Kalau di beberapa kota kalau bupatinya mau melakukan pendekatan
pada organisasi sosial dan pengusaha untuk membantu memajukan
pedesaan melalui proyek2 kecil dulu, yang mereka sanggup lakukan,
saya kira bisa berhasil.
Kalau sudah berpengalan, ditawari kerjaan yang lebih besar. Jasa mereka
paling sedikit dipasang nama dan bantuannya di kabupaten, dan di desa
yang proyeknya berhasil.
Pengusaha biasanya suka mendekati bupati.
Teman saya (dua tahun yang lalu meninggal) memimpin sendiri proyek
dari Lion Club Malang, menyalurkan air minum dan air mandi dari
gunung dengan pipa plastik dan bak tandon air di Blitar Selatan. Wah,
mereka omong enak saja, ngoko satu sama lain antara teman dengan
pak carik.
Teman saya angkut dan stuur sendiri bawa pipa2 plastik, dengan
sambungan dan fittingnya, lalu ajari penduduk desa bikin ulir dan nyambung
pipa2 plastik. Waktu saya diajak, pipa2 di kamar mandi masih ditutupi gabus..
Minggu depan dia akan datang lagi, bawa dan pasang kran2nya bersama
penduduk.
Penduduk langsung dapat ajaran bikin ulir, nyambung pipa pakai packing,
bikin konstruksi, bangun bak.
Pendeta Kristen di situ minta teman, supaya disebut proyek itu bantuan
gereja.
Teman saya menolak, tidak bisa, ini proyek banuan Lion Club Malang, dan
dibak
nya sudah ditatah nama Lion Club sebagai penyumbangnya.

2018-02-08 3:32 GMT+01:00 ajeg ajegil...@yahoo.com [GELORA45] <
GELORA45@yahoogroups.com>:

>
>
> Buat RRC segalanya lebih mudah karena program-program
> disusun dan digarap partai tunggal selama puluhan tahun.
> Partai lainnya tetap boleh hidup, sekedar untuk pembuktian
> menganut sistem multipartai
>
> Usul Anda agar pemerintah memberi rangsang kepada pengusaha
> untuk tanam modal di pedesaan (seperti di RRC?) menimbulkan
> banyak pertanyaan, dan pernyataan. Pernyataan teratas, pemerintah
> tidak bisa memberi rangsang kepada pengusaha karena yang terjadi
> selama ini justru sebaliknya.
>
>
>
> --- SADAR@... wrote:
>
> Betuuul, yang harus dipikirkan bagaimana memberdayakan warga miskin, ...
> bukan sekadar bansos, memberikan 10Kg beras/bulan saja! Pemerintah
> disamping harus berani memberikan DANA untuk mereka menjalankan usaha, juga
> harus bisa memberikan bimbingan keahlian untuk berusaha, teknologi
> pertanian, peternakan, perkebunan yang hendak dikerjakan mereka dan
> tentunya untuk mendorong warga bisa tergabung dalam kerja kolektif,
> membentuk koperasi-desa yang baik. Begitu yang dijalankan Tiongkok dalam
> mengentaskan desa-desa miskin menjadi desa-desa makmur, dan tentu
> sandaran-utama yang mengerjakan adalah organisasi partai komunis didesa
> itu! Komite PKT yang baik tentu akan BERHASIL membawa desa itu berhasil
> menjadi makmur, ...
>
> Jalan lain, Pemerintah berikan rangsang bagi pengusaha-pengusaha berhasil
> untuk tanamkan modal didesa-terbelakang itu membuka usahanya, ... jadi
> dana, teknologi dan manajemen diserahkan pada pengusaha berhasil utk
> meningkatkan sejahtera warga desa itu. Agak lebih lambat, mungkin karena
> kalah militansi dengan kader PKT, tapi juga ada yang berhasil, .....
>
> *From:* Sunny ambon
> *Apakah ada kemungkinan besar untuk memberi pekerjaan kepada 26 juta orang
> miskin. Pada umumnya orang miskin melakukan pekerjaan manual yang dewasa
> ini makin berkurang, karena diambil alih oleh adaptasi kemajuan teknologi
> di berbagai bidang. Memakai alat modern dan automatisasinya jauh lebih
> murah dari pada tenaga manusia.*
>
>
> *http://mediaindonesia.com/index.php/news/read/144205/entas-rakyat-miskin-melalui-pemberdayaan-ekonomi/2018-02-07*
> <http://mediaindonesia.com/index..php/news/read/144205/entas-rakyat-miskin-melalui-pemberdayaan-ekonomi/2018-02-07>
>
> *Entas Rakyat Miskin melalui Pemberdayaan Ekonom**i*
> Rabu, 7 February 2018 09:30 WIB Penulis:
>
>
> TENAGA pendamping sosial dalam program pengentasan rakyat miskin idealnya
> bukan sekadar bertugas mengantarkan bantuan. Mereka harus dibekali motivasi
> untuk memberdayakan masyarakat miskin, minimal harus bisa meluruskan
> pandangan masyarakat bahwa bantuan sosial (bansos) tidak cukup untuk
> meningkatkan taraf hidup.
> “Pendamping bukan hanya bertugas mengantarkan beras 10 kilogram setiap
> bulan. Lebih dari itu, mesti meluruskan pikiran masyarakat agar bisa naik
> kelas, tidak lagi jadi fakir miskin,” kata Menteri Sosial (Mensos) Idrus
> Marham pada Bimbingan Pemantapan Pendamping Sosial di Makassar, Sulawesi
> Selatan, kemarin.
> Acara tersebut merupakan pembekalan bagi tenaga penyalur bantuan pangan
> nontunai (BPNT) dan bantuan sosial beras sejahtera (rastra). Ia
> mengungkapkan jumlah rakyat miskin di Indonesia saat ini sebanyak 26 juta
> jiwa. Angka itu tidak bisa ditekan lewat berbagai bantuan, tetapi harus
> melalui pemberdayaan ekonomi yang modelnya tengah dirumuskan pemerintah.
> “Tenaga pendamping juga bukan sekadar menelusuri keluarga yang mendapatkan
> bantuan, melainkan juga di sekitarnya, yang mungkin belum tersentuh
> bantuan,” kata Idrus.
> Mensos juga menegaskan Februari merupakan bulan pencanangan penuntasan
> bansos kepada masyarakat penerima manfaat. Oleh karena itu, ia akan turun
> ke daerah dan mengajak anggota komisi VIII DPR guna memastikan seluruh
> bansos yang diberikan kepada masyarakat tuntas bulan ini.
> Khusus terkait dengan rastra, pada Februari ini sudah 80% hingga 100%
> disalurkan bertahap. “Kita pastikan nanti berjalan dengan baik sampai
> kepada rakyat dan di sinilah urgensi kehadiran pada pendamping, tidak hanya
> memastikan bansos sampai. Tapi paling penting pemanfaatannya di tengah
> masyarakat dan tugas lain diberikan menelusuri kemungkinan ada yang tidak
> mendapatkan,” ujarnya.
> Bimbingan tenaga pendamping diikuti 589 peserta dari empat provinsi, yakni
> Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
> Para peserta diberi materi seputar fungsi dan tugas pendampingan sosial,
> dalam penyaluran bansos.
> “Kita ingin mempersiapkan tenaga berkompetensi dan berpengetahuan dalam
> penanganan bantuan BPNT dan rastra,” kata Dirjen Penanganan Masyarakat
> Miskin Kemensos Andi ZA Dulung. (RO/Ant/H-2)
>
> 
>

Kirim email ke