Misteri “Buku Hitam” Setya NovantoAIMAN WITJAKSONO
Kompas.com - 05/02/2018, 09:09 WIB    
Terdakwa kasus korupsi pengadaan KTP elektronik Setya Novanto menjalani sidang 
lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (15/1). Sidang tersebut beragenda 
mendengarkan keterang saksi dari pegawai perusahan penukaran mata uang asing 
(money changer) yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum KPK. ANTARA 
FOTO/Hafidz Mubarak A/aww/18.(Hafidz Mubarak A)



DI beberapa media, penasihat hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail, mengungkapkan 
bahwa buku hitam yang mirip buku agenda tahun terbaru itu berisi catatan 
perjalanan sidang Setya Novanto.

Sayangnya tidak ditelusuri lebih lanjut, apakah catatan perjalanan sidang itu 
hanya berisi catatan saat sidang berlangsung atau ada analisa benang merah dari 
kasus korupsi besar KTP Elektronik yang menjerat Setya?

Selain buku hitam, Setya Novanto sepertinya punya juga "buku hitam" yang selama 
ini tak terungkap. Akankah ia mengungkap apa isi "buku hitam" yang ia simpan?

Baca: Takut Diintip Wartawan, Setya Novanto Sembunyikan Buku Catatan

Sebelum saya melanjutkan apa yang saya telusuri pada program AIMAN yang akan 
tayang pada Senin 5 Februari 2018, pukul 20.00 di KompasTV, saya ingin 
menginformasikan bahwa buku hitam Setya Novanto, setelah beberapa kali ditulis 
media, langsung berganti dengan tas hitam. Tetapi di dalamnya terdapat buku, 
seolah Setya tidak nyaman, bukunya di bahas media.

Saya mencoba mencari tahu apa yang dicatat Setya Novanto dalam bukunya itu. 
Beberapa kali mengamati gerak-gerik Setya dalam persidangan, ia kerap kali 
menulis catatan pada sebuah buku.

Saya mengonfirmasi hal ini kepada penasihat hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail. 
Kali ini Maqdir menjawab tidak tahu detail apa isi tulisan Setya Novanto.

Ia justru mengatakan kepada saya bahwa tidak pernah menanyakan dan membuka 
detail soal buku hitam yang selalu dibawa Novanto ke persidangan.

Satu isyarat yang diupayakan Setya Novanto adalah justice collaborator(JC) 
alias pembongkar kasus dari pelaku tindak pidana itu sendiri. Baca juga: 
Novanto Terus Berkelit, KPK Sulit Kabulkan Permohonan Justice Collaborator

Tiga hal berikutnya yang tampaknya juga diupayakan Setya adalah mengakui 
perbuatannya, bukan pelaku utama, dan selalu siap memberikan keterangan dan 
informasi di persidangan. 

Justice collaborator dalam hukum di Indonesia diatur dalam Surat Edaran 
Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana 
(whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (justice collaborators) di 
dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu (“SEMA 4/2011”).

Penyusunannya terinspirasi dari Pasal 37 Konvensi PBB Anti Korupsi. Pasal itu 
memberi keistimewaan berupa keringanan hukum bagi mereka yang memiliki semangat 
membongkar kasus korupsi.

Terancam hukuman seumur hidup

Ada dua pasal yang dikenakan pada Setya. Mantan Ketua DPR itu didakwa melanggar 
Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana 
telah diubah dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan 
Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara atau seumur hidup.



Andi Agustinus alias Andi Narogong bersaksi untuk terdakwa Setya Novanto di 
Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/1/2018).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN)

Sementara, Andi Agustinus alias Andi Narogong yang juga dikenai pasal yang sama 
dengan Setya Novanto diganjar hukuman 8 tahun penjara. Permohonan Andi menjadi 
justice collaborator diterima.

Tiga koruptor yang pernah divonis seumur hidup adalah Akil Mochtar, Brigjen 
Teddy Hernayadi, dan Adrian Woworuntu.

Akil adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. Teddy adalah mantan Direktur 
Keuangan Markas Besar TNI Angkatan Darat yang tersangkut kasus korupsi anggaran 
alutsista 2010-2014 berupa pembelian Jet Tempur F-16 dan Helikopter Apache. 
Sementara, Adrian adalah pembobol Bank BNI sebesar Rp 1,2 triliun rupiah.

Dalam kasus e-KTP negara dirugikan sebesar Rp 2,3 triliun. KPK dalam dakwaannya 
menyebut soal ancaman hukuman seumur hidup. Salah satu peluang bagi Setya untuk 
mengurangi hukuman adalah menjadi justice collaborator. Namun, hingga hari ini 
permohonan Setya belum dikabulkan. 

Pertanyaan selanjutnya yang dinanti publik adalah kapan isi “buku hitam” Setya 
akan diumumkan?

Dalam sidang sebelumnya, terungkap nama-nama besar di sekitar kasus ini. 
Akankah nama-nama itu muncul kembali? Atau, akankah ada sosok besar baru yang 
muncul di persidangan-persidangan selanjutnya?

Baca juga: Fakta Sidang Setya Novanto, dari Munculnya Nama SBY hingga Gamawan 
Fauzi

Menjadi justice collaborator sepertinya merupakan senjata pamungkas Setya dalam 
menghadapi kasusnya. Akankah permohonan Setya diterima dan hukumannya diperingan

Atau, bisa jadi hukuman Setya menjadi lebih berat karena ia menawarkan diri 
menjadi justice collaborator tapi tak semua informasi di “buku hitam”nya ia 
buka. Baca juga: Menurut Pengacara, Novanto Kantongi Nama Pihak Lain yang 
Terima Uang Proyek E-KTP

Saya Aiman Witjaksono…

Salam!

Kirim email ke