Sekarang ini, ketika masyarakat luas sedang disibukkan dengan adanya kebangkitan nasionalisme kanan atau "populisme kanan", dipihak lain kita juga sedang saksikan tuntutan semakin kuat dari lapisan luas dalam masyarakat tentang perlunya meningkatkan perjuangan demi tegaknya keadilan sosial.
Perkembangan sistem kapitalisme dunia ketingkat Neoliberalisme saat ini sedang terus mengakibatkan terjadinya ketimpangan yg semakin tajam dibidang pembagian kekayaan yg tidak adil, sehingga pada sebagian besar penduduk terjadi kemiskinan (tepatnya pemiskinan), sedang kekayaan melimpah semakin tertumpuk hanya pada sebagian kecil penduduk dunia. Karena itu, pembahasan tema penting tentang 'ketidakadilan pembagian kekayaan' perlu dilakukan untuk mencari jalan keluar atau terobosan alternativ dari hiruk pikuk "perdebatan isu SARA" atau topik ttg "politik identitas", yg sengaja sedang terus digunakan oleh pihak elite yang sudah mapan (baik secara ekonomi maupun politk) untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah pokok yang sebenarnya, yaitu masalah ketidakadilan pembagian kekayaan, yang bersumber pada sistem penghisapan oleh manusia atas manusia lainnya. Sehubungan dengan tema tentang ketidakadilan pembagian kekayaan, terlampir dibawah saya forward Cfp (imbauan mengirim tulisan) untuk dimuat di majalah 'südostasien'. Salam, Arif Harsana ============================= call for paper untuk majalah 'südostasien' edisi 1/2018 Redaksi: [email protected] Tema: Kekayaan Ketidakadilan dalam pembagian kekayaan berakibat munculnya ketimpangan, pada satu sisi terjadi kemiskinan dan pada sisi lain bertumpuknya kekayaan. Ketidakadilan pembagian kekayaan dalam sistem kapitalisme global masih terus berlangsung dan terus berkembang. Hal ini adalah suatu kenyataan yang tidak terbantahkan, dan dapat dibaca pada koefisien gini. Semakin tinggi koefisien gini , dari skala 0 sampai 1, berarti semakin tidak meratanya tingkat pembagian pendapatan. Dan tidak satupun negara-negara ASEAN memiliki pembagian kekayaan yang bisa dinilai berkeadilan. Satu contoh : Di Indonesia jumlah kekayaan 4 orang terkaya sama dengan jumlah kekayaan 100 juta orang termiskin. Di Asia Tenggara diperkirakan, sekitar 15 persen penduduk untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, hanya bisa berpenghasilan kurang dari 2 dollar perhari. Dan fakta seperti itulah yang selalu dikeluhkan para politikus pada setiap pidatonya. Media massa pun ikut-ikutan berkeluh kesah, dalam kaitan perjuangan melawan kemiskinan. Selama ini jarang ada pihak yang mau mengungkap tentang siapa yang diuntungkan dengan ketidakadilan pembagian kekayaan ini. Karenanya, tema kekayaan akan menjadi tema pokok pada terbitan majalah 'südostasien' berikutnya. Bukan tentang kekayaan alam (walau atas dasar perampasannya, sering terbentuknya kekayaan material seseorang) yang akan dibahas; tetapi tentang kekayaan sebagian orang, yang oleh majalah Forbes daftar nama-namanya dipajang secara reguler. Untuk Jerman, dari penelitian tentang kekayaan diketahui, bahwa orang super kaya kebanyakan adalah dari kaum lelaki, kerap berasal dari keluarga kaya dan memiliki relasi paling baik dengan orang yang berpengaruh dalam masyarakat dan yang memegang kendali dibidang politik. Apakah hal seperti itu juga berlaku bagi negara-negara Asia Tenggara? Menurut majalah Forbes (2017) di kawasan ASEAN terdapat 89 orang milyarder-dollar, dan jumlah kekayaan mereka setara dengan 10% dari PDB kawasan. 21 diantaranya tinggal di Singapura, 20 tinggal di Indonesia dan 20 tinggal di Thailand, 14 di Filipina, 12 di Malayasia dan 2 di Vietnam. Orang terkaya di Asia Tenggara menurut majalah Rappler (2017) adalah seorang hartawan pemilik pabrik bir di Thailand bernama Charoen Sirivadhanaabhakdi. Dengan riwayatnya yang unik : anak seorang pedagang jalanan miskin sampai menjadi milyarder. Apakah kisah Sirivadhanaabhakdi adalah sesuatu yang lazim di kawasannya? Atau justru lebih sering, mereka berasal dari kalangan keluarga politikus seperti diktator Suharto di Indonesia, yang anak-anaknya termasuk orang paling kaya di negerinya ? Salah satu anak lelakinya Suharto, Tommy Suharto baru-baru ini namanya tertera kembali di Paradise Paper. Rangkaian pertanyaan lain yang akan dibahas di edisi 'südostasien' mendatang: • Bagaimana kekayaan seorang hartawan dihasilkan (warisan, perusahaan, real estate dsb.)? Pada dinasti perusahaan apa dan dalam bidang apa? Pada sisi perekonomian, politik dan lapisan masyarakat yang mana bergeraknya, lokal dan global? Seperti apa langgam hidup orang-orang super kaya ini? Apakah mereka memamerkan kekayaannya, atau menyembunyikannya? • Lalu bagaimana kekayaan dijadikan status ukuran bagi kedudukan seseorang dalam masyarakat Asia Tenggara? Dalam pandangan umum apakah sikap yang memuji-muji “kaum elit yang sukses“ dan kebiasaan meniru gaya hidup (seperti di majalah boulevard Jerman) lebih dominan? Ataukah ada juga diskusi kritis, yang mempersoalkan masalah penghisapan? • Apakah ada kegiatan ilmiah dengan tema kekayaan, karir tertinggi, jaringan dan hubungannya dengan akar sosialnya dan peluang dibidang pendidikan? • Apakah kedudukan/tingkat kekayaan ikut bertanggung jawab terhadap masyarakat, misalnya secara hukum ditegaskan, bahwa „hak milik berkewajiban“, atau bertanggung jawab secara moral? Adakah ada perusahaan/pengusaha yang bersifat sosial atau melakukan kewajiban sosial ? • Apa yang diperbuat oleh negara untuk pembagian kekayaan (kebijakan politik dibidang pajak, perusahaan dsb.)? Deadline untuk artikel tentang ‘kekayaan’ ini paling lambat kami terima pada tanggal 2 Maret 2018. Penerbitan mendatang, akan berupa penerbitan Open Access Journal, untuk pertama kalinya. Pemberian lisensi atas dasar CC – BY. Harap setiap artikel melampirkan foto yang sesuai dengan tema dan dengan kualitas bagus (sekitar 300 dpi). Copyright harap disertakan keterangan jelas pada setiap gambar (fotografer, judul gambar). Artikel harap dikirimkan kepada Redaksi: [email protected] Citra diri: 'südostasien' mengumpulkan pendapat yang berasal dari- dan tentang Asia Tenggara. Baik tentang perkembangan aktual dibidang politik, ekonomi, ekologi dan juga tentang masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Dari empat tema pokok dalam setahun, akan diterbitkan paparan tentang kawasan dan tentang negara-negara Asia Tenggara, juga tentang masalah hubungan internasional. 'südostasien' adalah merupakan forum pluralistis, yang bersifat kritis terhadap kebijakan pemerintahan yang sedang berkuasa. Sekaligus ruang dialog solidaritas untuk melakukan diskusi antara para pegiat di Asia Tenggara dan di Jerman, yang dalam kegiatannya memiliki kedekatan dan pengetahuan dalam berbagai bidang gerakan-gerakan sosial. 'südostasien' berkegiatan membangun kerja solidaritas internasional, dengan mengingat perlunya menanggulangi imbangan kekuatan yang tidak setara antara pihak Selatan dan pihak Utara dasecara global. 'südostasien' ingin menyumbang gagasan pembaharuan untuk ikut berpartisipasi dalam merubah pikiran dan perilaku di Eropa atau di Jerman. *** ---------------------------------------------------------------- Gesendet mit Telekom Mail <https://t-online.de/email-kostenlos> - kostenlos und sicher für alle!
