Selasa 06 Februari 2018, 05:39 WIB 
Paus Fransiskus Beri Erdogan Medali ‘Malaikat 
CekikSetan Perang’ Danu Damarjati – detikNews Kota Vatikan - Presiden Turki 
RecepTayyip Erdogan bertemu Paus Fransiskus. Di luar tempat pertemuan, 
polisimenghalau para pengunjuk rasa yang memprotes aksi Turki terhadap militan 
Kurdidi Suriah.

Dilansir AFP, Selasa (6/2/2018), pertemuan berlangsung di Kota Vatikan 
padaSenin (5/2) waktu setempat. Selama 50 menit pertemuan,Paus memberikan 
Erdogan medali yang berukir bentuk malaikat yang mencekik'setan perang'. Ini 
adalah simbol perdamaian dan keadilan.

Erdogan berharap bisa menyampaikan terima kasih ke Paus atas sikap Paus 
yangmelawan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump 
mengakuiYerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Kami mendukung status quo dan kami punya keinginan untuk melindungiitu," kata 
Erdogan dalam wawancara yang dipublikasikan Minggu kemarin.

Sementara itu saat pertemuan Paus dan Erdogan, sekelompok kecil anggota 
etnisKurdi memimpin protes yang menjadi bentrok melawan polisi. Lokasinya tak 
jauhdari Vatikan. Dua orang ditangkap polisi. Kunjungan Erdogan inimerupakan 
kali pertama yang dilakukan pemimpin Turki selama 60 tahun terakhir.Mereka 
mendiskusikan perihak pengungsi dan situasi di Timur Tengah. 

"Juga soal referensi khusus yang terkait status Yerusalem," katapernyataan dari 
pihak Vatikan.

Sebelum Erdogan datang pada hari Minggu, otoritas Italia telah 
mengerahkan3..500 personel polisi dan melarang demonstrasi selama 24 jam. Namun 
itu takmenghentikan aksi protes yang dilakukan 30 orang dari asosiasi Kurdi di 
Italia.

Pada 20 Januari lalu, Turki meluncurkan operasi militer bertajuk 
'RantingZaitun' melawan milisi Kesatuan Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah (YPG). 
Ankaramelihat YPG sebagai kelompok teror yang mengancam teritorial Turki.

Militer Turki dan aliansi Ankara yang didukung pemberontak Suriah 
mencobamengusir YPG dari perbatasan barat di Afrin. Namun operasi Ranting 
Zaitunmenuai perlawanan sengit.

"Di Afrin, sebuah kejahatan kemanusiaan yang baru sedangberlangsung," kata 
asosiasi Kurdi.

"Setiap keluarga telah kehilangan dua atau tiga anak, namun apa 
salahorang-orang Kurdi? Inikah balasan dari perang melawan Daesh (ISIS)?," 
kataRasho Mohmad, warga Kurdi Suriah.

Mohmad berpendapat seharusnya Paus tak usah bertemu Erdogan. Orang 
Kurdimenganggap Erdogan sebagai pembunuh. 

(dnu/dnu)

Kirim email ke