Mengentaskan Rakyat miskin ya Rakyatnyalah yang harus 
didekati, diberi motivasi, dibimbing, didampingi sampai 
betul-betul berdaya untuk keluar dari kemiskinan. Berdikari.
Kalau yang didekati pengusaha, tidak ada jaminan kerja itu 
betul-betul memberdayakan Rakyat. Biasanya hanya 
 memberdayakan si kepala pemerintahan dengan memperdaya 
Rakyat.
Kalau pun pengusaha berinisiatif melakukan gerakan sosial,juga tidak ada 
jaminan bakal memberdikarikan Rakyat karenagerakan sosialnya terbatas pada satu 
atau dua program dan 
berjangka waktu pendek. Walhasil bantuan sosialnya jatuhnyahanya sekaliber 
sedekah.
Jadi, harus ada pengembalian pola pikir bahwa Rakyatlah 
pemilik tanah / negeri sesungguhnya. Rakyat bukanlah entitasyang terstruktur 
untuk berada di bawah sementera penguasa, 
pengusaha, dan konco adalah kaum yang di atas. Ini yang 
diperjuangkan orang sejak perang dunia pertama, lalu seenaknyadijungkirbalik 
oleh para "pemenang" perang dunia kedua.

Manusianyalah yang harus dibangun. Bukan desanya, kotanya, 
apalagi sekedar rel kereta.


  --- djiekh@... wrote:
    Kalau di beberapa kota kalau bupatinya mau melakukan pendekatanpada 
organisasi sosial dan pengusaha untuk membantu memajukan pedesaan melalui 
proyek2 kecil dulu, yang mereka sanggup lakukan,saya kira bisa berhasil.Kalau 
sudah berpengalan, ditawari kerjaan yang lebih besar. Jasa merekapaling sedikit 
dipasang nama dan bantuannya di kabupaten, dan di desayang proyeknya 
berhasil.Pengusaha biasanya suka mendekati bupati.Teman saya (dua tahun yang 
lalu meninggal) memimpin sendiri proyek dari Lion Club Malang, menyalurkan air 
minum dan air mandi darigunung dengan pipa plastik dan bak tandon air di Blitar 
Selatan. Wah,mereka omong enak saja, ngoko satu sama lain antara teman 
denganpak carik.Teman saya angkut dan stuur sendiri bawa pipa2 plastik, dengan 
sambungan dan fittingnya, lalu ajari penduduk desa bikin ulir dan nyambungpipa2 
plastik. Waktu saya diajak, pipa2 di kamar mandi masih ditutupi gabus.Minggu 
depan dia akan datang lagi, bawa dan pasang kran2nya bersama penduduk.Penduduk 
langsung dapat ajaran bikin ulir, nyambung pipa pakai packing,bikin konstruksi, 
bangun bak.Pendeta Kristen di situ minta teman, supaya disebut proyek itu 
bantuan gereja.Teman saya menolak, tidak bisa, ini proyek banuan Lion Club 
Malang, dan dibaknya sudah ditatah nama Lion Club sebagai penyumbangnya.
2018-02-08 3:32 GMT+01:00 ajeg :
Buat RRC segalanya lebih mudah karena program-program 
disusun dan digarap partai tunggal selama puluhan tahun. 
Partai lainnya tetap boleh hidup, sekedar untuk pembuktian 
menganut sistem multipartai 

Usul Anda agar pemerintah memberi rangsang kepada pengusahauntuk tanam modal di 
pedesaan (seperti di RRC?) menimbulkan 
banyak pertanyaan, dan pernyataan. Pernyataan teratas, pemerintah 
tidak bisa memberi rangsang kepada pengusaha karena yang terjadi 
selama ini justru sebaliknya. 

--- SADAR@... wrote:Betuuul, yang harus dipikirkan bagaimana memberdayakan 
warga miskin, ... bukan sekadar bansos, memberikan 10Kg beras/bulan saja! 
Pemerintah disamping harus berani memberikan DANA untuk mereka menjalankan 
usaha, juga harus bisa memberikan bimbingan keahlian untuk berusaha, teknologi 
pertanian, peternakan, perkebunan yang hendak dikerjakan mereka dan tentunya 
untuk mendorong warga bisa tergabung dalam kerja kolektif, membentuk 
koperasi-desa yang baik. Begitu yang dijalankan Tiongkok dalam mengentaskan 
desa-desa miskin menjadi desa-desa makmur, dan tentu sandaran-utama yang 
mengerjakan adalah organisasi partai komunis didesa itu! Komite PKT yang baik 
tentu akan BERHASIL membawa desa itu berhasil menjadi makmur, ... Jalan lain, 
Pemerintah berikan rangsang bagi pengusaha-pengusaha berhasil untuk tanamkan 
modal didesa-terbelakang itu membuka usahanya, ... jadi dana, teknologi dan 
manajemen diserahkan pada pengusaha berhasil utk meningkatkan sejahtera warga 
desa itu. Agak lebih lambat, mungkin karena kalah militansi dengan kader PKT, 
tapi juga ada yang berhasil, ......

From: Sunny ambon Apakah ada kemungkinan besar untuk memberi pekerjaan kepada 
26 juta orang miskin. Pada umumnya orang miskin melakukan pekerjaan manual yang 
dewasa ini makin berkurang, karena diambil alih oleh adaptasi kemajuan 
teknologi di berbagai bidang. Memakai alat modern dan automatisasinya jauh 
lebih murah dari pada tenaga manusia. http://mediaindonesia.com/ 
index..php/news/read/144205/ entas-rakyat-miskin-melalui- 
pemberdayaan-ekonomi/2018-02- 07

Entas Rakyat Miskin melalui Pemberdayaan Ekonomi
Rabu, 7 February 2018 09:30 WIB Penulis: 

TENAGA pendamping sosial dalam program pengentasan rakyat miskin idealnya bukan 
sekadar bertugas mengantarkan bantuan. Mereka harus dibekali motivasi untuk 
memberdayakan masyarakat miskin, minimal harus bisa meluruskan pandangan 
masyarakat bahwa bantuan sosial (bansos) tidak cukup untuk meningkatkan taraf 
hidup.“Pendamping bukan hanya bertugas mengantarkan beras 10 kilogram setiap 
bulan. Lebih dari itu, mesti meluruskan pikiran masyarakat agar bisa naik 
kelas, tidak lagi jadi fakir miskin,” kata Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham 
pada Bimbingan Pemantapan Pendamping Sosial di Makassar, Sulawesi Selatan, 
kemarin.Acara tersebut merupakan pembekalan bagi tenaga penyalur bantuan pangan 
nontunai (BPNT) dan bantuan sosial beras sejahtera (rastra). Ia mengungkapkan 
jumlah rakyat miskin di Indonesia saat ini sebanyak 26 juta jiwa. Angka itu 
tidak bisa ditekan lewat berbagai bantuan, tetapi harus melalui pemberdayaan 
ekonomi yang modelnya tengah dirumuskan pemerintah.“Tenaga pendamping juga 
bukan sekadar menelusuri keluarga yang mendapatkan bantuan, melainkan juga di 
sekitarnya, yang mungkin belum tersentuh bantuan,” kata Idrus.Mensos juga 
menegaskan Februari merupakan bulan pencanangan penuntasan bansos kepada 
masyarakat penerima manfaat. Oleh karena itu, ia akan turun ke daerah dan 
mengajak anggota komisi VIII DPR guna memastikan seluruh bansos yang diberikan 
kepada masyarakat tuntas bulan ini.Khusus terkait dengan rastra, pada Februari 
ini sudah 80% hingga 100% disalurkan bertahap. “Kita pastikan nanti berjalan 
dengan baik sampai kepada rakyat dan di sinilah urgensi kehadiran pada 
pendamping, tidak hanya memastikan bansos sampai. Tapi paling penting 
pemanfaatannya di tengah masyarakat dan tugas lain diberikan menelusuri 
kemungkinan ada yang tidak mendapatkan,” ujarnya.Bimbingan tenaga pendamping 
diikuti 589 peserta dari empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi 
Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Para peserta diberi materi 
seputar fungsi dan tugas pendampingan sosial, dalam penyaluran bansos.“Kita 
ingin mempersiapkan tenaga berkompetensi dan berpengetahuan dalam penanganan 
bantuan BPNT dan rastra,” kata Dirjen Penanganan Masyarakat Miskin Kemensos 
Andi ZA Dulung. (RO/Ant/H-2)
   

Kirim email ke