*Bahaya di ambang pintu, maka oleh sebab itu TNI/Polri harus lebih banyak
dan lebih kokoh menguasi administrasi sipil. Untuk sementara hanya
purnamawirawan, karena mereka selain berpangkat tinggi juga pandai mengatur
baris-baris. hehehehehehe*

https://www.antaranews.com/berita/683992/panglima-tni-paparkan-tiga-ancaman-potensial-yang-harus-diwaspadai
Panglima TNI paparkan tiga ancaman potensial yang harus diwaspadai

Rabu, 7 Februari 2018 17:20 WIB

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. (ANTARA /Aprillio Akbar)

Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto
mengungkapkan ada tiga ancaman potensial yang patut diwaspadai, yakni
siber, biologis dan kesenjangan.

"Memasuki era distrupsi saat ini, ancaman potensial yang perlu dicermati
adalah ancaman siber, biologis dan kesenjangan. Ketiga ancaman tersebut
meski berbeda ranah, namun secara prinsip memiliki benang merah yang dapat
mengamplifikasi satu sama lain," kata Panglima TNI saat memberikan
pembekalan pada acara Rapat Kerja Gubernur Seluruh Indonesia di Hotel
Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu.

Menurut Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, ancaman kesenjangan yang merupakan
perpaduan dari inovasi disruptif pada bidang teknologi siber dan bidang
biologi, merupakan akar persoalan dari munculnya berbagai paham kekecewaan
yang berorientasi pada populisme, ekstremisme dan radikalisme.

"Semakin besar kesenjangan itu terjadi, akan semakin tumbuh subur berbagai
paham kekecewaan tersebut, yang berusaha mendeligitimasi kekuasaan
pemerintah yang sah melalui cara-cara yang cenderung bersifat
inkonstitusional," jelasnya dalam keterangan tertulisnya.

Panglima TNI menjelaskan bahwa perkembangan teknologi siber bisa
menciptakan lonewolf (sebutan pelaku aksi teror seorang diri). Dengan
kemajuan teknologi, sangat mudah mem-profilling seseorang. Kemudian orang
itu akan dibina secara online dan ancamannya menjadi lonewolf atau menjadi
serigala-serigala tunggal yang siap melakukan teror.

"Melalui jaringan teknologi itu, para lonewolf bisa merancang sendiri
senjata untuk melakukan aksi teror. Apalagi dengan perkembangan sekarang,
aktivisual intelejen bisa membuat apa pun. Ini adalah ancaman siber,"
ujarnya.

Berkaitan dengan ancaman tersebut, Panglima TNI memberikan contoh nyata
salah satunya adalah ancaman siber di media sosial yang telah digunakan
untuk mendistorsi dan mengeksploitasi berbagai isu kesenjangan dan
etnisitas terhadap Kejadian Luar Biasa Campak dan Gizi Buruk yang menimpa
masyarakat di Papua.

"Dengan distorsi permasalahan tersebut energi yang kita keluarkan justru
terkuras bukan untuk mencari esensi permasalahannya," katanya.

Dalam kesempatan itu, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) ini
menyampaikan tujuh strategi TNI dalam menghadapi berbagai ancaman ke depan.

Pertama, TNI menyadari bahwa kompleksitas permasalahan dan intensitasnya
telah begitu tinggi, sehingga pendekatan sektoral, termasuk yang melalui
pertahanan semata, akan membawa hasil yang kurang optimal.

Oleh karenanya, strategi TNI adalah selalu mengedepankan pendekatan
menyeluruh pemerintahan atau "a whole of government approach" dalam
mengatasi berbagai permasalahan yang mengganggu stabilitas nasional.

Kedua, mengingat dimensi ancaman pertahanan yang semakin majemuk, maka TNI
akan selalu mengedepankan kerja sama yang erat dengan pemangku kepentingan
keamanan lainnya, utamanya Kepolisian Republik Indonesia.

"Sinergi TNI-Polri di berbagai tingkatan dan lingkup penugasan, merupakan
kunci utama dalam berbagai upaya memelihara pertahanan keamanan negara,"
ujar mantan Irjen Kementerian Pertahanan ini.

Ketiga, pada konteks pembangunan kekuatannya, TNI sepenuhnya memahami bahwa
masih banyak sektor lain yang juga membutuhkan perhatian berupa daya dan
upaya bersifat ekonomis dari Pemerintah.

Untuk itu TNI akan sedapat mungkin selalu mensinkronkan pembangunan dan
gelar kekuatan yang dimiliki agar mengacu dengan pola pembangunan yang
dilakukan oleh Pemerintah. Hal ini bertujuan agar dicapai suatu tingkat
efisiensi dan efektifitas yang tinggi dalam pembangunan Nasional secara
keseluruhan.

Keempat, TNI menyadari bahwa ancaman dapat terjadi setiap saat tanpa
diduga, oleh karenanya TNI secara internal, baik melalui kekuatan terpusat
maupun kewilayahan, akan selalu berlatih dan menyiapkan diri dalam
menghadapi segala kontijensi yang terjadi.

Kelima, TNI mengidentifikasi bahwa permasalahan kesehatan merupakan salah
satu pemicu utama dari berkembangnya kesenjangan.

Oleh karena itu, lanjut dia, TNI akan selalu siap untuk mengerahkan aset
dan kemampuannya guna mendukung program Pemerintah dalam mengatasi masalah
kesehatan. Kedepannya, TNI akan mengerahkan Satuan Tugas Kesehatan yang
beroperasi sepanjang tahun di daerah-daerah yang ditengarai rentan
mengalami wabah penyakit dan gizi buruk serta kerawanan kesehatan lainnya
dalam rangka memitigasi masalah kesehatan sesuai dengan kebijakan
Pemerintah.

Keenam, TNI dengan kemampuan pembinaan teritorial, pembinaan potensi
maritim dan pembinaan potensi dirgantara akan selalu hadir di tengah
masyarakat dan berusaha menciptakan kondisi yang kondusif melalui cara-cara
yang persuasif, sekaligus melaksanakan deteksi dini, cegah dini, temu cepat
dan lapor cepat.

Ketujuh, kata Hadi, TNI memahami sebenuhnya hakikat dirinya sebagai tentara
rakyat yakni tentara yang berasal dari rakyat dan untuk rakyat. Konsekuensi
logis hal tersebut adalah TNI harus menjunjung tinggi kepentingan rakyat,
yang dalam hal ini direpresentasikan oleh kekuasaan-kekuasaan negara dalam
kerangka konstitusional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

"Oleh karenanya, dalam mengemban tugasnya TNI harus menjadi suatu institusi
negara yang netral dan tidak berafiliasi dengan kepentingan golongan
politik manapun," tuturnya.

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Suryanto

Kirim email ke