Buat RRC segalanya lebih mudah karena program-program 
disusun dan digarap partai tunggal selama puluhan tahun. 
Partai lainnya tetap boleh hidup, sekedar untuk pembuktian 
menganut sistem multipartai 

Usul Anda agar pemerintah memberi rangsang kepada pengusahauntuk tanam modal di 
pedesaan (seperti di RRC?) menimbulkan 
banyak pertanyaan, dan pernyataan. Pernyataan teratas, pemerintah 
tidak bisa memberi rangsang kepada pengusaha karena yang terjadi 
selama ini justru sebaliknya. 



   --- SADAR@... wrote:
Betuuul, yang harus dipikirkan bagaimana memberdayakan warga miskin, ... bukan 
sekadar bansos, memberikan 10Kg beras/bulan saja! Pemerintah disamping harus 
berani memberikan DANA untuk mereka menjalankan usaha, juga harus bisa 
memberikan bimbingan keahlian untuk berusaha, teknologi pertanian, peternakan, 
perkebunan yang hendak dikerjakan mereka dan tentunya untuk mendorong warga 
bisa tergabung dalam kerja kolektif, membentuk koperasi-desa yang baik. Begitu 
yang dijalankan Tiongkok dalam mengentaskan desa-desa miskin menjadi desa-desa 
makmur, dan tentu sandaran-utama yang mengerjakan adalah organisasi partai 
komunis didesa itu! Komite PKT yang baik tentu akan BERHASIL membawa desa itu 
berhasil menjadi makmur, ... Jalan lain, Pemerintah berikan rangsang bagi 
pengusaha-pengusaha berhasil untuk tanamkan modal didesa-terbelakang itu 
membuka usahanya, ... jadi dana, teknologi dan manajemen diserahkan pada 
pengusaha berhasil utk meningkatkan sejahtera warga desa itu. Agak lebih 
lambat, mungkin karena kalah militansi dengan kader PKT, tapi juga ada yang 
berhasil, ....

From: Sunny ambon Apakah ada kemungkinan besar untuk memberi pekerjaan kepada 
26 juta orang miskin. Pada umumnya orang miskin melakukan pekerjaan manual yang 
dewasa ini makin berkurang, karena diambil alih oleh adaptasi kemajuan 
teknologi di berbagai bidang. Memakai alat modern dan automatisasinya jauh 
lebih murah dari pada tenaga manusia. 
http://mediaindonesia.com/index.php/news/read/144205/entas-rakyat-miskin-melalui-pemberdayaan-ekonomi/2018-02-07

Entas Rakyat Miskin melalui Pemberdayaan Ekonomi
Rabu, 7 February 2018 09:30 WIB Penulis: 

TENAGA pendamping sosial dalam program pengentasan rakyat miskin idealnya bukan 
sekadar bertugas mengantarkan bantuan. Mereka harus dibekali motivasi untuk 
memberdayakan masyarakat miskin, minimal harus bisa meluruskan pandangan 
masyarakat bahwa bantuan sosial (bansos) tidak cukup untuk meningkatkan taraf 
hidup.“Pendamping bukan hanya bertugas mengantarkan beras 10 kilogram setiap 
bulan. Lebih dari itu, mesti meluruskan pikiran masyarakat agar bisa naik 
kelas, tidak lagi jadi fakir miskin,” kata Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham 
pada Bimbingan Pemantapan Pendamping Sosial di Makassar, Sulawesi Selatan, 
kemarin.Acara tersebut merupakan pembekalan bagi tenaga penyalur bantuan pangan 
nontunai (BPNT) dan bantuan sosial beras sejahtera (rastra). Ia mengungkapkan 
jumlah rakyat miskin di Indonesia saat ini sebanyak 26 juta jiwa. Angka itu 
tidak bisa ditekan lewat berbagai bantuan, tetapi harus melalui pemberdayaan 
ekonomi yang modelnya tengah dirumuskan pemerintah.“Tenaga pendamping juga 
bukan sekadar menelusuri keluarga yang mendapatkan bantuan, melainkan juga di 
sekitarnya, yang mungkin belum tersentuh bantuan,” kata Idrus.Mensos juga 
menegaskan Februari merupakan bulan pencanangan penuntasan bansos kepada 
masyarakat penerima manfaat. Oleh karena itu, ia akan turun ke daerah dan 
mengajak anggota komisi VIII DPR guna memastikan seluruh bansos yang diberikan 
kepada masyarakat tuntas bulan ini.Khusus terkait dengan rastra, pada Februari 
ini sudah 80% hingga 100% disalurkan bertahap. “Kita pastikan nanti berjalan 
dengan baik sampai kepada rakyat dan di sinilah urgensi kehadiran pada 
pendamping, tidak hanya memastikan bansos sampai. Tapi paling penting 
pemanfaatannya di tengah masyarakat dan tugas lain diberikan menelusuri 
kemungkinan ada yang tidak mendapatkan,” ujarnya.Bimbingan tenaga pendamping 
diikuti 589 peserta dari empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi 
Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Para peserta diberi materi 
seputar fungsi dan tugas pendampingan sosial, dalam penyaluran bansos.“Kita 
ingin mempersiapkan tenaga berkompetensi dan berpengetahuan dalam penanganan 
bantuan BPNT dan rastra,” kata Dirjen Penanganan Masyarakat Miskin Kemensos 
Andi ZA Dulung. (RO/Ant/H-2)
   

Kirim email ke