dimasa RBKP juga tidak dijelaskan semua sekolah lebih 5-6 tahun 
BERHENTI total!

Hanya orang yang otaknya sudah tidak bisa melihat kenyataan-kenyataan yang 
terjadi masih bisa percaya propagandan macam Fred Engst ini, ... sampai 
diperlukan terjemahkan dalam bhs. Indonesia! Dasar kengangguran yg tidak lagi 
tahu apa yang harus dikerjakan lebih baik, ...



From: Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45] 
Sent: Monday, February 5, 2018 2:01 AM
To: Yahoogroups ; Daeng ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry Singgih ; Farida 
Ishaja ; Gol ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; in...@ozemail.com.au ; 
Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; da...@telia.com ; Sie Tik Tan ; 
Sahala Silalahi ; Tjoa ; Andreas Sungkono ; GELORA_In ; Nunu Nugroho 
Subject: [GELORA45] wawancara dengan Fred Engst (5)

  

Banyak orang melongo dan kagum atas “keberhasilan” dan angka pertumbuhan 
“Sosialisme a la Deng Xiaoping”. Apalagi para renegad-remo pendukungnya, kontan 
 mengejek pembangunan sosialis di bawah pimpinan Mao sebagai “pemerataan 
kemiskinan”, seolah-olah pada jaman Mao tidak ada pertumbuhan. Sudah tentu 
pemujaan terhadap kapitalisme Deng dan peremehan terhadap hasil sosialisme 
tidak didasari sebuah studi atau penelitian. Dihadapan penelitan yang serius, 
mereka diam seribu bahasa. Seperti misalnya, penelitan prof. Wertheim yang 
menulis “Secara keseluruhan, apakah model Mao dari permulaan tahun 60-an 
menghasilkan kemajuan dalam perkembangan desa? Yang paling mengesankan adalah 
jawaban yang kami terima ketika kami tanya dalam periode yang mana diambil 
inisiatif penting dalam Komune Rakyat atau Brigade. Dalam jawaban-nya, mereka 
selalu memilih tahun-tahun yang justru jatuh dalam periode 10 tahun yang mereka 
katakan ”hilang” itu, yang menurut kader-kader Peking, periode di mana ”the 
gang of four” berkuasa, mulai dibangun atau diperbesar bendungan-bendungan atau 
bangunan penyimpanan air”. ”Bahkan di Komune yang kurang makmurpun, Stiefel dan 
saya tidak  berhasil melihat  ”10 tahun yang hilang” itu.
Nah, sekarang Fred Engst mengajukan hasil penelitiannya yang membandingkan 
persentase pertumbuhan produksi baja (jaman Mao 10,1, RBKP 8,1 dan jaman Deng 
9,5), produksi batu bara (Mao 13,2 RBKP11,1, Deng 8,8) dan seterusnya. Hanya 
dalam produks textil, Deng mencapai pertumbuhan lebih tinggi. Sebaliknya dalam 
jumlah anak-anak yang masuk pendidikan menengah atas, pada jaman Mao dan RBKP 
jauh lebih tinggi dari pada jaman Deng. Dalam mengukur angka GDP, Fred Engst 
juga menjelaskan perbedaan penghitungan pada jaman Mao dan jaman Deng; pada 
jaman Mao, sektor jasa/ pelayanan tidak dihitung!
Jadi apa yang kelihatannya seperti ”miracle” pada jaman Deng bukanlah sesuatu 
yang luar biasa, apalagi kalau kita mau dengan jujur mengakui Deng menggunakan 
PENGHISAPAN atas rakyatnya sendiri dan juga rakyat negeri-negeri dunia ketiga 
dan penjarahan kekayaan alam negeri orang lain. Faktor ini SAMA SEKALI tidak 
pernah disentuh oleh para pendukung Remo.
Fred Engst meyinggung juga kemajuan pesat ekonomi dan militer Soviet Uni di 
bawah Stalin. Bahkan J.E. Davies, Dubes AS ketika itu, dalam kesempatan bertemu 
dengan Stalin,  berkata hampir seluruh pabrik industri berat sudah 
dikunjunginya. Begitu juga perkembangan hydrauliknya. Ia menyatakan 
kekagumannya karena semua hasil luar biasa itu dicapai hanya dalam waktu 10 
tahun. Selanjutnya, Davies berkata bahwa sejarah akan mencatat sukses dan orang 
yang memimpin keberhasilan itu akan tercatat sebagai pembangun negeri lebih 
besar dari pada Peter the Great atau Catherina. 
Si Chan, karena tidak bisa membantah keberhasilan Soviet Unie dalam mengusir 
fasisme, pernah ikut-ikut memuji Stalin. Tapi itu pujian yang munafik dan 
pencerminan oportunismenya. Karena, dia juga menyalahkan Stalin yang dia anggap 
orang yang menghentikan NEP. Dan itu dia anggap salah! Ini kan kontradiktif!! 
Justru karena Stalin menghentikan NEP, karena menganggap ekonomi sudah mulai 
jalan lagi, dan melaksanakan kolektivisasi di pertanianlah, maka ekonomi Soviet 
mulai melejit!! Kalau memang menghentikan NEP itu SALAH, pembangunan ekonomi 
dan militer Soviet tidak mungkin bisa melejit maju!! Makanya saya bilang si 
Chan itu oportunis dan munafik! Bukannya orang tidak boleh mengkritik Stalin 
atau Lenin atau Mao!!! Soalnya adalah APA yang dia kritik!! Yang dia kritik 
justru kebijakan yang TEPAT  dan dibuktikan oleh PRAKTEK telah berhasil!!! 
Seperti juga dengan Lenin yang mengecam orang-orang sosdem dan revisionis Eropa 
barat yang mengatakan Rusia belum ada syarat untuk melancarkan revolusi dan 
membangun sosialisme. Karena tidak mampu membantah Lenin, Chan pakai alasan, 
bukan karena Lenin yang mengatakan, lantas orang harus percaya. Tapi soalnya 
adalah apa yang dikatakan Lenin telah dibuktikan dalam praktek!! Tapi bagi 
Chan, Lenin itu SALAH! Revolusi Oktober terlalu awal memukul kapitalisme!!! 
Kalau gitu, ngapain Chan ikut-ikut puji Lenin, kalau karya terbesarnya, yaitu 
revolusi oktober dia anggap salah!! Mana mungkin di satu pihak memuji tapi 
bersamaan dengan itu menghujat karya terbesarnya yang mengguncangkan dunia!!! 
Apa nggak jelas kelihatan munafik dan oportunisnya???
Chan tidak mampu mengapresiasi bahwa baik di Tkk maupun di Soviet Unie, ketika 
masalah agraria diselesaikan melalui kolektivisasi, di Tkk dengan komune rakyat 
dan di Soviet Unie melalui kolkhoz, rakyat lebih tinggi lagi semangatnya untuk 
membangun sosialisme, karena merasa BEBAS dan MENJADI TUAN DI TANAH AIRNYA 
SENDIRI!!! Orang remo dan pro-kapitalisme dan pro penghisapan TIDAK AKAN PERNAH 
MENGERTI DAN MENERIMA kenyataan ini!!!
The real “Chinese miracle” was socialism
OÜ: In post-Mao era, socialism was somehow reduced to economic development or 
simply GDP growth in Chinese official discourse. As we know, for Mao, socialism 
was much more than that. What he had in mind as gradual transition to classless 
society was also a process of establishing direct democracy of the toilers. So 
my question is: was this really the case in Maoist China?
Di era pasca-Mao, sosialisme  tereduksi menjadi pembangunan ekonomi atau 
pertumbuhan PDB dalam wacana resmi Tiongkok. kita tahu, bagi Mao, sosialisme 
lebih jauh dari pada itu. Apa yang ada dalam pikirannya saat transisi bertahap 
ke masyarakat tanpa kelas juga merupakan proses membangun demokrasi langsung d 
kaum pekerja.  Pertanyaan saya adalah: apakah ini benar terjadi di Tiongkok 
Maois ?
FE: Of course. Defenders of Mao-era policies can dwell on the democratic aspect 
of them. But we should not fail to counter the total misconception of the 
capitalists who say economic growth is faster in the post-Mao era. That is 
utterly untrue! In the last few months, I looked through data from the National 
Bureau of Statistics of China (NBSC) to compare the growth rates. Yes, GDP is 
one measurement. But instead of using GDP, I measured grain production, cloth 
production, railroad transportation, power generation, coal production and some 
other basic components of economic growth. To my astonishment, other than cloth 
production and the GDP figure the speed of industrial development during Mao’s 
era was much higher than the development during Deng’s era. The truth is GDP 
was non-existent during Mao’s era and was fabricated by later officials. Also, 
in Mao’s era, service sector was not counted!
Tentu saja. Pembela kebijakan era Mao dapat bicara banyak tentang aspek 
demokratiknya. Tapi kita harus melawan pengertian salah total dari kaum 
kapitalis yang mengatakan pertumbuhan ekonomi  di jaman setelah Mao/pasca-Mao 
lebih cepat . Itu sama sekali tidak benar! Dalam beberapa bulan terakhir, saya 
melihat-lihat data dari Biro Statistik Nasional China (NBSC) untuk 
membandingkan tingkat pertumbuhan. Ya memang GDP adalah satu ukuran. Tapi 
alih-alih menggunakan PDB, saya mengukur produksi gandum, produksi kain, 
transportasi kereta api, pembangkit listrik, produksi batubara dan beberapa 
komponen dasar dari pertumbuhan ekonomi lainnya. Yang mengherankan saya, selain 
produksi kain dan angka PDB, kecepatan perkembangan industri pada jaman Mao 
jauh lebih tinggi daripada  selama jaman Deng. Kenyataannya adalah PDB tidak 
ada selama jaman Mao, ia dibuat oleh pejabat yang kemudian. Juga, di jaman Mao, 
sektor jasa tidak dihitung!
In Mao’s era, we had dormitories, cafeteria, nursery, libraries, trade school 
and so on in a factory. All these things are not counted as a part of GDP. But 
when you break them up, they all start to contribute to GDP. So, when this fact 
is taken into consideration, it can be seen that even during the supposedly 
“chaotic” last ten years of Mao’s era, the speed of development was faster than 
or at least equal to the speed of development in post-Mao era. Here are the 
facts (see Table 1).
Di jaman Mao, dalam sebuah pabrik terdapat asrama, kafetaria, klinik, 
perpustakaan, sekolah perdagangan dan sebagainya. Semua ini tidak dihitung 
sebagai bagian dari PDB. Tapi saat semua itu dihancurkan,  semuanya mulai 
dimasukkan dalam PDB. Jadi, ketika fakta ini dipertimbangkan, dapat dilihat 
bahwa bahkan selama masa sepuluh tahun Mao yang dikatakan "kacau" itu, 
kecepatan pembangunan lebih cepat  atau setidak-tidaknya sama dengan kecepatan 
pembangunan di era pasca-Mao.  Inilah faktanya (lihat Tabel 1).
      Period \ Growth Rate % Steel Coal Electric Freight Auto High School 
Enrollment Grain Cloth GDP 
      Mao’s Era (1952-1976) 10.1 6.9 13.2 6.7 22.0 17.3 2.5 3.3 5.8 
      Cultural Revolution
      (1966-1976) 8.1 8.7 11.1 7.3 16.5 33.1 7.0 2.8 6.0 
      Post-Mao Era (1977-2015) 9.6 5.3 8.8 3.7 14.3 2.5 4.1 5.9 14.9 

In my analysis, I did not use potentially misleading measures like “gross 
output.” I just looked at how much cloth was produced, how much steel was 
produced, how much power was generated, etc. These kinds of measures run no 
risk being double-counted. I also excluded data for 1949–1951 to account for 
the devastation caused by the Revolution—a necessary period of recovery for 
Mao. So, I took data from 1952 to 1976, and then compared that with Deng’s 
period and beyond. Results are astonishing. While talking about Mao’s period, 
most people just say the people were sacrificed. This is empty talk, nothing 
more. Only by making people the masters of society can you have such rapid 
economic development!
Dalam analisis saya, saya tidak menggunakan ukuran yang berpotensi menyesatkan 
seperti "output kotor." Saya hanya melihat berapa banyak kain yang diproduksi, 
berapa banyak baja yang diproduksi, berapa banyak tenaga listrik yang 
dihasilkan, dll. Ukuran semacam ini tidak menimbulkan risiko dihitung dua kali. 
Saya juga mengecualikan data  tahun 1949-1951 untuk menjelaskan kehancuran yang 
disebabkan oleh Revolusi - periode pemulihan yang diperlukan Mao. Jadi, saya 
mengambil data dari tahun 1952 sampai 1976, dan kemudian membandingkannya 
dengan periode Deng dan seterusnya. Hasilnya menakjubkan. Saat berbicara 
tentang masa Mao, kebanyakan orang hanya bilang rakyat dikorbankan. Ini omong 
kosong, tidak lebih dari itu!!. Hanya dengan membuat rakyat menjadi tuan dalam 
masyarakat, Anda bisa melahirkan perkembangan ekonomi yang begitu pesat!
Compared to other economically underdeveloped countries like India or Brazil, 
the recent economic development of China under capitalism is also very fast. 
This cannot be denied. That’s why people keep talking about the “Chinese 
miracle” today. But the thing is economic development under socialism is 
faster. Note a simple fact in the history: after Soviets crushed the 
reactionaries in the Civil War, from 1921 to 1941, Russia went from a backward 
industrial society on the outskirts of Europe to a highly industrialized 
super-power. A span of twenty years immediately after a devastating war. 
Compared to the Soviet Union, what happened to China in the last 40 years was 
nothing. Like in the Soviet Union, socialism achieved a remarkable economic 
success in Mao’s China. So it is a fallacy that the economic growth was 
sacrificed during Mao’s period to make people feel better. This is not true.
Dibandingkan dengan negeri-negeri ekonomi terbelakang lainnya seperti India 
atau Brazil, perkembangan ekonomi Tiongkok akhir-akhir ini di bawah kapitalisme 
juga sangat cepat. Ini tidak bisa dipungkiri. Itulah mengapa orang sekarang ini 
terus berbicara tentang "keajaiban Tiongkok". Tapi masalahnya adalah 
perkembangan ekonomi di bawah sosialisme lebih cepat. Perhatikan sebuah fakta 
sederhana dalam sejarah: setelah Soviet menghancurkan kaum reaksioner dalam 
Perang Sipil, dari tahun 1921 sampai 1941, Rusia beralih dari masyarakat 
industri terbelakang di pinggiran Eropa menuju kekuatan super industri. Dalam 
jangka waktu dua puluh tahun segera setelah perang yang menghancurkan. 
Dibandingkan dengan Uni Soviet, apa yang terjadi dengan Tiongkok dalam 40 tahun 
terakhir ini bukanlah apa-apa. Seperti di Uni Soviet, sosialisme mencapai 
sukses ekonomi yang luar biasa di Tiongkoknya Mao. Jadi, merupakan satu 
kesalahan kalau orang bilang bahwa selama periode Mao pertumbuhan ekonomi 
dikorbankan, untuk membuat orang merasa lebih baik. Itu tidak benar.
Moreover, in Mao’s China not only the development of production was much faster 
in the post-Mao era, but also people had gained the belief that they were the 
masters of society. That was the very reason for the 1989 crackdown. People 
went out into the street in massive numbers to protest because they thought the 
government belonged to them. This was the spirit of the Cultural Revolution! 
However, this very basic fact about the uprising has been totally ignored by 
the mainstream scholars.
Apalagi di Tiongkoknya Mao tidak hanya perkembangan produksinya yang jauh lebih 
cepat dari pada di jaman pasca-Mao, tapi juga rakyat  mendapatkan kepercayaan 
bahwa mereka adalah tuan dalam masyarakat. Itulah alasan untuk tindakan 
penindasan pada 1989. Orang-orang keluar ke jalan dalam jumlah besar untuk 
melakukan protes karena mereka mengira pemerintah adalah milik mereka. Itulah 
semangat Revolusi Kebudayaan! Namun, fakta mendasar tentang pemberontakan ini 
sama sekali diabaikan oleh kebanyakan para ilmuwan yang berdominasi


(bersambung)

Kirim email ke